Daur (19)

Ajaran Kulit Mangga

Itulah sebabnya salah satu agenda Hijrah Maiyah adalah mewajibkan diri memasuki ranah sejarah Muhammad sebagai manusia dengan segala segi dan gejolak kemanusiaannya.

Itulah sebabnya Syekh Nursamad jauh sebelum dipersatukan dengan Maiyah dituntun Allah untuk berkonsentrasi pada penulisan “Sirah Rasul”, karena berabad-abad ummat manusia terlalu ditenggelamkan hanya di dalam lautan teks hadits, dan sangat sedikit mengetahui, menghayati, menikmati, mendalami dan mentakjubi kisah-kisah Muhammad sebagai manusia.

Itulah sebabnya Kiai Tohar selalu sangat bersikeras mempelajari kepribadian budaya Muhammad, psikologi manusia Muhammad, geniusitas dan kebersahajaan pribadi Muhammad. Karena Kiai Tohar tidak bisa terus-menerus menyaksikan para pengikut Muhammad meremehkan manusia-Muhammad, menilai hampir semua adegan perjuangan beliau dengan take for granted “namanya juga Nabi”, “toh dia Nabi”, “lha wong Nabi”.

***

Sebagaimana semua sunnatullah, ilmu yang lurus-lurus hanyalah sebagian kecil. “Aurat” inilah yang sebagian besar manusia dan orang-orang sekolah tidak memperhatikannya, meskipun mereka selalu mengalami di dalam kehidupan nyata mereka.

Darurat Aurat ku”pause”kan pada tulisan ini, anak cucuku dan para jm kuajak masuk ke dalam rumah, menengok dunia luar dari jendela dalam. Kemudian kutuntaskan Daurat Aurat kembali sampai seri tulisan ke-40: berpuncak di Kepastian Wabal dan Fathu Maiyah.

Perhatikan milyaran pengikut Muhammad yang bergenerasi-generasi hingga sekarang diam-diam sebenarnya tidak memerlukan Muhammad. Coba perhatikan. Ada (1) ajaran Allah dititipkan Muhammad. Ada (2) pelantikan Allah atas kenabian dan kerasulan Muhammad. Dan ada (3) manusia Muhammad.

Para Ulama hanya sibuk memperkenalkan yang pertama dengan yang kedua sebagai pakaian, jubbah atau emblim. Yang disampaikan terutama hanya ajaran-ajaran yang toh dari dan milik Tuhan, di mana kenabian dan kerasulan digunakan untuk legitimasi dan pemantapan hati pengikutnya. Pada hakekatnya, karena yang sampai hanya ajaran, sebenarnya Tuhan menitipkannya kepada bukan Muhammad juga tidak masalah. Andaikan Tuhan memutuskan bahwa yang dititipi adalah Marzuki, Kruschev atau Kardjo, tidak ada persoalan yang timbul.

Kalau kita pakai lagi idiom mangga dan pelok, maka pengikut Muhammad hanya menikmati paket irisan mangga dari Tuhan, terserah siapa yang disuruh membawanya ke ummat manusia. para pengikut Muhammad tidak waspada bahwa inti makna sejarah mangga adalah pada peloknya. Karena pekerjaan ummat manusia adalah Ta’dib: berkebun peradaban dan bercocok tanam kebudayaan di muka bumi, menanam, menyirami, memelihara, menjaga, hingga memetik buah hasil panennya, dengan bersabar diuji oleh hama-hama, cuaca buruk dan para pencuri – tapi untuk kemudian menanam lagi dan menanam lagi.

Itupun, sekedar untuk mengingatkan orang Maiyah, bahwa milyaran pengikut Muhammad itu tidak benar-benar menikmati manis dan sedapnya mangga. Semakin banyak pemimpin agama yang menyaring buah mangga dengan disisakan hanya serat-serat fiqih dan dimensi hukumnya. Seolah-olah agama hanya berdimensi hukum, tanpa terapan muamalah kebudayaan yang mengamankan dan memberi nikmat. Seolah-olah agama hanya tombol pencetan on-off yang menggerakkan atau menghentikan milyaran robot-robot pengikut Muhammad.

Yang dititipkan oleh Tuhan lewat Muhammad bukan hamparan sawah ladang, melainkan pagar-pagar, tembok-tembok, dinding-dinding, batasan-batasan yang penuh trauma dan dikte, dakwah yang menakutkan, tabligh yang mengerikan, ancaman neraka dan syarat yang hampir mustahil terpenuhi untuk mendapatkan sorga. Bahkan para pengikut Muhammad tidak diberi pembiasaan menghayati keputusan dimensi Wajib dan kemuliaan Sunnat. Karena domainnya hanya “Halal-Haram”.

Semakin hari, semakin lama, semakin udzur zaman dan peradaban, akhirnya semakin terjelaskan bahwa dari Tuhan, melalui Muhammad, yang sampai ke ummat kebanyakan bukan ‘daging’ mangga, melainkan kulitnya. Ibadahnya kulit, pemikirannya kulit, analisisnya kulit, tafsirnya kulit, pelaksanaannya juga kulit. Padahal daripada memberi dan menyebar kulit mangga yang hanya sangat sedikit manusia, kenapa tidak membagi-bagikan pelok saja dari Al-Quran, agar milyaran pengikut Muhammad itu bercocok tanam mangga peradaban.

Maka sekali lagi salah satu paket hijrah Maiyah adalah memulai sungguh-sungguh belajar mempelajari, mendalami, menghayati, hingga insyaallah mentakjubi kemanusiaan Muhammad, karakter luar biasa Muhammad sebagai manusia, kasih sayang sosialnya, kemurahan hatinya, kelembutan sikapnya, jiwa kedermawanannya, kecenderungannya yang sangat tinggi untuk memudahkan proses kehidupan setiap manusia, dan berpuluh-puluh tonjolan karakter beliau.

Para pengikut Muhammad tidak cukup hanya makan mangga, atau seratnya, atau ternyata kulitnya, tanpa menghayati asal usul mangga. Tidak bisa makan nasi tanpa ingat para petani yang menanam padi. Tidak bisa makan buah apapun tanpa mengapresiasi tukang-tukang kebunnya.

Tidak sopan dan tidak berakhlak orang Maiyah menikmati makanan minuman tanpa menghayati asal-usulnya, memahami susah payah, suka duka, gembira dan derita, riuh rendah dan kesengsaraan orang yang melakukan pekerjaan-pekerjaan berat hingga makanan dan minuman itu menjadi ada dan dinikmati.

Semakin para pengikut Muhammad menghayati kehidupan manusia-Muhammad, semakin meningkat karakter rahmatan lil’alamin mereka.

Semakin mereka mengerti dan seolah mengalami sendiri kualitas kemanusiaan Muhammad — meskipun itu juga berasal dari Tuhan — semakin mereka menemukan yang dipilih menjadi Puncak Universal Kenabian semua Nabi dan puncak Managemen Global segala Rasul: adalah memang harus beliau. Harus beliau. Tidak bisa Kardjo, tidak mungkin Kruschev dan mustahil Marzuki.

Demikian juga hakikinya dialektika Maiyah dengan para pelakunya.

Dari cn kepada anak-cucu dan jm
21 Pebruari 2016