Daur (161)

Barkodin Yang Malang

Ta’qid : “...dididik untuk menjadi kanak-kanak, dituduh sebagai makhluk yang tidak punya akal sehat, serta difitnah sebagai orang dungu. Mana mungkin saya malah membiarkan...”

Barkodin pergi, sehingga terpotong penjelasan Markesot.

Maksud Barkodin tadi ketemu Markesot untuk senengseneng. Karena biasanya Markesot selalu enak diajak ngobrol, bersenda gurau dan berkelakar-kelakar. Tapi kok jadinya tidak enak begini.

Bagaimanapun Markesot adalah seorang sahabat yang baik, tulus dan selalu cenderung membesarkan hati siapapun saja yang ada di sekitarnya. Sebenarnya Barkodin juga bukannya pergi meninggalkan Markesot — misalnya karena malas mendengarkan penjelasannya yang panjang lebar.

Barkodin adalah orang biasa sebagaimana kebanyakan orang. Tidak begitu terpelajar. Kerjanya cuma jual beli motor, atau makelaran apa saja yang memungkinkan dan halal untuk menghidupi keluarganya. Di dalam hal keluasan pengetahuan dan kedalaman berpikir, Barkodin tidak begitu tepat untuk menjadi teman ngobrol Markesot.

Ia juga kaget kok tadi Markesot sebegitu sensitif dan reaktif. Barkodin jadi agak kaku dan diam-diam salah tingkah, sehingga justru ketawa-ketawanya agak berlebihan. Ia tadi meninggalkan Markesot karena benar-benar tidak paham, juga karena ia tidak merasa bahwa apa-apa yang diomongkan Markesot itu perlu ia pahami.

Bagi Barkodin, Markesot itu menyenangkan, tapi terkadang ruwet, di saat lain aneh, dan malah bisa juga menakutkan. Mungkin Markesot sedang ruwet pikirannya dan susah hatinya, sesudah agak lama tidak kelihatan karena pergi entah ke mana. Maka beberapa saat kemudian Barkodin balik badan menemui Markesot lagi.

Dan begitu ia nongol, tanpa diduganya, Markesot tetap berada di tempat yang tadi ia ketemu, bahkan berposisi tubuh persis seperti ketika ia tinggalkan. Tanpa sengaja Barkodin pun meletakkan diri seperti tadi. Tapi ia kaget ketika begitu ia duduk, ternyata Markesot meneruskan kalimatnya tadi.

Kelima, kebanyakan dari yang mereka sampaikan lewat internet itu tidak saya perlukan. Apalagi terlalu banyak informasi yang tidak bertanggung jawab, terlalu banyak yang main-main, ngawur, seenaknya, pelampiasan-pelampiasan, sampah-sampah, belum lagi yang fitnah-fitnah, duga-duga sangka-sangka…”

Kali ini Barkodin lebih sabar dan hati-hati. Kayaknya temannya ini memang sedang perlu didengarkan curahan-curahan hatinya. Pasti yang ia gelisahkan bukan soal internet. Barkodin sungguh menyesal kenapa tadi buka omongan soal itu.

Keenam…”, Markesot meneruskan makalahnya.

Aduh, kayaknya agak lebih panjang ini urusannya. Barkodin yang malang. Ia mengeluh dalam hati. Tapi biarlah ia dengarkan saja. Tidak penting paham atau tidak. Barkodin ingat Markesot dulu banget pernah bilang bahwa persaudaraan lebih penting dari ilmu, persahabatan lebih utama dari kepandaian.

Keenam, televisi saja sudah saya jual dulu-dulu karena lebai dan bikin risih, semua yang nonton teve dididik untuk menjadi kanak-kanak, dituduh sebagai makhluk yang tidak punya akal sehat, serta difitnah sebagai orang dungu. Mana mungkin saya malah membiarkan internet memasuki rumah saya…”

“Rumah kontrakan…”, potong Barkodin.

“Ya, rumah kontrakan. Mustahil saya malah mengundang mereka untuk memenjarakan saya di dunia maya. Kalau teve hanya di ruang depan, tengah atau paling pol di kamar. Tapi internet masuk kamar mandi, WC, saku celana, masuk kepala, hati, numpang aliran darah, bahkan menelusup-nelusup ke dalam mimpi. Meskipun namamu dan namaku disebut-sebut di internet, tidak berarti saya akan mau disandera olehnya…”

“Disebut-sebut gimana?”, Barkodin kaget.

“Pokoknya di dunia yang gitu-gitu itu”, jawab Markesot, “ada yang namanya barcode, juga ada benchmark, dan saya tersinggung karena nama saya dihubung-hubungkan dengan tokoh fiksi Spanyol Don Quixote atau dibaca Don Kisot. Ini tokoh yang dijadikan tertawaan di seluruh dunia, dan saya diidentikkan dengan itu”

“Ngawur ya”, Barkodin menanggapi serius, “Mungkin tuli telinga mereka. Donkisot kok disamakan dengan Markesot. Sudah jelas yang satu ‘Don’ yang lainnya ‘Mar’….”