Daur (104)

Be a ‘Qouman Akhor’

Saimon yang menggoda-goda terus membuat Markesot agak terbakar. Rasanya memang perlu segera membuat semacam goncangan di dunia manusia. Markesot jadi ingin mempercepat perjalanannya untuk menemukan Kiai Sudrun. Tapi ia masih toleran pada kunjungan Saimon. Tidak bisa memotong prosesnya begitu saja.

Yang dimaksud guncangan oleh Markesot kalau bahasa anak remaja sekarang ya Revolusi. Suatu jenis perubahan yang menyeluruh, melibatkan hampir semua faktor di dalam Negara, Kerajaan atau apapun beserta rakyatnya, lengkap dengan pengubahan susunan kekuasaannya, tata nilai sistemnya.

Menjebol, merobohkan, menghancurkan, memusnahkan yang lama dan menggantinya dengan yang baru. Seolah-olah memulai kehidupan dari nol kembali. Tidak hanya soft reset, tapi hard reset. Bahkan mengganti seluruh perangkat dalam CPU-nya, memperbaharui OS-nya, sifat-sifat dasar mekanismenya, sampai semua aplikasinya. Semuanya.

Ibarat Kiamat Kecil. Tuhan membatalkan makhluk yang lama yang gagal sejarah, menggantikannya dengan “qoumun akhor”. Manusia-manusianya boleh tetap yang kemarin, tetapi ia bukan yang kemarin, karena mereka bangun dengan kesadaran baru, tekad baru, aspirasi dan cita-cita yang baru.

Namanya maupun sejumlah perangkat dan aturannya boleh tersisa yang lama asalkan dengan prinsip baru. Perubahan dari akarnya. Perubahan substansial setotal-totalnya. Bahkan setiap orang merelakan sangat banyak hal harus diubah di dalam diri mereka masing-masing, demi perubahan bersama yang mendasar dan sungguh-sungguh.

Dan Markesot merasa sanggup merintis dan melakukan itu semua. Dengan semacam Ilmu Sihir berskala kosmis, dihembuskan dengan semacam “shoihatan wahidatan”, suatu teriakan agung, menghentak dan menggelegar, sejauh skala yang diperlukan, melalui aktivasi jaringan dan tekan tombol “on” sebagaimana yang dinanti-nantikan.

***

Jangan bernafsu dulu. Pelan-pelan pahami. Itu Markesot merasa sanggup. Tidak sama dengan Markesot benar-benar sanggup. Kalau ada orang Jawa, pahami bahwa Markesot sedang “rumongso biso”, selidiki dulu dengan saksama apa ada dimensi “biso rumongso”, yang membuat pernyataan itu objektif faktual pada dirinya sendiri.

Salah satu kemungkinan terbesarnya adalah Markesot sekadar berbesar kepala sehingga “merasa bisa”, tanpa “bisa merasa”. Siapa saja yang menemukan itu jangan pula terkejut, kalau memang sudah mengenal siapa dan bagaimana kebiasaan hidup Markesot.

Walhasil, Markesot itu disimplifikasi saja. Mungkin dari tengah proses perjalanannya ada hal-hal tertentu yang menarik untuk dipelajari, bagi siapapun yang tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menghikmahi peristiwa-peristiwa dan makna-makna dalam kehidupan. Tetapi kalau upaya penghikmahan itu terlalu merepotkan, dan bisa memerosokkan ke alam takhayul, lebih afdhal kalau Markesot disederhanakan saja.

Misalnya, seluruh perilaku dan perjalanan Markesot ini sebenarnya tidak lebih tidak kurang merupakan peristiwa keputus-asaan. Gitu saja lebih memudahkan. Markesot usil dan ge-er memikirkan hal-hal besar yang di luar jangkauannya. Akibatnya kepalanya pecah sendiri. Ambil kesimpulan seperti itu, kemudian pastikan untuk jangan sampai ada persentuhan lagi dengan Markesot.

