Daur (274)

Belum Cukup Busuk

Tahqiq : “…Sekarang pun seperti tidak ada orang di sekitar kita yang melihat atau menyadari bahwa mereka sedang mengalami kebusukan zaman. Sehingga saya khawatir ternyata sekarang pun kita belum sampai ke puncak kebusukan sejarah itu… ”

Ternyata tidak hanya Toling dan Jitul yang sampai pada suasana hati dan penglihatan pikiran bahwa keadaan sudah darurat.

“Dulu Pakde Paklik mempertanyakan kenapa saya beberapa kali menyimpulkan bahwa keadaan Negara dan Bangsa kita sudah darurat”, Toling protes, “seluruh penjelasan Pakde Sundusin menggambarkan situasi intrinsik maupun ekstrinsik, per manusia maupun pada satuan-satuan sosial, ternyata lebih darurat lagi”.

“Makanya sejak awal saya tidak terlalu bersemangat diskusi-diskusi ini”, Brakodin menjawab, “Pakde mohon maaf soal ini. Tetapi memang tetap penting untuk generasi kalian. Kalian jangan menjadi generasi seperti kami-kami orang tua yang hidup tak berguna”

“Pakde kok cengeng…”, Jitul menyela.

“Maaf, Tul, Pakde ini bukan orang yang jembar hati dan punya kesabaran sejarah seperti Pakde Paklikmu yang lain terutama Mbahmu Markesot. Sering sekali Pakde merasa dihadapkan pada hanya dua kemungkinan: Tuhan sesegera mungkin menolong ummat manusia dan bangsa Indonesia, atau sekalian diakhiri saja zaman yang memuakkan dan sejarah yang menjijikkan ini”

“Kiamat, Pakde?”, tanya Junit.

“Terserah apa bentuknya, juga terserah apa posisinya, kiamat besar atau kecil atau sedang. Tapi pokoknya jelas ummat manusia dengan kelengkapan ilmunya tidak sanggup menolong dirinya sendiri. Jalannya tinggal satu: Tuhan ambil tindakan radikal”

Terdengar suara tertawa Tarmihim.

“Sebenarnya tidak salah apa yang dinyatakan oleh Pakde kalian Brakodin itu”, katanya, “hanya saja dorongannya tidak pasti selalu adalah keadaan Negara dan dunia itu sendiri”

“Maksud Pakde?”, Junit mengejar.

“Seringkali pengharapan agar kiamat segera tiba itu didorong oleh situasi pribadi Pakdemu Brakodin. Subjektif. Mungkin soal rumah tangga, masalah dengan Bu Brakodin, atau lelah membayangkan nasib putra-putrinya kelak, atau entah apa lainnya”

“Pakdemu Tarmihim sedang bercerita tentang dirinya sendiri, Nit”, Brakodin menukas, “jangan sampai tidak cerdas kalau sedang berada di antara Pakde Paklik yang semuanya hampir mati tenggelam di lautan keputusasaan ini”

Tarmihim mengelak, “Orang-orang tua jangan buka-buka tema yang membuat anak-anak muda menjadi ragu untuk mencita-citakan rumah tangga dan keluarga”

“Kita kembali ke soal darurat tadi saja”, Sundusin mengembalikan pembicaraan, “Sebenarnya berpuluh-puluh tahun kami selalu mengalami keadaan darurat. Pertemuan kami dengan Mbah kalian Markesot adalah perjumpaan dengan sesuatu yang sifatnya serba darurat. Cara berpikir Mbah Markesot adalah cara berpikir darurat, suatu percepatan berpikir yang pedomannya adalah jangan sampai dibalap oleh datangnya pagi, siang, sore atau malam. Keadaan dunia dan Negara sekian puluh tahun silam ketika Pakde Paklik ketemu Mbah Markesot, adalah keadaan yang menurut Mbah Markesot sudah darurat. Kondisi manusia sudah sangat busuk. Kondisi politik, kebudayaan, moral, sistem, birokrasi, dan semuanya sudah sangat darurat. Padahal ketika itu keadaan belum separah sekarang….”

Sundusin mengambil napas sejenak.

“Sudah berlangsung penindasan kepada rakyat, tapi agak lebih transparan dibanding saat ini. Sudah terjadi ketimpangan ekonomi, kerusakan kebudayaan, irasionalitas politik yang dibungkus demokrasi, tetapi tidak semunafik dan sehipokrit sekarang. Ketika itu Mbah Markesot kalian hampir tiap hari mengingatkan bahwa kami semua sedang mengalami proses pembusukan zaman dan sebentar lagi tiba di puncaknya. Tetapi terjadi beberapa kali momentum sejarah yang kami menyangka itu adalah puncak pembusukan, ternyata belum cukup busuk untuk tipologi mental bangsa kita. Bangsa kita memerlukan kebusukan dan pembusukan yang lebih busuk lagi. Dan itu bertahap-tahap terus sampai hari ini. Sekarang pun seperti tidak ada orang di sekitar kita yang melihat atau menyadari bahwa mereka sedang mengalami kebusukan zaman. Sehingga saya khawatir ternyata sekarang pun kita belum sampai ke puncak kebusukan sejarah itu….”

“Kalau yang sekarang ini apa belum puncak pembusukan, Pakde?”, Seger bertanya, “bangsa ini dipimpin oleh suatu Pemerintahan yang langkah-langkahnya sangat mempercepat kehancuran. Membukakan pintu lebar-lebar untuk perampokan dan penjongosan atas bangsanya sendiri. Sejarah kita saat ini sedang bergulir menuju pemecahan dan perpecahan. Tidak hanya antar golongan manusia, tapi juga pemisahan bagian-bagian dari Negara ini menjadi Negara-Negara yang baru….”.