Sinau Bareng Kuduran Budaya Wanayasa, 25 September 2016

Bangga Pak Wakil Bupati Bersama KiaiKanjeng

Acara puncak Kuduran Budaya ini dibuka dengan sambutan Wakil Bupati Banjarnegara, Bapak Hadi Supeno. Sambutannya enak, cair, dan dekat dengan masyarakat.

Apa yang akan dilakukan KiaiKanjeng tidak terutama berdasarkan rencana yang sudah disusun, tetapi apa yang berlangsung di lapangan. Karena itu kepekaan niscaya diperlukan. Acara puncak Kuduran Budaya ini dibuka dengan sambutan Wakil Bupati Banjarnegara, Bapak Hadi Supeno. Sambutannya enak, cair, dan dekat dengan masyarakat. Beliau diminta sekaligus mewakili panitia.

Dari Pak Hadi Supeno, justru musik KiaiKanjeng muncul pertama kali, jauh sebelum Cak Nun sendiri berbicara, lewat nomor Campursari Sewu Kutho. Pasalnya, di akhir sambutannya Pak Wabup sempat pamit ke warga Wanayasa akan mengakhiri masa jabatannya. Dan Ia bermesraan dengan Cak Nun, “Habis lengser saya tak ngelamar jadi crew KiaiKanjeng. Ya suara saya juga bisa kok…,” katanya dalam nikmat bahasa Banjarnegara dan kemudian mencontohkan kebolehannya dengan nyanyi sedikit Sewu Kutho.

Wakil Bupati Banjarnegara, Bapak Hadi Supeno membawakan Sewu Kutho.
Wakil Bupati Banjarnegara, Bapak Hadi Supeno membawakan Sewu Kutho. Foto: Adin.

Cak Nun yang dari tadi menyimak sambutannya, tak mau sia-siakan momen ini. Doni dan KiaiKanjeng diminta langsung mengiringi, sehingga membuat Pak Wabup jadi kaget tak menyangka. “Berarti ditampa ya…,” soraknya setengah melonjak. Dan kolaborasi Sewu Kutho berlangsung justu di awal perjumpaan. Belum dimulai apa-apa yang berlangsung sebagai pembukaan. Terlihat Pak Hadi Supeno senang berada bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng.

Dalam sambutannya itu pula, Pak Wabup mengajak semua sinau kepada Cak Nun. “Ilmu apa saja, ilmu pertanian, ilmu agama, seni, budaya, literasi karena beliau seorang kolumnis, belajar politik karena beliau politikus (politekes, aksen dia) tapi politikus tingkat tinggi. Saat Pak Harto lengser, beliau satu di antara sembilan orang yang bertemu Pak Harto di Istana Negara,” paparnya. (hm/adn)