Catatan Sinau Bareng Dies Natalis ITS ke-56, Surabaya 12 November 2016

Berpikir Konstruktif Dengan Kelengkapan Terminologi

Untuk melengkapi pemahaman dan pemetaan tentang Salam, Sopan, dan Santun, Cak Nun membekali Pak Rektor dan jajarannya dengan terminologi dan cara pandang.
Foto: Adin.
Foto: Adin.

Pukul 20.30 KiaiKanjeng naik ke panggung. Nomor Jaman Wis Akhir dan aransemen Mencari Indonesia membuka dan mengawali perjumpaan dengan masyarakat Surabaya malam ini. Cak Nun sendiri baru naik sesudah dua nomor ini. Sesudah jamaah dipersilakan memasuki dan menghayati musik KiaiKanjeng tanpa ada Cak Nun di depan mereka.

Saat sudah di panggung bersama Pak Rektor Joni Hermana, para Wakil Rektor, dan Pak Darmadji, Cak Nun menjelaskan nomor kedua KiaiKanjeng tadi sejatinya untuk menggugah kesadaran bersama apakah yang sedang berlangsung di Indonesia saat ini adalah benar-benar Indonesia. Masak sih Indonesia seperti itu. Sehingga khususnya para generasi muda memiliki keteguhan tentang Indonesia yang benar, Indonesia yang semestinya.

Ini kemudian dilanjutkan Cak Nun mengantarkan dua terminologi. Kontinuasi dan adopsi. Univeristas atau perguruan tinggi adalah fenomena adopsi. Walaupun dalam konteks ITS, sesudah tahap-tahap perenungan, diperoleh kesadaran-kesadaran baru yang mengubah sejumlah praktik pendidikan di dalamnya. Di situlah, 3S yang dicanangkan ITS dipahami. Hal yang gayut karena ITS sendiri sedang menuju peralihan menjadi badan hukum yang otonom.

Untuk melengkapi pemahaman dan pemetaan tentang Salam, Sopan, dan Santun, Cak Nun membekali Pak Rektor dan jajarannya dengan berbagai terminologi dan cara pandang. Mulai dari 3S sebagai akibat (perspektif sebab akibat), maka perlu dicari dan diciptakan sebabnya, letak 3S dalam peta saintika, etika, dan estetika, peta benar-salah, baik-buruk, indah-tak indah, sampai ke terminologi Islam: Tadris, Ta’lim, Ta’rif, Ta’dib, Tarbiyah, dan Ta’lih.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Salah satu contoh cara berpikirnya adalah apabila keadilan terbangun, maka Salam, Sopan, dan Santun akan dengan sendirinya muncul dan dilakukan orang. Sama seperti gotong royong dan kerukunan yang otomatis tercipta jika keadilan ditegakkan. 3S juga tidak bisa diperintahkan sebagaimana perintah shalat, tetapi perlu diciptakan alasan. Perlu dibangun suasana bebrayan yang penuh salam. Jika sebab-sebab terpenuhi maka suasana yang penuh salam, sopan, dan santun akan terpenuhi.

Pak Dharmaji beserta Rektor dan bapak-bapak lainnya menyimak uraian Cak Nun yang mengalir solid sedari awal, dengan bahasa komunikasi yang enak, renyah, dan Jawa Timuran. Wajah-wajah jamaah dan hadirin semuanya juga memancarkan konsentrasi terhadap ilmu yang dipantik oleh Cak Nun. Pada intinya, Cak Nun ingin agar jamaah ini memiliki cara berpikir yang konstruktif. Dua nomor yang dibawakan KiaiKanjeng yaitu Shalawat Madura dan sebuah nomor karya Prince yang dipopulerkan oleh Sinéad O’Connor, Nothing Compares to You dihadirkan dalam bingkai contoh berpikir konstruktif, mengandung ilmu sekaligus menggembirakan. (hm/adn)