Daur (111)

Aktivisme Dukun

“Daripada saya keburu kalap dan tidak sengaja membunuh Sampeyan, lebih baik sekarang Sampeyan terus terang saja tadi mikir dan mau ngomong apa kepada Pak Dukun”,

Markesot geram benar kepada temannya, di perjalanan pulang.

“Harap Sampeyan catat dulu, bahwa Sampeyan membuyarkan semua rencana kita. Sampeyan menyia-nyiakan perjuangan batin yang sangat berat untuk melaksanakan rencana itu. Kemudian yang terpenting adalah Sampeyan mempermalukan saya di depan Dukun itu”

Temannya terdiam. Menutupi muka dengan kedua tangannya.

“Sebenarnya saya sudah tahu semua yang bergolak di dalam pikiran dan niat di dalam batin Sampeyan yang penuh nafsu politik itu”, Markesot melanjutkan, “tapi yang saya minta adalah pengakuan, bukan tuduhan”

“Pengakuan apa”, kata temannya, “Saya kan tidak bicara apa-apa, tidak melakukan apa-apa, hanya duduk”

Markesot jengkel. “Jawaban Sampeyan itu bisa nambah masalah lho. Kita sudah terhina karena diusir. Jangan tambah lagi”

“Tambah apa?”

Markesot naik nada suaranya. “Sampeyan jangan berlagak bodoh. Sampeyan lebih berpengalaman dari saya. Sampeyan tahu bahwa untuk supaya kita tahu ayam, lantas ayamnya harus mengatakan kepada kita bahwa dia ayam. Matahari terbit tidak dengan melaporkan bahwa ia sedang terbit. Kalau ada orang marah, jengkel, sedih, atau senang, itu cukup terlihat dari susunan wajahnya, ekspresinya, pola-pola urat sarafnya. Kita bisa menemukan isi jiwanya meskipun hanya dengan melihat wajahnya. Dukun tadi tahu persis api panas yang bergolak di dalam hati Sampeyan, bahkan bisa akurat membaca niat Sampeyan, bahkan mungkin juga isi pikiran yang ingin Sampeyan kemukakan”

Temannya menjawab, “Faktanya kan saya tidak omong apa-apa”

“Fakta?”, sahut Markesot, “Jadi fakta manusia itu hanya pada bunyi mulutnya? Hati bukan fakta? Isi pikiran bukan fakta?”

“Yang bisa dianggap fakta kan yang diungkapkan atau dilakukan”

“Itu fakta bagi tape-recorder, bagi alat-alat perekam, bagi mesin. Tapi bagi manusia, terutama bagi manusia yang punya rohani yang bernama pikiran dan hati: yang lebih merupakan fakta justru adalah yang tidak diungkapkan”

“Tapi yang boleh dihukum kan yang dikatakan atau dilakukan”

“Kita sudah dihukum. Kita sudah diusir. Kita sudah mempermalukan diri kita sendiri. Sumbernya adalah fakta di dalam hati dan pikiran Sampeyan”

“Tapi kan tidak saya ungkapkan”

“Tapi kan Dukun dan saya bisa tahu meskipun tidak diungkapkan. Maka diketoklah palu hukuman. Itulah manusia. Itulah kedalaman pengetahuan manusia. Itulah kepekaan batin manusia. Itulah kewaskitaan jiwa manusia. Bukan Negara, bukan Jaksa, bukan Hakim, bukan Lembaga Hukum yang sangat dungu dalam melihat dan menilai manusia”

“Isi hati dan muatan pikiran tidak termasuk ranah hukum”

“Isi hati dan muatan pikiran adalah ranah hukum yang utama”

“Tidak ada prinsip seperti itu”

“Kalau begitu jangan pakai kosakata hukum. Cari kata sendiri”

“Kenapa?”

