Daur (128)

Banyak Men-Satu
Semua Men-Tunggal

Ketika Markesot bergerak sangat pelan dan diam-diam mendekat ke barisan shaf paling belakang dari jamaah langit Imamul ‘Alamin Baginda Rasulullah saw ia dikejutkan oleh sosok yang tiba-tiba ada di depannya. Sosok itu mendorong dan melemparkan Markesot ke arah belakang dari mana sebelumnya ia bergerak.

Markesot terbanting di lantai kekosongan dan terjerembab di depan dinding hampa kesenyapan. Ia sungguh tak berdaya. Tak disangkanya di wilayah yang bergelimang kemuliaan dan penuh kesucian ini ia mendapatkan perlakuan yang semena-mena.

Lebih kaget lagi ternyata yang berdiri di hadapannya, yang barusan melemparkannya, adalah Kiai Sudrun.

“Kiai…”, spontan ia menyapa. Sudrun tidak menjawab. Hanya berdiri gagah di depannya sambil bertolak pinggang.

“Maaf Kiai”, Markesot mengulang sapaannya sambil terbata-bata berusaha bangun, duduk dan ta’dhim kepada Kiai Sudrun.

“Hebat amat kamu, Sot”, akhirnya Sudrun berbicara.

“Maaf, Kiai, saya tidak paham”

“Kamu hebat. Serba hebat. Perjalananmu balapan dengan irama, langkahmu melampaui waktu, pergerakanmu merobek tembok, kata-katamu terlalu panjang sehingga melewati batas napas manusia…”

“Kalimat Kiai barusan juga terlalu panjang…”

“Diam!”

“Untuk memahami kata-kata panjang Kiai saya harus merobohkan pagar irama dan memperlebar ruang…”

“Tutup mulut!”

“Maaf Kiai…”

“Di Langit Empat ke atas tidak ada demokrasi, hak asasi manusia, kesetaraan, kemerdekaan berekspresi, freedom of speech, sama rasa sama rata, egalitarianisme, atau ukuran-ukaran lain yang berlakunya hanya di langit terbawah di mana materialisme yang rendah dan hina masih diberlakukan”

“Begitu ya Kiai…”

“Diam”, Sudrun membentak lagi, “Di sini berlaku fakta dan wujud ‘inna akromakum ‘indallahi atqakum’, bukan lagi sebagai simulasi, abstraksi, halusinasi, perkiraan, muhasabah pikiran, dhonn, sangka-sangka, kiro-kiro, tembung jare, kulak jare dodol jare…”

“Terlalu panjang, Kiai…”, Markesot terloncat kata-katanya.

“Tutup mulut”

“Maaf Kiai”

“Ngapain kamu ke sini? Mau ikut makmum shalat?”

“Maunya begitu…”

“Tidak usah jawab”, Sudrun memotong, “sembahyangmu di Bumi. Tugasmu di bawah sana. Tidak di atas sini”

“Saya bukan naik ke atas sini, Kiai. Saya cuma memejamkan mata dan melamun…”

“Kamu tahu artinya diam? Jangan menjawab? Tutup mulut?”

“Tahu, Kiai”

“Kamu masih menjawab juga”

Markesot merapatkan bibirnya.

“Bumi sedang melewati Ramadlan. Kamu belajar berpuasa. Kamu masih belum bisa berpuasa. Kamu belajar diam. Belajar memperpendek panjang. Belajar men-satu-kan banyak. Belajar meng-hanya-kan semua. Belajar menyepikan ramai. Belajar mensenyapkan keriuhan. Kamu bertugas menemani manusia-manusia yang napasnya sangat pendek, yang pandangannya sejengkal, yang daya pendalamannya dangkal, yang tidak mengerti gelombang dan lipatan”

Markesot menahan mulutnya.

“Kamu berhenti cengeng. Stop melankolik. Jangan terlalu rohani, supaya Bumi tidak terbakar atau kau yang menguap. Jangan masuk terlalu ke lubuk, jangan terbang terlalu tinggi, jangan buka ruang terlalu lebar, jangan melipat-lipat waktu, jangan mengulur-ulur kata di depan siapapun yang belum akan sanggup memahaminya”

Markesot terpana oleh apa yang sedang dialaminya.