Daur (66)

“Bebendhu Tan Kasat Moto
Pepeteng Kang Malih Rupo”

Sebelum Markesot pergi, Sapron menyempatkan diri untuk memperoleh konfirmasi tentang satu hal. Yakni kenapa sekarang banyak bicara tentang dunia dalam manusia, bukan struktur sosial. Kenapa omong banyak tentang rakyat, bukan negara dan pemerintahnya.

Memang tepat tengah malam Markesot meninggalkan rumah hitam Patangpuluhan. Tujuannya Sapron hampir memastikan: menuju suatu tempat untuk menemui Kiai Sudrun.

Begitulah Markesot. Selalu sibuk dengan kecemasan dan rasa daruratnya sendiri atas dunia dan ummat manusia. Sementara dunia tenang-tenang saja tak kurang suatu apa, dan ummat manusia tidur dengan nyenyaknya.

Bahkan dunia dan manusia tak kenal pula pada Markesot yang mencemaskannya. Kalaupun ada satu dua yang mengenalnya, mereka cueg-cueg saja, tak ada sesuatu yang perlu dicemaskan, apalagi dengan kecemasan setingkat kecengengan Markesot.

Beberapa saat yang lalu sambil menyiapkan sejumlah hal, pakaian, beberapa kertas sobekan, sebuah bungkusan kain kumal yang entah apa isinya, Sapron mendengar Markesot rengeng-rengeng lagu Jawa yang ia tembangkan dengan sangat buruk sekali:

Bebendhu tan kasat moto, pepeteng kang malih rupo…”, itu diulang-ulang. Alhamdulillah hanya Sapron sendiri yang mendengarnya. Volume suara Markesot tidak sampai melebar-lebar ke telinga para tetangga. Sehingga Sapron tidak perlu menanggung rasa malu.

Tembang itu dilantunkan oleh Markesot, bergantian dengan sebuah lagu yang Sapron ingat pernah dinyanyikan oleh orang yang tidak terkenal sama sekali, lagu itu juga tidak popular dan tidak laku:

“Akhirnya akan sampai di sini
Di amanat Ilahi Rabbi
Orang-orang tak lagi bisa menanti
Zaman harus segera berganti pagi

Aku tangiskan teririsnya hati
Para kekasih di dusun-dusun sunyi
Terlalu lama mereka didustai
Sampai hanya Tuhan yang menemani

Ya Allah
Sudah tak bisa diperpanjang lagi
Kesabaran mereka, ketabahan mereka
Sesudah diremehkan dan dicampakkan

Akhirnya akan sampai di sini
Di arus gelombang yang sejati
Kalau perahu itu adalah tangan-Mu sendiri
Tak akan ada yang bisa menghalangi”

***

Sapron turut siaga kalau-kalau Markesot memerlukan sesuatu sebelum pergi dari rumah hitam.

Sapron menggerundal lirih kepada dirinya sendiri.

“Apa itu bebendhu tan kasat moto…. Kalau bebendhu ya kasat mata. Gempa. Longsor. Banjir. Gunung meletus. Badai puting beliung. Air laut meluap ke darat….”

Pepeteng kok malih rupo… Kalau peteng ya gelap. Kalau gelap ya rupa apa saja tidak tampak. Berubah wajah kayak apapun kalau dalam kegelapan ya tidak kelihatan…”

Akhirnya akan sampai di sini…. Di sini di mana. Dari dulu ya di sini. Sesekali ke sana, sananya tidak pernah jelas. Bahkan di sini di rumah hitam ini juga tidak jelas. Di amanat Ilahi Rabbi…. Amanat apa? Memangnya Markesot Nabi? Kok merasa diamanati Tuhan. Ayam juga diamanati Tuhan. Pohon juga diamanati Tuhan….”

Orang-orang tak bisa lagi menanti… Siapa yang tak bisa lagi menanti? Orang-orang tenang-tenang semua, tertawa-tawa, cengengas-cengenges, tak kurang suatu apa. Kalau memang menanti, apa yang dinanti? Ratu Adil? Satrio Pinilih? Imam Mahdi? Mesiah? Kalau menanti laba atau uang lebih banyak, memang…. Tapi bukan yang serem-serem muluk-muluk seperti di syair lagu itu….”

