Daur (261)

Batas Langit Ketuhanan

Tahqiq : “...Mereka percaya kepada imajinasi, tetapi kegiatan imajinasinya dikawal oleh sinisme stigmatik terhadap apapun saja yang pancaindra dan logika persekolahannya tidak mampu menyentuh....”

Brakodin kembali ke lingkaran teman-teman dan para keponakannya, dengan wajah yang agak salah tingkah sendiri, serta tidak begitu bisa ikut berkonsentrasi pada apa yang sedang dibicarakan oleh mereka. Beberapa saat terlihat tegang, kemudian tampak agak tersenyum, kemudian malah menutupkan tangannya ke mulut karena menahan tertawa, lantas berikutnya seperti tegang lagi.

Akhirnya Brakodin menegakkan punggungnya, sekilas mendongakkan wajahnya ke atas, melakukan pernapasan panjang beberapa kali, mensedekapkan kedua tangannya di depan dada.

“Kenapa saya masih saja kaget dan terpesona terhadap hal-hal yang sejak puluhan tahun yang lalu bersama Markesot pernah saya alami, saya lihat dan dengar?”, kata Brakodin dalam hati, kepada dirinya sendiri.

Andaikan yang datang bukan orang tua, tetapi kertas itu sendiri yang hadir dengan melayang-layang. Atau diulurkan oleh tangan, tangan saja, tanpa kepala dan badan, dari atas, yang muncul dari sela-sela genting. Atau angin kencang menghembus masuk dari luar ke dalam ruangan, dan membawa kertas itu tiba-tiba saja sudah berada di tangan Tarmihim. Atau yang mengantarkan kertas itu adalah Malaikat yang berpenampilan hantu, atau Iblis yang berkostum Malaikat, atau apapun saja. Bahkan andaikan yang datang bukan kertas dan tulisan, melainkan suara, yang bertutur seperti orang membaca makalah atau sajak, yang bisa didengar oleh hanya mereka yang berada di dalam ruangan, tapi tak terdengar apa-apa bagi semua yang di luar ruangan. Atau malahan di antara mereka yang duduk di ruang itu ada yang mendengarnya dan ada yang tidak.

“Itu aneh bagi logika materiil, tapi wajar-wajar saja atau mungkin-mungkin saja bagi pola pandang supra-materiil”, demikian Brakodin menceramahi dirinya sendiri tanpa bunyi dari mulut maupun gerak bibir, “itu tidak dipercaya oleh kebanyakan penghuni peradaban modern Abad 20 dan 21 yang materialisme adalah batas langit ketuhanannya. Itu dimuntahkan, ditampik, diremehkan bahkan ditertawakan dan diperhinakan oleh para schoolars modern. Yang meyakini bahwa kehidupan hanya terbatas pada apa yang kasat mata dan kasat indra. Yang menyangka bahwa yang ada hanyalah yang bisa disentuh oleh pancaindra dan batas sempit logika materiilnya. Selebihnya, tidak ada. Yang tersisa hanya khayal dan halusinasi”

Brakodin sesekali tampak senyum-senyum sendiri.

“Orang-orang yang cerdik pandai ini berkhayal saja diawasi oleh logikanya. Mereka percaya kepada imajinasi, tetapi kegiatan imajinasinya dikawal oleh sinisme stigmatik terhadap apapun saja yang pancaindra dan logika persekolahannya tidak mampu menyentuh. Mereka menyangka logika adalah milik mereka. Atau logika hanyalah sebatas apa yang mereka kenali sebagai logika dan rasionalitas. Mereka tidak punya reserve untuk menampung kemungkinan bahwa yang mereka pahami sebagai logika dan rasionalitas itu bisa jadi sekadar kulit terluar dari hakiki logika dan maha-semesta rasionalitas. Bahwa logika dan rasionalitas yang mereka mengerti hanyalah secipratan sejatinya logika dan jagat maha luas rasionalitas yang tersedia dalam takdir kehidupan. Bahwa logika dan rasionalitas yang mereka bangga-banggakan hanyalah sejenis operating-system kelas rendah dari ketersediaan jagat logika dan rasionalitas oleh Kuasa Sejati yang memproduksinya”

Brakodin menghela napas sangat panjang.

“Tapi tidak logisnya adalah bahwa mereka percaya kepada Tuhan. Berlipat lagi tidak logisnya karena kepercayaan mereka kepada Tuhan, sebagai sebab, tidak mengakibatkan mereka percaya dan menerima kehadiran Tuhan yang mereka percaya. Mereka meremehkan kehadiran Tuhan di depan mata mereka, di area pendengaran mereka, di lingkup pencapaian pancaindra mereka. Mereka memakai anggapan materialistik bahwa Tuhan ada nun jauh di sana. Tuhan tidak ber-tajalli ke sekitar kita. Tuhan tidak meletakkan diri berdekatan dengan kehidupan sehari-hari kita. Tuhan menyatakan bahwa Ia berada lebih dekat dari urat leher setiap hamba-Nya, tetapi para hamba tidak mempercayai itu dalam ilmu maupun perilakunya”

Untung tidak ada yang memperhatikan Brakodin secara khusus. Karena mereka sibuk menafsiri kalimat-kalimat di surat Markesot.

“Benar-benar aneh kelakuan manusia. Tuhan selalu dekat pada diri mereka, tapi mereka mengusir-Nya. Mereka melemparkan Tuhan ke tempat yang jauh, di arasy yang sangat tinggi dan tak terjangkau, di luar galaksi-galaksi. Kemudian mereka ditimpa masalah-masalah, dan merasa kerepotan sendiri mencari Tuhan. Mereka memanggil-manggil-Nya. Mereka memekikkan doa-doa, dengan suara sekeras-kerasnya atau dengan tangis sesedu-sedunya, gara-gara mereka sudah membuang Tuhan ke tempat yang sangat jauh dari mereka….”.