Daur (109)

Bainal IT wal OT

Markesot belum berhenti diomelin oleh pikirannya.

“Masalah Negara, Nagari, Negeri, Bilad, Baldatun Thayyibatun, Baladan Aminan, Baldatan Aminatan, Khilafah, Imamah… atau apapun, itu sederhana dan tergolong mudah untuk saya kerjakan pemikirannya. Sementara ummat manusia-mu ini gaduh riuh rendah berkembang-kembang untuk menyulitkan diri mereka sendiri. Sementara yang mereka yakini justru sebaliknya: bukannya menyulitkan, melainkan memudahkan, mempermudah hidup mereka….”

“Secara linier dan eksklusif, praktik teknologi dan budaya sehari-hari dari semuanya itu memang seperti memudahkan. Tetapi pada putaran keseluruhannya nanti, sesudah beberapa tahap, kemudahan-kemudahan teknologi itu melahirkan kesulitan-kesulitan sosial baru yang belum pernah mereka alami sebelumnya….”

“Saya tadi baru mulai huruf-huruf awal dari soal Belajar dan Sekolah, Sampeyan sudah langsung interupsi, dengan ngundat-undat konflik Sampeyan dengan Tuhan. Saya tidak ada urusan dengan itu. Silakan Sampeyan bertengkar dengan Tuhan, saya tidak mau terlibat. Saya hanya petugas ya’malu ma yu`marun, yang sekadar mengerjakan apa yang diperintahkan. Saya tidak pernah tidak taat. Tetapi yang memerintah saya mestinya juga pakai ukuran.…”

“Nanti tolong dijaga reaksi Sampeyan, jangan sembrono seperti tadi, kalau saya laporkan hasil penelitian saya tentang Revolusi Industri Keempat, Digital Technology, bainal IT wal OT, antara Information Tech dengan Operational Tech, pergeseran otomasi dari Kantor-kantor ke Pabrik-pabrik, revolusi pemudahan sekaligus radikalisasi pengambrukan, hari-hari dan malam-malam kehidupan manusia akan disibukkan oleh lalu lalang kejayaan dan kehancuran bersaling-silang, bahkan sudah tidak ada ikatan siang atau malam, ruang sudah diperas dan waktu sudah dilipat. Dan itu semua bukan terletak di masa depan. Bukan skala dekade. Apalagi kurun atau era. Ini sudah dan sedang berlangsung”

“Manusia tidak mengerti apa yang mereka sedang hadapi. Mereka malah bangga, mabuk menikmati, tanpa kekhawatiran apa-apa. Ummat manusia ini sungguh-sungguh menyepelekan tuntunan Tuhan ‘hendaklah kalian melihat ke depan dengan bekal taqwa kepada-Ku’ di setiap simpul napas dan jangka penglihatan kalian”

“Sungguh dahsyat bahwa makhluk manusia yang sangat diandalkan oleh Tuhan sebagai ahsanu taqwim ini, justru berada paling terbelakang di dalam memelihara kesadaran tentang nilai-nilai. Kalau ada di antara mereka mengemukakan nilai, lainnya menyebut ‘sok filosofis’. Kalau menuturkan hal-hal-hal rohani, mereka merespons sinis dengan kata ‘sok suci’. Kalau diomongin tentang perlunya perbaikan tata kelola antar manusia, dibilang ‘sok moralis’. Dan kalau dibilangi tentang contoh-contoh kehancuran, mereka menghardik ‘sok pinter’….”

***

Markesot menghela napas sangat panjang. Ternyata meskipun sudah dikeluhkan oleh Markesot, pikirannya tak juga berhenti memprotes. Markesot mensabar-sabarkan hatinya untuk melapangkan diri mendengarkan pikirannya.

Kesabaran hati mendengarkan pikiran itu tidak dikenal dalam kehidupan manusia modern maupun tradisional. Kosakata atau bahasa yang tersedia hanya ngudoroso, atau kalau modern curhat.

Yang tradisional: roso-nya ngudo, dari wudo, bertelanjang diri, memperlihatkan semua keadaannya. Bagaimana ini. Yang dialami Markesot justru yang wudo itu pikirannya, dan roso-nya harus menampungnya, mengakomodasikan ekspresi pikirannya.

Yang modern sama tidak detailnya. Bahasa jelasnya: yang modern maupun yang tradisional sama-sama tidak lengkap pengenalan atas dirinya sendiri. Terlalu banyak bernafsu melihat keluar dirinya. Apalagi sekarang ini sudah tidak ada tradisional maupun modern. Yang tradisional batal tradisionalitasnya dan yang modern batal modernitasnya dengan sebab yang sama, yakni memperbudak diri pada tuhan materialisme.

