Rejeki Rasa

Kenapa Tuhan menitipkan rasa cinta ke kita? Untuk kepada siapa cinta itu diarahkan dan dicurahkan?

Musik Sebagai Rasa

Musim kemarau memasuki waktunya. Jika siang cuaca begitu panas, maka malam hari udara dingin semribit menghempas kesetiap arah. Namun ini tidak menyurutkan dulur-dulur Purwokerto dan sekitarnya untuk menggelar acara rutinan Maiyah Juguran Syafaat. Bertempat di pendopo Ex Kotatip Purwokerto (sekarang pendopo Wakil Bupati Banyumas), tepat pukul 20.30 Juguran Syafaat dimulai. Tak terasa acara ini sudah mencapai angka rutin pertemuan ke 27. Tema yang diusung kali ini adalah “REJEKI RASA”.

Kukuh membuka dengan mengajak para sedulur untuk membaca surat Yassin yang ditujukan kepada Almarhum Mas Zainul, vokalis KiaiKanjeng yang baru saja pulang ke rahmatullah pukul 20.00. Kabar itu cukup mengejutkan para sedulur yang hadir, sehingga kemudian merespon kabar tersebut dengan membaca Yassin secara tartil terpimpin dilanjutkan dengan Wirid Padhang mBulan.

Juguran Syafaat malam hari ini kedatangan tamu seorang musisi dari Purbalingga bernama Jack alias Joko. Beliau ini adalah orang lama dalam musik yang sempat menggawangi beberapa band terbaik di Purbalingga pada tahun 90an. Sebagai awalan diskusi, dalam kesempatan yang dipandu oleh Kukuh, Jack sharing tentang pengalamannya menggarap beberapa musik untuk beberapa musisi terkenal di Jakarta dan juga project-project lokal. Menurut Jack, dalam bermusik dia diajarkan adalah untuk jangan ego, atau menang sendiri. Pada awalnya dia merasa demikian, harus terbaik, terkemuka dan harus sukses. Tapi jalannya tidak bisa kalau tidak taat kepada kebaikan itu sendiri. Misal orang mau suaranya bagus, tidak mungkin kalau disambi dengan minum-minuman keras, karena itu merusak pita suara.

Jack kemudian menyumbangkan beberapa lagu karyanya diiringi dengan gitar yang dipetiknya sendiri. Suasana bertembah hangat karena permainan gitar Jack meski hanya akustik tapi penuh dengan skill tinggi. Ki Ageng Juguran kali ini berkolaborasi dengan Jack dengan format akustik, mempersembahkan sebuah nomor sholawat “An Nabi” dengan genre musik samba. Dilanjutkan dengan Rifangi mengisi vokal nomor “Shallahu Ala Yassin”.

Rizky mengambil alih moderasi dengan meminta Agus Duren sharing untuk pengalamannya berkolaborasi dalam bermusik bersama Jack. Agus Duren yang merupakan personel inti dari Ki Ageng Juguran memberikan ungkapan bahwa Jack inilah inspirasinya dalam bermusik. Pantas jika disebut hampir semua musisi Purbalingga lahir dari tangannya.

Ki Ageng Juguran kemudian membawakan nomor “Juwita Malam” karya Ismail Marzuki dalam aransemen jazz. Rayung secara spontan juga ikut menyumbangkan suaranya dalam nomor “Ayah Aku Mohon Maaf” karya Ebiet G Ade dan “Child” karya Freddie Aguilar (Filipina). Kukuh kembali menyapa para sedulur yang baru saja hadir. Dan dilanjut dengan Jack yang kembali menyumbangkan satu nomor lagu karyanya dengan diringi gitar akustik sendiri. Tak lupa Tita mempersembahkan lagu “Cinta di Ujung Jalan”. Formasi lagu Juguran Syafaat malam hari ini memang lebih dari biasanya. Ini sebagai apresiasi atas kegembiraan memasuki bulan Ramadhan.

Masuk sesi berikutnya dipandu oleh Rizky dan Kusworo. Kusworo mengawali dengan menjelaskan sedikit tentang kebahagiaan.
“Kebahagiaan sejati itu berada di kedalaman. Kebanyakan orang masih salah sangka dan keliru untuk mendapatkan kebahagiaan sejati, yang kita lakukan adalah memancing dengan umpan-umpan seperti uang, simbol-simbol kejayaan atau kesuksesan. Padahal yang sebenarnya, karena kebahagiaan sejati ada pada kedalaman, maka yang harus kita lakukan adalah menyelam, masuk kedalamnya untuk menemukannya. Demikian pesan yang pernah disampaikan oleh Simbah”, Kusworo mengawali.

