Daur (155)

Adzab Itu Khayalan

Ta’qid : “Kehancuran masyarakatmu hampir mustahil diperbaiki lagi pada dimensi nilai, meskipun secara pancaindra seolah-olah segala sesuatunya baik-baik saja”

“Saya bukan asistennya Kiai Sudrun. Saya cuma dipesani oleh beliau untuk berada di manapun kamu berada, melihat dan melaporkan, sampai jangka waktu ketika pesan itu dihentikan”

Markesot berusaha tidak mendengarkan apapun yang dikatakan oleh Saimon. Ia meneruskan berpikir apa yang menurut dia harus dipikirkan, mendaftari hal-hal yang dalam pendapatnya harus ia daftari. Tapi sebenarnya tidak mudah juga menutup perhatian dari berisiknya Saimon.

“Kamu pergi mencari Kiai Sudrun karena menurutmu keadaan Negerimu sudah darurat. Kebobrokan dan keambrukannya semakin meningkat, meskipun baru pada tataran substansi, belum terlalu tampak secara materi. Kehancuran masyarakatmu hampir mustahil diperbaiki lagi pada dimensi nilai, meskipun secara pancaindra seolah-olah segala sesuatunya baik-baik saja”

Markesot benar-benar menahan diri. Tidak menanggapi satu kata pun, tidak menoleh, tidak melirik, bahkan tidak menunjukkan gelagat apapun bahwa ia mendengarkan Saimon.

“Kamu sendiri yang menyimpulkan bahwa keadaan Negerimu bukan hanya Nasi Sudah Menjadi Bubur. Dalam banyak hal Nasi Sudah Menjadi Tinja…maaf, itu istilahmu sendiri. Itu sebabnya saya seret kamu ke tempat ini, untuk mendengarkan pembacaan Mencari Buah Simalakama. Agar kita bisa mengukur seberapa sedikit atau banyak di antara masyarakatmu yang masih peka dan sadar atas kehancuran yang sedang dialaminya”

“Kamu ingat ketika saya sebut beberapa paket kecil tentang  Sudra, Keledai tidak bisa diperkuda, dzikir sapu lidi, IT, kapitalisme lahir di sorga, boleh buta jangan tuli, adil makmur jadi makmur adil, Jawa itu etnis, Barat itu universal, Arab itu Islam, Malaikat memindah letak gawang, ramai-ramai membodohi Tuhan…. Lantas kamu menepisnya. Juga ingat tatkala kamu sendiri sudah punya paket untuk menyebarkan kesadaran tentang Negara, Negeri, Nagari, Perdikan, Tanah Air, Ibu Pertiwi, Al-Balad al-Amin, Baldatan Aminatan, Baldatun Thoyyibatun, Kerajaan, Keraton, Kedaton, Kesultanan, Khilafah, Republik, Deso Mowo Coro, Negoro Mowo Toto dan semua famili-famili pemaknaannya…”

Aslinya Markesot makin gatal hati dan penasaran pikirannya mendengar Saimon yang semakin gaduh dan riuh rendah, meskipun syukur orang-orang di sekitarnya tak ada yang mendengar.

“Belum lagi kamu tak pernah tuntas menghitung sejarah yang kamu bilang Wali Penyamar ‘Membangun Negara’ di perlintasan abad 14-15, yang kemudian ia bilang dirusak orang — sehingga beginilah jadinya Bangsa yang kamu temani ini sekarang…”

Markesot berdesis: ‘Audzu billahi minasy-syaithonirrojim…

“Saya bukan setan”, jawab Saimon, “dan yang bisa memastikan terkutuk atau tidak bukan kamu, melainkan Tuhan”

Alladzi yuwaswisu fi shudurinnas…”, Markesot bergumam lagi.

Minal jinnati wannas”, Saimon meneruskan, “setan itu energi negatif yang keluar bisa dari saya tapi bisa juga dari kamu. Jadi jangan menggeremang dengan nada seakan-akan pasti hawa Setan itu berasal dari saya”

Markesot ingat untuk menahan diri lagi. Sebab satu kata ia bereaksi, akan membukakan panggung lebih lebar dan tema lebih luas untuk digaduhkan oleh Saimon. Maka ia mengerahkan seluruh kesabaran dan ketahanannya untuk membisu.

“Kata Kiai Sudrun, kamu mengeluhkan banyak sekali persoalan. Yang katanya paling kau takutkan adalah adzab Tuhan. Menurut beliau kamu mengemukakan bahwa dengan gagah perkasa dan penuh kebanggaan, para pemimpin Negeri kawalanmu, yang seharusnya adalah para pemegang amanat kekhalifahan di wilayah itu — menyeret peradaban rakyatnya semakin mendekat ke jurang adzab Tuhan”

“Menurut kamu, tanda utama adzab itu adalah semakin terkikisnya pengertian dan kesadaran ummat manusia terhadap kehancuran. Bahkan sesungguhnya mereka diam-diam meyakini bahwa adzab Allah itu khayalan, fatamorgana, alat para pemimpin Agama menakut-nakuti ummatnya agar tetap bisa mereka genggam dan kuasai. Sudah berabad-abad mereka tidak mempedulikan kata atau istilah adzab. Tidak pernah benar-benar mempelajarinya, bahkan tidak juga agak serius mengingatnya”

“Tema-tema besar seperti itulah yang mendorongmu pergi menghilang dari lingkunganmu, masuk hutan dan naik ke angkasa kesunyian, dengan harapan bisa menemukan Kiai Sudrun. Kenapa dalam keadaan bingung dan buntu seperti itu yang kau cari adalah Kiai Sudrun? Karena kamu bukan siapa-siapa. Bukan tokoh masyarakat. Bukan manusia yang dekat dengan Tuhan. Besar kemungkinan para Rasul, Nabi dan Wali-wali juga tak pernah mendengar namamu. Maka Kiai Sudrun pesan: kamu mulai kembali dengan kesederhanaan…”.