Tidak

Jadi, sudah sepantasnya kita untuk ‘berpuasa’ (menahan diri) untuk mengasah kemampuan tidak.

Setiap malam Rebo legi, serambi Masjid An-Nur Politeknik Negeri Malang seolah tidak pernah sepi dari sekumpulan orang-orang yang merasa kesepian dan haus akan pencerahan. Akan tetapi,  ada yang istimewa di malam Rebo legi 26 Mei 2015 itu. Pasalnya, malam terlihat begitu terang. Ternyata di depan serambi yang dulunya masih agak remang, kini nampak berjajar-jajar lampu yang memancarkan cahayanya dan menambah indah suasana malam. Selain juga, malam itu bertepatan dengan ulang tahun ketiga Maiyah Relegi yang pertama kali digelar pada tanggal 06 Juni 2012. Keesokan harinya Rebo legi tanggal 27 Mei merupakan hari kelahiran yang juga merupakan weton guru besar jamaah maiyah, Emha Ainun Nadjib. Ditambah lagi pada malam itu akan ada pengukuhan sarjana yang telah dinyatakan lulus dari sebuah perguruan tinggi negeri yang ada di Malang, sebut saja namanya Nawa.

Sebelum diskusi dimulai, seperti biasanya jamaah melantunkan ayat-ayat suci al-Quran dan shalawat nabi sebagai pra acara. Setelah itu Cak Yogi, sebagai pemandu diskusi mulai membuka diskusi dengan memperkenalkan judul diskusi malam itu. Tidak, yang dalam bahasa ilmu pengetahuannya biasa dikenal dengan anomali dipilih sebagai topik perbincangan yang hangat pada malam tersebut. Untuk lebih memperjelas mengenai topik perbincangan malam itu, Nawa gadis remaja yang baru saja menyabet gelar sarjana Psikologi dari kampusnya dan Mas Rosek Nursahid seorang pejuang lingkungan akan berbagi ilmu dan pengalamannya mengenai ‘tidak’ sesuai dengan bidang mereka.

Pada kesempatan pertama, Cak Yogi mempersilakan Nawa untuk memaparkan materinya. Nawa, seorang sarjana Psikologi yang baru dinyatakan lulus dari almamaternya itu akan berbagi ilmunya mengenai kemampuan untuk tidak dari perspektif  Psikologi. Hal ini sesuai dengan judul maiyah Rebo legi malam itu, “Tidak”. Gadis itu mengaku dapat todongan dari Cak Dil pada pagi harinya untuk ikut membagikan ilmunya dalam forum maiyah Relegi malam itu. Hingga akhirnya Nawa tak mampu berkata ‘Tidak’ pada Cak Dil dan berujung menjadi salah satu pembicara pada malam itu.

Struktur Otak

Sebelum berbicara lebih lanjut mengenai kemampuan tidak dari perspektif Psikologi, Nawa berbagi cerita mengenai kucing yang telah diceritakan Mas Ai dalam sebuah grup media sosial jamaah maiyah Relegi. Menurut Mas Ai yang telah mengamati kucing semenjak beliau masih duduk di bangku taman kanak-kanak, setelah terlahir kucing berusaha untuk mencari makan. Setelah itu kucing akan berusaha untuk mencari perlindungan. Selanjutnya kucing akan berusaha memperoleh kasih sayang. Dan yang terakhir, kucing akan menunjukkan eksistensinya sebagai raja kucing yang bahkan wibawanya membuat manusia menjadi takut.

Kucing mempunyai 3 struktur otak yang sama dengan manusia, yaitu reptilian, limbik, dan neokorteks. Akan tetapi, struktur otak neokorteks tidak berfungsi secara maksimal. Sehingga hanya struktur otak reptilian dan limbik-lah yang bekerja pada otak kucing. Otak reptilian berfungsi untuk mengatur penyerangan dan pertahanan. Sebut saja ular yang juga memiliki struktur otak reptilian. Ketika menghadapi musuhnya, otak reptilian akan mengarahkan ular untuk bertahan ataupun menyerang balik musuhnya. Struktur otak yang selanjutnya yaitu limbik. Di bagian otak inilah diaturnya semua emosi, rasa, dan memori. Semua makhluk hidup mempunyai struktur otak ini. Yang terakhir adalah neokorteks. Inilah yang membedakan otak manusia dengan otak makhluk hidup yang lainnya. Neokorteks hanya berfungsi secara maksimal pada otak manusia. Struktur otak neokorteks ini membantu manusia untuk mampu memikirkan alasan dari setiap tindakan. Adapun neokorteks ini mulai mampu bekerja untuk mempunyai alasan ketika manusia mulai menginjak usia 7 tahun. Dan inilah salah satu jawaban mengapa dalam Islam manusia digolongkan menjadi mumayyiz ketika dia mulai berusia 7 tahun. Di antara alasan mengapa Allah Swt memberikan neokorteks ini pada manusia karena agar manusia mampu bertahan hidup dalam jangka waktu yang panjang.

