Daur (72)

Agamaterialisme

Memang bagi kebanyakan orang kemiskinan adalah bencana, dan kebanyakan orang menyimpulkan secara kolektif bahwa bencana itu mirip-mirip dengan adzab. Yah kira-kira hampir sama dan sebangun.

Sementara itu orang tidak kebanyakan juga kelihatannya kurang berminat untuk mengurusi apakah antara adzab dengan bencana itu sama ataukah berbeda. Kalau sama, kok bisa sama, bagaimana konteks sebab dan akibatnya. Kalau tidak sama, seberapa jaraknya.

Bencana, adzab, mushibah, celaka, sial, kemudian banjir, gempa, gunung meletus, badai, halilintar, petir, bercampur-aduk di dalam satu tabung makna. Ditambah lagi fakir, miskin, tak punya apa-apa, sengsara, berat, susah, sedih, derita, aib, malu.

Kalau racun berwarna kuning, kebanyakan orang berasosiasi bahwa yang membunuh bukan hanya racun, tapi juga kuning. Kalau kemiskinan itu berat dan menderita, maka segala penderitaan dan semua yang berat disimpulkan sebagai bencana, akhirnya bencana dikonklusikan sebagai adzab.

Manusia mengalami kelelahan untuk mengurai pengetahuan dan memilah gigir-gigir ilmu.

Rentang jarak yang bisa sangat panjang antara keadaan miskin dengan adzab, ditekuk, dilipat-lipat, digumpalkan menjadi satu titik. Peradaban panjang materialisme membawa ummat manusia menyisakan satu pengertian makna: bahwa kemiskinan adalah adzab.

Semua jenis kegiatan yang menghasilkan kekayaan harta benda, dianggap berkah. Segala perjuangan yang ujungnya adalah kebangkrutan keduniaan, dipahami sebagai adzab.

Sehingga mereka bersedia dijajah asal tidak miskin. Bahkan harta milik sebuah Bangsa dirampok tidak masalah, asalkan penduduk Negara Bangsa itu disisakan sedikit untuk penghidupan keluarganya. Kemiskinan itu hina, sehingga lebih baik ikut Iblis asalkan kaya, daripada setia kepada Tuhan tapi disuruh bersabar dalam kemiskinan.

***

Sampai-sampai membangun tempat ibadah pun tidak soal meskipun Setan yang membiayainya. Sehingga tidak perlu memverifikasi halal haramnya bantuan yang diberikan untuk pembangunan rumah ibadah itu.

Kemiskinan di dunia dimaknai sebagai bencana yang membuat manusia merasa hina dan rendah. Tidak hanya rendah di hadapan sesama manusia, tapi juga di depan dirinya sendiri. Adapun di depan Tuhan, mereka merasa tidak ada bahan untuk mengukurnya. Tidak ada mata kuliahnya. Tidak ada universitas dan fakultasnya.

Kehilangan martabat kemanusiaan tak masalah, asal tetap punya pekerjaan, bisa menghidupi keluarga dan memastikan kemakmuran. Tidak punya harga diri pribadi, harga diri kemasyarakatan dan kebangsaan, itu bukan persoalan, karena yang utama adalah tegaknya materialisme dalam kehidupan di dunia.

Manusia dan bangsa jenis itu, benderanya adalah “Anti Kemiskinan”, bukan “Anti Pemiskinan”, karena mereka melihat kekayaan dunia sebagai benda, bukan sebagai bahan-bahan di dalam tugas akhlak. Jargon mereka “Anti Kebodohan”, bukan “Anti Pembodohan”, karena faktanya kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan dalam rangka anti-kebodohan ternyata adalah penumpukan kebodohan.

Seolah-olah Nabi pamungkas junjungan mereka adalah orang yang kaya raya seperti kakeknya, Sang Raja Sulaiman. Seakan-akan mereka tidak pernah mendengar bahwa junjungan mereka itu sangat sering mengganjal perutnya dengan batu agar tak terlalu merasa sedang lapar. Seakan-akan tak ada yang pernah menginformasikan kepada mereka bahwa luas rumah junjungan mereka itu panjangnya 4,80 X lebarnya 4,62 X tingginya 2,5 meter. Lebih sempit dari rata-rata kamar mandi mereka.

