Daur (105)

Berapa Jumlah Muhammad

Tiba-tiba Saimon bertanya:

“Kamu pasti ingat kan bahwa Nabi Muhammad pernah dikasih tahu oleh Tuhan tentang sekumpulan Jin yang mendengarkan Qur`an dan merasa sangat takjub?”

“Ya”, Markesot menjawab dingin.

“Menurut kamu apakah ketika ayat itu diwahyukan kepada Muhammad, Qur`an sudah lengkap? Artinya, pewahyuan sudah dikhatamkan oleh Tuhan?”

“Belum”

“Menurut kamu, Qur`an yang dibaca oleh para Jin itu hanya potongan-potongan atau sudah menyeluruh?”

“Sudah menyeluruh, karena informasinya menyebut Qur`an, bukan ayat Qur`an”

“Jadi kami kaum Jin sudah terlebih dahulu membaca Qur`an secara lengkap ketika ummat manusia sedang atau masih berada pada tahap menunggu proses turunnya ayat demi ayat?”

“Ya. Memangnya kenapa?”

“Maka kesimpulannya kami para Jin sudah lebih dulu mempelajari Qur`an dibanding manusia? Dengan kata lain, semesteran Qur`an kami lebih senior dibanding manusia?”

“Tidak ada masalah”, jawab Markesot, “Karena senioritas tidak otomatis mencerminkan keunggulan ilmu”

“Lho saya tidak menawarkan pembicaraan tentang keunggulan. Ini sekadar soal duluan dan belakangan”

“Jadi apa maumu dengan mengingatkan saya soal itu?”

“Maunya saya ya mengingatkan. Tidak ada kemauan berikutnya. Tidak ada motivasinya. Tidak ada untuk-nya. Tidak ada agar supaya-nya. Tidak pakai dalam rangka”

“Jadi untuk apa?”

“Tidak pakai untuk”

“Lantas gunanya kamu bertanya apa?”

“Ya untuk memelihara silaturahmi lah, antara manusia dengan Jin. Kan posisi kita sama, bisa baik bisa buruk, bisa benar bisa salah, bisa masuk sorga bisa masuk neraka. Kan baik kalau ada mekanisme interaksi antara Jin dengan manusia. Semacam proses belajar mengajar lah. Jin perlu mendengarkan dan belajar kepada manusia, demikian juga sebaliknya”

Setelah saling terdiam beberapa saat, Saimon bertanya lagi. Padahal Markesot akan meneruskan ngantuknya barang sejenak. Mari berdoa semoga tidak terjadi pertengkaran antara keduanya.

“Menurut kamu, atau dalam pengetahuan ummat manusia, masyarakat Jin itu punya Nabi sendiri apa tidak?”

“Aduh Mon, kamu ini tanya yang jauh-jauh”

“Kok jauh. Nabi kan sesuatu yang paling dekat di hati kita”

“Muhammad lah. Ya Muhammad. Nabi itu ya Muhammad. Kalau semua Nabi dan Rasul diaduk menjadi satu entitas dan keutuhan, jadinya ya Muhammad”

“Maksud saya Nabi kami ummat Jin itu siapa”

“Muhammad. Kan sudah saya jawab tadi. Muhammad”

“Jadi sama dengan Nabinya manusia?”

“Tidak masalah sama atau tidak, yang penting Muhammad”

“Maksudku, Nabi Muhammad kalian itu apakah juga Nabi Muhammad kami para Jin?”

“Lho itu kan pertanyaan manusia kepada Jin, bukan pertanyaan Jin kepada manusia”

“Saya ini menanyakan pandanganmu, pendapatmu”

“Muhammad tidak perlu pandangan, tidak perlu pendapat. Muhammad itu akar segala pandangan dan pendapat. Muhammad itu asal usul segala pengetahuan dan ilmu, sesudah Allah sendiri. Muhammad itu cahaya yang pertama kali diciptakan oleh Tuhan sebelum menciptakan yang lain: alam semesta, jagat raya dan seluruh isinya. Bahkan andaikan Tuhan tidak menciptakan Muhammad, ogah-ogahan juga Ia menciptakan apapun lainnya”

“Jadi Muhammad kami adalah juga Muhammad kalian?”

“Kalian siapa”

“Ya manusia. Siapa lagi”

“Apa saya manusia, belum tentu juga. Dan itu tidak penting. Tuhan maupun Muhammad tidak berkepentingan terhadap saya ini siapa, saya ini ada atau tidak ada. Sayalah yang berkepentingan untuk bergantung hanya kepada Allah, untuk mencintai Muhammad dengan jalan mematuhinya dan mengerjakan hal-hal di balik tangisnya sepanjang hidup di dunia”

“Kok kamu jadi dramatis begitu?”

“Memang Allah, Rasulullah, manusia, Jin dan jagat raya seluruhnya ini adalah dramatika agung yang luar biasa”

“Saya cuma kawatir bahwa ummat manusia menganggap kaum Jin tidak punya Nabi, sehingga ndompleng Nabinya manusia. Padahal terang-terangan Tuhan meninformasikan ‘Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri…

“Sudah. Nggak perlu didramatisir”

“Kan kamu yang dari tadi dramatis melulu”

“Tujuan pertanyaanmu tentang Nabinya Jin itu sebenarnya apa?”

“Ingin mendengar kamu menegaskan bahwa Nabi Muhammad kami bukanlah Nabi Muhammad kalian”

“Ah kamu berlagak bodoh. Pelajar Sekolah Dasar di dunia manusia saja mengerti es adalah air, air juga salju, uap air adalah kepulan yang beberapa saat kemudian bisa membeku dan bernama es. Itu pelajaran sangat elementer yang tidak memerlukan kecerdasan, dan siapa saja yang mengetahui hal itu tidak lantas cukup untuk disebut pandai”

“Tidak ngerti. Di dunia Jin tidak ada SD”

“Ya udah, air saja. Di sungai ini ada air? Ada. Di tengah kota sana ada air? Ada. Di pulau seberang, di luar negeri, di setiap petak dari permukaan bumi ada air? Ada. Jadi berapa jumlah air? Satu? Sepuluh? Beribu-ribu? Tak terbatas? Tak terkait dengan jumlah?”

“Apa ini maksudnya?”

“Berapa jumlah Muhammad? Satu? Ada Muhammad di kamu, ada Muhammad di saya, ada Muhammad di siapa dan apa saja? Karena Nur Muhammad adalah Cahaya Pioneer? Beribu-ribu? Tak terbatas? Tak ada urusannya dengan jumlah?”

“Maaf, di dunia Jin tidak diperlukan filosofi sampai seruwet itu”

“Ini sama sekali bukan filsafat. Ini Fisika”

“Atau terserah itu Filsafat atau Fisika atau apapun, tapi pokoknya di masyarakat Jin tidak ada tuntutan untuk berpikir sampai sebegitunya”

“Kamu tadi kan ingin menegaskan pandanganku tentang Muhammad”

“Memang. Tetapi tidak usah sampai jauh-jauh seperti itu”

“Jauh apanya. Saya cuma bicara air. Air saja bisa bikin pecah kepala Jin. Padahal air hanya bagian kecil dari keseluruhan dan keutuhan Muhammad. Jangan tanya apa-apa tentang Muhammad kalau kamu masih bingung oleh air dan api”

“Lho saya tidak bingung. Kami sudah takjub pada Qur`an sebelum manusia, mana mungkin bingung”

“Nah, sampailah kita pada kesimpulan: kalau memang tidak bingung, berhentilah bertanya kepada saya. Karena saya sedikit ngantuk”.