Sekolah Biasa Saja yang Luar Biasa

Biasanya, sekolah selalu membanggakan diri dengan menyebut sebagai sekolah luar biasa, unggulan, bonafide, favorit, terakreditasi, bertaraf internasional, dan lainnya. Biasanya pula sekolah selalu berburu prestasi, piala, serta tunduk-taklid pada standar kurikulum, metode pembelajaran, penilaian, kualifikasi guru, dan sarana-prasarana dari pemerintah resmi.

Namun karakteristik sekolah pada umumnya tersebut justru tidak terdapat di sekolah yang satu ini. Alih-alih mengikuti standarisasi pendidikan dari pemerintah, sekolah ini justru membuat “standar” mereka sendiri. Kurikulum dari pemerintah resmi sekadar jadi bahan pembanding kurikulum yang mereka buat sendiri. Lebih dari itu anak-anak tak dianjurkan untuk berideologi kompetisi dan mengejar prestasi-prestasi semu. Bahkan pengelolanya sendiri menjuluki sekolah ini sebagai “Sekolah Biasa Saja” (2014).

Saya Suka Bermain Bola
Saya Suka Bermain Bola

Itulah sekaligus judul buku yang ditulis oleh Toto Rahardjo dan diterbitkan oleh Progress, Yogyakarta, Desember 2014. Buku setebal 183 halaman plus cover dan halaman depan tersebut mengulas sekolah unik bernama Sanggar Anak Alam (Salam) secara tuntas. Dari soal filosofi, ideologi, hingga praksis pedagogiknya. Di sinilah tampak bahwa istilah “Sekolah Biasa Saja” yang disematkan pada Salam oleh penulis sebenarnya adalah sindiran untuk sekolah-sekolah yang sudah “tidak biasa” alias “tidak lazim” lagi sekarang ini.

Bagi Toto sekolah adalah hal biasa yang manusiawi. Hal yang tidak biasa justru dipertunjukkan oleh sebagian besar sekolah-sekolah kita hari-hari ini. Antara lain (1) desain sekolah seperti penjara (gedung terisolasi dari masyarakat dengan pagar tinggi dan penjagaan ketat dari Satpam), (2) belajar materi yang tidak berkaitan dengan kebutuhan hidup riil anak didik dan banyak membebani, (3) pembelajaran banyak yang tidak membangun nalar kritis dan rasa ingin tahu serta keberanian anak didik, dan (4) biaya sekolah mahal.

Ironisnya selama ini semua hal tersebut dianggap lazim dan wajar. Makin lama sekolah makin berlomba-lomba membangun gedung mewah yang terpisah dari masyarakat. Alasannya untuk menjaga konsentrasi belajar dan kedisiplinan. Materi yang dipelajari namun tidak berkaitan dengan kebutuhan hidup riil anak juga tetap diberikan dengan dalih “pasti suatu saat nanti akan berguna, terutama jika studi lanjut”. Dari tahun ke tahun sekolah-sekolah justru menjadi lembaga pengkebiri imajinasi, potensi, dan otentisitas diri anak-anak.

Hal-hal itulah yang mesti dikhawatirkan, karena praksis pedagogik bisa jadi mubazir bila dasar pijakannya tidak kuat, salah arah, dan cara serta medianya tidak tepat. Salam, yang dikelola oleh Toto Rahardjo bersama Wahya (istrinya) dan warga Nitiprayan, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, mulai tahun 2000 menggunakan dasar filosofi humanis dan kritis-transformatif.

Paling tidak terdapat empat karakter yang membedakan Salam dari sekolah lain pada umumnya, yaitu Salam (1) menggunakan filosofi pedagogik humanistik, (2) berorientasi pada anak, (3) berpendekatan holistik dalam proses pembelajaran, dan (4) menguatkan jalinan partisipatoris-demokratis antara guru, murid, dan orang tua (hal. 91-94).

Tentu bagi pembaca yang berlatar akademik sarjana pendidikan, atau minimal para peminat dan praktisi pendidikan, empat karakter tersebut bukan hal baru. Namun Salam mempraktikkannya secara sungguh-sungguh dan serius, bukan cuma sekadar teori yang dipelajari di kampus-kampus atau istilah yang tercantum dalam dokumen kurikulum dan kebijakan saja selama ini. Dan buku ini mengulas dengan baik bagaimana praktik riilnya pembelajaran humanis, kritis, demokratis, partisipatoris, dan transformatif di Salam.