“Perkenalan itu wajib karena ini adalah juguran. Juguran itu adalah sebuah kekayaan otentik Banyumas. Ibarat orang punya workshop, seminar, coaching, training, maka orang Banyumas punya juguran. Yang intinya ada persambungan hati dan rasa juga penciptakan kebahagiaan bersama. Itu yang kita coba uri-uri. Saya sendiri bersyukur karena dipertemukan dengan Maiyah. Saya baca berita, pemuda di mesir sangat tinggi sekali untuk jadi atheis. Itu terjadi setelah peristiwa Arab Spring/perang timur tengah. Sehingga banyak orang putus asa dengan agama. Di maiyah ini kita bisa menemukan zona daulat pribadi. Jadi kita memutuskan sendiri, bagaimana kita mau beragama tidak seperti orang-orang yang kita lihat yang sekarang ini sangat hegemonik”, sambung Rizky.

Kusworo secara spontan membawakan nomor lagu “I’m Yours” karya Jason Mraz diiringi oleh Ki Ageng Juguran. Kemudian Titut diminta untuk menyampaikan beberapa pengalaman hidupnya yang berkaitan dengan tema yang sedang dibahas.

“Rasa itu hubungannya dengan pikiran dan hati. Orang tidak percaya kalau saya ceritakan ada forum yang selesai acara jam 2 pagi. Itu forum apa. Forum juguran syafaat ini mengobrol tentang hal rasa dalam hidup manusia. Tapi kalau sudah disini, badan meriang pun bisa sembuh. Sebab kenapa? Rasanya nyambung dengan langit, nyambung dengan bumi, nyambung dengan anda semua. “, tambah Titut. Titut menceritakan pengalaman hidupnya yang pernah mengalami masa kegelapan dalam bidang ekonomi.

“Saya menganggap hari esok itu masih ghoib, maka dalam setiap pagi sekarang saya berdoa Ya Allah, jadikanlah hidup saya di hari ini menjadi surga. Surga dalam hal perasaaan, dalam hal kebutuhan, dalam hal apa saja.”, tambah Titut. Titut menyambung diskusi dengan mempersembahkan satu nomor lagu tradisional berjudul “Jogjali Jogkemiri” dan “Balapan Tengu” diiringi oleh Ki Ageng Juguran. Pak Slamet pun mempersembahkan nomor lawas berjudul “Renungkanlah”.

Rizky menyambung bahwa ketika kita mendalami rasa, kita bisa menemukan kebahagiaan dan surga kita sendiri. Sehingga bahagia tidak harus seperti yang lain. Peristiwa sama bisa berbeda rasa. Sebagai contoh Rasulullah. Rasulullah tidak mau menerima sedekah, tapi beliau mau menerima hadiah. Sama-sama pemberian tapi berbeda rasa. Kalau sedekah rasa yang ada adalah belas kasihan, tapi kalau hadiah rasa yang muncul adalah apresiasi dan cinta.  Agama yang terjadi sekarang hubungannya hanya point reward atau pahala dosa. Bukan digunakan untuk menghaluskan rasa kehidupan.

Rasa Sebagai Pemberian-Nya

Menjelang tengah malam Agus Sukoco secara spontan juga menuliskan puisi tentang cinta yang kemudian dibacakan diiringi oleh petikan gitar dari Jack.

“Perasaan itu tidak mutlak dan tidak menjadi semacam otoritas anak-anak muda sampai setua ini tiap hari saya tumbuh-tumbuh terus cinta itu, tumbuh tumbuh tumbuh dan saya membiarkan ia liar tumbuh tapi kemudia pada momentum tertentu pada batas tertentu akal saya kemudian memenejnya, mengurungnya dan memliharanya untuk tidak merambah-rambah karena hidup memang kita dibatasi oleh berbagai regulasi, aturan, undang-undang baik ia berupa padatan hukum atau berupa norma-norma kultural yang cair, itulah yang membuat kita memagari bahwa ia ada, ia memang ada tetapi ia tidak akan semena-mena aku curahkan kepada siapapun. Terimakasih dan mohon maaf untuk sekedar merespon dan untuk menyempurnakan upacara cinta pada malam hari ini.”, respon Agus.

