Daur (85)

Batas Syafaat

Sedangkan Rasulullah Saw kekasih utama Allah dibatasi usulannya yang menyangkut neraka dan sorga, hanya sebatas hamba-hamba Tuhan yang mempercayai dan mencintainya.

Pasti Rasulullah mencintai dan ingin menyelamatkan seluruh ummat manusia, tetapi Allah terapkan galengan-galengan: pecinta kekasih-Nya itu diselamatkan, tetapi para pelecehnya, penghinanya, lain masalah.

Lho siapa Markesot, kok nekat mau menawar regulasi wabal? Ia tidak berjasa hidupnya, jangankan kepada ummat manusia, atau sekadar kepada lingkaran teman-temannya saja pun, bahkan Markesot tidak berjasa atas dirinya sendiri.

Tuhan memegangi tangan kinasihnya itu dengan hak patent Syafaat, yang diberlakukan hanya untuk mereka yang mengikuti jejaknya. Selebihnya, hanya bisa ditangisi tiap malam hingga dini hari oleh beliau dalam sujud-sujudnya.

Barangsiapa ittiba’ Rasul, ia memperoleh hak syafaat. Yakni hak untuk ditolong oleh Muhammad Saw berdasarkan aturan khusus dan hak prerogatif yang dianugerahkan oleh Allah Swt. Ditolong untuk diampuni dosa-dosanya yang tidak didapatkannya jika ia tidak berjalan di belakang langkah Rasulullah.

Disyafaati untuk terhindar dari bahaya tatkala semestinya ia terkena bahaya. Disyafaati untuk laku jualannya lebih banyak pada posisi seharusnya hanya laku sedikit. Disyafaati untuk disembuhkan oleh Allah pada kondisi rasional yang semestinya tak sembuh. Atau disyafaati dengan terbukanya jalan keluar atas persoalan yang pada kondisi normal seharusnya tertutup jalannya.

Memang meskipun berada di shaf paling belakang, sejak kanak-kanak Markesot mengambil keputusan pribadi untuk menjadi pengikut Muhammad Saw. Walaupun hanya secuil, berarti ia punya hak disyafaati juga. Tetapi khayal kalau ia membayangkan potensi syafaat itu ia terapkan ke tingkat penawaran terhadap aturan balasan Allah atas kelakuan manusia.

***

Ada saat-saat di masa mudanya Markesot mengembara ke berbagai wilayah dimensi, peta spiritual, atlas budaya dan apa saja sekena-kenanya. Banyak madzhab, aliran, sekte, kelompok thariqat, bermacam-macam ‘gua’ kebatinan ia masuki. Beberapa kali pimpinan kelompok ini itu menawari Markesot untuk membaiatnya.

Di sela pertemuan-pertemuan, kepada salah seorang di tempat itu, yang kelihatannya berposisi sama dengannya, Markesot bertanya:

“Baiat itu apa?”

“Itu ucapan janji iman dan kesetiaan kepada Allah”, dijawab oleh seseorang itu.

“Saya yang dibaiat?”

“Ya”

“Sampeyan juga?”

“Ya”

“Siapa yang membaiat kita?”

“Beliau Mursyid kita?”

“Siapa beliau itu?”

“Mursyid kita”

“Mursyid itu apa?”

“Yang menuntun jalan kita”

“Kenapa beliau yang menuntun kita?”

“Karena beliau ‘alim sehingga lebih mengerti jalan menuju Allah”

“Sampeyan sudah tahu jalan menuju Allah?”

“Belum”

“Apalagi saya”

“Makanya kita perlu dibimbing oleh Mursyid”

“Bagaimana caranya kita yang belum tahu jalan ke Allah bisa menyimpulkan ada seseorang yang sudah tahu jalan ke Allah?”

“Beliau kan Mursyid”

“Bagaimana kita tahu bahwa beliau Mursyid?”

“Kata semua orang di sini beliau itu Mursyid”

“Waduh saya belum punya pengetahuan batin dan ke’aliman yang membuat saya bisa tahu beliau Mursyid atau bukan”

“Semua orang di sini bilang begitu”

“Kalau begitu semua orang saja yang membaiat Sampeyan”

“Lho kok gitu?”

“Kan Sampeyan percayanya kepada semua orang, bukan kepada yang disebut Mursyid itu”

“Lho mereka semua percaya bahwa beliau Mursyid”

“Makanya semua orang saja yang membaiat Sampeyan, kecuali beliau menyebut bahwa diri beliau itu Mursyid”

“Memang saya pernah juga mendengar beliau menyebut diri beliau Mursyid”

“Bagaimana caranya Sampeyan tahu dan menyimpulkan bahwa beliau Mursyid?”

“Semua orang di sini percaya bahwa beliau memang Mursyid”

***

Pembicaraan mereka berputar-putar melingkari garis dan titik-titik yang sama. Dan Markesot ternyata sangat menikmati. Mungkin karena hidup Markesot sendiri memang hanya muter-muter tanpa pernah mencapai suatu pencapaian.

“Kenapa tho kita dibaiat?”, Markesot bertanya lagi.

“Untuk menandai dan meneguhkan imanmu kepada Allah dan istiqamah jihadmu membela kebenaran Allah”

“Pertanyaan saya: kenapa kita dibaiat?”

“Untuk menandai dan meneguhkan iman kita kepada Allah dan istiqamah jihad kita membela kebenaran Allah”

“Saya perjelas pertanyaan saya: bagaimana penjelasannya kok saya berposisi dibaiat dan Panjenengan berposisi membaiat?”

“Untuk menandai dan meneguhkan iman kita kepada Allah dan istiqamah jihad kita membela kebenaran Allah”

“Begini lho, kenapa kok orang itu yang membaiat kita?”

“Untuk menandai dan meneguhkan iman kita kepada Allah dan istiqamah jihad kita membela kebenaran Allah”

“Maksud saya, misalnya begini: kenapa bukan kita yang membaiat beliau, atau beliau yang kita baiat?”

Markesot nyerocos.

“Tapi terus terang kalau saya tidak akan pernah mau membaiat siapapun, sebab di depan Allah saya tidak mampu menolong orang yang saya baiat”

Orang itu menjawab agak jengkel, “Ya mustahil lah Pak….”

“Maksudnya?”, Tanya Markesot.

“Tidak mungkin ada orang, sebodoh apapun dia,  yang mau dibaiat oleh Njenengan”

“Lho kenapa?”

“Siapa yang percaya bahwa Njenengan seorang Mursyid”

“Kok Sampeyan percaya bahwa beliau Mursyid?”

“Kan jelas tanda-tandanya. Cara berpakaiannya saja sudah menunjukkan ke’aliman beliau. Belum lagi kefasihan bicaranya. Kalau ngimami shalat juga enak. Dan yang utama beliau pernah belajar di Arab”