Catatan Mocopat Syafaat, 17 Oktober 2016

Berlindung Kepada Hukum Allah SWT

Cak Nun mengungkapkan bagaimana cara Beliau berlindung atas situasi seperti itu. Yaitu berlindung kepada hukum Allah Swt.

“Saya ingin katakan kepada Anda, kepada siapa saya berlindung. Jawabnya: Kepada hukum Allah. La-in syakartum la-azidannakum wala-in kafartum inna adzabi lasyadid. Kalau Anda setia dan bersyukur, Allah akan menambahi nikmat itu. Tetapi jika Anda kufur, sesungguhnya adzab Allah sangat pedih,” terang Cak Nun.

Ini Beliau sampaikan sesudah menyimak dialog Redaktur Maiyah dengan jamaah Mocopat Syafaat semalam. Dialog itu berangkat dari empat pertanyaan yang diajukan kepada Jamaah. Pertama, sesudah teman-teman JM menerima ilmu, pemahaman, poin penting, atau apapun dari Maiyah, apa yang dilakukan: apakah mengoleksi secara pribadi, menggunakannya untuk internalisasi diri, atau membagikannya kepada orang lain alias ngeshare.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Kedua, jika jamaah melakukan berbagi, sebelum ngeshare, apa yang perlu dilakukan: apakah langsung share, mengolah dulu, atau menimbang kesolehannya, yakni mempertimbangkan manfaat dan madhorot yang mungkin ditimbulkannya. Ketiga, apa tindakan JM di Medsos ketika statement Cak Nun dibantah atau diserang orang. Keempat, apa sikap JM ketika penyataan Cak Nun digunakan untuk membela kepentingan kelompok atau dijadikan alat untuk menyerang kelompok lain.

Empat pertanyaan ini semestinya akan memancing diskusi yang penuh perdebatan, menegangkan dan bikin mengernyitkan dahi. Tetapi ternyata tidak. Sebaliknya diskusi malah penuh ger-geran dan rileks. Pasalnya, para jamaah memberikan tanggapan secara murni, jujur, apa adanya, polos, dan bikin ketawa.

Adi misalnya, berdiri sambil sarungnya mau mlotrok, coba menjawab pertanyaan soal share. Dia bilang, “Ya saya ngeshare kalau pingin ngeshare, kalau tidak pingin ya tidak ngeshare.” Dikejar lagi sama Mas Harianto, “Apa yang membuat Anda pingin ngeshare?” Jawabnya nyantai dan disambut gerrr,”Itu nanti kan Allah yang mengirimkan atau membikin saya mood…untuk ngeshare.” Masih belum puas dan ditanya lagi, kapan Allah bikin mood. “Ya nanti kan kerasa pengiiiìn banget…,” jawabnya tenang, lugu, tapi percaya diri. Cak Nun dan narasumber lain tersenyum-senyum dan sedikit terpingkal mengikuti dialog-dialog ini.

Dialog ini bukan dimaksudkan untuk bagaimana-bagaimana melainkan sebagai proses bercermin, yakni Maiyah belajar melihat dirinya sendiri. Proses ini disarankan Cak Nun untuk tidak hanya dilakukan sekali ini saja, tetapi bulan-bulan ke depan diperlukan lagi dengan pertanyaan yang lain lagi. Beberapa jawaban muncul secara beragam. Ada yang mengisahkan, sesudah mendapatkan nilai atau wawasan hidup dari berbagai Maiyahan akan ditularkan kepada orang-orang di sekitarnya. Ada yang menularkannya secara selektif kepada orang-orang yang diperkirakan dapat memahami. Ada pula yang menjadikannya sebagai bahan diskusi dengan para dosen di kampus.

Kemudian mengenai media sosial sebagai tempat ngeshare, ada beberapa pengalaman dituturkan. Ada yang belum berani ngeshare karena merasa belum maqam-nya untuk ngeshare. Ada yang membagikan tautan atau link Maiyah dengan memberikan kata pengantar yang bijak dan netral, atau bernada mengajak merenung. Ada pula yang masih ragu-ragu atau bertanya-tanya bagaimana panduan menge-share. Juga ada yang bertanya, boleh tidak memberikan bumbu-bumbu terhadap kata-kata atau pemikiran Cak Nun untuk di-share.

Tentang mutilasi, manipulasi, dan sop buntut terhadap kata-kata atau apa-apa yang diucapkan Cak Nun di berbagai Maiyahan? Ada yang menulis counter di status akun masing-masing, ada yang ngajak ketemuan dengan orang yang memutilasi, tetapi juga ada yang belum bisa mengungkapkan sikap karena menunggu akumulasi sikap teman-teman yang lain.

Demikianlah, cukup asik, di dalam forum muwajahah langsung tatap-muka, bukan maya, sebuah komunitas besar mendiskusikan dan bercermin bagaimana selayaknya memanfaatkan media sosial, meskipun proses ini masih harus terus-menerus dilakukan agar mereka dapat menjadi satu keluarga informasi secara sinergis dan saling menjaga.

Dari proses dialog yang menggembirakan ini, lalu Cak Nun menyampaikan satu bangunan view. Bahwa yang dimanipulasi dari Maiyah itu katakanlah kurang dari sepuluh persen. Di atas lima persen, dan mungkin itu bisa dikatakan banyak. Cak Nun mengatakan bahwa sebenarnya tingkat bahaya omongan Beliau bisa seratus kali lipat dari yang terjadi. Mengapa? Sebab Maiyah itu adalah indahnya persahabatan dan kebersamaan. Yang pertama-tama dirasakan di Maiyah bukan ilmu kata-kata tetapi peristiwa kemurnian, ketulusan, penerimaan, keluasan, kemesraan, dan lain-lain. Di dalam Maiyah jamaah dilatih untuk membangun keseimbangan hidup. Latihan keseimbangan inilah yang dalam jangka panjang akan menyelamatkan kita.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Karena kualitas yang demikian itu, maka orang yang hanya mendengar atau tidak hadir hanya mendapatkan kata-kata. Ia tidak bisa mendapatkan kemesraan dan nuansa yang berlangsung dengan baik. Nuansa itulah yang tak bisa dibawa ke media sosial maupun media lainnya. Demikianlah pula dengan soal memberikan bumbu. Pasti bisa bermacam-macam akibatnya. Dan bukan boleh atau tidak bolehnya, melainkan yang terpenting setiap jamaah harus taat pada kebenaran yang mereka yakini.

Dalam hal ini, dengan sangat rendah hati, Cak Nun mengatakan, “Apa tho saya ini, kok minta Anda harus akurat. Kalau Anda melakukan hal-hal yang setia dan berupaya mencapai keakuratan, itu merupakan kemurahan hati Anda, sebab Anda berjuang untuk taat kepada kebenaran yang Anda yakini.”

Persis pada poin itulah, dalam hubungannya dengan manipulasi atau mutilasi atas penjelasan-penjelasan Beliau selama ini di berbagai Maiyahan, Cak Nun mengungkapkan bagaimana cara Beliau berlindung atas situasi seperti itu. Yaitu berlindung kepada hukum Allah Swt. La-in syakartum la-azidannakum wala-in kafartum inna adzabi lasyadid. Dan menurut Beliau masih banyak ayat-ayat lain dari Al-Quran yang menjelaskan rumus kesetiaan. (hm/adn)