Jika kucing tadi dibedakan menjadi beberapa level, mulai dari yang levelnya masih hanya mencari makan sampai level tertinggi dimana kucing menunjukkan eksistensinya sebagai raja kucing, manusia pun dibagi atas beberapa level. Menurut teori hirarki kebutuhan Abraham Maslow, manusia dibagi menjadi 5 level sesuai tingkat pemenuhan kebutuhan dalam hidupnya. Pada hakikatnya setiap manusia seharusnya melewati semua step-step atau level yang ada, namun ada orang tertentu yang langsung bisa mencapai level tertinggi dari teori hierarki kebutuhan tersebut.

Manusia pada level pertama adalah seseorang yang kebutuhannya masih seputar kebutuhan fisiologis. Kebutuhan fisiologis diantaranya seperti makan, tidur, seksual, dan kebutuhan-kebutuhan fisik yang lainnya. Level ini merupakan level yang paling banyak dicapai oleh kebanyakan orang. Naik satu level di atasnya yaitu ketika seseorang sudah mulai membutuhkan rasa aman. Di atas pemenuhan kebutuhan rasa aman ada level ketika seseorang mulai memikirkan kebutuhan sosial. Termasuk kebutuhan sosial yaitu ketika seseorang merasa butuh untuk disayangi dan dihargai. Selanjutnya, menaiki satu level lagi yaitu level dimana seseorang sudah merasa butuh untuk menunjukkan eksistensi dirinya. Pada level ini seseorang sudah mulai memikirkan bagaimana caranya untuk menunjukkan keberadaannya hingga akhirnya dia dapat dikenal oleh orang lain. Dewasa ini sudah cukup banyak yang mencapai level ini. Untuk level tertinggi dan masih sangat sedikit yang mencapainya yaitu level ketika manusia sudah berusaha untuk mengaktualisasikan dirinya.

Ketika sudah mencapai level ini, seseorang akan mengorbankan hidupnya untuk orang lain. Dia sudah tidak butuh untuk dikenal orang lain, yang terpenting bagi dirinya adalah bagaimana agar dia mampu bermanfaat untuk orang lain. Menurut Maslow level ini merupakan level yang masih sangat langka. Orang yang sudah sampai pada level ini diantaranya adalah Einstein dan beberapa orang lainnya yang jumlahnya masih sangat sedikit. Di zaman yang kebanyakan orang ingin menunjukkan ke-aku-annya ini, kita masih bisa melihat sosok Cak Nun yang jika dilihat track record-nya beliau telah mencapai level tertinggi dalam teori Maslow tersebut. Di tengah iming-iming gemerlapnya dunia yang begitu menggiurkan, Cak Nun lebih memilih jalan sunyi untuk tetap menebarkan kebermanfaatan bagi khalayak ramai. Pada level ini, seseorang akan terlihat seperti melawan arus kebanyakan orang. Di saat yang lain ramai berlomba-lomba untuk mendapatkan popularitasnya, manusia yang telah menempati maqam ini justru  mengabaikannya dan lebih memilih untuk tetap bersungguh-sungguh melakukan sesuatu yang dapat memberikan kebermanfaatan untuk orang lain.

Di antara alasan mengapa seseorang harus mengaktualisasikan dirinya adalah karena masih sangat sedikitnya prosentase dari otaknya yang telah digunakan. Rata-rata manusia masih hanya menggunakan sekitar 1% dari kapasitas otaknya. Bahkan Einstein yang sudah menempati maqam tertinggi dalam sudut pandang Maslow ini masih hanya menggunakan otaknya sekitar 5%. Dapat dibayangkan jika seseorang bersedia dan berusaha menggunakan otaknya sedikit lebih banyak lagi, berapa banyak manfaat dan potensi-potensi hebat yang akan lahir bersamaan dengannya.

Kebanyakan manusia memang cenderung tidak sadar dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Berdasarkan penuturan Nawa, Sigmund Freud pernah menuturkan bahwa 80% manusia menjalani aktivitas sehari-hari dengan tidak sadar. Jadi, kesadarannya hanyalah 20%. Masih berdasarkan penuturan Nawa, kalau Mas Sabrang menuturkan bahwa kesadaran manusia malah semakin sedikit, yaitu sekitar 11 sampai 12%. Selama ini, kebanyakan kita cenderung menjalani aktivitas sehari-hari karena kebiasaan. Bukan karena kesadaran penuh akan tujuan ataupun manfaat dari aktivitas yang telah kita lakukan.