“Berikutnya soal rejeki rasa kita perluas kita perlebar skalanya spektrumnya supaya kita tidak berhenti pada pemaknaan cinta yang artifisial laki-laki dan perempuan karena perasaan itu sesungguhnya perasaan yang non kelamin bahwa kemudian tereduksi menjadi semacam percintaan laki-laki dan perempuan ia hanya menjadi bagian dan level tahap tapi ia diteruskan lebih luas lebih universal. Kita kemarin baru Isra Mi’raj, nah ketika Rasulullah melakukan perjalanan Isra Mi’raj Rasulullah melakukan perjalanan horisontal lalu vertikal dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha baru lepas landas menuju Sidratul Muntaha, hikmah apa yang secara esensial bisa kita maknai dalam hidup kita dan menjadi praktik-praktik keseharian kita cerita dan ajaran itu tidak menjadi sekedar dongeng sebagaimana kita mendengar dongeng kancil nyolong timun dan lain-lain tetapi ia memang memberikan pesan-pesan yag setiap orang harus melakukan Isra Mi’raj substansial artinya ia bisa kita jalani didalam praktik-praktik hidup kita.”, sambung Agus.

“Jadi misalnya gini siapa yang memberikan rasa cinta kepada hati kita tiba-tiba ada? Itu anugerah dari Tuhan itu dititipkan ke kita tiba-tiba ada, kenapa Tuhan menitipkan rasa cinta ke kita? Untuk kepada siapa cinta itu diarahkan dan dicurahkan? Tidak lain kepada diri-Nya. Aku menitipkan cinta kepadamu maka arahkan cinta yang telah Ku-berikan hanya kepada-Ku. Tuhan tidak menginginkan kita mencintai yang lain selain diri-Nya, tatapi dalam hidup kita, kita ketemu dengan misalnya perasaan itu tumbuh ketika ketemu wanita, Ya Allah kenapa perasaan titipan-Mu itu kemudian berhenti dan mentok pada keindahan seorang wanita apakah aku tidak boleh apakah membuat-Mu cemburu? Ternya tidak cinta tidak bisa dibagi begitu kita tumbuh rasa cinta dan mencintai seorang wanita maka sesungguhnya pada wanita itulah Tuhan mentajalikan diri-Nya, “karena Aku mewujud pada wanita ini”, Agus menambahkan.

“Jadi ketika perasaan kita jatuh kepada wanita ternyata jangan berhenti pada wanita itu ternyata ada Tuhan disana dan kepadanyalah cinta kita teruskan jangan berhenti pada obyek yang kasat mata. Jadi Masjidil Haram artinya mensucikan perasaan kita bahwa rasa itu dari siapa? Dari Tuhan, begitu kita mengakui bahwa itu dari Tuhan maka kita telah Memasjidil Haram kan, lalu begitu kita mengarahkan cinta itu horisontal ke wanita disitulah Masjidil Aqsha ternyata disitu kita harus Mi’raj bukan hanya pada wanita itu kita temukan perjalanan batin kita karena ada Tuhan disana, jadi cinta tidak berhenti pada wanita pada obyek-obyek itu.”, jelas Agus.

“Jadi ketika teman saya gelisah “ya mas kenapa saya ko tiba-tiba agak lupa Tuhan, saya kemudian tiba-tiba agak gelisah”, kenapa kamu lupa Tuhan? “saya begitu terpengaruh oleh perasaan saya, apakah Tuhan cemburu nanti kalau saya mencintai sesorang?”, tiba-tiba muncul dipikiran saya tidak karena Tuhan sedang mentajali pada perempuan cantik yang sedang kau taksir itu, ooo karena disana ada Tuhan, hatimu yang jatuh cinta dan kamu sadari sebagai pemeberian dari Tuhan itulah Masjidil Haram, melihat gadis itu perjalanan menuju Masjidil Aqsha, wujud gadis itu adalah Masjidil Aqsha maka perasaan kita naik keatas kita temukan Tuhan pada keindahan wajahnya, pada ketajaman sorot matanya, pada rambutnya, pada pakaiannya.”, sambung Agus.

“Nah kira-kira itu, jadi tidak ada ungkapan cinta tidak bisa dibagi, selama ini kita memperlakukan cinta sebagaimana kita memperlakukan materi bahwa kita mencintai anak kita 10%, kita mencintai istri kita 100%, lalu Tuhan tidak 100%, padahal cinta itu bukan materi yang bisa dibagi-bagi cinta itu  kepada siapapun 100%, saya mencintai anak dan istri saya karena dalam rangka mencintai Tuhan jadi cinta anak didalam dan cinta istri inheren dengan cinta kita dengan Tuhan tidak terpisah, begitu ada perasaan melihat anak yang tertidur “Ya Allah saya begitu menyayangi anak saya”, karena disitu sesungguhnya Allah bersemayam. Dengan melihat anak sesungguhnya Allah mentajali pada anak kita sehingga kita mencintai anak sesungguhnya mencintai Tuhan karena semua adalah perwujudan atau tajalinya Tuhan, nah ketika Tuhan dipisah dari hidup kita maka seolah-olah cinta menjadi materi terbagi ada cinta 50%,, tidak bisa, cinta itu 100%. Saya mencintai anak saya, mencintai istri saya 100% saya juga mencintai Tuhan 100%, apakah cinta kemudian menjadi 200%? Wong keutuhan komprehensif itu tidak bisa 200%, ukurannya ya 100%, kenapa ke istri ke Tuhan ke anak menjadi 100%? Karena inheren tidak terpisah.”, tutup Agus.