***

Materialisme pun semakin tak paham. Apalagi kalau dipetakan dengan spiritualisme. Pokoknya Kitab Sucinya tidak tersambung antar halaman-halamannya. Setiap lembar lepas sendiri-sendiri. Ada lembaran ratusan ribu, ada lima puluhan ribu, dua puluhan ribu sampai yang terkecil yaitu ribuan. Yang lebih rendah angkanya dibikin dari logam.

Semua lembaran kertas dan logam itu punya nama yang sama, yaitu Rupiah. Tetapi Bangsa yang Markesot hidup di dalamnya, yang diatur oleh Negara, malah tidak punya lembaran atau logam yang 1-Rupiah. Hahahaha. Bagaimana seribu lima ribu sepuluh ribu kok tidak ada satu rupiahnya.

Bangsa temannya Markesot itu tidak berurusan dengan materialisme. Urusannya hanya dengan lembaran uang, mobil, gadget, deposito, pesta kuliner, tamasya alias studi banding, dan macam-macam lagi yang disadari bukan dengan istilah materialisme. Bahkan namanya sangat agamis. Wisata Umroh, wisata Ziarah Wali. Walinya siapa, ditentukan oleh Travel Biro. Penyewaan Bus Wisata mengambil keputusan bahwa itu Wali sedangkan yang sana bukan, sebab sukar dijangkau oleh Bis. Wali atau Bukan, Wali Siji, Wali Telu, Wali Limo, Wali Pitu atau Wali Songo, dirumuskan berdasarkan kelancaran transportasi.

Bangsa yang ditemani Markesot itu kalau disebut kata ‘jasmani’ ingatnya lari pagi, olahraga jantung, lari di lapangan atau pakai mesin lari. Markesot pernah menggoda mereka, “Bapak-bapak, Ibu-ibu, Mas-mas, Mbak-mbak, jangan lari pagi, nanti jantungnya berpacu dengan cepat, irama detak jantung Panjenengan meningkat. Mestinya satu detik untuk dua kali bernafas, kalau lari malah bisa lima kali bernafas dalam satu detik. Itu rugi umur Panjenengan semua ini. Sebab hidup ini jatahnya dari Tuhan bukan lamanya waktu, bukan sekian tahun atau sekian windu. Melainkan jumlah detak jantung….”

Tentu saja tidak ada orang bodoh di antara mereka yang percaya kepada Markesot. Apalagi yang pintar. Lebih tidak percaya lagi. Sebab orang pintar sangat dikuasai oleh rasa pinternya. Tuhan saja tertutupi oleh rasa pintar itu. Apalagi Markesot yang hanya sejenis gelandangan di muka bumi.

***

Memang Tuhan sering mereka sebut-sebut, tapi yang dimaksud adalah tuhan menurut anggapan kepentingan mereka. Juga Malaikat, Iblis, Nabi dan Rasul, sangat banyak dikutip-kutip oleh mulut dan pena mereka. Tetapi itu kebanyakan merupakan ekspresi dari egoisme pendapat mereka masing-masing, per-individu, per-kelompok, madzhab, parpol, grup atau klub.

Alhasil Tuhan, Nabi, Islam, Qur`an dan sekitarnya sangat ‘marketable’ bagi penyembah materialisme, kapitalisme dan industrialisme. Tuhan, Nabi, Islam dan Qur`an diakui ada dan dipromosikan maksimal asalkan menguntungkan secara kapital. Di dalam hati mereka terdapat rumus: apa gunanya Tuhan kalau tidak menambah kekayaan dunia saya, kalau tidak membuat laba saya bertumpuk, kalau tidak membukakan jalan kekayaan dan penumpukan harta benda.

Mereka berseminar dengan tema “Fungsi Tuhan untuk Peningkatan Omset Perusahaan”. “Pembiasaan Shalat Dluha demi Peningkatan Laba Dagang Kita”. “Aktivasi Malaikat untuk Pemenangan Kompetisi Kapitalisme Rahmatan Lil’alamin”. “Berdagang Sebagai Tradisi Muhammad sehingga Diangkat Menjadi Nabi”. “Hifdhul Qur`an Sebagai Sumber Kesuksesan Dunia”. “Peningkatan Ibadah Sebagai Alat Pemacu Pembangunan”. Ha ha ha. Ibadah itu bukan pembangunan, pembangunan itu bukan ibadah.

Begitulah puncak ilmu dan peradaban saat ini, pada masyarakat manusia yang Markesot mau-maunya menemani mereka.