Nawa mencontohkan ketika seseorang makan. Karena sudah kebiasaan seseorang yang makan pagi jam 08.00 WIB, maka tanpa sadar setiap jam 08.00 WIB dia akan makan, tanpa menyadari apa tujuan dan manfaat darinya. Pun, termasuk dalam hal ibadah seperti shalat. Terkadang, kebanyakan dari kita melakukan shalat karena kebiasaan bukan karena niat kita untuk beribadah dan mencari ridho-Nya. Padahal, sudah terlalu sering kita diperdengarkan hadist yang menyatakan bahwa setiap amal perbuatan itu tergantung niatnya. Kalau sudah begini, masihkah shalat, ngaji, puasa, zakat yang kita lakukan bernilai ibadah di hadapan-Nya? Wallahu a’lam. Hanya Dia yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu, kendatipun begitu betapa kita perlu menyadari setiap tindak tanduk kita untuk memaksimalkan anugrah terindah (neokorteks-red) yang hanya diberikan untuk kita, manusia.

Di penghujung pemaparannya, Nawa mencoba mengaitkan struktur otak reptilian, limbik, dan neokorteks dengan islam, iman, dan ihsan serta konsep benar, baik, dan indah yang sering dipaparkan oleh Cak Nun. Menurut Nawa, struktur otak reptilian tingkatannya masih sepadan dengan islam yang hanya membatasi perkara dengan baik dan salah. Adapun struktur otak limbik sudah selevel dengan iman dimana pada struktur otak ini, seseorang sudah mulai memikirkan baik dan buruknya akan suatu hal. Untuk menilai baik dan buruk atas apa yang telah seseorang lakukan, tentu membutuhkan orang lain untuk menilainya. Jadi, pada struktur ini sistem kerjanya sudah mulai ada kaitannya dengan orang lain.Adapun pada struktur otak neokorteks sistem kerjanya sudah memikirkan bagaimana caranya untuk melakukan sesuatu dengan keindahan. Jadi, jika dihubungkan dengan konsep islam, iman, dan ihsan, neokorteks sudah menempati maqam tertinggi yaitu ihsan. Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan. Dengan bantuan struktur otak neokorteks, seseorang mampu berusaha untuk meraih cinta-Nya melalui jalan keindahan.

Sebelum menyudahi pembicaraannya, Nawa menyampaikan beberapa quote menarik mengenai topik pembicaraan forum diskusi malam itu. Diantaranya yaitu bahwa kemampuan untuk tidak merupakan kemampuan tertinggi, level meniadakan diri setelah memberikan semuanya secara maksimal. Sementara itu, Sudjiwo Tejo juga pernah menyatakan bahwa beruntung kita diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan bukan kebenaran. Karena pada hari ini benar dan salah merupakan suatu hal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Seolah semua menjadi abu-abu karena dipulas oleh iming-iming uang, jabatan, dan kekuasaan. Dan satu hal yang harus selalu kita ingat bahwa keindahan berpangkal dari kebaikan dan kebaikan merupakan tunas kebenaran yang tumbuh sempurna, lebih dari itu sempurnanya ilmu akan membawa kita pada nikmatnya keindahan.

Sebelum berlanjut pada Mas Rosek, Cak Yogi mempersilahkan duo Almas dan Cusy untuk mendendangkan lagu-lagu indah untuk menambah keindahan suasana malam itu. Cak Yogi menamakan grup musik sepasang sejoli itu dengan The Vere, berasal dari bahasa Ceko yang berarti lawang. Hal ini dikarenakan mereka berasal dari Lawang, sebuah kecamatan yang ada di Malang. Malam itu, duo The Vere membawakan sebuah lagu orang yahudi yang berjudul Donna-Donna. Lagu tersebut mengisahkan tentang penindasan orang-orang yahudi pada saat zaman Nazi. Mereka diibaratkan seperti sapi betina yang tidak punya daya dan dikurung dalam sebuah krangkeng. Mereka hanya bisa melihat ke atas, melihat orang-orang yang punya sayap dan bisa terbang bebas. Lalu ada seorang petani yang mengatakan pada mereka bahwa sudah bukan saatnya untuk meratapi nasib. Petani itu menguatkan mereka dengan mengatakan bahwa mereka juga punya sayap, mereka  bisa terbang seperti burung walet, dan juga bisa menentukan nasibnya sendiri.

Tidak! pada Perusakan Alam

Setelah dimanjakan dengan suguhan lagu yang mengalun merdu, Cak Yogi mempersilahkan Mas Rosek untuk berbagi ilmu dan pengalamannya. Menurut Cak Yogi, Mas Rosek ini termasuk salah satu jihadis, yaitu orang yang telah bersungguh-sungguh di lingkungannya. Masih menurut Cak Yogi, Mas Rosek ini juga termasuk orang yang berani mengatakan tidak. Di saat kebanyakan orang berlomba-lomba untuk memperebutkan kursi politik, Mas Rosek lebih memilih untuk tetap istiqomah bergelut di dunia lingkungan. Di saat mayoritas orang silih berganti merusak hutan dan lingkungan, Mas Rosek justru memilih untuk mempertahankan dan melindunginya. Hingga kini, Mas Rosek tetap setia untuk mengabdikan dirinya menjadi bagian dari pejuang lingkungan.