Memojokkan Tuhan

Hengki dari Purbalingga mempersembahkan lagu lawas “Hari Kiamat” yang diiringi apik oleh Ki Ageng Juguran. Hengki sekaligus merespon diskusi dengan sharing bahwa dirinya malas sekali untuk sholat dan sangat mengejar-ngejar dunia. Dirinya dalam kebingungan luar biasa dalam menghadapi hidup karena anaknya lima dan sebentar lagi mau kuliah. Agus Sukoco kemudian menjelaskan logika Inalillahi Wa Ina Ilaihi Rajiun, dimana sebenarnya asal kita dari Tuhan dan kita akan kembali ke Tuhan. Maka disini Tuhan itu bukan sebagai angan-angan belaka, tapi pernah menjadi kenangan masa lalu.

“Kenangan sejati kita adalah Tuhan dimana ketika bersamanya kita bahagia dan tentram. Karena perjalanan kita jauh jaraknya kemudian membentang intervalnya begitu sangat tidak terkira antara alam materi dan alam cahaya maka kebahagiaan yang kita rindukan menjadi sering dimanipulasi.  Ada orang menawarkan kamu kepengin bahagia, karena semua orang rindu bahagia karena itu pengalamannya lalu belilah TV 40 inchi layar datar, dadi tuku bres utang-utang jebule ora bahagia malah keblendet utang anyar, dia mencari kerinduan akan kebahgiaan, dia memaksa beli mobil ternyata tidak didapat lagi, ooo aku kepengin bojone 6, dijalani terus ternyata tambah stress juga yang disangkanya adalah kerinduannya yaitu ada sesuatu yang bisa ditemukan dari anggapan-anggapanya itu ternyata tidak. “, sambung Agus.

“Karena kebahagiaan itu letaknya di dalam tadi yang awal Mas Kusworo sampaikan bahwa ada orang, gini kalo ada uang 100 ribu saya lagi butuh sekali 100ribu dengan kebutuhan 100ribu saya merasa rampung urusanku kemudian tiba-tiba saya temukan ada orang ngasih 100ribu wah maturnuwun saya begitu bahagia mendapat uang 100ribu, tapi ada teman saya dikasih 100ribu stress, semene tok koh mesti lewih olih akeh kiye, nah ternyata karena begitu dia terikat oleh perjanjian kerjasama yang harusnya dia dapat 500ribu dia cuma dikasih 100ribu dia stress, ternyata kebahagiaan tidak terletak pada obyek bendanya.  Kalau kebahagiaan terletak pada obyek bendanya maka 100ribu bisa membahagiakan saya dan bisa membahagiakan teman saya, ternyata 100ribu membahagaiakan saya, 100ribu tidak bisa membahagiakan teman saya, ternyata ada kondisi di dalam diri kita yang memang tidak bisa bahagia dengan 100ribu artinya kebahagiaan didalam tidak di 100ribu-nya. Nah sekarang ada kegagalan menejemen dalam diri kita sehingga apapun saja tidak pernah kita maknai dan tidak kita temukan kebahagiaan disana.”, tambah Agus.

Agus menambahkan logika pekewuh dalam menumpang dirumah orang, dimana kita seharusnya pekewuh bisa dirumahkan di bumi Tuhan. Sehingga yang kita kerjakan adalah apa yang membuat tuan rumah ini bahagia dan tidak mengerjakan apa yang tidak disukai oleh tuan rumahnya. Jika sudah demikian, maka kebutuhan-kebutuhan kita sudah pasti terjamin oleh tuan rumah alam semesta ini.