“Kata hukum itu milik Tuhan. Kalau mau pakai, gunakan juga apa kata Tuhan tentang hukum. Tuhan Maha Hakim. Hukum adalah presisi terlembut dari akurasi keadilan”

“Itu bukan tanggung jawab saya. Saya tidak ikut memilih kata hukum yang digunakan oleh sistem Negara”

“Lha kok Sampeyan memakai sesuatu yang Sampeyan tidak ikut menentukan? Mana kedaulatan Sampeyan? Katanya mau mengubah Negara dan manusia. Katanya kita ke Dukun itu untuk supaya bisa mempengaruhinya, kemudian diharapkan dia mempengaruhi Raja, agar melahirkan kebijakan-kebijakan yang mengutamakan hak rakyat”

“Tidak pada semua hal kita bisa berdaulat. Saya makan nasi tidak harus tanam padi sendiri. Saya minum tidak harus menyuling air sendiri. Saya bernegara karena sebelum saya lahir sudah ada Negara dan tidak ada peluang bagi saya untuk tidak berada di dalamnya”

“Tapi kan bisa menolak sesuatu pada batas yang kita bisa. Kalau hukum Negara hanya melihat seseorang mencuri, kita tetap bisa menjadi manusia yang juga melihat kenapa dia mencuri”

“Memang bagi hukum Negara, fakta adalah peristiwa bahwa seseorang mencuri. Apa sebabnya, apa motivasinya, apa yang memaksanya mencuri, bukanlah fakta bagi hukum Negara”

“Kalau memang kita pakai hukum Negara, kenapa kita datang ke Dukun?”

“Karena kita warga negara. Dan setiap warga negara menginginkan Negaranya menjadi baik untuk rakyatnya. Kita melihat masih sangat jauh dari baik. Maka kita cari hulunya. Kita temukan Raja dikelilingi oleh Dukun-dukun yang merupakan aspirator-aspiratornya. Maka kita menemui aspirator utama di antara Dukun-dukun itu untuk siapa tahu bisa kita pengaruhi”

“Apakah Dukun ada dalam susunan konsep Negara?”

“Tidak ada bagi Negara, tapi ada bagi kita, maka kita melakukan ini semua”

“Sampeyan melakukan itu dengan konsep Negara atau konsep Dukun?”

“Saya tidak mengerti ada konsep Dukun”

“Yang kita datangi tadi kan Dukun”

“Ya tapi yang kita lakukan adalah demi Negara supaya berguna untuk rakyatnya”

“Tapi kan yang kita hadapi adalah Dukun, maka kita harus memahami habitat, konsep, jenis pandangan, ilmu dan kemampuan Dukun”

“Kenapa kamu tidak bilang itu sebelum kita pergi ke Dukun?”

“Karena Sampeyan lebih tahu dan berpengalaman dari saya”

“Bagi saya yang kita lakukan tadi adalah mekanisme diskusi atau musyawarah”

“Tapi diskusinya kan tidak dengan aktivis intelektual yang pedoman utamanya adalah bunyi mulut. Manusia dan Dukun tidak sesempit aktivis. Manusia dan Dukun selalu waspada kepada bunyi mulut, ungkapan kata-kata dan pernyataan-pernyataan eksplisit. Karena fakta utamanya tidak terletak pada kata-katanya, melainkan pada orisinalitas isi hati dan muatan pikirannya. Jadi seharusnya Sekolah dan Universitas mengajarkan dan melatih agar siswa dan mahasiswanya mengenali manusia dengan isi batin dan gejolak berpikirnya”

“Ternyata kamu ini Dukun, Sot”

“Sampeyan baru tahu sekarang? Dari dulu saya memang Dukun. Dukun itu artinya orang yang mengobati. Orang yang menolong sesamanya. Mengupayakan agar orang yang ditimpa masalah bisa keluar dari masalah. Bahwa wilayahnya macam-macam, itu karena perkembangan peta masalah manusia. Ada urusan bayi lahir, orang sakit, orang kehilangan barang, orang ingin bangun dari penderitaan, orang ingin gembira hidupnya”

“Tapi kan ada juga Dukun santet, tenung, teluh, pelet….”

“Sama dengan shalat. Ada shalat ikhlas, shalat pamrih harta, shalat peningkatan omset dagang, shalat naik jabatan, shalat kemunafikan, shalat pengasihan…itu semua tergantung pelakunya….”