Di awal pembicaraannya, Mas Rosek menceritakan bahwa Mas Rosek telah bertemu dengan Cak Dil sekitar 20 tahun yang lalu. Pada waktu itu, rezim orde baru talah memberikan tekanan kepada siapapun yang berani mengatakan tidak pada perintah mereka. Di hadapan jamaah maiyah Rebo legi, Mas Rosek telah membeberkan cerita awal perjuangan beliau di masa lalu. Dengan penuh semangat Mas Rosek bercerita bahwa pada hari Rebo beberapa tahun yang lalu, pernah terjadi demokrasi lingkungan terbesar di Malang. Sebelum hari H, banyak sekali yang telah konfirmasi untuk turut berjuang bersama menyuarakan demokrasi lingkungan tersebut. Akan tetapi ternyata pada waktu memasuki hari H, yang turut hadir tidak sebanyak yang konfirmasi di awal. Untuk berkomunikasi pun, pada zaman dulu tidak semudah sekarang. Bisa dibayangkan bagaimana susahnya mengkoordinasi banyak orang dengan tanpa ditunjang alat teknologi seperti saat ini. Setelah Mas Rosek menanyai mereka yang tidak hadir pada waktu dilakukannya rangkaian demokrasi ternyata mereka yang kebetulan juga masih berstatus sebagai mahasiswa mengaku tidak mendapatkan izin dari rektor mereka. Hal ini dikarekan kalau mereka sampai ikut demo, maka mereka tidak akan mendapatkan dana dari wali kota. Padahal setiap punya gawe, kebanyakan dana mereka berasal dari walikota. Menyimak cerita tersebut, seolah-olah sejak mahasiswa kita sudah diajarkan untuk menganut faham bahwa uang adalah segalanya, dan uang juga telah mengajarkan untuk takut berkata tidak. Meskipun sedikitnya mahasiswa yang berani dan bersedia untuk diajak demo, namun ternyata Allah berkehendak lain. Dikirimkannya bala tentara dari siswa siswi pecinta alam SMAN 1 Malang untuk diajak berdemo. Dan kebetulan pada waktu itu ketua pecinta alamnya adalah seorang perempuan.

Dalam usianya yang masih terbilang muda, Mas Rosek dan teman-temannya termasuk siswa siswi pecinta alam dari SMAN 1 Malang tersebut telah membulatkan tekad dan keberaniannya untuk melakukan sesuatu yang tidak aman. Mas Rosek merasa sangat bahagia karena usahanya pada waktu itu mendapatkan dukungan dari Cak Nun. Bahkan beberapa kali Cak Nun turut berperan membantu melakukan pengajian di hutan kota Malang. Mas Rosek juga menuturkan bahwa Cak Nun pernah berpesan kalau masalah uang itu persoalan yang gampang. Tidak masalah berjuang meskipun tidak punya uang, yang terpenting itu ridho Allah, bismillah.

Pada tahun 1994, Mas Rosek turut mendirikan sebuah organisasi yang beralamatkan di Malang dan diberi nama Profauna. Profauna merupakan suatu organisasi yang bergerak di bidang perlindungan fauna, satwa, dan hutan. Banyak sekali cerita lika-liku perjalanan yang dialami oleh Mas Rosek selama berjuang di bidang lingkungan. Menurut beliau, kalau kita ingin melakukan suatu perubahan, pasti akan ada resikonya. Tinggal kita berani atau tidak untuk mengambil resiko tersebut. Berkat kegigihan dan ketulusan Mas Rosek beserta teman-teman seperjuangannya berjihad memperjuangkan lingkungan, saat ini Profauna telah menjadi satu-satunya organisasi Internasional yang bergerak di bidang lingkungan dan berpusat di Indonesia.

Satu tahun yang lalu, aktifis Profauna telah menangkap pelaku pembalakan hutan di Jambi. Pada waktu itu ada sekumpulan orang yang tidak bertanggung jawab membuka hutan secara besar-besaran dengan peralatan modern. Dan kebetulan komandan polisi hutannya pada waktu itu adalah seorang aktifis Profauna. Akan tetapi, sayangnya ketika para pelaku telah berhasil ditangkap ada instruksi dari Jakarta untuk melepaskan para pelaku pembalakan hutan tersebut. Hal ini dikarenakan seseorang yang mempunyai perusahaan pelaku pembalakan hutan itu adalah putra dari seorang presiden. Mas Rosek pun lebih memilih bungkam mulut ketika jamaah maiyah Relegi mencoba bertanya tentang identitas dari presiden yang telah disebut sebagai bapak dari pimpinan perusahaan pelaku pembalakan hutan tersebut.

