Catatan Ngaji Bareng Mbangun Sukowati, Sragen 23 November 2016

Belum Mengerti Patrap dan Empan Papan

Intinya, mereka belum mengerti patrapnya manusia dan empan papan dalam hidup sehingga mudah mengklaim orang lain.

Terbatasnya waktu tidak memungkinkan banyak tanya jawab, maupun eksplorasi-eksplorasi lainnya. Tetapi Cak Nun tetap berusaha mencapai kepadatan.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Kolaborasi antara hadirin dan KiaiKanjeng hadir pada salah satu nomor Letto antara vokalis KiaiKanjeng dan tiga orang partisipan. Pada nomor sebelumnya yaitu Lir-Ilir, Cak Nun secara khusus mendoakan Sragen, dan melalui nomor ini Cak Nun membayangkan Sragen yang guyub rukun sedang ngilir-iliri Indonesia supaya sejuk dan jauh dari suasana kebencian.

Sapaan khusus kepada para tentara Indonesia tak ketinggalan Cak Nun ungkapkan, seperti setiap kali bertemu Dandim di banyak Maiyahan di daerah-daerah, melalui tuturan beliau mengenai hebatnya prajurit TNI yang disegani oleh negara seperti Amerika yang mengerti persis sejarah TNI sebagai guru perang gerilya tentara Vietnam. Tentara Indonesia tak hanya hebat secara kemiliteran tetapi secara budaya dan manusia sangat terampil dan gampang bergaul serta diterima orang lain di negara-negara tempat mereka pernah ditugaskan.

Sebelum acara dipuncaki satu kesempatan bertanya diberikan. Pertanyaan berkisar seputar fenomena kesempitan beragama yang muncul pada sikap gampang mengafirkan, membidahkan amalan, dan menyesatkan keyakinan orang lain atau lebih tepatnya sesama muslim. Penanya menceritakan gencarnya fenomena itu di desa-desa di Sragen.

Cak Nun menanggapi bahwa spesifik fenomena yang dimaksud tak hanya terjadi di Sragen melainkan bercakupan yang lebih luas lagi. Jika keprihatinan ini akan melahirkan suatu langkah untuk musyawarah di antara umat Islam, Cak Nun bersedia membantu menyumbangkan poin-poin pemikiran yang layak direnungkan bersama.

Selain itu, untuk memahami sikap mengafirkan, menyesatkan, dan membidahkan itu sederhana dan simpel saja. Intinya, mereka belum mengerti patrapnya manusia dan empan papan dalam hidup sehingga mudah mengklaim orang lain. Mungkin juga belum memahami agama secara komprehensif, serta belum menguasai pemetaan mengenai khilafiyah dan ikhtilafiyah.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Menutup Ngaji Bareng ini, Cak Nun melantunkan surat an-Nur ayat 35. Suara beliau memenuhi ruangan gedung dan membawa seluruh hadirin khusyuk dan menundukkan wajah untuk memohon kepada Allah Swt. Usai beberapa menit kekhusyukan ini, para hadirin diajak berdiri bersama untuk menyanyikan lagu Syukur. Kurang lebih pukul 15.30, acara telah selesai. Dua nomor dari KiaiKanjeng mengiringi jabat tangan dan kepulangan para aparatur sipil negara pemkab Sragen ini. (hm/adn)