Catatan Peluncuran Antologi Esai Sastra Yogyakarta, 26 September 2016

Acara Sastrawan Kok Pagi….

Pukul 08.22 masih sepi, dan tim Progress melihat suatu keindahan tersendiri. Dalam hati ia bergumam, acara sastrawan kok pagi.

Baru saja tiba kembali di Jogja pagi pukul 06.00, sudah ditunggu jadwal diskusi pukul 08.30. Tak tersedia waktu buat istirahat secukupnya, belum lagi diantri tulisan Daur edisi hari ini. Tetapi, Cak Nun sudah standby di rumah siap berangkat ke Gedung Balai Bahasa DIY. Pagi ini jadwal Beliau adalah menjadi pembicara bersama Bang Ashadi Siregar pada peluncuran buku esai sastra Yogyakarta “Ngelmu Iku Kalakone Kanthi Laku” di mana Cak Nun diminta menulis epilog untuk buku tersebut. Acara diselenggarakan oleh (dan bertempat di kantor) Balai Bahasa DIY.

Ngelmu Iku Kalakone Kanthi Laku
Foto: Jamal

Untuk mengawal dan memaksimalkan persiapan dengan panitia, tim Progress sudah sampai di lokasi lebih awal. Memantau situasi dan keadaan. Tentu perlu pula melihat ruangan tempat nanti diskusi diselenggarakan. Pukul 08.22 masih sepi, dan tim Progress melihat suatu keindahan tersendiri. Dalam hati ia bergumam, acara sastrawan kok pagi. Ruangan masih sunyi dan sepi, tetapi telah siap dan rapi. Kursi dan segala yang diperlukan. Backdrop yang terpampang di belakang meja pembicara dan moderator.

Bertemu dengan teman-teman sastrawan Yogyakarta.
Foto: Jamal
Pembukaan acara peluncuran buku esai sastra Yogyakarta “Ngelmu Iku Kalakone Kanthi Laku”
Foto: Jamal

Tetapi, beberapa saat lagi ruangan ini akan hidup sebagai ruang ilmu melalui bincang-bincang bersama Cak Nun dan Bang Hadi. Perbincangan untuk memotret, mengapresiasi, dan mencari letak proses kreatif Sastrawan Yogyakarta di dalam semesta sastra Indonesia maupun letaknya pada masing-masing satrawan. (hm/jj)