Dan yang menggetarkan hati Mas Rosek adalah ketika komandan polisi hutan tersebut dengan tegas menolak untuk menandatangani pencabutan kasus tersebut. Beliau mempersilahkan jika memang para pelaku pembalakan hutan tersebut untuk dilepas, akan tetapi beliau tidak bersedia untuk bertanggung jawab atas pelepasan para perenggut keasrian hutan Indonesia itu. Karena bagi beliau ini menyangkut tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan kelak. Padahal beliau adalah seorang nonmuslim, akan tetapi beliau begitu memahami bahwa hidup bukan sekedar hidup di dunia yang semuanya akan berakhir begitu saja ketika nafas sudah tidak lagi berhembus. Lebih dari itu, beliau memahami bahwa justru setelah berpisahnya ruh dengan jasad itulah tiba saatnya kita harus mempertanggungjawabkan atas semua yang telah kita perbuat semasa hidup di dunia. Berdasarkan cerita tersebut, komandan polisi hutan itu telah mampu mengatakan tidak. Meskipun seorang PNS, tapi beliau berani mengatakan tidak untuk perintah dari pimpinan (pemerintah).

Pada kesempatan malam itu, Mas Rosek mengenalkan lebih dalam mengenai profauna pada jamaah maiyah Relegi. Bagi Mas Rosek, Profauna merupakan salah satu ladang ibadah yang dapat dijadikan sebagai bekal untuk menuju kehidupan yang sesungguhnya kelak, kehidupan yang justru akan dimulai ketika berakhirnya masa hidup kita di dunia. Setiap sebulan sekali, profauna mengadakan suatu forum perkumpulan yang akrab dikenal dengan green day. Dalam forum tersebut, semua bebas untuk berbicara dan berbagi mengenai isu-isu terbaru tentang lingkungan.

Pada suatu ketika, Mas Rosek pernah mengikuti simposium lingkungan yang diadakan di Amerika. Beliau merupakan satu-satunya peserta yang berasal dari Asia. Dalam forum simposium tersebut, Mas Rosek merasa sangat terpukul ketika ada yang menanyakan pada beliau perihal Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah muslim akan tetapi kenapa justru banyak terjadi kerusakan lingkungan. Seolah-olah dalam Islam tidak diajarkan ajaran untuk menjaga lingkungan, padahal kenyataannya tidaklah seperti itu.

Dari sini, Mas Rosek mulai berfikir bahwa untuk menjaga lingkungan Indonesia, salah satu pendekatan yang dirasa perlu dilakukan adalah melalui pendekatan agama. Insiatif Mas Rosek tersebut mulai terwujud seteah 5 tahun berikutnya, setelah beliau bertemu dengan K.H. Hasyim Muzadi. Setelah itu, K.H. Hasyim Muzadi yang juga merupakan pengasuh pesantren Al-Hikam Malang itupun mengumpulkan pesantren-pesantren besar se-Jawa Timur. Masing-masing pesantren diminta untuk mengirimkan delegasi santrinya ataupun putra dari kyainya (gus). Forum pertemuan pesantren se-Jawa Timur tersebut membahas mengenai bagaimana pandangan Islam mengenai lingkungan yang dalam hal ini lebih dikhususkan pada hewan.

Dalam forum tersebut, Mas Rosek menceritakan bahwa di Inggris terdapat suatu organisasi yang bernama islamic fondation. Organisasi tersebut membahas ibadah-ibadah khusus dengan Allah. Ibadah-ibadah khusus dengan Allah yang dimaksud di sini adalah bahwa pahala dari ibadah tersebut hanya Allah sajalah yang tahu. Kita, sebagai manusia tidak berhak untuk memutuskan ataupun menghitung-hitung pahala dari ibadah yang telah kita lakukan. Adapun ibadah-ibadah tersebut mencakup ibadah kepada Allah, ibadah dengan sesama manusia, dan ibadah terhadap lingkungan.

Selanjutnya Mas Rosek pun mempertanyakan pandangan Islam terhadap lingkungan. Menyikapi hal tersebut, Kyai Azizi dari pesantren Lirboyo Kediri pun turut angkat bicara. Berdasarkan penuturan Kyai Azizi, baik secara tersirat maupun tersurat, sebenarnya Islam telah mengatur sangat detail mengenai bagaimana seharusnya hubungan manusia dengan lingkungannya. Pada tahun 2005, hasil dari pertemuan itu telah melahirkan sebuah buku yang berjudul ‘Islam Peduli Satwa’. Dalam buku tersebut dijelaskan bagaimana seharusnya sikap seseorang terhadap binatang berdasarkan al-Quran, kitab-kitab kuning, dan kisah-kisah terdahulu yang lainnya. Berkaca pada kisah dari seorang pelacur yang masuk surga hanya karena pernah memberi minum anjing yang kehausan semasa hidupnya, tersirat makna bahwa betapa Islam sesungguhnya sangat menganjurkan untuk tetap memperhatikan hak-hak binatang. Selain itu, masih banyak lagi kisah-kisah yang seolah mengajarkan kita untuk menjaga dan memperhatikan hak-hak lingkungan yang seharusnya kita turut andil untuk memnuhinya.

