Relegi Teknologi

Berpikir Global, Bertindak Lokal

Malam Rebo Legi merupakan saat dimana serpihan-serpihan energi Maiyah yang terserak di seluruh belahan bumi dan langit berhimpun di suatu titik hamparan Nusantara guna menyelaraskan frekuensi agar tidak saling bertabrakan melainkan bersinergi secara terus-menerus dan periodik hingga memiliki kecepatan tinggi melesat sebagai upaya bergabung dengan Energi Sejati.

Sedang teknologi bukanlah tentang alat-alat canggih dan berharga mahal yang konon mampu mengerjakan segala sesuatu secara efisien dan efektif. Kita sering lupa, secanggih-canggihnya alat, tetap saja penentu alat itu berguna atau tidak, bergantung pada manusianya. Dan juga, semakin canggih suatu alat maka semakin mahal pula harganya. Alat-alat itu mungkin murah operasionalnya, tetapi tetap saja mahal saat pengadaannya. Sehingga sesungguhnya apabila itu yang masih saja terjadi maka itu tidak memenuhi syarat disebut teknologi, karena alasan mendasar teknologi diadakan adalah memudahkan sebuah pekerjaan dengan sumber daya seminimal mungkin.

Pada akhirnya teknologi itu adalah sebuah cara atau metode yang digunakan seseorang guna menyelesaikan suatu pekerjaan kompleks dengan langkah-langkah sederhana (global thinking local acting), sehingga teknologi tidak terletak pada tumpukan alat-alat canggih melainkan akumulasi ide-ide, rencana sistematis, pemikiran-pemikiran logis, kearifan-kearifan yang bersemayam di dalam kepala tiap-tiap manusia.

Manakala seorang manusia mampu menerjemahkan komponen-komponen yang berhimpun di dalam kepala, menjadi sebuah (atau dua buah, tiga buah, empat buah atau lebih) tindakan nyata yang memberi manfaat bagi makhluk lain diluar dirinya, baik makhluk manusia ataupun makhluk lainnya, baik langsung maupun tidak langsung, maka individu itu sesungguhnya sedang berteknologi.

Laserta Maiyah

Sebatang pohon yang semenjak kecil menyerap air dan unsur-unsur hara di dalam tanah secara efisien hingga pada suatu ketika pohon itu memancarkan secara efektif apa-apa yang telah diserapnya berupa tumbuhnya kembang atau bunga dan menghasilkan buah pada akhirnya, maka sebatang pohon itupun sesungguhnya tengah berteknologi.

Demikianlah seharusnya manusia berteknologi. Manusia teknologi bukanlah orang-orang yang kemana-mana membawa seabreg alat-alat canggih (katanya), melainkan orang-orang yang senantiasa menyerap gelombang-gelombang elektromagnetik yang bertebaran di luar dirinya (melalui proses melihat, mendengar, merasakan), kemudian mengolah gelombang-gelombang elektromagnetik tersebut (melalui proses melamun, merenung, berpikir, berencana). Hingga akhirnya menterjemahkan seluruh pergolakan gelombang-gelombang elektromagnetik tersebut keluar dari persemayamannya di kepala melalui mulut (lisan), tangan dan kakinya (merancang, mengoperasikan, menulis) dengan tujuan utama mencegah kejahatan dan memberi manfaat sebesar-besarnya kepada penghuni bumi dan langit, siapapun.

Dan puncak dari segala puncak adalah mengupayakan tergapainya cinta Sang Sejati bersama-sama, ya, bersama-sama. Karena untuk itulah Maiyah ada.

Lupakanlah paparan di atas, karena tulisan ini tidak sedang menyampaikan definisi atau batasan judul.

Relegi teknologi ataupun Maiyah teknologi bukan sekedar ide yang dilontarkan Cak Dil di malam Rebo Legi itu — setelah simpul Maiyah di Malang melihat, mendengar dan memperhatikan dengan seksama dulur-dulur Maiyah yang juga mahasiswa Polinema memaparkan karya-karya konkritnya kepada masyarakat Sapudi Madura — tetapi itu lebih dirasakan sebagai sebuah doa dan harapan untuk Maiyah hari ini.

Bahwa detik ini juga Maiyah “harus” bergerak di segala medan baik di udara, di atas tanah ataupun di bawah tanah. Bahwa detik ini juga saatnya membangkitkan kembali ingatan bahwa Maiyah bukanlah sesuatu yang hanya bergerak pada malam hari saja, hanya terbatas pada panggung dan sekitarnya, tetapi Maiyah memiliki wilayah kerja yang tidak terbatas serta alokasi waktu 24 jam sehari. Orang-orang Maiyah “harus” memiliki kesanggupan dan kapasitas bila sewaktu-waktu diperlukan untuk menjadi Laserta, The Dark knight (salah satu tokoh pada drama “Tikungan Iblis”).

Jangan lagi tertipu, Maiyah bukanlah gerakan kecil-kecilan, Maiyah sesungguhnya adalah mainstream bagi mereka-mereka yang memiliki tujuan besar yakni meraih simpati dan cinta Rasul kekasihNya guna menemukan jalan bergabung kepada yang Sejati.

Maiyah bukanlah kumpulan orang-orang tersisih dan tertindas, bukan pula kumpulan manusia-manusia lemah, dan bukan pula tempat petarung-petarung yang kalah. Mereka yang berhimpun di Maiyah adalah orang-orang yang memiliki kapasitas mampu menindas siapapun tetapi lebih memilih untuk tidak melukai, manusia Maiyah adalah manusia-manusia kuat yang lebih memilih untuk tidak mengancam, dan Maiyah adalah petarung-petarung tangguh yang sanggup menang kapanpun ia mau tetapi memilih untuk Ngalah.

