Daur (10)

Berzigzag Rally Panjang Motor Nasib

Kalau engkau merasa berjaya dan menang, aku wajib mengajakmu memasuki makna kejayaan dan kemenangan yang lebih inti dan sejati. Terus menerus tanpa henti meng-inti dan men-sejati.

Kalau engkau merasa gagal dan kalah, aku wajib, sebagaimana yang kulakukan atas diriku sendiri, menghajarmu dengan kesadaran yang lebih pedih dan menyakitkan tentang kegagalan dan kekalahan.

Atau kita lakukan sesuatu yang lain sama sekali. Macet pekerjaan fisik, kita beralih ke rohani. Rohani lumpuh, pindah ke berpikir. Berpikir buntu, pindah ke keringat. Keringat membuat kita terengah-engah, gendong anak, diayun-ayun dengan lagu derita yang penuh kesedihan namun diam-diam menumbuhkan kegembiraan yang aneh.

Dan seterusnya. Kita bertarung melawan dinamika diri kita sendiri. Kita taklukkan jiwa kita sendiri. Kita atur mental kita, mesin berpikir kita, lalu lintas hati kita. Kita khalifahi pengalaman hidup ini sampai muncul samar-samar kehadiran dan keterlibatan Sang Penyayang di setiap sekon perjuangan kita.

Aku tidak menganjurkan dari tengah kesulitan hidupmu itu engkau mencariku atau siapapun, mencari siapapun di luar dirimu, kecuali tajalli-nya Allah dan berlangsungnya peran syafaat kekasih kita bersama Muhammad, dari era Nur hingga zaman bin Abdullah menuju kelak Nur kembali.

Engkau memperingatkan dirimu sendiri. Engkau menceramahi dirimu sendiri. Engkau menasehati dirimu sendiri. Di dalam galih jiwa dan akal pikiranmu, engkau meneguhkan bahwa keadaan yang mengerikan itu sama sekali tidak harus menjadi beban bagi hidupmu. Karena menurut janji Kekasih kita, beban hidupmu hanyalah sebatas yang engkau sanggup menyangganya.

Engkau wanti-wanti dirimu sendiri: cukuplah engkau tekuni pencarian dirimu di dunia sampai kelak berjumpa dengan-Nya, cukupkan engkau tingkatkan pembuktikan kasih sayang dan tanggung jawabmu kepada keluarga, betapapun sulitnya itu, bahkan seringkali serasa mustahil. Dan jika pikiran membawamu mengembarai bahkan memasuki neraka dunia yang mengerikan itu, bersegeralah memohon ampun kepada Tuhanmu, kemudian mewakilkan masalah itu kepada-Nya.

Engkau tetapkan undang-undang sosial di dalam dirimu, bahwa satu kesalahanmu jauh lebih besar dari seribu kebenaranmu. Sejumput keburukanmu mensirnakan segunung kebaikan yang kau lakukan bertahun-tahun.

***

Hingga satu jam sebelum tengah malam, jelas bagimu bahwa untuk berikhtiar bagaimana membayar hutangmu, engkau harus menunggu besok pagi. Apalagi masalah-masalah lain yang juga membelitmu: bagaimana mungkin di tengah malam buta bisa engkau lakukan upaya-upaya membereskannya, sedangkan hal itu menyangkut orang ini dan orang itu yang saat ini sedang tidur nyenyak bersama keluarganya.

Sementara sudah kau pejam-pejamkan mata, tak kunjung bisa kau masuki ketidaksadaran dan tidur. Jangankan nyenyak. Seluruh files masalahmu tidak mau surut, terus menempel di benakmu ketika engkau tak bisa tidur maupun ketika terkadang setengah tidur.

Akhirnya engkau tenggelam sampai ke dasar laut kesadaran hidupmu. Engkau tergeletak tak bisa bangun. Tergeletak dan entah bagaimana tiba-tiba saja muncul kata “cinta” di dalam pikiranmu. Cinta itu memuai, membengkak, membesar, hingga memenuhi seluruh ruang pikiranmu. Engkau marah karena tersiksa dan merasa aneh. Engkau pukul-pukul cinta itu, engkau tendang-tendang, engkau cabut dari dirimu dan Engkau usir keluar dirimu.

Ternyata ia menjadi sosok. Tergeletak di sisimu. Engkau termangu-mangu menatapnya. Muncul silang sengkarut pertanyaan-pertanyaan, serabutan ketidakmengertian.

Setelah engkau mengalami kehidupan di muka bumi lebih 60 tahun, engkau menemukan di kedalaman yang sunyi dari samudera kalbumu, bahwa persaudaraanku dengan siapapun yang berdasarkan hubungan darah, kalah tinggi kemuliaan nilainya dibanding persaudaraan yang bersumber dari kesamaan iman. Kemudian ternyata persaudaraan iman kalah tinggi, pun kalah mendalam, dibanding persaudaraan yang kandungannya adalah cinta sejati.

Apa-apaan ini? Mungkin seluruh kompleksitas masalah dan kebingungan hidupmu sedang mengidentifikasi, menyusun, merumuskan dan merangkai bangunan nilainya sendiri, tanpa engkau kehendaki.

Tentulah persaudaraan sedarah yang bermuatan kesamaan iman dan kesatuan cinta sejati adalah harmoni yang paling sempurna, pada ukuran keterbatasan manusia. Tetapi persaudaraan kesedarahan bisa retak oleh tiadanya keseimanan dan apalagi kecinta-sejatian. Bahkan persaudaraan keseimanan ternyata pula bukan hanya bisa menghancurkan persaudaraan kesedarahan, lebih dari itu bahkan sejarah membuktikan fakta-fakta kebencian, pertengkaran, pengkafiran, pemusyrikan, perang, pembunuhan, bahkan peniadaan dan pemusnahan di antara saudara-saudara seiman, meskipun di antara mereka ada yang saudara sedarah.

Akan tetapi pertalian antar manusia, bahkan pun tidak dengan sesama manusia, melainkan dengan makhluk-makhluk lain umpamanya hewan atau jin — yang kandungan utamanya adalah cinta sejati: selalu masih menyisakan ruang bagi persaudaraan kesedarahan maupun keseimanan.

Apa ini?

Apakah beberapa Malaikat sedang membantumu mempetakan masalah-masalahmu? Ataukah jiwamu sedang meracau? Ataukah ketidakberdayaan mentalmu sedang memaksa pikiranmu untuk melamun kesana kemari tanpa bisa Engkau kendalikan?

***

Aku tahu yang Engkau maui dan nanti-nantikan adalah jawaban frontal atas problem-problemmu. Suatu cara penyelesaian yang pragmatis, efektif, syukur efisien.

Tetapi alam gaib jiwamu malah membawaku ke dasar laut abstrak, selama Engkau tak bisa tidur menunggu pagi tiba. Apakah itu yang disebut jalan keluar melingkar? Strategi siklikal? Mungkin pola spiral antara sebab ke akibat dan antara akibat menuju pengubahan akibat menjadi sebab baru yang lebih menyelematkan hidupmu?

Ataukah Tuhan sedang menginstruksikan kepada staf-Nya untuk memboncengkanmu naik Motor Nasib untuk berzigzag dalam rally-rally yang panjang? Itu pun melajunya sangat berat untuk melaju karena lapangan dan jalanannya di dasar laut?

Engkau pusing kepala olehnya atau pelan-pelan belajar menikmatinya?

Dari cn kepada anak-cucu dan jm
10 Pebruari 2016