Pada tahun 2014 yang lalu, Mas Rosek ikut melakukan kampanye di daerah Kalimantan. Ketika melakukan shalat Jumat di daerah Kutai, beliau mendengarkan khutbah tentang lingkungan yang sangat fasih. Menurut pengakuan beliau, sampai saat ini khutbah itu adalah satu-satunya khutbah yang berbicara mengenai lingkungan yang pernah didengar beliau. Dari sini Mas Rosek tersadar bahwa betapa sangat pentingnya edukasi mengenalkan agama sesuai dengan budayanya masing-masing.

Sebelumnya yang perlu diketahui bahwa Profauna ini merupakan suatu organisasi yang benar-benar mandiri. Profauna mempunyai beberapa aturan dimana kalau sampai ada yang melanggarnya akan dimasukkan neraka versi Profauna. Di antara aturan-aturan tersebut adalah bahwa dilarangnya menerima dana dari pemerintah. Justru selama ini Profauna telah banyak memberi dana untuk pemerintah. Selain itu dalam Profauna juga dilarang menerima dana dari perusahaan yang melakukan eksploitasi alam.

Pada tahun 2003, Profauna melakukan aksi kampanye tentang burung nuri dan kakak tua. Pada waktu itu sedang marak-maraknya isu burung kakak tua yang diselundupkan dalam botol aqua. Sebenarnya penyelundupan burung kakak tua tersebut sudah terjadi sejak tahun 2002. Pada tahun 2002, Profauna telah membuat sebuah film yang berjudul ‘Flying Without Wing (terbang tanpa sayap)’. Film tersebut merupakan laporan yang mengungkapkan penyelundupan burung nuri dan kakak tua. Akan tetapi pada waktu itu belum tersebar ke publik dikarenakan belum maraknya sosial media. Hingga akhirnya publik mulai mengetahui isu penyelundupan burung nuri dan kakak tua pada tahun 2003.

Dengan dalih melihat kampanye Profauna yang dirasa cukup bagus, sebuah perusahaan pertambangan besar dari Amerika yang berada di Indonesia bagian timur menawarkan bantuan tanpa syarat berupa uang sejumlah 8 miliar kepada Profauna. Akan tetapi karena berpegang teguh pada aturan-aturan yang sudah ada, Profauna pun dengan sopan menolak tawaran tersebut. Orang-orang perusahaan pertambangan tersebut pun merasa heran dan tidak habis pikir. Selama ini setidaknya ada 3 proposal dari 3 LSM yang berbeda setiap bulannnya untuk meminta sumbangan dana pada mereka, akan tetapi ketika mereka memberikannya secara cuma-cuma kepada Profauna justru Profauna menolaknya. Menurut pengakuan Mas Rosek, beliau memang butuh uang, akan tetapi uang bukanlah segala-galanya. Kalau dalam hidup menjadikan uang sebagai tujuan, maka sampai kapan pun tidak akan pernah memperoleh kepuasan. Berdasarkan pengalaman Mas Rosek dan teman-teman aktifis Profauna lainnya, ketika kita tidak selalu berfikir tentang uang, justru uang itu akan datang sendiri dari arah yang tidak disangka-sangka. Di akhir pembicaraanya, Mas Rosek menyemogakan kita semua agar diberikan kekuatan untuk tetap berani berkata tidak pada kebatilan, sesuatu yang kita anggap tidak benar, dan juga pada eksploitasi lingkungan.

Setelah kedua pembicara secara gamblang memaparkan materi yang berkaitan dengan ‘tidak’, judul diskusi malam itu, Cak Yogi pun mulai membuka sesi diskusi. Para jamaah terlihat begitu antusias mengikuti diskusi malam itu. Hal ini terlihat dari pandangan jamaah yang terfokus pada siapa yang tengah berbicara pada forum itu dan juga turut memberikan tanggapan dari apa yang telah disampaikan oleh kedua pembicara dalam diskusi tersebut.

Dalam sesi diskusi tersebut, semakin bertambahlah wawasan para jamaah dan juga terbukanya sesuatu yang selama ini barangkali belum banyak diketahui oleh publik. Pada kesempatan yang pertama Mas Ramadhon mengamini bahwa betapa Islam sangat mengatur secara detail terkait hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Hal ini berdasarkan pada salah satu hadist yang menyatakan bahwa meskipun telah diketahui esok hari akan terjadi kiamat, kita sebagai umat Nabi Muhammad tetap diperintahkan untuk menanam. Meskipun belum diketahui secara pasti terkait maksud dari ‘menanam’ dalam hadis tersebut, entah itu dapat diartikan secara harfiah ataupun merupakan kiasan, setidaknya hadist tersebut menunjukkan betapa pentingnya anjuran untuk menanam.

Dalam proses diskusi malam itu, siapapun bebas untuk berbicara dalam forum. Saling menanggapi satu sama lain maupun menambahkan merpakan hal yang sudah biasa dalam diskusi malam itu. Termasuk ketika ada salah seorang jamaah yang memaparkan wawasannya mengenai peraturan penebangan hutan. Bahwa berdasarkan aturan yang ada, setelah menebang hutan seharusnya oknum yang menebang tersebut mengganti tanaman yang ditebang dengan menawam kembali tanaman yang baru. Mendengar hal tersebut, Mas Rosek pun langsung mengkonfirmasi bahwa realita yang ada tidak berjalan seperti itu.

