Daur (86)

Baiat Di Bawah Pohon

Markesot meneruskan perjalanan, meninggalkan komunitas kaum filosof di gerbong rongsok. Cuma kali ini tidak meneruskan menelusuri rel, melainkan menuju sungai dan menyisir ke arah sumber mataairnya.

Tatakala ia melangkah dan ingat bahwa tujuannya adalah mencari Kiai Sudrun, tiba-tiba ia kaget oleh dirinya sendiri.

“Jangan-jangan saya sedang mencarinya karena diam-diam saya menganggap bahwa Kiai Sudrun adalah Mursyid saya…”, ia bergumam dalam hati.

Jadi ingat ketika dulu-dulu ia selalu bersikap defensif dan punya naluri untuk mengambil jarak dari urusan kemursyidan. Muncul lagi bagaimana ia membakar-bakar pembicaraan dengan seseorang yang sama-sama akan dibaiat di suatu kelompok Jihad, kumpulan para pencari dan pejuang kebenaran.

Mungkin karena waktu itu Markesot masih cukup muda, maka dialog dengan orang itu justru dinikmatinya, bahkan cenderung diulur-ulurnya.

“Karena satu-satunya urusan dalam hidup saya adalah keselamatan di hadapan Tuhan, maka kalau memang harus baiat, hanya tiga pihak yang saya terima untuk membaiat saya”, kata Markesot.

“Siapa?”, orang itu menjawab.

“Tuhan, Muhammad dan saya sendiri”

Orang itu bereaksi agak keras. “Kalau Tuhan dan Muhammad saya paham. Tapi kenapa Bapak sebut Bapak sendiri sebagai pihak yang membaiat Bapak?”

***

Markesot senang oleh pertanyaan itu.

“Lho kan saya dulu bersyahadat sendiri, karena saya sendiri juga yang bertanggungjawab kepada Allah atas hidup saya”, jawabnya, “Syahadat adalah baiat mendasar hidup saya, selebihnya adalah pembuktian”

“Tetapi apa itu cukup? Kita tetap butuh pembimbing”

“Saya sangat butuh pembimbing. Saya sangat butuh Tuhan, Nabi, Ulama, Kiai dan semuanya. Tetapi selain Allah dan Rasulullah, tidak ada yang bisa menolong saya di hadapan Allah. Tuhan menawarkan ampunan, dan Rasulullah memiliki hak prerogatif yang bernama syafaat untuk menolong nasib saya. Jadi kalau mau baiat lagi, saya dibaiat oleh Rasulullah saja”

“Kan kamu tahu bahwa tidak mungkin saat ini Rasulullah membaiat kamu, maka harus ada pewaris beliau atau Waratsatun-Nabi yang melakukannya”

“Siapa itu?”

“Ya Mursyid kita ini”

“Kok ndak Njenengan sendiri pewaris Nabinya?”

“Kan saya awam”

“Kalau beliau tidak awam?”

“Beliau ‘alim, Ulama yang terpandang”

“Ulama memang bisa mengukur siapa-siapa yang bukan Ulama. Tapi yang bukan Ulama seperti saya, dengan modal apa mengukur seseorang itu Ulama atau bukan, Mursyid atau bukan?”

“Modal saya kepercayaan kepada beliau”

“Saya juga percaya kepada beliau, tetapi sebatas yang saya ketahui tentang beliau, itu tidak mencukupi untuk memposisikan beliau membaiat saya”

“Saya percaya sepenuhnya kepada beliau. Bapak terserah”

“Andaikan beliau menyarankan agar saya membaiat diri saya sendiri sebagai salah satu perwujudan syahadat saya, mungkin saya mau. Tetapi kalau beliau membaiat saya, syaratnya beliau harus bisa menolong nasib saya di depan Tuhan, serta turut mempertanggungjawabkan perbuatan saya di dalam pengadilan Tuhan kelak”

“Maaf Pak saya tidak mikir sampai ruwet-ruwet seperti itu. Yang penting saya percaya kepada beliau”

“Apakah itu termasuk rukun iman Njenengan?”

“Terserah”

“Iman kepada Allah, iman kepada Al-Qur`an, iman kepada para Malaikat, iman kepada Nabi, iman kepada hari Kiamat, iman kepada qadla dan qadar — atau kepada Keadilan kalau di Syiah — kemudian iman kepada Mursyid. Jadi tujuh ya rukun iman Njenengan”

“Ya jangan gitu, Pak”

“Lho kan memang gitu”

***

Markesot terus menyusuri sungai. Terkadang minggir dan naik ke tepiannya, saat lain berjalan di tengah atau pinggiran sungainya. Tidak berhenti meskipun gelap. Justru, kalau ‘memanjat’ ke mataair, Markesot lebih memilih kegelapan.

“Andaikan Rasulullah bermurah hati mambaiat dan memberi perintah kepada saya, entah beliau hadir sendiri atau mewakilkan kepada entah siapa sahabat yang beliau percaya, maka itulah kenikmatan paling puncak dalam pengalaman seluruh hidup saya”, Markesot melamun.

“Disuruh menguji diri dengan tidur sepuluh tahun di dasar laut pun saya mau dan ikhlas. Misalnya Rasulullah berkenan datang, berdiri di depan saya, kemudian langsung menempelengi kepala saya, biar sampai seratus kali tempelengan itu, saya bersyukur. Saya disuruh salto, terbang ke puncak pohon, berjalan selambat-lambatnya di atas air sungai, disuruh makan daun beserta dahannya, diperintah mengulum batu, disuruh topo nglowo, topo kungkum, atau tidak boleh makan minum sejak detik ini hingga saat kematian saya tiba, apa saja, apapun saja, saya akan sangat bahagia melakukannya”

Ketika merasa agak lelah, Markesot sengaja beristirahat sejenak dan memilih sebuah pohon yang paling rindang untuk duduk di bawahnya. Kemudian ia mengkhayalkan bahwa ada makhluk langit tiba-tiba turun mendekatinya, terbang berputar-putar di atas kepalanya. Kemudian makhluk itu, yang ketika terbang hanya tampak seperti asap yang bergulung-gulung, ketika mendarat dan berdiri di depan Markesot, ternyata ia raksasa yang sangat besar.

Jauh lebih besar dan perkasa dibanding kebesaran yang bisa dicapai oleh Prabu Kresna tatkala “duta” ke depan Balairung Istana yang diklaim oleh Para Kurawa. Raksasa putih sangat agung dan berwajah cahaya. Ketika cahaya wajahnya memancar, yang menyentuh Markesot adalah sebuah firman:

“Sesungguhnya Allah telah ridla kepada orang-orang Mu`min yang menyatakan janji setia kepadamu di bawah pohon. Maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, lalu menurunkan ketenangan atas mereka, dengan memberi balasan kepada mereka berupa kemenangan yang dekat waktunya….”

Membaiat dirinya sendiri untuk berjanji setia kepada Muhammad. Tetapi kalau beliau Muhammad yang membaiat, Markesot siap. Tapi jangan yang lainnya.

“Kanjeng Nabi nyuruh saya melakukan apa?”, Markesot melamun, “berkeliling daratan lautan kota desa sawah kebun hutan belantara untuk menyebarkan gema cinta Panjenengan dan hidayah Allah? Mengkoordinasikan para pemegang sulthon untuk melongsorkan tanah dan menenggelamkan wilayah-wilayah yang dihuni oleh mereka yang menghina Allah dan meremehkan Panjenengan Kanjeng Nabi kami semua?”