Beranjaklah dari Pandang Wadagmu, Masuklah ke Hakiki

“Di mana Maiyah dalam 4 November 2016?”
“Kenapa Jamaah Maiyah tidak terlibat di dalam barisan pejuang 411?”
“Maiyah kok nggak ikut 4 November?”
“Apakah Maiyah sengaja mengabaikan peristiwa itu?”
“Kenapa tidak ada komando dari ISIM Maiyah?”
“Kenapa Maiyah tidak ikut dalam gerakan perbaikan secara nyata dan sistematis?”

Wao waoo…. Pertanyaannya memborbardir kami dari di antara sesama Jamaah Maiyah. Sah dan baik-baik saja sebagai dinamika berpikir dan membaca diri.

Tetapi, tidak mungkin menjawab satu-satu pertanyaan di atas. Tidak mungkin juga melontarkan pertanyaan balik, misalnya: “Eh, Anda ikut Maiyahan sudah berapa lama? 1 tahun, 5 tahun, 20 tahun? Atau Anda baru kenal Maiyah kemarin sore?”

Kalau baru 1 tahun, masih wajar pertanyaan itu keluar dari jiwa muda Anda. Tapi kalau Anda mengenal Maiyah sudah 5 tahun lebih atau hampir 20 tahun, kemudian itu isi pertanyaan Anda, rasanya sedih dan lemas membacanya.

Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan itu bisa juga dijawab dengan pertanyaan balik yang panjang, misalnya: “Apakah forum-forum Maiyahan yang sudah berlangsung sekian puluh tahun di beberapa kota itu bukan suatu peristiwa yang ujungnya secara hakiki mencintai Islam dan Alquran? Berapa jam barisan pejuang 411 itu demo? Dan berapa jam ketika Anda Maiyahan? Memperjuangkan apa forum-forum Maiyah itu? Apakah menurut Anda forum Maiyahan itu bukan bentuk demo massa juga? Apakah hanya karena Maiyah tidak ikut dalam barisan pejuang 4 November lalu Anda menstempel Maiyah tidak ikut dalam gerakan nyata dan sistematis?”

Coba kita ingat-ingat, apa yang sudah dilakukan Mbah Nun dan Maiyah kepada Indonesia dalam 25 tahun terakhir? Membahas dan membicarakan apa forum-forum Maiyah itu? Anda menemukan dan mendapatkan apa dalam forum tersebut? Hatimu gembira apa tidak? Ada perubahan apa di dalam dirimu? Harga diri dan martabatmu bagaimana setelah Maiyahan? Anda semakin cinta Islam apa tidak setelah ikut Maiyahan? Sudut pandangmu semakin bertambah atau tidak? Dan lain-lain sebagainya, ratusan pertanyaan layak dilontarkan kembali kepada penanya.

Akhirnya, bombardir pertanyaan di awal tadi cukup dijawab singkat: Buka link ini saja Mas…, Ummat Islam Indonesia Dijadikan Gelandangan di Negerinya Sendiri, utamanya alinea terakhir.

”Ke mana-manapun berpuluh tahun saya menghimpun para pecinta Allah, berupaya menambah jumlah hamba-hamba agar dicintai Allah, mengelola arus positif dan negatif menjadi cahaya. Saya sedih oleh permusuhan, selalu menikmati persaudaraan dengan semua makhluk Tuhan, dan saya tidak bahagia harus bersiap untuk kemungkinan lainnya.”

Kunyahlah kalimat itu dengan baik, kalau sudah lembut, telanlah….

14 November 2016
Jamaah Maiyah Nusantara