Reportase: Persada Mengenang Ragil Swarna Pragolapati, Korrie Layun Rampan, dan Mulyadi Adisupo.

Saatnya Mencari Teman Sejati

Selain punya teman sejati, anda juga harus punya nilai sejati. Anda sebagai orang sastra, anda adalah orang yang skalanya dunia.

Pada masa ketika orang mudah sekali lupa atau rentang ingatannya kian memendek, ikhtiar mengenang orang-orang adalah sebuah upaya yang baik untuk menjaga memori kolektif dan retrospektif.

Semalam (26/11/2015), bertempat di Rumah Maiyah Yogyakarta, Majalah Sastra Sabana menggelar “Persada Mengenang Ragil Swarna Pragolapati, Korrie Layun Rampan, dan Mulyadi Adisupo.” Kedua nama terakhir adalah sastrawan yang beberapa waktu lalu telah menghadap Yang Maha Kuasa. Sedangkan Ragil Swarna Pragolapati jauh seperempat abad silam kira-kira telah ‘pergi, moksa, tiba-tiba tidak ada’, kabarnya ‘menghilang’ di Gua Langse. Ragil pergi meninggalkan seorang istri dan dua orang anak.

Acara sederhana itu dihadiri sejumlah penyair, sastrawan, seniman, dan kolega-kolega sastra Sabana di Yogyakarta. Istri Ragil, Bu Menik, juga hadir. Bahkan seorang murid Ragil juga datang jauh-jauh dari Papua. Tak ketinggalan tentunya Cak Nun yang merupakan sahabat dari ketiga sosok yang tengah dikenang. Bergantian puisi-puisi dan cerpen dibacakan di antaranya oleh Suparno S Adhy, Novi Arisa, Maria Widi, Ulfatin Ch., dan Budi Sarjono. Bu Menik sendiri selain menuturkan sepenggal kenangan akan sang suami, juga sempat menyanyikan lagu ‘Ayah’ karya Rinto Harahap. Saat Maria Widi, yang semasa sekolah SD belajar baca puisi kepada Ragil, membacakan dan menyanyikan salah satu puisi Ragil, Ririn putri Ragil tampak serius menikmati dan dari wajahnya terpancar senyum kebanggaan, kecintaan, dan kekaguman kepada sang ayahanda yang telah bertahun-tahun tak pernah lagi ia pandang lagi wajahnya secara langsung.

Persada Mengenang Ragil Swarna Pragolapati, Korrie Layun Rampan, dan Mulyadi Adisupo
Persada Mengenang Ragil Swarna Pragolapati, Korrie Layun Rampan, dan Mulyadi Adisupo

Dalam pertemuan itu, Majalah Sabana sekalian mengantarkan edisi terbarunya kepada pembaca. Edisi yang bertajuk “Selamat Jalan Karakter: 25 Tahun Moksanya Ragil Swarna Pragolapati”. Sebuah edisi yang substansi utamanya mengajak pembaca menengok kembali bahwa jangan-jangan yang bernama karakter itu tak lagi maujud di zaman ini. Seakan didengung-dengunkan pembangunan karakter, tetapi yang terjadi adalah bangun pemahaman yang tak akurat, mleset, dan jauh dari komprehensif. Karakter disempitartikan pada sifat-sifat yang selama ini diasosiasikan pada ‘moral’. Lebih dari komponen moral, karakter adalah tonjolan-tonjolan kekuatan khas yang melekat pada seseorang, yang menjadikannya benar-benar ‘diri’ yang berbeda dengan orang-orang lainnya, dengan segenap peran, kontribusi, kiprah, dan totalitas yang unik di tengah lingkungannya. Sabana edisi ke-8 ini menyuguhkan, kalau mau melihat contoh karakter manusia, Ragil Swarna Pragolapati adalah salah satunya.

Beberapa kawan, murid, dan orang-orang yang pernah berproses bersama Ragil semalam berbagi kesaksian mengenai bagaimana kegigihan Ragil sebagai penggiat sastra Yogyakarta. Ada Iman Budhi Santosa, Teguh Ranusastra Asmara, Sutirman Eka Ardhana, Jabrohim, Budi Sarjono, dan Cak Nun. “Mas Ragil dulu sering datang ke IKIP Muhammadiyah, melatih para mahasiswa dalam bersastra. Sempat latihannya itu diadakan di kuburan. Berkat besutan Mas Ragil, banyak mahasiswa yang mengikuti jejaknya sebagai penulis dan peneliti. Sesudah Mas Ragil, yang kerap datang ke IKIP Muhammadiyah adalah Cak Nun. Itu saja, malangnya, sebuah buku yang diterbitkan sebuah badan mengatakan di kampus itu tidak ada kegiatan yang berarti, padahal kegiatan sastra di situ sangat hidup,” ujar Pak Jabrohim mengenang betapa kesungguhan berjuang kadangkala tidak dihargai orang.

Bagi Cak Nun sendiri sosok Ragil Swarna Pragolapati memberikan segala sesuatu yang orang lain tidak berikan. Ia adalah orang yang ikut merawat sejatinya persaudaraan. Ia ikut menjaga sastra pada tingkat yang negara tidak melakukannya. Karena itu, setelah merenung dan memahami senyatanya kehidupan di dunia ini, Cak Nun berpesan, “Mulai sekarang anda harus punya teman sejati. Gampangannya, terpaksanya nggak ada sastra nggak papa, yang penting anda punya sahabat sejati. Dan selain punya teman sejati, anda juga harus punya nilai sejati. Anda sebagai orang sastra, anda adalah orang yang skalanya dunia. Anda tidak punya ketergantungan kepada negara. Mengerjakan kemanusiaan, kerohanian, dan keilahian itulah yang wajib. Sedangkan mengerjakan apa yang sewajibnya dikerjakan negara, itu sunnah bagi Anda,” papar Cak Nun.

Kemudian Cak Nun menyentuh sisi rasa para audiens, “Apakah kamu tidak kagum kepada Mbak Menik? Kira-kira kamu kuat apa tidak hidup seperti Mbak Menik? Kalau hidup hanya seperti ini yang berisi kebohongan, tipu muslihat, dan hidup hanya di dunia saja, alangkah buntu. Untunglah ada akhirat. Dengan percintaan indah Mas Warno dan Mbak Menik yang tak ada yang melebihinya, maka di akhirat nanti Mbak Menik dan Mas Warno tinggal enaknya.” Akan halnya mengenai moksanya Ragil, Cak Nun menuturkan, “Kepergian Mas Warno itu indah sekali. Pernah suatu ketika di Tuban dalam sebuah acara bersama ribuan orang, saya diejek seorang kiai yang mengatakan bahwa saat Gus Dur meninggal dunia yang melayat ribuan orang. Coba nanti kalau Cak Nun meninggal dunia berapa yang melayat. Kepergian Mas Warno itu indah, karena dia tidak akan mengalami seperti yang saya alami, diejek orang”.