“Kita sering mendengar istilah rejeki dari hal-hal yang tidak terduga dan orang sekarang tidak percaya dengan jaminan rejeki dengan modus tidak terduga itu. Disini Tuhan sudah berbicara “Akan aku beri rejeki dari jalan yang tidak engkau sangka-sangka” dan itu tidak dipercaya maka orang menempuh yang bisa disangka-sangka mengumpulkan nabung seakeh-akehe, deposito sebanyak-banyaknya mengumpulkan harta. Orang sibuk disini karena tidak percaya dengan rejeki tidak terduga. Sesuatu yang tidak terduga dianggap tidak pasti karena yang pasti itu yang terduga akhirnya orang menciptakan kepastian-kepastian. Akhirnya orang lelah sekang esuk tangi turu tekan arep turu maning esih sibuk ngurusi dan membangun kepastian-kepastian atau sesuatu yang dianggap pasti. Padahal rejeki tak terduga itulah sumber kenikmatan. Kalau kita sudah punya deposito sampai tujuh turunan sehingga tidak ada kecemasan apa-apa atas persoalan-persoalan ekonomi kita sudah tidak lagi seneng dapat 10ribu.  Akhirnya hati menjadi mati rasa yang nikmat adalah ketika lagi butuh ada, itu yang nikmat kan dan ruang paling indah untuk dihuni adalah ruang harap-harap cemas kepada Tuhan”, tambah Agus. Dilanjutkan dengan Ki Ageng Juguran yang mempersembahkan sebuah  nomor “Ya Nabi Salam ‘Alaika”.

Fikry menambahkan penjelasan bahwa dalam forum Maiyah ini kita kadang tidak bisa mencertikan kembali apa yang sudah kita dapat, tapi ketika kita menghadapi sesuatu secara default kita sudah punya landasan berfikir dalam memprosesnya. Sama seperti algoritma berfikir, input boleh jadi sama, tapi dalam proses kita sudah punya kekuatan lebih yang membuat outputnya berbeda.

Menurut Rizky, masyarakat sekarang sudah tidak bisa membedakan mana batu kerikil mana batu intan, sehingga Tuhan perlu mengingatkan melalui fenomena akik dimana orang-orang harus menjadi tahu, mana batu yang mahal mana batu yang tidak berharga. Jika ditarik dalam dunia informasi, kita harus bisa memilih mana informasi yang bersifat intan mana informasi yang bersifat kerikil. Titut merespon keluhan yang disampaikan oleh Hengki tadi dengan bercerita tentang pengalaman hidupnya yang penuh dengan kepahitan. Semua itu dijalani dan dihadapi dengan banyak berdoa kepada Tuhan dengan caranya sendiri. Bahkan dalam beberapa kali, Titut berdoa dengan nada agak memojokkan Tuhan. Bagi Titut hanya ini yang bisa dilakukan pada saat kegelapan hidupnya datang.

“Pengalaman Pak Titut saya kira menjadi ilmu dan pengetahuan yang sangat berharga buat kita jadi kemesraan Pak Titut dengan Tuhan sedemikian intens sampai muncul bahasa mepetna Gusti Allah. Mepetna Gusti Allah itu bukan kalimat yang Tuhan benci Tuhan anti, engga, Tuhan senang dengan kalimat-kalimat otentik daripada pura-pura alim tapi sesungguhnya tidak memiliki intensitas hubungan personal dengan Tuhan. Kalimat-kalimat Pak Titut muncul otentik karena pengalaman pribadi bukan dari siapa-siapa.”, respon dari Agus Sukoco. Agus menambahkan dengan cerita Nabi Musa dimana dia manusia biasa yang diperintah untuk berlari ketika dikejar pasukan Firaun. Ketika ditepi pantai, dia berdoa agak memojokkan Tuhan, disinilah naluri kemanusiaannya muncul.

Respon dari Ahmad, Majenang, menjelaskan sedikit tentang kajian perkata lafazh arab dalam Al Quran yang menceritakan tentang syukur. Rahmat Saleh dari Purwokerto merespon dengan mempertanyakan rasa yang dibicarakan sedari tadi ini digunakan sebagai wailah atau ghoyah, digunakan sebagai jalan atau malah tujuan. Ki Ageng Juguran menyambung dengan lagu “Nyanyian Jiwa” dari Sawung Jabo untuk mengendapkan diskusi-diskusi tadi.

Hadiwijaya menutup Juguran Syafaat dengan bercerita tentang proses kehidupan yang isinya suka duka, pahit getir dimana kita harus siap menghadapinya kapanpun Tuhan mau. Tepat pukul 02.00 pagi, Juguran Syafaat diakhiri dengan wirid bersama “Duh Gusti” dan salam salaman diiringi Sholawat Puji-pujian “Allahuma Sholli Ala Muhammad”. [Red JS/Hirdan Ikhya]