Daur (307)

Bermain Urat Leher

Tahqiq : “...Manusia tanpa guna, penganggur sepanjang masa, perenung dan penyedih selama menjalani waktu, ternyata di jari-jarinya terdapat simpul tali pengendali zaman, pengatur adegan-adegan....”

Kemudian terdengar nyanyian, paduan sejuta suara, dengan puisi-puisi yang huruf-hurufnya menari-nari, memecah kemudian menyatu, menyebar kemudian berjajar lagi, mengurai kemudian berhimpun kembali.

“Kalian tidak ikut berhimpun di Ibukota?”, tiba-tiba terdengar suara Mbah Markesot, bertanya kepada Junit dan teman-temannya.

Mereka terkejut oleh pertanyaan mendadak itu. Sebenarnya mereka sedang meraba-raba apa yang sedang mereka alami. Termasuk kenapa Mbah Markesot terbaring seperti orang sakit, didampingi oleh seorang tua renta, yang mungkin saja itu yang katanya bernama Kiai Sudrun.

“Maksud Mbah kenapa kami tidak ikut demo ke Ibukota?”, Junit mencoba menjawab terbata-bata.

Mbah mereka Markesot hanya tersenyum.

“Bagaimana, Tul?”, Junit melempar ke Jitul.

Wujuduna ka’adamina, Mbah”, Jitul menjawab, “adanya kami di tengah mereka sama dengan tidak adanya kami. Tidak ada pengaruh apa-apa yang bisa muncul dari kami”

“Toling?”, Junit melempar lagi ke Toling.

“Jumlah kami sangat sedikit”, kata Toling, “juga di luar jumlah, kami tidak punya apa-apa yang bisa menambah apapun pada semangat massa yang sedang berhimpun itu”

Tarmihim yang merespons. “Kan ada kemungkinan kalian menjadi seperti seekor semut yang mengangkut setetes air ke tempat Nabi Ibrahim dibakar. Sangat tidak sepadan antara volume kobaran api dibanding setetes air yang bisa dicipratkan oleh seekor semut. Tapi paling tidak semut itu mengibadahkan pemihakannya kepada kebenaran”

“Apakah semua pasukan harus berada dalam satu barisan, Pakde Tarmihim?”, Junit membela Toling, “Apakah tubuh hanya terdiri dari tangan yang mengepal. Apakah tangan bisa mengepal kalau tak ada lengannya, engsel di antara tulang-tulangnya, kakinya, seluruh anatomi tulang belulangnya, gumpalan-gumpalan dagingnya, aliran darahnya, detak jantungnya, getaran hatinya, listrik urat sarafnya, semesta fuad qolbu dan matahari akalnya?”

Sundusin tertawa. “Jangan perdengarkan kalimat-kalimat seperti itu di luar ruangan ini. Kamu akan ditertawakan dan disimpulkan sebagai orang yang pandai beralasan untuk menutupi kepengecutannya”

Markesot menegur Ndusin. “Tidak di setiap keadaan kamu boleh mengucapkan kalimat seperti itu kepada anak-anak muda yang kita harapkan akan membangkitkan masa depan”

Tiba-tiba Seger memotong. “Kami semua malah menduga-duga Mbah Markesot ada di balik pusaran massa yang sedang berhimpun di Ibukota itu…. Bahkan akhirnya kami mantap untuk tidak perlu datang karena Mbah Sot sudah memindahkan jamaah Jumat dari jalan protokol ke Lapangan Monumen. Berarti potensi chaos-nya sudah dipadamkan….”

Setiap kalimat mereka selalu mendapat respons suara-suara tak jelas dari banyak orang atau makhluk di ruangan itu. Dan tiba-tiba terdengar suara tertawa orang tua di sisi Markesot yang sedang berbaring. “Mbah kalian sedang terbaring loyo di sini”, kata orang tua yang sepertinya Kiai Sudrun itu, “bagaimana mungkin ia berbuat sesuatu atas peristiwa besar di pusat Negeri”

Hati-hati Seger mencoba menjawab. “Di kalangan teman-teman kami ada semacam dugaan atau bahkan keyakinan bahwa Buyut Kiai Sudrun yang menularkan kepada Mbah Markesot cara-cara bermain urat leher, merasuki mimpi, atau meniupkan Condhobhairawa yang mengendalikan cara dan arah berpikir….”

Kiai Sudrun meledak tertawanya. Dan semua makhluk di ruangan itu meresponsnya bersama-sama sehingga bagaikan terjadi guncangan yang gaduh. Satu sosok seperti terjun dari pojok atas ruangan, menghampiri Markesot, memegangi kakinya dan berkata dengan juga tertawa. “Hebat kamu, Sot. Manusia tanpa guna, penganggur sepanjang masa, perenung dan penyedih selama menjalani waktu, ternyata di jari-jarinya terdapat simpul tali pengendali zaman, pengatur adegan-adegan. Bagaimana dengan penangkapan atas sejumlah tokoh idealis di pagi buta itu, apakah kamu juga yang menyorong kejadiannya?”

Toling menjawil pinggang Jitul. “Apa itu yang namanya Pakde Saimon?”

“Mungkin”, jawab Jitul.

Tiba-tiba kaki Markesot mendorong Saimon dengan arah gerakan seperti pemain bola melakukan tendangan lambung, sehingga Saimon terbang terlempar ke pojok atas tempatnya semula.