Padang Bulan Mencintai dan Ingin Membantu Indonesia

Untuk melengkapi, memperkuat, dan memperkaya tema Indonesia Bagian dari Maiyah bulan ini, redaksi menghadirkan kembali sebuah dokumentasi wawancara yang sangat relevan. Wawancara tersebut pernah dimuat di Tabloid Padang Bulan Merdeka edisi pertama tahun 1999. 16 tahun lalu Cak Nun telah menegaskan bahwa Indonesia adalah bagian dari Maiyah. Berikut wawancara tersebut.

Bagaimana Padang Bulan menjelaskan hubungan antara dirinya dengan Indonesia?

Padang Bulan bukan gerakan sosial yang ditargetkan untuk mengubah Indonesia. Ia terlalu kecil. Jamaah yang setiap bulan datang ke Padang Bulan hanya beberapa puluh ribu. Ditambah Tombo Ati, Haflah Salawat, Mocopat Syafaat, dll, paling tambah beberapa puluh ribu lagi. Meskipun ditambahkan lagi dengan jumlah massa ribuan atau puluhan ribu yang datang ke acara-acara saya di berbagai penjuru Indonesia, masih juga sangat sedikit di tengah Indonesia yang raksasa ini.

Apakah itu kerendah-hatian atau kesombongan atau memang realitasnya demikian?

Memang demikian kenyataannya. Padang Bulan itu kecil, tidak bisa banyak berbuat untuk Indonesia. Bahkan masih berjuang berbuat untuk dirinya sendiri. Dan karena tidak mampu membantu Indonesia, Padang Bulan ingin tidak memberati Indonesia, dengan cara mencoba mandiri dan merdeka semaksimal mungkin dari Indonesia.

Mungkin cara berpikir seperti itu sukar dipahami?

Secara geografis Padang Bulan hanya secuil di tengah Nusantara. Jangan disuruh mengatasi masalah-masalah Indonesia, karena ia bukan pengurus Indonesia. Jangan disuruh ngurus skandal bank Bali, karena ia bukan Jaksa Agung atau Kepolisian. Masyarakat Padang Bulan itu menghidupi dirinya sendiri saja sudah tidak gampang. Kalau tidak ditolong oleh barakah Allah dan syafaat Rasulullah mana mungkin Padang Bulan mampu bertahan hidup. Apalagi Padang Bulan dilarang mengemis pada selain Allah dan utusan-utusanNya. La yukallifullahu nafsan illa wus’aha. Allah hanya membebankan kepada manusia kewajiban sejauh kemampuannya saja. Juga Indonesia toh tidak membutuhkan Padang Bulan. Indonesia sudah dewasa, sudah pinter dan bisa mengurus dirinya sendiri.

Lho, apakah Padang Bulan itu bukan Indonesia?

Secara politis ia tidak harus patuh kepada Indonesia. Secara kultural ia bukan subordinan dari Indonesia. Dan secara ekonomi InsyaAllah Padang Bulan juga berupaya sejauh mungkin independen dari Indonesia.

Apa dong integritas dan dedikasi Padang Bulan kepada Indonesia?

Orang-orang Padang Bulan mencintai Indonesia sehingga toleran untuk bersedia resmi menjadi warga negara Indonesia dan memenuhi sejumlah aturan administratif bernegara. Padang Bulan juga siap membantu Indonesia seandainya ia mampu, kalau Indonesia mau.

Tetapi Padang Bulan tidak mau ngerepotin Gus Dur dan Indonesia, sebagaimana dulu tidak mau ngerepotin Pak Harto atau kemudian Habibie?

Padang Bulan tidak meminta apa-apa, tidak mengharapkan atau menuntut apa-apa. Orang Padang Bulan setiap hari tetap mandi meskipun negara ini namanya bukan Indonesia. Orang Padang Bulan tetap wudhu dan shalat meskipun di dunia ini tidak ada Negara. Orang Padang Bulan tetap bekerja keras menghidupi keluarga meskipun presidennya Asmuni atau Tessy. Orang Padang Bulan tetap mendidik anak meskipun pemerintahnya Fir’aun. Orang Padang Bulan tetap menghidupkan kebersamaan mencintai Allah dan Rasulullah meskipun pemimpin nasional Indonesia adalah perwakilan Dajjal. Orang Padang Bulan tidak menggantungkan keamanan nyawanya kepada TNI dan Polri. Orang Padang Bulan tidak merebahkan nasibnya, kesejahteraan dan kebahagiaannya kepada kabinet apapun. Orang Padang Bulan dan umumnya rakyat kecil tidak bisa menunggu perbaikan Indonesia sekian periode lagi, menunggu kabinet yang bermoral dan profesional, menunggu era demi era, reformasi demi reformasi. Hari ini juga orang Padang Bulan dan rakyat kecil harus memasak nasi, harus mandi dan shalat, harus nyekolahin anak, harus hidup bener….

Oleh karena itu pelan-pelan Padang Bulan mensosialisasikan konsep tentang Ekonomi Siklikal, Perniagaan Barokah, Cinta Segitiga, Sistem Nafkah Hijrah Ilallah warrasul, dst yang bisa dipahami dengan bergaul dan ajur-ajer di dalamnya. Alhamdulillah seluruh penyelenggaraan acara Padang Bulan dan lain-lain, termasuk usaha-usaha sosial ekonominya bersifat swasta penuh, tidak ada bantuan pemerintah, konglomerat, pejabat, lembaga-lembaga dana luar negeri dan dalam negeri atau siapapun saja yang indikatif terhadap kekuasaan formal di antara manusia.

Terkadang ada yang bertanya kenapa Padang Bulan tidak melakukan demo? Tidak mengerahkan massa ke Senayan atau Istana Negara?

Kalau saya punya teman dan saya percaya anak saya masih bisa diperbaiki dan memperbaiki, maka kalau dia berbuat kesalahan akan saya ingatkan. Tapi kalau sudah tidak bisa percaya kepada dinamika mentalnya, biar dia menyeberang jalan seenaknya lantar ditabrak motor, terpaksa saya biarkan saja.

Terus terang saya heran dan kagum pada teman-teman mahasiswa Indonesia atau berbagai kelompok yang sering melakukan demo, padahal tampak jelas bahwa sesungguhnya mereka tidak punya kepercayaan kepada mereka yang didemo. Kalau orang tidak percaya kepada orang, sehingga isi kepalanya hanya curigaan dan ketidakrelaan, jalannya hanya dua. Pertama, bunuh. Kedua, tinggalkan. Saya pilih yang kedua.

Juga daripada saya mengerahkan massa, mending kalau hati saya pas mau saya beberapa menit membisiki Gus Dur atau Pak Harto atau siapapun. Itu jauh lebih efektif.