Catatan Sinau Bareng Jogja Gumregah, Yogyakarta 4 Oktober 2016

Acara Ngukupi Indonesia

Karena adopsi, maka ada hal-hal yang dilepas, diprotoli, dipisah-pisah. Acara ini ngukupi atau menghimpunkan kembali yang terpisah, terbuang, diabaikan.

Berjalan dari rumah transit sekitar 150 meter, melewati pinggir jamaah yang duduk lesehan di atas tikar yang sebagiannya basah karena hujan, Cak Nun akhirnya sudah berada di sisi panggung saat acara masih berlangsung dengan Shalawatan Maulid Jawi. Dari samping panggung, Cak Nun menyimak shalawatan ini dan melihat betapa jamaah atau masyarakat yang hadir sangat memadati lokasi. Sebagian yang tertampung di area jalan mengambil tempat di depan-depan rumah dan berdiri. Dari balik pagar TK ABA, beberapa jamaah menyalami Cak Nun.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Di antara beberapa hal awal yang disampaikan Cak Nun adalah meletakkan acara ini dalam konteks kesadaran kontinuasi dan adopsi. Kontinuasi berarti mengambil sesuatu dari orang tua atau nenek moyang kita. Sedangkang adopsi adalah mengambil yang baru di luar nenek moyang. Begitu bikin negara, Indonesia melakukan adopsi dan tidak mengambil dari mbah-mbah kita. “Karena adopsi, maka ada hal-hal yang dilepas, diprotoli, dipisah-pisah. Nah, acara ini adalah ngukupi atau menghimpunkan kembali yang terpisah, terbuang, diabaikan, dan seterusnya. Adopsi dan kontinuasi bukan dua pilihan yang terpisah, melainkan adopsi yang baik kita gabungkan dengan kontinuasi,” antar Cak Nun.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Di ruang transit tadi, selain beramah tamah dengan sesepuh dan tokoh-tokoh yang melatarbelakangi acara ini, beliau juga bertemu sejumlah kawan-kawan lamanya. Di antaranya beberapa kawan yang dulu bekerja di Harian Kedaulatan Rakyat dan teman-teman sekolah atau teman-teman era 70-an. Mereka datang dan nyengkuyung acara ini. Duduk sementara di panggung bagian belakang, beliau-beliau menyimak apa ya g dikemukakan Cak Nun. (hm/adn)