Daur (89)

Apakah Itu Suara-Mu?

Tiba-tiba di tepian hutan itu terdengar suara teriakan yang sangat keras dan panjang.

Sebagian makhluk mendengarnya sebagai suara guntur yang menggelegar. Sebagian yang lain mendengarnya berupa sapuan dahsyat badai yang melintas dan berputar-putar. Yang lainnya lagi mendengar campur baur suara berbagai macam binatang, dari harimau yang mengaum, lembu-lembu yang melenguh, ribuan burung berceloteh, ayam-ayam berkokok. Bahkan ada sebagian yang mendengar semacam suara terompet yang mengerikan dari arah langit, yang bercampur nada sangat rendah dengan nada sangat tinggi.

“Apakah itu suara-Mu wahai Sang Hyang Sangkan Paran yang hamba senantiasa rindukan dengan seluruh kekerdilan hamba sepanjang perjalananku?”

Markesot berbisik.

Sesungguhnya semua manusia diam-diam punya keinginan untuk mendengar suara Tuhan secara langsung. Pada hakikatnya setiap jiwa manusia memendam kerinduan kepada asal-usulnya dan satu-satunya terminal akhir pengembaraan hidupnya.

Andaikan boleh, setiap orang sangat bahagia apabila dikasih wahyu. Okelah hanya para Rasul dan Nabi yang diberi hak untuk mendapatkan wahyu Tuhannya. Para Auliya dihadiahi karomah, yang kadarnya lebih relatif dan tidak padat sebagaimana wahyu. Dan Markesot sebagai manusia biasa, sebagaimana miliaran manusia lainnya, kabarnya dibonusi ilham juga. Yang kualitasnya jangan sama sekali dibandingkan dengan wahyu atau karomah.

Bahkan seniman-seniman yang tak mempercayai adanya Tuhan, kesibukan utamanya adalah mencari ilham, demi progresivitas kreatifnya.

***

Wahai ilham, mal-ilham, wa ma adroka mal-ilham….

Kiai Sudrun pernah menjelaskan kepada Markesot bahwa semua itu sebenarnya adalah rahmat. Rahmat Allah itu universal. Diberikan kepada siapa saja yang Tuhan maui, tanpa batasan identitas, golongan, muslim atau kafir. Para pencuri dan penjudi pun menerima rahmat. Para pelacur dan semua lelaki yang melacur pun mendapatkan rahmat itu berupa kenikmatan perzinahan sampai batas tertentu.

Tetapi tidak setiap rahmat Tuhan diizinkan oleh-Nya untuk menjadi berkah yang disukai dan diridhoi oleh-Nya. Bahkan Kiai Sudrun sering dengan tertawa sinis menyapa Markesot dengan kalimat “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa ‘adzabuh”: semoga Tuhan menyampaikan kepadamu keselamatan, rahmat dan adzab.

Kiai Sudrun menyindir apa yang sedang berlangsung di Negeri tempat tinggalnya Markesot. Yang penduduknya merasa sedang membangun rahmat, padahal sedang menumpuk-numpuk adzab. Merasa sedang memilih dan menjunjung berkah kepemimpinan, padahal sedang menggendong adzab.

Kiai Sudrun dengan tenangnya bisa tertawa-tawa mengucapkan itu, padahal Markesot tegang, mbentoyong dan menahan amarah.

Rahmat Tuhan ditaburkan bagai hujan yang menaburi seluruh hutan, desa dan kota-kota. Menimpa tetumbuhan, binatang dan manusia. Apabila rahmat itu berupa informasi dan tuntunan, disebut hidayah.

Pada alam, hidayah sudah otomatis merupakan bagian alamiah dari habitatnya. Ke mana ayam melangkah dan mematuk-matuk, dibimbing oleh hidayah alamiah. Tetapi pada manusia, karena ia dan mereka adalah makhluk pengelola: hidayah itu diperlukan dalam suatu proses tawar menawar yang dinamis, antara pertimbangan dan keputusan manusia dengan perkenan atau kemauan Tuhan.

