Daur (150)

Anak Cucu Hilang Iman

Ta’qid : “...di antara ratusan juta orang yang bukan siapa-siapa, hanya kamulah seorang yang bukan siapa-siapa yang dekat pada mereka...”

Markesot tertawa terkekeh-kekeh sampai kalimatnya terpotong.

“Anak-anak saya itu belum pernah mengalami bagaimana tekanan batin yang dirasakan oleh para penggembala ketika berhadapan dengan kambing-kambing…”

“Itu namanya apologi, Sot”, potong Saimon.

“Mereka membayangkan asyik dan romantiknya menggembalakan kambing, tanpa pernah ingat bagaimana mungkin bisa berbicara kepada atau apalagi berdialog dengan kambing…”

“Merajuk”

“Apalagi hampir setiap kata yang dikenal oleh masyarakat kambing sudah mereka kencingi sendiri. Tak hanya musta’mal, tapi sudah najis, itu pun mugholladloh…tapi kemudian mereka makan lagi, mereka minum lagi, mengencinginya lagi, memakannya lagi…”

Markesot tertawa sampai keluar air matanya.

“Apalagi antara benar dengan salah tidak ada jaraknya lagi. Antara baik dengan buruk tidak bisa dipilah lagi. Maksud baik dan niat buruk tidak kentara pada segala jenis ekspresi. Antara kesalehan dan kemunafikan tidak bisa ditemukan dustanya…”

“Sangat mudah cari alasan, Sot”, Saimon selalu memprotes.

“Tidak ada lagi yang bisa saya lakukan. Andaikan kita punya kekuatan, biaya, pasukan, ilmu, strategi, serta pandangan terang benderang ke masa depan – tidak berarti semua itu akan bisa mengatasi masalah. Harus ada Tuhan yang memerintahkan Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya ke air laut, bersamaan dengan itu Tuhan juga memerintahkan air laut untuk membelah diri. Itu pun tak cukup: karena andaikan Fir`aun minggu depan kita tenggelamkan di dasar samudera, yang di darat sudah siap beribu-ribu Fir`aun lainnya, yang lebih canggih, lebih ulet, lebih taktis-strategis, lebih menguasai teknologi kemunafikan, lebih efektif menteknokrasikan semua perilaku Iblis diperformakan sebagai prestasi Malaikat…”

Saimon memotong agak keras: “Tapi apapun keadaannya, tetap harus dilakukan sesuatu. Orang-orang di sekitarmu itu benar-benar merasa ngeri membayangkan kalau situasi ini tidak bisa dikudeta dan diperbaiki. Mereka sangat ketakutan anak-anak mereka, keluarga mereka, akan kehilangan iman, kehilangan keyakinan bahwa masih ada Tuhan yang akan turun tangan menolong. Lebih dari itu sesungguhnya mereka sendiri khawatir akan terkikis imannya kepada kasih sayang Tuhan, luntur kepercayaannya kepada gagasan bahwa Tuhan beriktikad baik terhadap kehidupan”

Markesot tidak menanggapi. Saimon meneruskan.

“Jangan lupa di antara orang-orang yang ada di sekitarmu itu mengibaratkan diri mereka adalah santri-santri yang meyakini bahwa ilmu-ilmu Allah sangat mengejewantah pada dirimu. Bergaul dengan kamu mereka anggap sebagai suatu suasana dan mekanisme sebuah Pesantren, yang berada di tengah lingkungan desa yang rusak tatanan hidupnya, yang pemimpin dan pemerintahannya tidak amanah, dengan penduduk yang kehilangan martabat hidup sehingga berpikir tak apa mengabdi kepada Setan asalkan bisa makan”

“Santri-santri di Pesantren itu dari awal memutuskan untuk masuk menjadi bagian dari dirimu, karena mereka merasa menemukan kebenaran sejati. Apalagi tiap hari kamu banyak omong ke mereka, sehingga mereka sedang dipupuk ilmu dan daya juangnya dengan curahan ilmu-ilmu kehidupan yang benar dari sudut pandang Allah”

“Maka ketika ilmu yang mereka peroleh ternyata tidak bisa diaplikasikan pada tataran masyarakat desa — meskipun mereka juga tidak memusuhi masyarakatnya — tetapi di hati kecil para santri muncul gejolak: Kalau memang ilmu dari Allah lewat kamu ini benar, maka Allah pastilah akan menunjukkan kuasa-Nya di suatu ketika. Sehingga desa bisa diperbaiki dengan ilmu-ilmu Allah sesuai yang mereka pelajari darimu selama ini. Apalagi beberapa pertanda zaman sebelumnya juga menunjukkan akan datangnya masa tersebut. Tapi ternyata tidak. Tidak. Tidak terjadi apa-apa sampai saat ini…”

Markesot tampak agak sedikit gelisah. Terkadang menutupi wajahnya dengan tangan. Saat lain bertopang dagu. Tapi sesekali juga wajahnya memancarkan campuran antara kesedihan dan rasa geli.

“Mereka juga sadar bahwa kamu bukan siapa-siapa”, Saimon melanjutkan, “tetapi siapa di desa ini yang siapa-siapa? Siapa di Negeri ini yang benar-benar siapa? Kamu bukan tokoh, bukan pemimpin, bukan panutan, jangankan Nabi, jangankan Imam Mahdi. Akan tetapi, di tengah tiadanya siapa-siapa di seluruh Negeri, di antara ratusan juta orang yang bukan siapa-siapa, hanya kamulah seorang yang bukan siapa-siapa yang dekat pada mereka. Orang-orang di sekitarmu itu pun bukan siapa-siapa bagi ratusan juta orang lainnya yang bukan siapa-siapa. Hanya di depanmu sajalah mereka adalah siapa-siapa, meskipun kamu sendiri bukan siapa-siapa…”