Catatan Tadabburan Nasionalisme di Pusaran Badai, Rembang 23 Oktober 2016

Ada Baiknya Bertanya Kembali tentang Negara Ini

Ada baiknya mereka bertanya apakah Indonesia saat ini adalah negara sebagaimana yang diharapkan dan diperjuangkan oleh Hadhrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari.

Hari Santri yang tengah diperingati ini dipilih tanggalnya dengan tanggal ketika Hadhrotusy Syaikh Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 untuk mengusir penjajahan atas bangsa dan negara Indonesia. Pembelajaran pada malam ini bersama para narasumber dan seluruh santri melihat kembali sejumlah hal dasar seperti beda antara santri dan pelajar, peran dan posisi santri, hubungan antara ilmu santri dan kebudayaan Jawa, tumbu ketemu tutup, dan dalam konteks itu sejumlah poin telah coba Cak Nun sumbangkan.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Salah satunya, Cak Nun menegaskan bahwa dengan ilmu-ilmu pesantren dan khasanah Punokawan dari dunia Wayang, para santri bisa belajar untuk ndandani Indonesia. Banyak pertanyaan yang mereka bisa munculkan sebagai bahan refleksi dan pemikiran. Misalnya, ada baiknya mereka bertanya apakah negara Indonesia dengan semua kondisinya saat ini adalah negara sebagaimana yang diharapkan dan diperjuangkan oleh Hadhrotusy Syaikh Hasyim Asy’ari.

Pukul 01.22 acara telah sampai di puncaknya. Cak Nun mengajak semua jamaah berdoa melalui shalawat ‘Indal Qiyam. Bila disimak sejak dari Tadabburan di Ponorogo hingga malam ini di Alun-alun Rembang, apa yang telah dikontribusikan oleh Cak Nun berkenaan dengan dunia santri adalah cara pandang-cara pandang yang bersifat mengajak para santri untuk kembali kepada kontinuitas sejarah Indonesia, kemenyeluruhan cara berpikir Islam, keseimbangan posisi mental dan pikiran di tengah terpaan penjajahan global, kembali kepada kemandirian pesantren, dan yang lebih penting lagi adalah semua itu merupakan proses menguakkan kesadaran mereka pada fakta haqiqiyah yang sedang berlangsung dan mungkin belum terpahami oleh mereka.

Cak Nun ingin para santri kembali menjadi orang yang mantap dengan santrinya. Santri harus percaya diri, dan tak boleh minder kepada Barat. Ibaratnya, jangan gumun dengan musik rap Barat, sebab mbah-mbah mereka punya rap lewat lagu Sluku-Sluku Bathok atau “E Dayohe Teko”. Santri adalah nilai yang sangat penting di masa sekarang karena yang berlangsung di pusat kekuasaan, pemerintahan, dan masyarakat adalah arus “abangan”. Para santri diminta untuk terus melakukan proses tahqiq agar ilmu yang mereka pelajari benar-benar nancep sampai di kedalaman bumi jiwa mereka, agar mereka menjadi orang yang seimbang, dedeg, dan gravitatif.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Para santri berjabat tangan dengan Cak Nun dan para kiai yang hadir di atas panggung. Mereka telah mengikuti suatu kebersamaan yang pada suatu saat nanti akan loading muatan-muatan yang diperolehnya malam ini dan bermanfaat bagi kebutuhan hidup mereka dan kompatibel dengan keperluan pembangunan masa depan Indonesia yang lebih baik. Nomor-nomor seperti Walau Mentari dan Astaghfirullah Robbal Baroya yang dibawakan KiaiKanjeng mengantarkan kepulangan mereka ke pondok atau tempat tinggal mereka masing-masing. Kekhusyukan mengawali dan mengakhiri Tadabburan malam ini. (hm/adn)