Daur (282)

Berpikir Tidak Sumbu Pendek

Tahqiq : “...Jangan percaya juga kepada kata-kata saya, apalagi bahasa Arab saya. Itu semua hanya ungkapan kebiasaan belaka. Bahasa dan kata itu hanya jembatan menuju makna....”

Brakodin ikut tertawa. “Itu sebabnya saya meragukan bahwa Mbah kalian Markesot ada di tengah jejalan-jejalan itu….”

“Sudah”, kata Tarmihim lagi, “sekarang kita belajar kembali saja sejernih-jernihnya, semendasar-mendasarnya. Meskipun sewaktu-waktu semua harus siap untuk bertandang kalau Mbah Markesot datang dan dawuh dituturkan….”

“Silakan, Cak Sin”, Brakodin meneguhkan Tarmihim.

Anak-anak muda itu memperhatikan dengan saksama. Mereka sangat kuat dan terlatih untuk berpikir tidak sumbu pendek.

“Maaf ya ini bukan tausiyah”, kata Sundusin, “ini hanya menjalankan risiko diskusi. Tema bisa melebar ke mana-mana dan kita tidak bisa beranjak pergi sebelum melakukan tahqiqi atas suatu hal. Termasuk soal pandai ini….”

“Jangan khawatir Pakde Ndusin”, sahut Jitul, “yang begini-begini ini justru yang kami cari”

“Baik”, kata Ndusin kemudian, “Anggap saja ini semacam mata pelajaran, atau kalian biasa menyebutnya dengan kuliah. Atau pengkajian”

“Kami siap mencatat, Pakde, tidak hanya mengingat-ingat”, Junit menyahut.

Sundusin tertawa. “Asalkan kalian ingat, kalau dicatat, nanti tulisan-tulisan tentang pengetahuan dan ilmu itu menjadi milik kertas catatan. Kalau diingat, kemudian diingat-ingat, ditanamkan menjadi kesadaran, disirami dengan perbuatan, diuji dengan pengalaman dalam waktu, maka ia menjadi milik kalian”

“Jangan khawatir, Pakde”, jawab Junit, “kami mencatat ini sebagai alat bantu untuk memproses agar pada akhirnya secara bertahap semua yang kami terima itu menjadi milik kami, menjadi diri kami, menjadi bagian integral dan tak terpisahkan dari kehidupan kami”.

Sundusin memulai dengan pintu bahasa atau makna kata. Berangkat dari satu kata: pandai.

“Pertama tahap mendengar untuk mengenali kata, kemudian boleh mengingat-ingat atau menghapalkannya. Sekadar untuk tahu karena pernah mendengar. Itu sebut saja tadris atau tadarrus. Tadris itu mekanisme mengenali dalam kaitan diri dengan segala sesuatu di luarnya. Sedangkan tadarrus itu efektivisasi pengenalan ke dalam diri kalian sendiri….”

“Cataaat”, celetuk Jitul.

“Terserah kalian meletakkan dan menata tadarrus itu di otak kanan kalian, atau di otak kiri, atas, bawah, pojok, sisi, sudut, bagian, serpihan, gumpalan atau di manapun saja. Asumsi otak kanan kiri itu hanya inisial, sekadar mengadministrasikan sebutannya untuk mempermudah mengingatnya. Adapun struktur saraf, tatanan, dan pembagian teritorial fungsi otak itu hanya Tuhan yang tahu persis, dan dilimpahkan sebagian kepada anak buah Malaikat Jibril”

“Pakde yakin itu departemennya Malaikat Jibril?”, Seger bertanya.

“Yakin, meskipun jangan disebut tahu. Yakin justru karena tidak benar-benar tahu. Pada rentang jarak ketidaktahuan itu cara menempuhnya adalah dengan keyakinan. Tetapi bukan berarti keyakinan yang spekulatif. Malaikat Jibril kan selalu ditugasi menyampaikan wahyu. Berarti beliau Menteri Informasinya Tuhan. Tentu dibantu oleh para staf dan pegawai-pegawainya. Kalau urusannya informasi, tentu berada pada integralitas dengan segala fungsi lain-lainnya yang terkait dengan informasi. Penyampaiannya, alokasinya, mekanisme pewahyuan atau pengilhamannya, pembagian kerja antara penampung memori dengan mesin kerja pikiran di mana informasi itu diolah….”

“Agak pelan-pelan, Pakde”, Toling menawar, “kalang kabut juga mencatatnya ini Pakde”

Sundusin mencoba memperlambat iramanya.

Setelah tadris dan tadarrus, sekadar mengenali, baru memasuki tahap ta’lim dan ta’allum: tahap mengetahui. Kemudian tafhim dan tafahhum, tahap memahami.

“Dua kata terakhir ini Pakde tidak yakin apa benar ada dan disebut begitu”, Ndusin menginterupsi dirinya sendiri.

Juga memang tidak lazim digunakan. Itu hanya logika dari tata bahasanya atau rasa kata dan pola lalu lintas kumpulan huruf-hurufnya saja. Kemudian ta’rif dan ta’aruf: tak hanya kenal, tahu dan paham, tapi sudah masuk ke tahap mengerti.

“Kalian jangan terhalangi oleh masalah bahasanya”, kata Ndusin, “jangan percaya juga kepada kata-kata saya, apalagi bahasa Arab saya. Itu semua hanya ungkapan kebiasaan belaka. Bahasa dan kata itu hanya jembatan menuju makna….”