Pada bab metodologi di buku ini misalnya, setelah mengulas mengenai hakikat belajar-mengajar, Toto bercerita mengenai pembelajaran di Salam yang dialogis, berbasis pada pengalaman dan realitas terdekat murid. Secara lebih rinci juga diulas bahwa proses pembelajaran di Salam merupakan rangkaian upaya agar murid mampu (1) melakukan rekonstruksi, (2) mengungkapkan, (3) menganalisis, (4) menarik simpulan, dan (5) bersikap dan melakukan tindakan atas/terhadap pengetahuan yang dipelajari (hal. 24-27). Melampaui pendekatan saintifik dalam Kurikulum 2013 bukan?

Dengan begitu, hal yang dipelajari murid diarahkan betul untuk mengasah nalar kritisnya, dan pada akhirnya tidak berhenti menjadi pengetahuan belaka, melainkan sampai pada tindakan riil murid atas hal yang mereka pelajari. Toto pun menjelaskan bagaimana cara menyiapkan rencana proses belajar secara demokratis dan partisipatif bersama-sama. Termasuk memberikan gambaran metode pembelajaran dan kontrak belajarnya (hal. 28-37).

Gambaran dan cerita lebih detail proses pembelajaran di Salam diceritakan oleh Hasriadi Ary dan Mellanie Febrista. Misalnya bagaimana ketika Mas Yudhis (salah satu pendamping murid di Salam) menerangkan perbedaan baris dan kolom (hal. 39-41, cerita pembelajaran berbasis riset di pasar ikan Pasty dan angkringan Wongso (hal. 114-142), dan cerita wawancara Satiti dengan mbah Udan Sore (hal. 142-145).

Di situ terlihat bagaimana anak-anak diajak ke realitas langsung untuk belajar ilmu ekonomi, matematika, logika, keberanian, kepemimpinan, dan kekompakan kelompok secara tematik. Belum lagi ketika murid-murid menggelar tradisional bulanan. Sesuatu yang agaknya tidak pernah terpikirkan di sekolah-sekolah formal lain pada umumnya.

Itulah kiranya yang diharapkan dan dimaksud oleh Toto Rahardjo sebagai “Sekolah Biasa Saja”. Sekolah yang dalam teori psikologi belajar klasik mampu mengasah dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik secara tepat sesuai karakter, usia, dan kematangan mental, intelektual, sosial masing-masing. Sekolah yang “anehnya” justru tidak mengikuti aturan dan standar resmi pemerintah.

Karakter dan orientasi Salam tersebut tidak mengherankan, mengingat Toto Rahardjo dan Wahya — sebagaimana juga diceritakan di buku ini (hal. 49-53) — adalah anak didik ideologis Romo Mangun, seorang pendidik yang menggagas dan memperjuangkan pendidikan pemerdekaan untuk rakyat. Selain itu pengalaman sebagai aktivis gerakan sosial dari Toto dan Wahya dalam menjadi basis pengalaman berharga untuk sabar dan telaten mengembangkan Salam.

Bagi yang mengikuti diskursus pedagogi kritis dan/atau pendidikan kritis di Indonesia, buku ini dapat dikatakan sebagai lanjutan dari tulisan Toto Rahardjo dan kawan-kawan yang lebih bersifat teoretis sebelumnya berjudul “Pendidikan Popular: Membangun Kesadaran Kritis (2010) terbitan Insist Press, Yogyakarta. Ibaratnya buku “Sekolah Biasa Saja” ini adalah wujud praksisnya. Walau secara teknis buku ini terdapat beberapa salah ketik dan kurangnya penjelasan dan kejelasan si pencerita, namun secara substansi sangat berbobot.

Sekolah Biasa Saja
Buku “Sekolah Biasa Saja”

Judul buku : Sekolah Biasa Saja

Penulis : Toto Rahardjo

Penerbit : Progress, Yogyakarta

Cetakan : Pertama, 2014

Tebal : xxii + 183 halaman

Bagaimanapun juga buku ini turut memperkaya literatur praktik pedagogi kritis di Indonesia dalam bentuk mengembangkan sekolah alternatif. Sebuah sumbangan teoretik dan praktik bagi pedagogik ala Freirean di Indonesia. Penting dibaca terutama oleh praktisi pendidikan, guru, dosen, dan mahasiswa calon guru. Sebuah buku yang bercerita mengenai “Sekolah Biasa Saja” yang sejatinya luar biasa.