Daur (114)

Adam Digoda ‘Malaikat’

“Mon”, kata Markesot, “kamu jangan berlagak tidak tahu”

“Tidak tahu apa”, sahut Saimon.

“Kamu pikir peristiwa remeh dengan Dukun itu pernah menjadi sesuatu yang penting bagi saya”

“Lho, saya tidak pernah mengaggas itu penting atau tidak. Bahkan saya juga tidak pernah menganggap peristiwa itu pernah terjadi. Kan kamu sendiri yang omong dan menyesalinya”

“Kamu kan tahu saya yang bikin dia percaya untuk lengser dari singgasananya”

Saimon tertawa.

“Itu kan menurut kamu. Kalau menurut kaum mahasiswa, ya mereka yang melengserkan Raja. Kalau menurut politisi kelompok ini, ya kelompok ini yang menurunkan. Kalau menurut politisi kelompok itu, ya kelompok itu yang menurunkannya. Setelah Reformasi terjadi, yang tampil adalah mereka yang dulu kerjaannya menjilat-jilat Raja, tapi kemudian secara efektif tampil sebagai golongan reformis”

“Saya tidak meladeni kanak-kanak”

“Tapi kan sudah lama kamu ingin main-main dan menggoda mereka, kamu bilang nanti kalau saatnya tepat”

“Ah nggak juga. Itu iseng-iseng saja. Itu gatal-gatal saja dalam hati, tapi belum tentu kaki saya mau melangkah dan tangan saya tidak akan saya paksa untuk bertindak”

“Sebenarnya asyik juga kalau kamu laksanakan niatmu itu….”

“Ah, nggak”, Markesot memotong.

“Dengarkan dulu maksudku. Saya senang kamu lakukan hajatmu itu. Tapi jangan lewat keributan. Jangan gaduh. Bikin tiba-tiba saja Raja yang sekarang lengser, turun sendiri dari kursinya, atau sakit gatal parah, atau mulutnya gagu, atau bikin dia melakukan beberapa langkah yang sangat keliru sehingga dia malu sendiri untuk meneruskan jadi Raja”

“Ah, saya tidak punya kekejaman seperti kamu”

“Itu bukan kejam”, kata Saimon, “itu lucu”

“Saya tidak tegaan”

“Usulan saya itu sebenarnya tidak sepadan jika dibandingkan kadar kekejaman yang dia sudah lakukan. Perselingkuhan politik yang penuh ketegaan hati kepada rakyat. Strategi pencitraan yang sangat canggih menggunakan metode-metode kemunafikan. Menggiring rakyat ke tempat yang seolah-olah menggiurkan, padahal akan sangat menghancurkan…”

Tiba-tiba Saimon tertawa, berdiri dan menari-nari dengan sangat buruk sebagaimana beberapa waktu yang lalu. Kemudian melompat naik dan hinggap di salah satu dahan pohon di mana Markesot bersandar.

Di sela-sela tertawanya Saimon mengejek Markesot.

“Jadi sebenarnya sama sekali tidak ada manfaatnya kamu bercengeng-cengeng melakukan perjalanan sunyi sampai ke hutan. Keadaan sudah penuh bermuatan lipatan-lipatan tipu daya yang hampir mustahil untuk diurai kembali. Kamu malah melarikan diri, menyepi….”

Markesot diam saja. Dan tidak sedikit pun menatap ke arah Saimon.

“Mencari Kiai Sudrun?”, Saimon tertawa sangat keras, “Kamu pikir saya tidak tahu Kiaimu itu dan tidak bisa mengukur apa yang bisa ia lakukan, sehingga lucu bagi saya kalau kamu menyeram-nyeramkan diri berjalan kaki menelusuri rel, jalanan, sungai, hutan, untuk mencarinya?”

Markesot tidak melirik, apalagi menoleh.

“Ratusan tahun mencoba masuk sana sini, merasuki ini itu, mengipasi meniupi membakar-bakar hati dan pikiran manusia, meyakini bahwa itu adalah membantu perjuangan perubahan kehidupan manusia. Padahal  yang kamu lakukan itu kan memasuki wilayah kutukan Tuhan: “yuwaswisu fi shudurinnas”. Dan hasilnya adalah perubahan ke belakang, perubahan dari derajat lumayan ke derajat rendah, perubahan dari tradisi kebodohan ke pengukuhan kebodohan, perubahan dari ketiadaan martabat menuju kehilangan derajat….”

