Terima Kasih Pak Toto

“Luar biasa” kata-kata ini mungkin sekarang sudah tidak luar biasa lagi. Tapi khusus untuk Workshop yang diselenggarakan di Juguran Syafa’at 3 hari ini, tidak ada ungkapan yang paling tepat kecuali “Luar Biasa…. Allahu Akbar”.

Sebelum diselenggarakan kegiatan ini saya membayangkan bahwa workshop kali ini tidak akan jauh berbeda dengan workshop-workshop yang pernah dan mungkin sering saya ikuti. Apalagi workshop kali ini “hanya” difasilitasi oleh lelaki tua yang mengalami banyak keterbatasan beraktifitas. Bukan pesimis tapi mencoba untuk bersikap realistis. Apa mungkin?

Meski informasi yang saya dengar selama ini beliau dikenal sebagai bapak pergerakan, akan tetapi secara langsung belum pernah sedikitpun saya menyaksikan “keampuhannya”. Bahwa beliau mampu mempengaruhi pemikiran teman-teman Jamaah Maiyah, bahkan kerap dipanggil oleh beberapa teman Jamaah Maiyah, sebagai petugas Dinas Gangguan Pikiran, itu tidak diragukan lagi. Tapi ini memfasilitasi workshop yang digadang-gadang sebagai pintu masuk perubahan Maiyah. Apa mungkin?

Saya sempat berfikir bahwa workshop kali ini, ujung-ujungnya akan melahirkan pola gerakan yang tidak jauh beda dengan LSM. Bahkan dengan background “ketidakjelasan” aliran keyakinan beliau, saya semakin miris dan khawatir.

Akan tetapi, subhanallah….

Setelah tiga hari dengan sedikit waktu istirahat dan intensitas berfikir yang tinggi, semua kekhawatiran, keragu-raguan, kecemasan dan bahkan ketidakpercayaan itu semua berbalik 180 derajat. Saya menyaksikan lelaki tua yang mulai sedikit renta itu begitu perkasa melewati aktifitas-aktiftas yang bagi saya sendiri terasa melelahkan. Bahkan sampai menjelang pagi, beliau masih tampak tetap dan terus bersemangat membimbing teman-teman Juguran Syafaat.

Dan yang lebih membuat saya merasa bangga dapat membersamai beliau adalah betapa luasnya wawasan dan betapa dalamnya pemahaman dan penghayatan beliau serta betapa lengkapnya pengalaman beliau melakukan apa yang selama ini kita sebut sebagai “pelayanan umat”.

Saya atau bahkan kita mungkin baru sebatas memahami “pelayanan umat” sebagai wacana dan cita-cita atau bahkan baru sekedar angan-angan. Tapi beliau sudah jauh melangkah bahkan hampir hari-harinya adalah pelayanan.

Dan yang lebih membuat kami, saya dan peserta workshop ini merasa sebagai orang-orang yang beruntung adalah begitu mudahnya kami menyerap materi-materi berat yang beliau sampaikan dengan cara-cara yang sangat sederhana. Tidak banyak kata, tidak banyak gerak tapi tepat mengena sasaran.

Apakah ini yang disebut “hidayah”? Karena setelah mengikuti workshop ini, tiba-tiba kami melihat jalan yang terang di depan dan begitu jelas kearah mana, serta bagaimana kami memulai langkah, langkah yang kami sepakati bersama para Penggiat Maiyah sebagai “Pelayanan”.

Lelaki yang menakjubkan itu adalah Bapak Toto Raharjo. Do’a kami semoga beliau akan tetap dan senantiasa diberikan kekuatan untuk selalu bersama membimbing kami.

Juguran Syafaat, Purbalingga
10 Januari 2015