Daur (91)

Baginda Kharmiyo bin Sulaiman

Ada dua kemungkinan. Pertama, karena Markesot adalah putra seorang tokoh yang besar pengaruhnya di masyarakat, ia sengaja melakukan de-eksistensi dan menyembunyikan dirinya, karena toh tak mungkin mencapai atau apalagi melampaui kebesaran Bapaknya.

Atau, kedua, justru karena ia anaknya orang besar, diam-diam ia juga mencari kebesaran itu. Pura-pura menampilkan diri sebagai orang yang tak punya ambisi. Berlagak jadi orang biasa, wong cilik. Alasannya Nabi Muhammad saja memilih menjadi ‘Nabi yang jelata’ dan menolak menjadi ‘Nabi yang Raja’ sebagaimana kakek moyangnya Raja Rasul Nabi Sulaiman yang agung — ketika Malaikat Jibril menyampaikan tawaran Tuhan kepadanya. Apalagi Markesot, yang bukan siapa-siapa dibanding Muhammad, yang andaikan pun ia besar toh tetap tidak besar juga.

Jadi kenapa ia mengembara sampai ke tempat sepi seperti ini. Menyeram-nyeramkan diri dengan perjalanannya. Mengangker-angkerkan tema perjuangannya, padahal belum pernah jelas apa pula perjuangannya itu. Mensakral-sakralkan pemikirannya, imajinasi emosi dan rohaninya.

Jangan-jangan dia berspekulasi siapa tahu dengan duduk di bawah pohon tepi sungai ini Sang Wali Penyamar akan mewariskan tongkat hadiah dari Sang Wali Sakti. Kan Markesot sampai termimpi-mimpi oleh tongkat itu. Kemudian berkhayal menggenggamnya, menggerak-gerakkannya seolah-olah ia Pendekar dari Gua Kegelapan yang siap tanding melawan entah siapa terserah khayalannya.

Tapi memang Sang Wali Penyamar memberikan pertanda bahwa Negeri yang beliau bangun telah dirusak orang. Beliau telah merintis peralihan besar sejarah itu diam-diam sejak tahun 1398, diawali empat tahun kesunyian yang semua pengamat sejarah tak bisa mengetahui apa yang terjadi dalam rentang waktu itu. Dan sekarang, di abad 21 tahun 2016 menjelang puncak kegerahan, beliau menginformasikan : “Insyaallah Tuhan telah menyiapkan dan memasang sejumlah titah di sejumlah titik untuk membangun kembali perwujudan kebesaran Tuhan yang enam abad yang lalu aku ditugasi untuk membangunnya….”

***

Hal-hal begini ini mungkin yang membuat Markesot merasa ge-er. Gagal berprestasi dalam kehidupan hampir di segala bidang, kerjanya hanya mengganggu-ganggu pikiran orang di sekitarnya. Ia menutupi kegagalan-kegagalannya itu dengan mengekspresikan berbagai jenis misteri dan perilaku aneh. Kemudian menghilang, ngakunya mencari Kiai Sudrun untuk melakukan beberapa rekonfirmasi tentang sejarah dan zaman.

Sampai-sampai para Markesot yang lain di dalam dirinya mentertawakannya. Markesot beralasan bahwa biasanya Tuhan tidak memberi anak lelaki kepada orang besar yang istimewa, ia contohkan Nabi Muhammad sendiri. Dibantah oleh Markesot lainnya bahwa teori itu dibatalkan oleh fakta Daud-Sulaiman atau Ibrahim-Ismail dan Ishaq.

Teori Markesot itu sebenarnya diam-diam ia gunakan untuk meneguhkan bahwa Bapaknya adalah orang besar yang istimewa. Sekaligus untuk menyebarkan permakluman bahwa ia jangan dituntut-tuntut untuk menjadi orang sebesar Bapaknya. Tapi sambil mengincar diam-diam siapa tahu ia akan punya kesempatan untuk juga menjadi besar.

Ia menambahkan contoh bahwa Nabi Sulaiman sendiri tidak dikasih oleh Tuhan anak yang bisa meneruskan kebesarannya. Bahkan Baginda Sulaiman melakukan kesalahan fatal. Beliau menyatakan bahwa malam itu beliau akan bercinta dengan istri-istrinya entah 99, entah 70 entah 60 — silakan mengkonfirmasi jumlah itu dengan penelitian ke Kerajaan beliau untuk mewawancarai para narasumber di dalamnya, kalau perlu wawancara langsung kepada Baginda Sulaiman.