***

Kebanyakan manusia tidak melibatkan diri di dalam proses dialektika tawar- menawar hidayah itu secara pro-aktif. Umumnya mereka hanya dididik untuk cara hidup jasadiyah dan materialisme, sehingga dalam kehidupan sehari-hari mereka sangat jarang merasakan atau menyadari ada dan hadirnya Tuhan.

Tuhan terlalu abstrak bagi cara pandang mereka sehari-hari. Mereka memang bertahan percaya bahwa sesungguhnya Tuhan memang ada dan bekerja untuk mereka, tetapi itu sebatas kepercayaan. Kepercayaan yang tak ditemani oleh ilmu dan hikmah pengalaman, bisa berubah menjadi mitos. Mitos yang dipelihara terlalu lama, menjadi khayal atau takhayul.

Jadinya posisi Tuhan di dalam kejiwaan kebanyakan manusia sesungguhnya terletak pada wilayah takhayul. Tapi mereka tidak berani keluar dari wilayah takhayul itu karena toh kebanyakan teman-temannya juga bertahan di situ. Omong sehari-hari menyebut Tuhan, bikin kumpulan-kumpulan juga melibatkan nama Tuhan. Bahkan bikin Negara dengan mencantumkan Tuhan di baris pertama kalimat-kalimatnya.

Padahal pada praksis sehari-harinya Tuhan sangat jarang diperlakukan sebagai subyek yang riil. Bahkan lama-lama Tuhan hanya diambil namanya, untuk dimanfaatkan sebagai pengatas-namaan, kemudian akhirnya menjadi komoditas atau barang jualan untuk memperlebat pengaruh politik dan peningkatan lakunya dagangan-dagangan mereka.

Tetapi masih lumayan Tuhan disebut-sebut, meskipun Tuhan sama sekali tidak butuh disebut-sebut. Bahkan ada kemungkinan Tuhan kecewa dan marah kalau nama-Nya disebut-sebut, dipakai-pakai, untuk perilaku yang pada hakikatnya menentang penyutradaraan-Nya atas kehidupan para makhluk di alam semesta, utamanya di bumi.

***

Kenyataan-kenyataan seperti itu ditanggapi oleh Kiai Sudrun dengan lebih banyak tertawa-tawa. Berbeda dengan Markesot, yang meskipun sangat suka dan sering hampir selalu bercanda, tetapi tampak sebenarnya ia masih tegang.

Kalau ditanya kenapa ia tegang? Markesot biasanya menjawab: “Tegang kadang-kadang, tapi tidak cemas. Yaaah saat-saat tertentu ada cemas sedikit-sedikit, tapi tidak cemas sampai segitu-segitunya”

Atasan hidup Markesot hanya Kanjeng Nabi dan Allah sendiri. Kiai Sudrun bukan atasan, bukan Guru bukan Mursyid. Boleh dibilang Kiai Sudrun hanya rekanan-tanding. Sparring partner. Untuk berlatih ketahanan mental dan rohani dalam bertabrakan dengan kenyataan-kenyataan yang memuakkan, menjengkelkan dan memprihatinkan.

Tuhan sendiri yang menyatakan bahwa orang yang hidup karena dan untuk-Nya, tak disentuh oleh rasa takut dan kesedihan.

Padahal Markesot bertahan jomblo semata-mata karena rasa takut yang berlebihan untuk berkeluarga. Dan sangat jelas ia selalu tampak sangat sedih memikirkan keadaan masyarakat dan negara.

Markesot bukan tidak menyadari itu. Maka ia mengulangi pertanyaannya sehabis terdengar terompet agung di angkasa atas hutan belantara di mana ia berada:

“Apakah itu suara-Mu wahai Sang Hyang Sangkan Paran yang hamba senantiasa rindukan dengan seluruh kekerdilan hamba sepanjang perjalananku?”

Ternyata tidak ada jawaban apapun yang ia dengar atau rasakan. Markesot ge-er, dengan perjalanan sunyi menelusuri sungai dan memasuki hutan itu ia berharap akan meningkat software-nya: tidak hanya mampu memetik ilham, tapi juga ada kans untuk siapa tahu dianugerahi karomah oleh Sang Hyang, meskipun mustahil mendapatkan wahyu.

***

Sedangkan bagi Markesot, itu semua tak lebih dari suara kesedihan yang mendalam dari lubuk jiwanya sendiri.