Ahlan wa Sahlan Letto

Membaca pesan itu, Cak Nun yang tak lain adalah Ayah bagi mereka segera membalas, “Ahlan wa Sahlan Letto.” Selamat datang Letto.

Dalam perjalanan kembali dari Tadabburan di  kampus Unair Surabaya menuju Mojokerto dini hari tadi, kami mendapatkan update bahwa Letto dan crew yang dikawal langsung oleh Patub telah tiba di Menturo. “Rombongan Letto sudah sampai di Menturo. Patub melaporkan dari Menturo,” demikian pesan WhatsApp dari Patub, gitaris merangkap manajer Letto pada pukul 3.34 WIB pagi tadi.

Membaca pesan itu, Cak Nun yang tak lain adalah Ayah bagi mereka segera membalas, “Ahlan wa Sahlan Letto.” Selamat datang Letto. Sementara itu, Kiai Tohar merespons, “Leyeh-leyeh sik biar pagi siap segar.” Patub dan kawan-kawan kemudian melihat situasi panggung Ihtifal Maiyah tempat mereka nanti malam menjadi salah satu penghantar bagi jamaah menuju kebersamaan Ihtifal Maiyah dan perenungan akan tonggak-tonggak baru yang akan mereka tancapkan bagi kehidupannya sebagai pribadi, kelompok, masyarakat, atau bangsa.

Foto: Patub.
Foto: Patub.

Selain itu, pagi ini Letto dijadwalkan akan memberikan wrokshop Musik Edukasi Takdib Padhangmbulan untuk anak-anak SMK Global. Selama ini sepanjang edisi-edisi Takdib hingga saat ini, Cak Nun secara langsung memberikan materi dasar bagi mereka, serta para guru mereka, yang sesungguhnya bukan memberikan materi melainkan menggali dan mendorong mereka untuk mengalami secara otentik proses pembelajaran. Nanti dengan filosofi yang sama tetapi dengan metode Letto, anak-anak SMK Global itu akan menyerap pengalaman yang lebih diperkaya bersama Sabrang, Patub, Dedot, dan punggawa Letto lainnya.

Sementara itu, Sabrang sendiri pada malam nanti akan menyampaikan Pidato mengenai proyeksi dan masa depan Maiyah. Dan menyambut perhelatan Ihtifal Maiyah, redaksi Bulletin Maiyah Jatim edisi khusus Mei ini telah mewawancarai Sabrang. Dalam perbincangan yang telah disarikan dan dimuat dalam Bulletin edisi khusus dalam rangka Ihtifal Maiyah ini, Sabrang berbicara mengenai Cak Nun, Padhangmbulan, dan Maiyah dalam tinjauan kronologi waktu, karya Cak Nun, dan konsep keseimbangan. Bahwa Maiyah memiliki balance atau keseimbangan yang solid, di antaranya dari segi ilmu.