Persembahan Cinta Kepada Mbah Nun

Babaran Jawadwipa Dalam Ihtifal Maiyah

Pertama kali menyaksikan pementasan ini, tak habis-habis takjub di hati saya. Kini, persembahan ini disuguhkan dalam rangkaian acara Ihtifal Maiyah.

Adalah hal yang sangat menggembirakan untuk saya dapat menyaksikan kembali pementasan dari Komunitas Lima gunung yang diprakarsai oleh Pak Tanto Mendhut. Pentas bertajuk Babaran Jawadwipa ini saya saksikan sebelumnya pada Mocopat Syafaat di Jogja. Banyak hikmah yang terpetik, mungkin juga banyak yang terlewatkan, bagaimanapun saya coba tuliskan saja semampu saya menangkap keindahan yang tersaji.

Selalu ada kali pertama bagi setiap orang, begitu kalimat populernya. Dan ketika pertama kali saya menyaksikan pementasan ini, tak habis-habis takjub di hati saya. Kali ini, persembahan ini disuguhkan dalam rangkaian acara Ihtifal Maiyah. Maka ketika tulisan ini saya susun sebagai pengalaman kedua, tentu saya tak bisa menghindar dari berpikir komparatif atau membandingkan dengan pementasan yang sebelumnya.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Pada pementasan yang pertama, dapat saya simpulkan ini; dekonstruksi konsep kesenian (setidaknya bagi saya sendiri), ciri seni Jawa di mana interaksi cair, guyub, menjadi penengah perdebatan antara konsep keteraturan dan chaos. Maka bagaimana dengan pementasan yang kedua ini?

Tak begitu berbeda dengan yang pertama, kali ini juga dibuka dengan pengantar oleh Pak Tanto Mendhut, hanya kali ini beliau diantarkan ke panggung oleh Mbah Nun yang juga melakukan penggalian terhadap Pak Tanto Mendhut dan Komunitas Lima Gunung. Beliau pun langusng menjelaskan banyak hal, dari memperkenalkan para personel Komunitas Lima Gunung, dasar pikir perjuangan dan vitalitas berkesenian dan macam-macam hal lagi, tentu dengan gaya khas beliau yang meloncat-loncat tak dapat diduga itu.

Namun yang sungguh-sungguh tak dapat diduga adalah, ketika kalimat beliau justru harus dipotong oleh air matanya sendiri. Pak Tanto Mendhut, tiba-tiba tercekat dan menitikkan air mata haru ketika mengenang persahabatannya dengan Mbah Nun yang dikisahkannya telah berlangsung lebih dari empat puluh tahun namun baru kali ini bisa mempersembahkan sesuatu pada Mbah Nun.

Setelah berhasil meredakan haru, beliau pun kembali menjelaskan pada khalayak perihal Komunitas Lima Gunung, Mbah Nun sendiri sudah turun dari panggung dan sepertinya sangat paham bahwa Pak Tanto memang akan tetap menjelaskan berbagai hal tanpa perlu dipancing-pancing lagi. Air mata, sepertinya memang tak sanggup mengekang kemerdekaan, kedalaman serta kedaulatan seorang Tanto Mendhut.

Maka dimulailah….

Satu rombongan muncul dari arah penonton, anggotanya ada lelaki, perempuan, tua, muda sampai barisan anak kecil, kebanyakan berpakaian seperti para Mpu. Membawa sajen, kenduri, dan menyan yang terus mengepulkan asap dengan deras. Sebagian lagi berkostum seperti leak Bali, sebagian lagi  menggotong sebuah benda yang terbuat dari kayu. Tangga.

Rupanya itu adalah pertanda akan dimulainya ritual Ondho Kencono, salah satu persembahan untuk genapnya usia Mbah Nun ke 63 hari ini.

Maka Mbah Nun pun kemudian dipersilakan kembali ke panggung dan diminta memilih dua orang untuk mengikuti beliau. Mbah Nun memilih Cak Mif dan Cak Fuad. Sambil dipersiapkannya ritual, pak dalang yang mengantar rombongan masuk ke arena pertunjukan. Mengartikan satu persatu segala kelengkapan acara tersebut.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Tangga berjumlah tujuh anak tangga karena angka tujuh (pitu) adalah angka yang istimewa bagi orang Jawa di antara artinya bisa pitutur atau juga pitulungan. Dianya dibuat dari bambu karena berkaitan dengan kepercayaan Jawa bahwa dunia hanya akan binasa ketika bambu sudah tak ada lagi.

Di antaranya juga ada tebu sebagai perlambang sesuatu yang manis, juga ada pisang sebagai tanda hidup yang bermanfaat.

Mbah Nun sempat menambahkan tentang betapa yang terjadi malam ini benar-benar adalah jodoh, tujuh adalah angka Cak Fuad sebab dari tanggal kelahiran sampai rumah selalu mengandung angka tujuh. Sedangkan pisang  adalah tanaman yang selalu menjadi bahan Cak Mif untuk menasihati dan mendidik anak-anak didikannya. Satu-persatu; Mbah Nun, Cak Fuad dan Cak Mif pun menjalani ritual Ondho Kencono dengan menaiki  anak-anak tangga tersebut.

Setelah Mbah Nun, Cak Fuad dan Cak Mif dipersilakan kembali ke tempat semula, musik rancak berkumandang di panggung, tari Kuda Lumping pun disajikan.