Zaman harus segera berganti… apanya yang berganti. Pager ganti handphone. Mesin ketik ganti komputer. Pejabat ganti preman. Pemimpin ganti gentho. Ulama ganti Gus. Kiai ganti Ustadz. Informasi ganti rerasanan. Komunikasi ganti penggelapan. Silaturahmi ganti pisuhan….

“Aku tangiskan teririsnya hati…. Silakan dikulum-kulum dan ditelan sendiri sana tangismu…. Para kekasih di dusun-dusun sunyi…. Kan Sampeyan sudah siap-siap mau pergi entah ke kesunyian dusun atau hutan atau gunung…silakan”

***

Walhasil di ruang kesetiaan Sapron kepada Markesot, terkandung ketidakpahaman, kesalahpahaman, kelelahan, rasa sebal, tapi juga penasaran, gairah untuk lebih menyelam, dan bermacam gejolak yang saling bertentangan, namun juga dorongan untuk menggumpalsatukan.

Begitulah dzat yang bernama cinta.

Ia penuh api, sangat membakar, tapi di ujungnya cahaya juga yang mempersatukannya.

Ketika Sapron mengejar Markesot kenapa yang dipandang terutama manusianya dan bukan tatanan sosialnya, kenapa yang disentuh rakyatnya dan bukan negara dan pemerintahnya, jawaban Markesot lebih pelik lagi untuk bisa dipahami.

“Di wilayah yang tidak saya pandang itu, adzab sedang berlangsung”, kata Markesot, “tak ada sesuatu yang bisa saya lakukan atasnya. Ada, tapi masih di tangan Tuhan. Ranah yang saya berpaling itu sedang dikepung oleh kegelapan. Yang saya perhatikan adalah sisa-sisa wilayah kemanusiaan yang mengandung benih masa depan. Yang saya datangi di ujung kegelapan malam adalah semburat fajarnya, yang akan segera menerbitkan matahari pagi”

Aduh. Ini penyair remaja lagi, karya orang tua.

Kok adzab sedang berlangsung. Adzab gimana. Kereta cepat sedang dibangun. Infrastruktur diratakan. Jutaan orang lalu-lalang menaiki pesawat, kereta, bis dan kendaraan pribadi. Mal-mal penuh sesak. Uang berputar menciptakan siklon di semua tempat.

Satrio Piningit telah turun ke bumi dan memimpin negara. Segala yang dilakukannya selalu baik. Setiap langkahnya tidak ada yang buruk. Seburuk apapun tetap baik. Sesalah apapun tetap benar. Sebodoh apapun tetap pandai. Sebanyak apapun janji tidak dipenuhi, yang salah adalah janjinya, bukan yang berjanji.

Rakyat sangat waskita dan cerdas memilih pemimpinnya. Pemimpin yang mereka pilih hampir semutu Tuhan itu sendiri. Negeri ini sudah tidak memerlukan tokoh apapun dan juru selamat sedahsyat apapun. Rakyat sudah menentukan dan mengangkat pemimpin yang mereka puja melebihi Tuhan, mereka junjung melebihi Nabi.

Dajjal, Ya’juj Ma’juj, tak perlu dikawatirkan lagi. Konspirasi global, sindikat konglomerasi dari utara, rekayasa-rekayasa yang memasuki penyusunan Kabinet, yang mengatur lalu lintas modal, yang menentukan skala prioritas pembangunan, dan apapun saja yang diseram-seramkan itu, hanyalah isu dari orang-orang yang tidak mendapat bagian.

Bangsa ini tidak takut kepada Dajjal, Iblis dan Setan, karena sudah dipimpin oleh Tuhan langsung. Bangsa ini tidak merindukan Imam Mahdi, Satrio Pinilih, Mesiah, Ratu Adil, karena pemimpin yang mereka pilih sudah sangat adil, sangat pinilih setiap gerak geriknya, sangat mesianistik kebijakan-kebijakannya. Pemimpin mereka sangat ‘mahdi’, sangat terbimbing, sangat dituntun oleh hidayah, Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu.

Bahkan Sang Pemimpin sudah menggerakkan revolusi mental, move on, dan berbagai macam gelombang besar sejarah, yang kalau bukan Tuhan, tak mungkin sanggup menyelenggarakannya. Sang Pemimpin bangsa ini can do no wrong, tak bisa salah. Dan siapakah itu kalau bukan Tuhan?