Seolah-olah para pemuka masyarakat mereka menyembunyikan fakta bahwa kekayaan beliau dibagi-bagi ke kelompok-kelompok ekonomi kecil di seantero Madinah. Sehingga beliau sendiri menempuh pola hidup yang jauh lebih miskin dari kebanyakan manusia zaman sekarang.

Kemudian miliaran pengikut beliau berabad-abad mengibarkan bendera “Anti Kemiskinan”. Dan kemiskinan yang dimaksudkan adalah pada konsep materialisme dan ideologi keduniaan.

Mayoritas penduduk bumi adalah pemeluk Agamaterialisme.

Tanpa penggambaran bahwa dunia adalah babak penyisihan, kemudian manusia maju ke babak-babak berikutnya, perdelapan final, perempat final, semifinal sampai final menjelang ketentuan final di depan gerbang Stadion Sorga dan Neraka.

***

Seakan-akan Tuhan tidak pernah memberi pernyataan bahwa “Tidaklah Kuberikan ilmu kepada kalian kecuali sangat sedikit”. Sehingga mereka pasang standar bahwa manusia itu harus pandai, maka harus “Anti Kebodohan”.

Ummat manusia di muka umumnya lalai dari penglihatan bahwa ‘audiens’ utama hidup mereka adalah Tuhan sendiri. “Innallaha Khobirun bima ta`malun”. Sesungguhnya Allah mengabarkan apa yang kalian lakukan. Allah penonton pentas dunia kita, Allah wartawan pengumpul data dan pemotret kelakuan kita, Allah redaktur penayang make up wajah kita. Kemudian Allah jaksa penuntut dan hakim kita.

Kealpaan manusia atas fakta panggung dan audiens itu membuat mereka mampu gagah perkasa mementaskan kepandaian, dengan jargon “Anti Kebodohan”. Mereka tidak menyusun kurikulum pada konteks dan urusan apa kepandaian diperkenankan Tuhan untuk diperlukan dan digunakan. Itu pun dengan batas takaran kepandaian yang dilapisi baja kewaspadaan.

Mereka juga tidak meneliti pada proporsi yang mana kebodohan sangat dibutuhkan oleh manusia demi keselamatannya. Manusia menyangka semakin ia tahu semakin baik dan selamat hidupnya. Manusia tidak mensimulasi kemungkinan-kemungkinan di mana kepandaian perlu dibatasi, sebagaimana kebodohan juga ditentukan kadarnya. Semua demi ketepatan letak keselamatan dalam konstruksi kehidupan yang disusun oleh Tuhan.

Telinga manusia dibatasi jangkauan pendengarannya, agar ia tidak perlu menjadi kalap dan gila karena kesanggupannya mendengar omong-omong orang di jarak yang jauh.

Mata manusia juga dibatasi hanya bisa melihat pada garis lurus, sebab kalau penglihatan bisa berbelok dan melingkar, maka pakaian orang lain tidak ada fungsinya. Dan kalau pakaian tidak berfungsi berarti semua orang telanjang. Dan kalau semua orang telanjang, peradaban dan kehidupan hanya berumur beberapa minggu.

Demi keselamatan hidup manusia, Tuhan menentukan batas penglihatannya, pendengarannya, jasad maupun batinnya, pengetahuan dan ilmunya, kekuatan dan kesanggupannya. Allah Maha Penakar. Allah Maha Pakar Batas.

Tetapi dasar manusia. Pada konteks di mana mereka butuh membatasi, mereka kejar ketidak-terbatasan. Pada konteks lain di mana mereka merdeka dari batas, mereka malah membatas-batasi.

Hasilnya kebudayaannya, ketika mereka tidak punya jalan selamat yang lain kecuali memilih patuh, misalnya kepada sunnah dan qadar Tuhan, mereka malah memilih kebebasan dan demokrasi. Sebaliknya ketika Tuhan membuka kedaulatan bagi mereka, misalnya di wilayah pemikiran, kreativitas atau teknologi, mereka malah menjadi pembebek-pembebek kepada sesamanya.

Mereka balik dunia dijadikan akhirat, akhirat diduniakan. Rohani dijasmanikan, sambil bingung bagaimana merohanikan jasmani. Materialisme dituhankan, Tuhan dimaterikan.

Itulah yang oleh Markesot ditembangkan “bebendhu tan kasat mata, pepeteng kang malih rupa”. Agamaterialisme. Tampak seperti Agama, padahal materialisme. Tidak terasa materialisme, karena wajahnya Agama.