Baginda mengatakan bahwa sesudah bercinta dalam semalam dengan sekian istri, kemudian masing-masing istri itu akan melahirkan putra-putri, karena beliau ingin melakukan regenerasi yang sebaik mungkin demi melestarikan prestasi peradaban yang memang teragung dan paling menggiurkan sepanjang sejarah.

Kesalahan Baginda Sulaiman adalah tidak mendahului pernyataannya itu dengan kata dan etos ‘insyaallah’. Maka Allah mengkritiknya secara sangat keras dan radikal. Hanya seorang istri yang hamil, itu pun kemudian melahirkan anak yang cacat dan sangat lemah. Baginda Sulaiman lemas badannya di singgasana sambil memandangi bayi cacatnya. Baru kemudian memohon ampun dan bertobat kepada Tuhan.

***

“Siapa bilang Baginda Raja Agung Sulaiman hanya punya satu anak cacat?”, dari dalam lubuk jiwanya Markesot yang lain membantahnya.

Markesot yang duduk lunglai di bawah pohon termangu-mangu.

“Kan beliau punya putra yang katanya bernama Baraya, yang sepeninggal beliau bertugas menjaga kekayaan Bapaknya yang luar biasa agar tetap menjadi sumber kesejahteraan rakyatnya sampai jangka waktu yang panjang di depan”

“Ah, kata siapa”, bantah Markesot.

“Bahkan Baginda Nabi Sulaiman juga berputra seorang Nabi pula, bernama Kharmiyo”, Markesot yang lain lagi menyahut.

“Kharmiyo? Nama dari budaya itu. Nabi pula?”

“Ya. Baginda Kharmiyo meneruskan duduk di singgasana Bapaknya, seorang Nabi, meskipun bukan seorang Rasul”

“Aneh”, kata Markesot, “Saya sudah bertemu dengan hampir semua ahli sejarah, tak seorang pun pernah menyebut Nabi Sulaiman punya anak bernama campuran Arab dan Jawa mirip Jepang itu”

“Beliau juga seorang Nabi. Insyaallah”

“Kok insyaallah?”

“Ya insyaallah dong. Mana kita tahu dan memang tidak mungkin ada landasan pengetahuan pada manusia untuk menyimpulkan seseorang itu Nabi atau bukan. Terutama untuk tokoh-tokoh yang didatangkan oleh Tuhan sebelum Nabi Muhammad. Kalau sesudahnya, mudah: pasti bukan Nabi, karena Muhammad dinyatakan oleh Tuhan sebagai Nabi pamungkas”

“Dilihat kualitasnya kan kelihatan Nabi atau bukan”

“Tidak. Kualitas hanya semacam ukuran yang dipahami oleh batas ilmu manusia. Akan tetapi seseorang itu Nabi atau bukan, tandanya hanya satu: Allah menyatakan seseorang itu Nabi atau bukan. Itu satu-satunya parameter”….

***

Gaduh bin ribet perdebatan antara Markesot dengan Markesot. Padahal ini baru dua Markesot. Belum lagi kalau Markesot-Markesot yang lain ikut nimbrung. Ya kalau yang omong adalah Markesot yang matang dan arif. Tapi sejauh pengalaman selama ini, yang banyak nongol justru Markesot yang rewel, yang cengeng, yang sok, yang ngotot.

Memang berapa jumlah Markesot di dalam diri Markesot?

Pertanyaannya salah. Tidak hanya ada Markesot di dalam diri Markesot. Malah yang yang banyak justru Markesot yang di luar Markesot. Misalnya yang Markesot di masing-masing langit, masing-masing dimensi, masing-masing nuansa, masing-masing nilai. Belum lagi Markesot yang omong beda dengan Markesot yang mendengar. Markesot yang berjalan beda dengan Markesot yang merintis dan membukakan jalan, kemudian Markesot yang sudah sampai di ujung jalan.

Jangan pula bertanya “Berapa Markesot yang di dalam dan Markesot yang di luar?”, sebab Markesot pasti menjawab: “Apa benar ada beda antara luar dengan dalam?”