Menurut sepengetahuan Mas Rouf, ketika SBY masih memegang amanah sebagai Presiden RI, SBY pernah meminta dana dari PBB untuk pembiayaan hutan Indonesia sebagai paru-paru dunia. Akan tetapi, Mas Rouf masih belum tahu pasti sudah diterima atau belumkah dana tersebut. Selanjutnya Mas Rosek pun meluruskan terkait dana pembiayaan hutan tersebut. Sebenarnya SBY sudah menerima dana tersebut, akan tetapi di satu sisi pemerintah juga menerima dana dari Amerika untuk perluasan kebun sawit. Padahal kebun sawit inilah yang paling berperan dalam pengurangan luas hutan di Indonesia. Ibaratkan pemerintah kita telah berpijak pada dua bumi yang berbeda. Dapat dibayangkan bagaimana jadinya jika kaki kanan dan kaki kiri pemerintah kita berpijak pada bumi yang tak sama seperti itu.

Mas Rosek mengaku merasa sangat marah dan miris ketika melihat kondisi hutan Indonesia. Pada tahun 2003, Indonesia mendapatkan penghargaan sebagai negara paling cepat hutannya habis. Bisa jadi ketika sedang membicarakan tentang keadaan hutan, di luar sana telah terjadi pembalakan hutan. Yang perlu diketahui bersama bahwa setiap harinya hutan kita telah berkurang seluas 7 kali lapangan sepak bola. Dan yang paling banyak mengurangi luas hutan Indonesia adalah perkebunan kelapa sawit. Padahal kelapa sawit ini merupakan tanaman yang sangat jelek secara ekologinya. Kelapa sawit ini menyerap air dan unsur hara yang sangat besar. Jadi, tanah yang pernah ditanami kelapa sawit tidak akan bisa digunakan atau ditanami lagi. Sementara itu, justru saat ini di Indonesia tengah terjadi perluasan perkebunan kelapa sawit secara besar-besaran. Mas Rouf pun merasa heran pada para mahasiswa yang telah mengetahui dampak dari perkebunan kelapa sawit tersebut, akan tetapi mereka tetap memilih bekerja di perkebunan kelapa sawit dengan dalih iming-iming gaji yang menggiurkan. Betapa munafiknya kita dan mereka jika tetap membiarkan hal ini terjadi.

Mas Rosek juga menyadari jika hanya marah, prihatin saja tanpa melakukan sesuatu itu percuma. Bahwa selemah-lemahnya iman adalah ketika seseorang hanya bisa berdoa. Akan tetapi Mas Rosek percaya bahwa tidak mungkin semua orang Indonesia lemah imannya. Beliau mengajak jamaah maiyah dan kita semua untuk meningkatkan iman kita dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk sesama dan Indonesia.

Di tengah-tengah diskusi malam itu, duo The Vere membacakan puisi tentang pencarian ada dan tiada serta tentang maiyah. Dalam bait puisi tersebut terselip kata-kata yang menyatakan bahwa maiyah telah menyinari Indonesia dengan ketidakjelasan yang jelas. Maiyah telah membuat hidup kita tidak hanya sekedar hidup.

Setelah itu, diskusi masih tetap berlangsung dengan penuh khidmat. Cak Yogi menanyakan pada Nawa tentang keburukan sikap yang masih saja tetap terjadi di lingkungan kita jika dilihat dari kacamata Psikologi. Menurut Nawa,  jika seseorang melakukan keburukan dan tidak langsung ditegur, maka tidak akan ada rasa takut dalam benak seseorang tersebut. Akibatnya tidak menutup kemungkinan orang tersebut akan tetap melakukan keburukan yang sama. Bahkan, bisa jadi akan menularkan pada orang lain untuk turut melakukan keburukan tersebut. Akan berbeda ketika seseorang melakukan keburukan langsung ditegur ataupun diberikan hukuman, kemungkinan besar orang tersebut akan merasa jera dan tidak akan mengulanginya. Orang lain yang melihat pun juga akan berfikir ulang jika akan melakukan keburukan yang sama. Hal ini karena secara teori dalam psikolog, bahwa penderitaanlah yang paling diingat oleh seseorang. Nawa pun mencontohkan peraturan di negara tetangga, Singapura yang telah mendenda seseorang dengan sejumlah uang yang cukup besar jika meludah di sembarang tempat. Pada dasarnya, hukumanlah yang akan mendidik manusia.

