Daur (153)

Adu Domba Global

Ta’qid : “Akan tetapi, sepanjang, seluas, sedalam dan sekuat apapun tipu daya global itu -- sekurang-kurangnya pada orang yang imannya teguh dan akalnya tegak: hal itu tak berlaku...”

Sudah pasti dan terang benderang sejak berabad-abad silam ada tiga kelompok rahasia bergerak menjaring dan menguasai Dunia, menggiring semua penghuni Bumi untuk berlaku dan menjadi seperti yang mereka rancang.

‘Berlaku’ itu sudah pasti harus didahului dengan tahap-tahap ‘mencetak’ siapa diri mereka di alam semesta ini, apa identitas dan identifikasi mereka, di mana letaknya dalam peta antar kumpulan-kumpulan besar manusia, melangkahkan kaki ke mana, mencintai dan membenci siapa, menembakkan peluru ke arah mana, menyebarkan sihir apa, apa paket-paket cuci otaknya.

Ini menyangkut salah satu contoh agenda saja.

Ada bermacam-macam program yang dijalankan oleh kaum yang cerdas dan tajam menangkap dan menerapkan “kekhalifahan” namun dengan prinsip dan untuk tujuan tidak sebagaimana khilafah itu dulu dilantikkan tatkala menciptakan Kakek Adam.

Sementara mayoritas dari para akselerator khilafah, yang secara kontinuitas ajaran dan ilmu maupun alur kesejarahannya seharusnya menjadi pelaku utama kekhalifahan: malah justru menjadi objek, konsumen dan korban dari penyelewengan khilafah itu.

Ada program manipulasi Agama Tauhid dengan menyebarkan Gugon-tuhon yang akhirnya berhasil dipercaya, diterima dan dipeluk oleh mayoritas penduduk dunia. Ada pemanfaatan potensi-potensi konflik di wilayah kepercayaan, pemikiran dan ideologi di antara para penduduk Bumi, yang sukses menghasilkan permusuhan-permusuhan global dan perang-perang regional.

Ada tipu muslihat yang menyangkut ilmu pengetahuan tentang Negara, Bangsa, Nasionalisme, Etnisitas, Ras dan pengelompokan-pengelompokan semu. Ada agenda penghancuran moral kaum muda melalui produksi, iklan-iklan kebudayaan, sentimentalisme antar jenis kelamin, pengaburan tata nilai keluarga, diperbanyaknya rekayasa aliran-aliran kepercayaan yang baru dan baru lagi.

Bahkan pemahaman tentang Agama dipelihara agar terletak jauh dari parameter Pencipta Agama, yaitu Tuhan sendiri. Sekolah dan Universitas mengajarkan bahwa manusia bisa dan boleh membikin Agama, sehingga dibuat kategori Agama Langit dan Agama Bumi. Atau dikaburkan secara permanen garis pilah antara Agama dengan Aliran Kepercayaan.

“Sokoguru” penyesatan global itu disebut Sekularisme. Yakni suatu pola pikir yang menginformasikan bahwa Bumi bukan bagian dari Langit. Bahwa Dunia adalah sesuatu tersendiri, dan Akhirat adalah sesuatu yang lain. Bahwa shalat dan naik haji itu Agama dan urusan langit, sedangkan menjahit celana dan nggenjot becak atau mempiloti pesawat itu urusan Umum di Bumi yang tidak termasuk Agama. Bahwa kalau membaca Qur`an itu urusan akhirat dan menyanyikan kalimat-kalimat itu urusan dunia.

Ummat manusia yang bergaul dengan nilai-nilai Agama sudah sampai pada puncak kebodohan, kesempitan dan kedangkalan.

Kemudian secara khusus, melalui perangkat-perangkat informasi, komunikasi dan kependidikan sedunia, dari pola dan bentuk yang tradisional hingga yang supramodern, dari agen-agen manual kasat mata hingga yang maya mendunia mensemesta — penduduk Bumi dikasih semacam pertunjukan Wayang. Sampai nanti tiba tahapan di mana mereka akan mengidentifikasi dan menemukan dirinya, keberpihakannya, simpati empati dan kecaman kutukannya, benci dan cintanya – pada suatu sisi, kutub, pihak, pengelompokan dan apapun, pada skala besar maupun kecil.

Dipertunjukkan seakan-akan ada Kanan ada Kiri dengan berbagai variabelnya. Ada Sosialisme Komunisme ada Kapitalisme. Ada Aktivis Pandawa ada Penggiat Kurawa. Ada masyarakat Demokrasi dan sempalan Teroris. Ada Fundamentalis Fasis ada Moderat Toleran. Ada Liberalis ada Konservatifis. Ada berbagai polarisasi, pengkutuban, Utara Selatan Barat Timur yang dipermusuhkan. Diadu domba. Anak-anak disekolahkan untuk mempelajari pengkutuban itu, berlatih mengadu domba dan mengasah ketahanan diadu domba.

Dipersiapkan secara sangat matang dan tertulis maupun tak tertulis. Diundang-undangkan, diselundupkan melalui teks film kartun, tipu daya makalah-makalah, muslihat jurnal-jurnal. Bahkan ditransformasikan secara buta melalui pengajian, tausiah, tayangan-tayangan yang merasa sedang memperjuangkan Agama, serta sangat banyak media lagi.

Akan tetapi, sepanjang, seluas, sedalam dan sekuat apapun tipu daya global itu – sekurang-kurangnya pada orang yang imannya teguh dan akalnya tegak: hal itu tak berlaku.