Halangi jangan sampai dia terlibat di dalam proses berpikirmu. Pagari jangan sampai ia memasuki mimpimu. Bikin tembok setebal-tebalnya jangan sampai kata Markesot terdaftar dalam peta ingatanmu. Sebab kalau ada persentuhan sedikit saja, tiba-tiba kau dengar keras sekali ia melontarkan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam diri, padahal tidak pernah kau ungkapkan kepada Markesot.

***

“Siapa bilang kepala saya pecah?”, suara Markesot nanti mengiang-ngiang di kepalamu, “Saya justru sangat menikmati ini semua”

Lho, kok menikmati?

“Karena banyak sekali lucu-lucunya”

“Lucu bagaimana. Negara mau ambruk gini kok dibilang lucu”

“Salahnya kamu hidup di sini, sehingga tidak merasakan apa yang lucu. Semestinya kau patuhi fatwa dalam teks lagu kebangsaanmu: Di sanalah aku berdiri. Di sana. Kok kamu di sini”

“Tapi Cak Sot kan juga berdiri di sini”

“Tubuhku di sini, tapi hatiku di sana”

“Jadi Sampeyan tidak mencintai Negara kita? Jadi Indonesia tidak ada di hati Cak Sot?”

“Badanku di Indonesia, hatiku di Negeri Nusantara Khatulistiwa”

“Gitu-gitu itu nambah ruwet, Cak Sot”

“Lho, yang ini memang pernah Negara, tapi akhir-akhir ini semakin bukan Negara. Maka untuk sementara saya berdiri di sana: di Negeri Nusantara Khatulistiwa”

“Ah, itu cuma istilah atau retorika saja, Cak Sot”

“Kok retorika bagaimana. Negara ya tidak sama dong dengan Negeri. Hurufnya saja beda. Apalagi definisinya. Terlebih lagi maknanya”

“Beda gimana?”

“Negeri lebih luas dari Negara. Negeri itu dimensinya lebih luas: kultural, kemanusiaan, spiritual. Di dalam Negeri kami belajar dan mempelajari Negara, karena yang sekarang mengaku Negara, semakin kehilangan logika dan legalitas dan tanggung jawab untuk disebut Negara”

“Wah njlimet itu, Cak Sot”

“Saatnya nanti akan tiba kalian yang secara resmi disebut warga-warga Negara, menyadari bahwa kalian sedang hidup di wilayah Gagal Negara”

***

Mudah-mudahan jelas sekarang kenapa jangan bersentuhan sedikit pun dengan Markesot, meskipun sekadar dalam mimpi. Kecuali kalian punya ketahanan untuk disiksa oleh igauan dan omelan orang gila.

“Kenapa para warga Negara tidak menggunakan kedaulatannya sampai sejauh ini?”

“Yang berdaulat kan Negara, Cak Sot”

“Lho gimana. Kalimat pusaka kalian sejak kemerdekaan dulu kan Kedaulatan Rakyat. Kedaulatan setiap orang yang menghuni Negara. Kedaulatan berpikir. Kedaulatan mengambil keputusan. Kedaulatan untuk ya atau untuk tidak”

“Kan Negara ada tatanannya, ada aturan dan sistemnya, Cak Sot. Kedaulatan rakyat diwakilkan pada orang-orang yang terpilih. Kan mustahil kalau 350 juta rakyat harus kumpul jadi satu melakukan sidang-sidang”

“Baiklah. Kalau begitu untuk sementara biarlah para aktivis Negeri mencoba menggunakan kedaulatannya untuk berikhtiar menolong recovery Negara. Atau membiarkan Negara tetap bukan Negara. Atau memaksa-maksakan pikiran untuk meyakini bahwa yang bukan Negara ini adalah juga Negara. Atau silakan juga kalau maunya tetap menikmati hidup mandiri di wilayah konteks Negeri sebagaimana selama ini”.