Tanpa harus menunggu hukuman yang telah diberikan oleh orang lain, sebenarnya kita bisa mengantisipasi diri kita sendiri agar tidak sampai melakukan keburukan-keburukan. Hal ini bisa dilakukan dengan bersikap keras pada diri sendiri. Sebagaimana yang telah Cak Nun katakan bahwa kita harus bersikap keras pada diri sendiri, tapi bersikap lembut pada orang lain. Selain itu, bersikap hura-hura atau tidak keras pada diri sendiri itu bisa menghalangi seseorang untuk mengatakan tidak. Jadi, sudah sepantasnya kita untuk ‘berpuasa’ (menahan diri) untuk mengasah kemampuan tidak. Karena yang paling sulit dalam hidup itu bukan berkata “ya” namun, berkata “tidak”. Sebagaimana yang pernah dikatakan Cak Yogi bahwa semakin berat penderitaan seseorang dan semakin panjang perjalanannya maka akan semakin dalam juga pensuciannya, pungkas Nawa.

Setelah itu, jamaah dibuat terkejut oleh informasi yang telah disampaikan salah seorang jamaah maiyah Relegi mengenai kondisi media saat ini. Bahwa kebanyakan media hari ini tidak bisa terlepas dari politik ekonomi. Wartawan media dibuat terombang-ambing dengan kondisi tersebut. Terbit ataupun tidak hasil liputan wartawan itu tergantung pada redaksinya, sementara itu redaksi hari ini dikuasai oleh pengiklan. Jadi, bagaimana pun pengiklanlah yang berkuasa atas berita yang beredar di kalngan masyarakat. Kalau sudah ada kepentingan-kepentingan seperti ini, kabar berita manakah yang bisa dijamin kebenarannya dan halal untuk dipercaya.

Di penghujung diskusi, Cak Dil pun mengungkapkan rasa salutnya pada Mas Rosek yang telah istiqomah berjuang di bidang lingkungan tersebut. Menurut Cak Dil, bahwa siapa pun yang telah memilih sesuatu dan istiqomah dengan kesadaran yang tepat akan mendapatkan suatu keberkahan dan kesuksesan. Selama ini sering sekali disampaikan bahwa manusia diciptakan memang untuk memakmurkan bumi, akan tetapi bagaimana caranya untuk memakmurkan bumi tersebut masih terbilang jarang dibahas. Sehingga kebanyakan dari kita hanya mengenalnya sebagai teori belaka dan kurang mahir dalam mempraktekkannya.

Lebih lanjut Cak Dil memaparkan bahwa di Indonesia, kemampuan untuk ‘tidak’, tidak didukung oleh semua pihak. Lebih-lebih negara telah mengambil alih semuanya. Seolah-olah negaralah yang mampu dan masyarakat tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya. Misalnya saja mengenai penebangan hutan. Negara mengambil alih bahwa untuk menebang pohon haruslah menyerahkan sejumlah dana untuk penawaman hutan kembali pada negara, padahal realitanya setelah ditebang negara juga belum tentu mengalokasikan dana tersebut sesuai dengan tujuan awalnya. Menurut Cak Dil ada yang salah dengan negara ini, seolah-olah negara telah membuat kemampuan masyarakat untuk ‘tidak’ semakin hari semakin berat. Negara telah membuat semua orang semakin tidak mampu untuk ‘tidak’. Padahal, kemampuan ‘tidak’ merupakan level kematangan manusia.

Selain itu, di negara ini habitat sosial yang tumbuh juga telah rusak. Misalnya saja maqamnya seorang kyai yang seharusnya bisa menjaga hati dan pandangannya dari gemerlapnya dunia justru malah mulai memperebutkan materi. Ini sudah menunjukkan bahwa habitat sosial kita telah rusak. untuk menyikapinya, menurut Cak Dil kita harus optimis. Kapan pun dan dimana pun kita harus ‘menanam’ pohon. Karena dengan menanam pohon, akan terlahir berjuta-juta mikroba bersamaan dengan tumbuhnya pohon tersebut. Kita harus bersama-sama menumbuhkan habitat untuk ‘tidak’. Habitat yang memberikan kondisi sehingga kita mampu mencapai level ‘tidak’.

Setelah diskusi malam itu usai, Cak Yogi mempersilahkan para mahasiswa Polinema untuk melaporkan kegiatan mereka di pulau Sapudi yang ada di Madura. Para mahasiswa Polinema mencoba mengaplikasikan ilmunya yang didapatkan di bangku perkuliahan untuk memberikan sesuatu yang berarti bagi masyarakat pulau Sapudi. Sekumpulan pemuda dari Polinema tersebut mencoba untuk memperbaiki sistem kerja listrik di pulau Sapudi yang dirasa masih kurang aman dan masih jauh dari keadaan listrik yang ada di perkotaan. Para pemuda ini lebih memilih berlelah-lelah untuk berbagi dengan masyarakat Sapudi sementara di luar sana pemuda seusia mereka lebih memilih bersantai dan menikmati hidup dengan kebahagiaan yang semu. Begitulah beberapa orang yang telah meng-anomali-kan dirinya. Orang yang berani mengambil laku antimainstream. Malam itu pun dipuncaki  dengan shalawat pada Nabi Muhammad dan do’a.