Catatan Sinau Bareng Budaya Lingkungan Hidup, IAIN Surakarta 30 November 2016

Agama Bernama Globalisasi dan Dipeluk Mayoritas Orang

Globalisasi bermuatan kecurigaan dan ketidakpercayaan kepada orang lain. Tidak ada suasana iman. Diputuslah hubungankepercayaan.
Foto: Adin.
Foto: Adin.

“Kalau bisa ada ekstra pembelajaran atau penelitian, meskipun tidak harus menjadi ekstrakurikuler. Anda tak bisa hidup dengan fokus Anda sendiri, Anda harus hidup peduli dengan tema atau fokus hidup bersama. Harus rajin berlatih asosiasi, intelektual dan emotif-emosional. Itulah thariqat ilmiah. Jika dilihat dari keputusan-keputusan yang diambil, manusia yang beragama itu tak lebih dari sepuluh persen, demikian juga dengan umat Islam yang beragama Islam itu paling sepuluh persen. Agama sekarang ini yang dianut adalah globalisasi. Anda melakukan sesuatu disadari atau tidak keputusan atasnya ditentukan oleh globalisasi. Anda dibuat seka beli, suka ke mal. Anda dibikin berpikir hanya segaris saja dan tidak multigaris. Itulah globalisasi. Jika dulu di warung, orang makan dulu baru bayar. Di mall atau tempat lain, anda bayar dulu baru makan. Globalisasi bermuatan kecurigaan dan ketidakpercayaan kepada orang lain. Tidak ada suasana iman. Diputuslah hubungankepercayaan,” papar Cak Nun memberikan titik pijak sudut pandang.

Ketika dulu warung mempersilakan pembeli makan dulu baru bayar, bahkan saat mereka mengambil lauk pauk tak diamati, itu dikarenakan filosofinya bukan jualan, melainkan menjalankan kehidupan dan budaya dengan jalan buka warung. “Itu sebabnya budaya lingkungan hidup yang menjadi tema malam ini sangat relevan,” respons Cak Nun. Pak Rektor Dr. Mudhofir mengemukakan latar belakang tema yang diangkat malam dengan mendeskripsikan masa depan manusia yang dilingkupi oleh ledakan penduduk, kerusakan lingkungan, kehancuran pangan, daya tampung bumi berkurang, dan lain-lain yang ditimbulkan filosofi yang salah atas alam oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan perilaku sebagian manusia. Alam dikendalikan untuk untuk kepentingan keserakahan sekelompok orang. Tak ada kearifan berbagi. Masa depan jadinya penuh ancaman. Agama Globalisasi ini yang disampaikan Cak Nun sangat berhubungan dengan gejala-gejala yang disebut Pak Rektor. Agama globalisasi yang salah satu wujudnya adalah kapitalisme global itulah yang menghancurkan kedaulatan negara, menjadikannya lemah tak berdaya.

Pada bagian awal ini, Cak Nun benar-benar mengajak para mahasiswa konsentrasi dan konstan berpikir. Penjelasan Globalisasi dan tahap-tahapnya yang berjalan hari ini bahkan diperkaya dengan menyitir tafsir lain atas nubuat Ajisaka sebagaimana dikemukakan Ronggowarsito. Pada masa Kalabendu, akan terjadi keadaan di mana Cino gari sakjodo, Jowo Gari Separo, Londo Gela-gelo. Tafsir lain yang belum jamak didengar ini menuturkan bahwa maksud Cino gari Sakjodo adalah orang Cina tinggal satu pasangan. Laki-laki dan perempuan. Jumlahnya bisa sangat banyak, karena dari sakjodo tadi memungkinkan reproduksi dan melahirkan jumlah yang banyak.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Sedangkan Wong Jowo gari separo bisa berarti tidak lengkap, tidak satu pasangan. Hanya perempuan saja, atau laki-laki saja. Sehingga pilihannya akan kawin dengan orang dari kelompok yang tinggal sakjodo tadi, sehingga habis kedaulatan antropologis manusia Jawa. Cak Nun tidak memastikan itu benar sebagai tafsir, melainkan menghubungkannya dengan kemungkinan akibat penjajahan globalisasi atas bangsa Indonesia ini. Kemungkinan itu bernama goro-goro yang mengakibatkan keadaan seperti digambarkan Wong Cino gari Sakjodo, Wong Jowo Gari Separo. Kebijakan-kebijakan negara yang mempersilakan globalisasi masuk merusak dan menjajah dalam bahasa yang lain dapat dibaca sebagai menabung dendam. Itulah globalisasi yang intinya bermuatan pasar bebas tanpa keseimbangan dan peran negara dalam melindungi warganya. Meskipun untuk tafsir lain tadi, Cak Nun punya sikap yang berbeda. (hm/adn)