Markesot tetap diam.

“Berpuluh-puluh tahun melakukan pendidikan kerakyatan, menemani kaum yang diinjak-injak yang tidak merasa diinjak-injak. Kaum yang dipenjara dalam kotak-kotak sempit dan sangat bangga di dalam kotaknya masing-masing. Kaum yang disandera sehingga sangat mencintai bahkan menyembah para penyanderanya. Kaum yang dikurung di dalam kegelapan, yang tersinggung kalau dibawakan lampu penyuluh kepada mereka. Kaum yang mengemis di neraka tetapi meyakini bahwa mereka sedang menikmati sorga…”

Markesot malah memejamkan mata.

“Raja kalian yang sekarang itu belajar dari Idajil yang menyamar berpakaian Malaikat Kasepuhan, sehingga Kakek Adam kalian terpesona, percaya dan kemudian diperdaya….”

Markesot sudah sangat berdisiplin memasuki lubuk terdalam dari kesunyiannya, tetapi tetap kecolongan, sehingga Saimon bisa menangkap bahwa Markesot menghela napas panjang.

Pandangan dan pendapat mereka sebenarnya relatif sama tentang apa yang dialami oleh kakek Adam. Beliau bukan digoda oleh Iblis, melainkan diperdaya, atau lebih jelasnya: ditipu. Oleh strategi kehadiran dan penampilan Iblis di depannya.

Kakek Adam waktu itu adalah makhluk yang baru. Sama sekali baru. Bisa dikatakan belum punya jam terbang kehidupan. Baru beberapa saat saja mengalami hidup. Memang Allah secara langsung menginformasikan dan melatihkan pola-pola dan satuan-satuan gejala yang kelak akan mengisi kehidupan manusia, menghamparkan gambar-gambar fenomenologi perilaku manusia. Kalau kesetiaan, kepatuhan, pengabdian dan ketundukan, itu sederhana. Juga keingkaran, kekufuran, khianat atau pembangkangan, itu bersahaja untuk memahaminya.

Tetapi fenomena kemunafikan, pola-pola campuran, wilayah abu-abu, warna-warni yang tampilannya tidak sama atau berbalikan dari faktanya, kekejaman yang tampil sebagai kesantunan, kejahatan yang dihadirkan sebagai kebaikan, niat buruk yang dibungkus dengan keindahan yang mempesona – itulah yang dilakukan oleh Iblis.

Kakek Adam terjebak, tertipu, terperdaya. Beliau sama sekali belum pernah punya pengalaman terhadap ekspresi kemunafikan, meskipun Allah sudah menuturkannya. Tidak hanya kognitif dan literer, Allah juga memasukkannya ke dalam simulasi pengalaman tentang wilayah kemunafikan. Tapi siapa sangka, juga kakek Adam, sama sekali tidak berpikir bahwa hal itu akan dialaminya di dalam sorga.

Kedatangan Iblis adalah pengalaman sosial kedua bagi kakek Adam, sesudah kehadiran nenenda Hawa istri beliau. Beliau sudah diperkenalkan oleh Allah kepada Jibril, Mikail, Isrofil, Izroil, Syakhlatus-Syams, Zabaniyah dan sejumlah Malaikat lain. Tetapi belum pernah jumpa dengan Iblis. Sebab ketika kakek Adam di-ada-kan, Iblis sudah diusir ke bumi oleh Allah. Sesudah kakek Adam ditiup beberapa kali oleh Allah sehingga tapel-nya dipernikahkan dengan ruh, kemudian ia menyadari dan menemukan dirinya sebagai manusia yang hidup — tidak ada Iblis di depannya.

Apalagi Allah menginformasikan kepadanya bahwa jumlah seluruh Malaikat tidak bisa dihitung atau tidak bisa dijangkau oleh batas kemampuan berhitung yang dipinjamkan oleh Allah kepada manusia. Tatkala ada yang datang kepada beliau sebuah sosok, yang dengan segala sesuatunya, pancaran wajahnya, pakaiannya, gerak-gerik dan perilakunya, sopan dan keanggungannya — kakek Adam sangat senang dan bahkan bangga, karena merasa sedang didatangi oleh Malaikat. Padahal itu Iblis.