Daur (78)

Belajar Hidup Sesudah Mati

Kemungkinan besar makhluk macam Markesot ini tergolong yang dimaksud Tuhan di dalam pernyataan dan informasi-Nya: Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka sendiri, dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya”

Kemudian, ”Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupannya di dunia, bahkan lebih loba lagi dibanding orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”

Markesot melangkahkan kaki di tengah rel. Kalau dilihatnya di depan ada orang, ia segera menundukkan kepalanya. Pura-pura sibuk mikir dengan ekspresi wajah yang seolah sedang merenung. Ia berharap orang tidak menyapanya karena itu.

Kalau ada kereta akan lewat, baik yang tampak jauh di depan, atau yang terasa getarannya dari arah belakang, Markesot menepi. Kalau ada sungai atau semacam lembah kecil, syukur ada rerimbunan pohon, ia bersembunyi. Ia khawatir di antara penumpang kereta api ada alumnus Patangpuluhan yang tak sengaja melihatnya, kemudian mengambil kesimpulan bahwa Markesot sudah semakin sempurna sakit gilanya.

***

Markesot agak bingung memahami pemberitahuan dan teguran Tuhan: “dan sesungguhnya engkau telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah engkau tidak mengambil pelajaran untuk penciptaan yang kedua?”

Ini maksud Tuhan berlakunya kapan? Kalau nasihat pembelajaran itu untuk dilaksanakan dalam kehidupan di dunia yang sekarang, “penciptaan yang pertama” itu maksudnya kapan? Dalam kehidupan yang sebelumnya?

Kalau maksudnya adalah pada kehidupan yang sekarang, kenapa pakai kata-kata “penciptaan yang pertama”? Kenapa bukan, misalnya, “penciptaan di dunia”?

Kalau ada penciptaan yang pertama, apakah itu berarti ada penciptaan yang kedua, ketiga, keseribu-lima-ratus dan yang berikut-berikutnya? Kalau Tuhan berkehendak ada penciptaan yang pertama, Ia berhak mutlak pula untuk menyelenggarakan penciptaan hingga ke berapa pun.

Sebagaimana informasi dari Rasulullah Saw bahwa tadi malam Beliau diajak Malaikat Jibril untuk berisra`mi’raj. Sekarang kita tak sengaja menyimpulkan Rasulullah Saw berisra`mi`raj satu kali. Padahal tidak ada bagian dari informasi itu bahwa beliau berisra`mi`raj hanya satu kali. Andaikan ternyata beliau naik hingga langit tujuh seminggu dua kali, apa kita marah dan membantah?

Ataukah “penciptaan yang pertama” itu maksudnya di dunia, dan yang kedua kehidupan di akhirat? Tetapi kalau manusia sudah menjalani akhirat di sorga ataupun neraka, apa perlunya pembelajaran dari dunia “penciptaan yang pertama”? Di sorga kita tidak berjuang dan belajar lagi, tinggal menikmati. Di neraka apalagi. Mustahil di neraka ada klub pembelajaran bersama.

Jadi, belajar hidup sesudah mati yang ditegurkan oleh Tuhan itu maksudnya kapan? Kalau di akhirat kan tidak mungkin.

***

Tuhan langsung yang menginformasikan: “Mereka tidak akan merasakan mati di dalam sorga kecuali mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari adzab neraka”

Di sorga tidak ada kematian, jelas. Kholidina fiha abada. Kekal abadi. Meskipun kekal abadinya makhluk tetaplah relatif dan tergantung keputusan Tuhan yang mutlak kekal abadi-Nya.

“Kecuali mati di dunia”? Apakah “di dunia” itu berarti hanya di bumi sini dan hanya sekali, yang sedang kita alami? Pelajarilah betapa besar dan agungnya alam semesta, kemudian tertawakanlah betapa tak seperseribu-debu-pun bumi kita. Perhatikanlah tak terjangkaunya ruang dan waktu oleh pengetahuan manusia, kemudian pikirkanlah bahwa Tuhan hanya mendayagunakan seperseribu debu yang bernama bumi, dan mengambil durasi kehidupan makhluk yang seper-tak-terhitung dari bagai tak berujungnya waktu.

Kita manusia di bumi adalah makhluk besar kepala, merasa paling hebat dan paling pandai. Dan siapakah di antara manusia yang menjawab pertanyaan awal tadi: “dan sesungguhnya engkau telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah engkau tidak mengambil pelajaran untuk penciptaan yang kedua?” — kapan dan di mana berlakunya?

Markesot nekat bermanja kepada Tuhan, ia bergumam : “Matikanlah hamba sekian kali….”

Dan itu agak menjebak, karena di sebaliknya ada kalimat yang tidak Markesot ucapkan:

“Hidupkanlah hamba sekian kali”.

Karena bagaimana mungkin ada kematian bisa dilaksanakan jika tak didahului oleh kehidupan.

“Terserah ketentuan-Mu ya Tuhan, berapa kali Engkau matikan aku sesudah sekian kali Engkau hidupkan. Terserah Engkau kau hidupkan aku sebagai siapa atau apa, di mana atau tak di manapun, tetap di bumi ini atau di salah satu satu triliunan bumi yang lain. Terserah Engkau pula kapan hal itu Engkau laksanakan. Langsung boleh, agak ditunda aku akan bersabar, belakangan pun aku bersedia”

***

Belum diteliti apakah sejak Nabi Adam dulu sudah pernah ada manusia yang mengemukakan hal semacam itu kepada Tuhan.

Sebenarnya perlu dicari maksud baiknya Markesot. Mungkin karena selama ia menjalani hidup di dunia yang sekarang ini ia merasa kurang berguna bagi sesamanya, sehingga ia melamar kepada Tuhan “give me the second chance”, beri hamba kesempatan kedua.

Kalau agak muluk-muluk, mungkin Markesot menyimpulkan bahwa kompleksitas kerusakan yang dibangun oleh ummat manusia sudah sampai pada tahap di mana Markesot tidak mungkin mampu turut mengatasinya. Juga ia sudah semakin berumur. Tak ada waktu lagi untuk perjuangan dengan multisolusi peradaban yang kelihatannya memerlukan hidup tiga atau empat kali.

Jadi tidak mudah juga untuk memastikan bahwa gagasan Markesot itu salah seratus persen. Kalau itu gila dan terlalu liar, lebih mendekati kebenaran. Lha Tuhan sendiri menyatakan dengan tegas, “Mengapa kamu ingkar kepada Allah, padahal tadinya kamu mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, dan akhirnya kepada-Nya kamu dikembalikan?”

Kalau mati adalah ujungnya hidup, kalimat “padahal tadinya kamu mati” itu maksudnya bagaimana. Kalau “tadinya kamu tidak ada”, agak mudah dipahami.

Lantas “…lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan, dan dihidupkan-Nya kembali…” — itu hitungan angka padat — hidup, mati, hidup, mati — ataukah ia bisa berarti tanpa batas hitungan: hidup mati hidup mati hidup mati hidup mati hidup mati hidup mati hidup mati hidup mati hidup mati…baru mencapai final dan kita dilantik menjadi juara di sorga, atau menjadi makhluk kalah melawan dirinya sendiri di neraka.

Dan sepertinya Markesot belum begitu cocok untuk disebut sebagai  seorang musyrik yang berkata, sebagaimana ditegaskan Allah di dalam Quràn: “Tidak ada kematian selain kematian di dunia, dan kami sekali-sekali tidak akan dibangkitkan”

Dia bahkan agak rakus kebangkitan.