Daur (122)

Berendah Hati kepada Cahaya

Setiap kali manusia selesai mandi pagi hari dan berkaca, melihat wajahnya, pikirannya bergumam: “Inilah aku”

Padahal itu wajahnya, bukan dirinya. Manusia tidak bisa membedakan antara dirinya dengan alat yang mengantarkan kehadirannya. Alat itu diperlukan berbeda jika ruang, waktu dan dimensinya berbeda. Tetapi manusia dengan penuh rasa aman meyakini bahwa yang tampak di kaca itu adalah dirinya.

Di sekolah dan universitas di mana manusia digiring ramai-ramai untuk belajar, tidak ada kuliah pembelajaran yang membedakan antara diri dengan kehadiran. Antara diri-sejati dengan alat-hadir. Antara truk dengan muatannya. Jangankan yang jauh-jauh seperti memilah antara lukisan dengan warna dan guratannya. Antara puisi dengan kata dan susunannya.

Apalagi kalau lebih jauh. Menemukan renggangan antara Muhammad dengan manusianya, dengan kenabiannya, dengan kerasulannya, dengan ka-mahbub-an dan ke-habib-annya, serta berbagai koordinat dan silang hakikat lainnya. Sedangkan antara apa bagaimana Nabi dengan siapa kenapa di mana Rasul saja tidak diurus dengan cukup tekun oleh kebanyakan manusia.

Bahkan ummat manusia yang selama peradaban mutakhir di abad 21 ini merasa diri mereka adalah makhluk paling maju, paling pandai, paling sukses, paling hebat dan tertinggi pencapaiannya — memaksa Tuhan harus punya nama. Meyakini bahwa yang disepakati untuk disebut Tuhan itu punya kebutuhan untuk bernama. Tuhan diidentifikasi dan didaftar dengan kewajiban untuk ada namanya.

Seolah-olah yang mereka sebut Tuhan itu adalah bagian dari sosialitas manusia. Bagian dari komunitas, bebrayan dan paugeran manusia. Tuhan diletakkan di bangku dan kursi paling depan, dengan kewajiban dan hak sebagaimana para makhluk. Kebanyakan manusia berpendapat bahwa yang mereka sebut Tuhan itu membutuhkan nama dan wajib patuh kepada tatanan budaya manusia dan taat kepada struktur berpikir manusia.

Andaikan Tuhan merasa jengkel kepada manusia, kemudian meniadakan semua makhluk-Nya, dari Nur Muhammad, para Malaikat, alam semesta, Jin dan manusia, sehingga tidak ada apapun selain Ia sendirian — lantas Ia punya nama: siapa yang akan menyapa-Nya?

Kemudian Tuhan berkehendak untuk dalam sekejapan mata mengadakan kembali semua makhluk itu, lantas memperkenalkan diri-Nya “Aku lah Allah”: apakah itu karena Ia benar-benar bernama Allah, ataukah sekadar berlaku memberi nama kepada para makhluk agar ada inisial untuk menyapa dan menghadirkan-Nya dalam kesadarannya?

Dan pada saat yang sama, kepada makhluk-makhluk lainnya di petak ruang waktu dan dimensi yang nun jauh dan tidak dikenal sama sekali oleh makhluk di Bumi, tidak bolehkah Ia memperkenalkan diri-Nya tidak dengan ism Allah? Dan ada miliaran nama lagi yang Ia memperkenalkan kepada miliaran komunitas makhluk-makhluk di ujung lain galaksi, di seberang dimensi, atau di luar dimensi?

Apakah ia benar-benar bernama Allah? Ataukah sekadar menyayangimu dan hadir sesuai dengan limitasi yang Ia tetapkan untukmu? Adakah seserpih saja kemungkinan bagi makhluk untuk mengetahui-Nya? Meskipun sebagian ummat manusia mengatakan “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Robbahu”, barangsiapa mengenal dirinya maka mengenal Tuhannya, apakah mereka pikir itu berarti sungguh-sungguh mengenal-Nya?

Apakah Tuhan? Siapakah Tuhan? Di manakah Tuhan? Apa yang Tuhan lakukan sekarang? Apa maknanya Tuhan adalah awal dan akhir, dulu dan kelak, sangkan dan paran, pangkal dan ujung?

Kebanyakan manusia masih menyangka bahwa mereka bisa menemukan Tuhan dengan merumuskannya: apa, siapa, bagaimana, di mana, kapan, kenapa. Padahal Tuhan adalah sumber segala apa, asal-usul segala siapa, mataair segala bagaimana, asal-usul segala di mana, dan hulu hilir segala kenapa.

Tuhan memuat apa siapa bagaimana di mana kenapa. Bukannya apa siapa bagaimana di mana kenapa memuat Tuhan.

Di antara manusia ada yang sangat beriman dan sangat mencintai Tuhan, sehingga mereka marah kalau ada yang menyebut-Nya dengan kata Tuhan, Yehova, Manitou, Hyang Wenang, Hyang Widi, Hyang Tunggal atau kata apapun. Mereka hanya mengizinkan sebutan dengan kata Allah.

Kemudian membikin kategori dan lajur formulir. Bahwa Muslim adalah yang menyebut-Nya Allah. Yang lain-lain, yang menyebut Tuhan, Hyang Tunggal atau Manitou, bukan Muslim. Benar-benar manusia itu sangat lucu dan mengharukan. Mereka pikir Tuhan perlu punya nama, seolah-olah Ia punya sahabat-sahabat, famili, handai tolan dan komunitas, yang memerlukan KTP-Nya.

Mereka tidak sadar bahwa mereka sedang meletakkan Tuhan sebagai bagian dari dirinya, bukannya ia merupakan bagian dari Tuhan. Tetapi memang Tuhan sendiri yang menetapkan limitasi kesadaran dan terbatasnya pengetahuan itu pada manusia. Bahkan di Negeri yang Markesot singgah padanya, terdapat kelucuan nasional massal yang benar-benar mengharukan.

Penduduk di Negeri itu berebut harta, kedudukan dan eksistensi. Setiap harta, jabatan dan eksistensi yang didapatkannya, entah melalui “fastabiqul khairat” atau hasil menjegal, mencuri, menganiaya, menipu, memalsukan diri dengan pencitraan, atau dengan apapun — mereka percayai sebagai bagian dari jati diri mereka.

Jati diri. Sejatinya diri. Diri yang sejati.

Mereka berpikir diri sejati mereka adalah wajahnya, kekayaannya, jabatannya, status sosialnya, reputasi kariernya, sukses profesinya. Wahai Allah yang tiada siapapun dan apapun yang mengenal-Mu kecuali Engkau sendiri, maafkan kekonyolan penduduk Negeri singgahan Markesot.

Ampunilah makhluk-makhluk ciptaan-Mu yang malas belajar. Yang menyangka dirinya bukanlah dirinya, tetapi malah meyakini bahwa kehadiran materiilnya adalah diri sejatinya. Sebagaimana mereka juga tidak kunjung mampu membedakan bahwa tajalli-Mu bukanlah Engkau, bahwa kehadiran-Mu bukan Maha Diri-Mu.

Ampunilah kami semua, batu-batu padas, kerakal-kerakal kasar dan tajam untuk melukai sesama, kerikil-kerikil yang kerdil, yang tidak pernah mengetahui apapun kecuali materi, materialitas dan materialisme.

Ampunilah kami semua yang memenuhi kehidupan dengan kesombongan dan gedherumongso. Yang tidak berendah hati kepada tak terbatasnya kemungkinan, kepada dimensi, kepada cahaya….