Berkaca di Telaga Bening Jiwa Anak-anak

Beruntung saya pada Kamis, 13 Oktober lalu bersama rombongan siswa SMK Global Sumobito Jombang bisa hadir dan sinau bareng di Rumah Maiyah Kadipiro Yogyakarta. SMK Global merupakan salah satu lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Al Muhammady yang dikembangkan oleh keluarga Cak Nun di Mentoro Sumobito Jombang.

Para siswa merasa telah menjadi bagian dari keluarga besar Maiyah sehingga pertemuan yang dipandu oleh Mas Harianto dan fokus pada ngaji babul multimedia itu langsung nyambung. Pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam itu memberi penekanan akan pentingnya sebuah gagasan atau pesan yang melambari karya audio visual.

Usai acara saya bertemu Ibu Nadhroh As-Sariroh, penanggung jawab Perpustakaan EAN. Saya sempatkan masuk ke perpustakaan yang berada di bagian depan area Rumah Maiyah. Karya dan foto Cak Nun ditata rapi. Terbatasnya waktu membuat saya tidak bisa berlama-lama menikmati buku-buku itu. Nafsu membaca yang meledak-ledak harus saya tahan. Saya juga hanya berbincang sejenak dengan Ibu Nadhroh. Sebelum pulang beliau memberi kami dua buku—buku yang cukup keren.

Judul buku itu “Aku dan Cerita Kami”. Ibu Inayah Al Wahfiyah, Kepala  TKIT Al Hamdulillah dalam Kata Pengantar menulis, buku ini merupakan kumpulan cerita anak yang digali guru dalam kegiatan di kelas maupun kegiatan di luar yang dapat merangsang aspek berbahasa ekspresif secara sederhana, sesuai dengan usia dan tahap perkembangannya.

Mohon tidak buru-buru menduga, demi menghasilkan karya tersebut anak-anak dipacu kemampuan menulis kata per kata, kalimat per kalimat. Tidak demikian kenyataannya. Memberi kesempatan anak-anak bercerita sebagai media berbahasa ekspresif merupakan langkah tepat untuk membaca sekaligus mengungkapkan isi perasaan dan pikiran mereka sendiri. Yang dibutuhkan bukan sekadar ketelatenan atau kesabaran. Guru TKIT Al Hamdulillah setidaknya memiliki “kuda-kuda” pola asuh yang manusiawi.

Pola asuh yang membutuhkan keterlibatan guru secara aktif dan empatik itu semakin jarang ditemukan di tengah maraknya pendidikan anak usia dini yang berubah menjadi sekolah. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) secara pragmatis bergeser menjadi Sekolah Anak Usia Dini (SAUD), dengan penekanan baca tulis dan berhitung (calistung) yang model dan situasi belajarnya kerap menerjang pagar usia perkembangan anak.

Berkembang pemahaman yang kebablasan: anak “lulus” playgroup dan taman kanak-kanak belum bisa calistung tidak diterima masuk sekolah dasar. Guru playgroup dan TK merasa gagal. Masyarakat tidak mau lagi memilih playgroup atau TK yang lulusannya tidak melek calistung.

Kursus dan les privat untuk anak usia dunia menjamur. Semua menjanjikan akselerasi percepatan calistung. Bahkan tidak sedikit memberikan garansi, selain mengusai calistung anak-anak itu juga mahir berbahasa asing. Orangtua puas, bangga, dan merasa diri sukses mencetak anak-anak yang siap melesat menggapai masa depan.

Namun, apa yang sesungguhnya terjadi pada anak-anak itu? Bangunan keterampilan calistung dan sejumlah aksesoris kemampuan berbahasa asing memang terlihat hebat dan megah. Penampilan mereka cukup membanggakan. Siap melibas anak-anak lain yang jadi pesaingnya. Pada saat yang sama, bangunan kemampuan yang hebat dan mengagumkan itu sedang mengalami keropos-keropos. Mengapa?

Keterampilan berbahasa untuk menyampaikan ekspresi perasaan dan logika berpikir yang beradab terabaikan. Anak-anak tidak terlatih merumuskan isi perasaan dan bentuk pikiran sehingga mereka pun gagap saat menyampaikannya melalui komunikasi lisan yang paling sederhana sekalipun. Kalaupun anak-anak itu mengusai sejumlah keterampilan berbahasa hal itu tidak lebih untuk memenuhi standar akademik dan prestasi semu yang diprasangkakan oleh kebudayaan sekolah kepada mereka.

Prestasi calistung yang gemilang sejak dini tersebut dibangun melalui pondasi yang lemah, keropos, dan karena itu, menjadi mudah ambruk. Kelak ketika dewasa mereka asing bahkan dengan perasaan dan pikiran mereka sendiri. Jika ini benar terjadi, bukankah kita sedang menabung tragedi?

Tuhan telah lama ditinggalkan dalam proses belajar mengajar, digantikan kurikulum yang menentukan “surga” atau “neraka” masa depan lulusan. Proses belajar di sekolah tidak pernah didesain oleh jawaban yang dirumuskan melalui pertanyaan, apa yang Tuhan kehendaki pada setiap individu siswa? Tentu saja, karena sekolah telah memiliki kurikulum yang memandu dan mencetak anak-anak itu sesuai “takdir” silabus dan RPP.

Di tengah pundi-pundi tabungan tragedi itu buku “Aku dan Cerita Kita” menawarkan harapan dan sikap optimis yang bersahaja. Pendidikan—apalagi lembaga konvensional bernama sekolah—harus mulai bersikap rendah hati di depan siswa. Rendah hati sebagai bentuk sikap kesadaran, seperti diungkap Cak Nun dalam Merabuki Tanaman Masa Depan, pengantar “Aku dan Cerita Kita”, mendidik anak bukanlah memprosesnya menjadi seperti yang kita maui, melainkan menemaninya berproses agar menemukan apa yang Allah kehendaki atas hidupnya.

Mengapa bersahaja? Di balik bening telaga jiwa anak-anak itu memantul wajah kita sendiri, wajah para guru dan orangtua. Kebeningan yang mengetuk pintu keangkuhan bahwa anakmu ternyata bukanlah anakmu. Guru dan orangtua harus lebih giat belajar melebihi siswa dan anak-anak mereka. Setiap ucapan dan perilaku anak-anak adalah “ayat” yang mesti dipelajari dan ditadaburi.

Simak cerita M. Faizul Anwar, salah satu anak Playgroup. Judulnya Bantal Pesing. “Aku punya bantal kesayangan. Dia kuberi nama Bantal Pesing. Setiap minum susu dan mau tidur, aku senang memeluknya.” Ayat “Bantal Pesing” ini silakan dianalisis, dipetakan, dicermati, diintip dengan mikroskop nurani, ditadabburi. Minimal akan kita sadari bahwa anak-anak kita adalah manusia juga.

Atau ayat berjudul Aku Menemani Ibuku Berjualan dari Afiska Rendra Alviana. “Bu guru, aku bantu, ya. Aku bisa membuat susu sendiri. Setiap hari aku menemani ibuku berjualan. Aku juga terbiasa menyapu dan makan sendiri.” Masih adakah yang tidak manusia dari cerita itu?

Terbitnya buku “Aku dan Cerita Kami” patut disyukuri bukan karena bangga-banggaan, branding-brandingan, atau layaknya kekonyolan prasangka kebudayaan sekolah. Rasa syukur itu terbit dari kesadaran bahwa kita diberi kesempatan berkaca di telaga bening jiwa anak-anak kita.[]