Cukup lama tari berlangsung dan saya masih menantikan momen interaksi dengan khalayak penonton seperti penampilan sebelumnya yang saya saksikan. Namun belum ada interaksi itu. Saya mulai khawatir kalau terjadi pembagian beku antara penampil dan penonton. Buat saya bila itu terjadi maka semegah apapun sebuah pertunjukkan dia tetap gagal membahasakan Jawa dalam karya. Tarian ditutup, setelah adegan-adegan tari yang menarik lalu para leak Bali ikutan. Namun tetap saya belum dapati interaksi itu.

Pertunjukan kemudian adalah wayang yang disebut oleh Pak Dalang adalah wayang kulit (sapi) dan wayag kulit wong urip. Tema yang diangkat dalam pertunjukan wayang ini adalah tema ekologis, ketika manusia baru hadir di muka bumi. Musik yang dipakai adalah suara set gamelan sesuai request dalang pada para pesindennya. Artinya, dua waranggono itu selain bertugas nyinden juga mesti menirukan bunyi-bunyi saron, demung, kendhang dan macam-macam lagi, ya itu tadi sesuai request sang dalang.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Kembali ke kisah wayangnya, kocap kacarita, sebagai makhluk baru di atas dunia yang sudah dipenuhi macam-macam jenis binatang dan serangga semestinya manusia tahu diri, namun manusia justru menjadi pongah dan sombong. Serangga yang sudah lebih dulu ada di bumi, dianggapnya sebagai gangguan dan justru diusir bahkan dimusnahkan oleh si manusia lalim.

Ternyata yang disebut sebagai wayang kulit wong urip oleh sang dalang adalah ketika muncul tokoh yang menengahi dan mengkritik si manusia lalim. Ini jusru digambarkan dengan cara; orang yang ditunjuk oleh dalang harus manut dan menjadi wayang. Bukan sembarang wayang orang juga, karena di sini dalang tetap bersikap sebagai dalang sebagaimana pada wayang kulit. Dalang seolah-olah menggerakkan ‘wayang wong urip’ terjadi kejenakaan, kelucuan. Sedikit-sedikit batas antara penonton dan penampil mulai cair, tapi saya pribadi masih merasa kurang. Dalam kisahnya diceritakan, si manusia lalim mulai makin rakus dan oleh seorang bijak disarankan untuk bertemu Cak Nun.

Sesi wayang memasuki cerita terakhir yang digambarkan dengan kembali pada bentuk wayang kulit. Kisahnya ketika itu, Cak Nun yang ternyata berwujud Gatotkaca akhirnya yang menjadi tokoh hero.

Tepat itulah, tari-tarian memasuki arena pertunjukkan. Dengan nada rancak, gerak tegas dan bocah-bocah berselempang kain dengan peci khas Jamaah Maiyah berloncatan kesana kemari. Suasana makin meriah. Leak pun ikut kembali menari-nari. Kembang-kembang dihempas-hempas, asap bertebaran di udara. Sebagai pertunjukan, ini hampir sempurna tapi saya merasa ada yang kurang. Ya, spirit interaksinya. Saya hampir memasuki fase kecewa ketika seorang dari tim Komunitas Lima Gunung dengan lincah membagi-bagikan mainan dari bambu yang bila diputar-putar akan berbunyi seperti ketukan bambu.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Musik di panggung makin seru, disambut oleh penonton yang membunyikan mainan bambu mereka “tuk… tuk… tuk… tuk….” dan makin ramai, makin ramai. Sebab mainan yang dibagikan juga makin banyak, musik mendekati klimaks penonton membunyikannya juga makin kencang dan ketika musik dipanggung turun emosinya, penonton juga berangsur menghentikan musik bambu mereka.

Di sini saya bersemangat sekaligus hampir pada titik nadir kekecewaan karena masa momen semenyenangkan itu hanya berlangsung sebentar? Tapi ternyata tidak!

Musik dari panggung kembali mengalun, makin kencang dan sekarang bukan cuma mainan bambu itu saja yang dibagikan tapi juga kentongan bambu. Penonton yang telah mendapat kentongan langsung memukulnya kencang-kencang menghasilkan bunyi “tok… tok… tok….”

Di udara asap mengepul, wangi dupa.

Semburat warna, kembang bertebaran.

“Tuk… tuk… tuk….”

Gamelan dari panggung,

“Ning… nong… ning… nong…. ning… nong….”

Suara kentongan,

“Tok… tok… tok….”

Air mata Pak Tanto Mendhut, ah itu kan tadi.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Bunyi, aroma dan pemandangan termanjakan dan sekali lagi saya temukan kembali seni jawa yang saya sangat yakini pada pementasan ini. Saya tidak ingin kehilangan momen ini, saya mesti terlibat dan ternyata tidak cuma saya yang berpikir demikian. Penonton berdiri, dengan membunyikan apa saja yang bisa mereka bunyikan.

Dan berjalan makin merapat, mendekat seiring semakin kencang bebunyian bertalu-haru, bertali-guyub.

Sorak-sorak menyatu di udara, bertemu dengan,

“Tuk… tuk… tuk….”

“Ning… nong… ning… nong…. ning…. nong…”

“Tok… tok… tok….”

Sulit memang menggambarkannya dengan kata-kata, seperti bunyi memecah-mecah langit malam namun menyatukan paseduluran seerat-eratnya.

Atau, mungkin dia bisa dijelaskan dengan kata yang sudah sangat kita akrabi bersama; Maiyah, kebersamaan.