Sapudi Island in Action

Sapudi merupakan pulau di sebelah timur pulau Madura. Jika ditarik garis lurus dari Sumenep (Kabupaten paling timur di Pulau Madura) berjarak + 36 km, serta dapat dicapai + 2-3 jam dari Pelabuhan di Sumenep menggunakan kapal feri. Hampir seharian penuh waktu yang dibutuhkan dulur-dulur Maiyah Polinema untuk melakukan perjalanan dari Kota Malang hingga Sapudi menggunakan sepeda motor. Dipandu oleh Mas Ilyas yang notabene adalah seorang putra asli Sumenep yang mengajar bahasa Inggris di sebuah SMP di pulau tersebut. Setidaknya sekali setiap bulan, dia hampir selalu bersepeda motor ke kota Malang (kadang-kadang Jombang dan Surabaya) demi menghimpunkan diri menyelaraskan frekuensi energi Maiyah dengan dulur-dulur di Relegi, Padhang Mbulan maupun Bangbang Wetan.

Ada sekitar 43.000 ekor sapi, 10.000 kepala keluarga, juga 50.000 jiwa putra-putra Nusantara menempati wilayah itu. Dengan fasilitas dan infrastruktur yang amat terbatas, Mereka menjalani hidup bersinergi dengan alam siang dan malam demi saling memberi manfaat kepada sesama. Keterbatasan tersebut bisa dilihat dari letak pulaunya, ketersediaan listrik dan juga bahan bangunan. Karapan sapi merupakan salah satu warisan budaya yang terpelihara hingga saat ini. Namun sepertinya tidak cukup menarik minat bagi mereka-mereka yang berpikir kapitalis (hanya mencari keuntungan materi semata), tidak terkecuali pemerintah Indonesia untuk mengembangkan wilayah ini secara layak. Keuntungan apa yang akan diperoleh dengan membuat jaringan listrik bawah laut dengan jarak setidaknya 36 km “hanya” untuk melayani 50.000 jiwa?

Di kutub lain, dengan kesadaran tinggi khas Maiyah yang memaknai hidup tidak sekedar memenuhi kewajiban, namun membangun keindahan bersama hamba, Rasulullah untuk menggapai cinta Allah. Akhirnya sejak akhir tahun 2014, situasi tersebut justru membangkitkan gairah bagi punggawa-punggawa Maiyah yang tergabung di dalam simpul Relegi untuk “mengambil alih” tanggung jawab itu. Bagi mereka, ini adalah sebuah kesempatan emas sebagai sarana untuk mendapatkan cinta Sang Sejati. Seperti dalam hadist qudsi yang diperdengarkan di Mocopat Syafaat Januari silam, bahwa Sang Sejati ada diantara orang-orang yang kehausan, kelaparan, sakit, dan yang teraniaya.

Dimotori Cak Dil, Mas Ilyas, dengan eksekutor mas Faqih, Guntur dan Syukur (Mahasiswa Polinema), berdasarkan hasil ekpedisi desember silam tim menggali potensi lokal, kebutuhan dan kelemahan sapudi. Dan didapatkan data pulau tersebut terdiri dari dua kecamatan dengan pemenuhan listrik oleh pemerintah 3 jam/hari lewat pembangkit tenaga diesel, juga penambangan kapur untuk batu bata. Sebelumnya, pemerintah pernah membagikan Solar cell untuk menangani masalah listrik disana, namun setelah 1-2 bulan, ada yang rusak dan akinya habis, penduduk yang tidak bisa memperbaiki kemudian memilih untuk menjual alat tersebut.

Solusi yang sedang dikembangkan diantaranya tim sedang mengupayakan prototype pembangkit listrik tanpa bahan bakar (memanfaatkan sirkulasi aki, motor AC, motor DC) dan DIFA Soil Stabilizer untuk jalan raya daripada mengeruk kapur terus menerus.

Diharapkan prototype tersebut tidak memakan banyak alat dan banyak tempat, bisa masuk koper dengan kapasitas dapat memenuhi setiap rumah tangga, dengan KK sekitar 10.000 biaya perkiraan setiap prototype butuh 2-3 juta untuk pemenuhan listrik 10-15 jam dengan daya 500 watt yang masih terus di Uji Laboratorium di Polinema.

Sedang, DIFA yang dikembangkan di Indonesia oleh Dr. Heri, dosen Teknik sipil UGM tersebut sudah diujicobakan oleh tim eksekutor di Sentono Arum, Sumobito, Jombang, untuk kemudian uji lab, disamping juga sudah mengambil sampel tanah di Sapudi sehingga bisa segera diaplikasikan selain untuk jalan juga dapat dibuat genteng, batu bata, dll. Pemilihan DIFA tersebut tak lain ia memperkuat ikatan tanah dan semen untuk konstruksi jalan, lebih lentur, murah, kuat, ramah lingkungan, dan bisa digunakan pada semua jenis tanah. Sebuah upaya yang tengah dilakukan para punggawa Maiyah ini. Sekali lagi, mereka melakukan ini bukan untuk menjualnya pada akhirnya, namun benar-benar sebagai mahar untuk mendapat cintaNya. Semoga Sang Sejati meridhoi semuanya.