Mosok Dijajah Terus Ker?

Sampai kapan bangsa ini terus dijajah, dibodohi dan dikelola oleh asing? Apakah kita hanya merasa terjajah ataukah benar-benar terjajah?

21 April 2015, dinginnya kota Malang tak mengurungkan niat dulur-dulur Maiyah Rebo legi untuk tetap berkumpul di beranda masjid An-Nur Politeknik Negeri Malang. Tak ada tema khusus yang direncanakan, namun semangat kebersamaan sebulan sekali sambung roso amat terasa. Selain juga karena sepekan yang akan tiba Maiyah Relegi Teknologi “punya gawe” yang mengangkat tema Rembug Inspiratif Kemandirian Energi dan Pangan. Sehingga malam itu digagaslah kemandirian-kemandirian lain yang dekat dan bisa diaplikasikan di lingkungan masing-masing.

Cak Yogi mengawali dengan memutarkan sebuah video berjudul from zero to infinity, yang menceritakan dan pembuktian dari Yohanes Surya bahwa semua anak Indonesia itu Pandai. Diawali dengan perjalanan Yohanes mencari anak-anak yang terkurang pandai di Kolikara, Wamena, Irian, ada yang tidak naik kelas sampai 4 tahun, sampai kemudian dididiknya 100 anak di Jakarta selama 6 bulan dan ternyata kemampuan mereka bisa sama dengan anak pandai di Ibukota, bahkan menjadi tim robot dan tim olimpiade mewakili Indonesia di kancah Inernasional. Di akhir sesi Yohanes berpesan, “Tidak ada anak yang bodoh. Yang ada hanya anak yang tidak mendapat kesempatan belajar dari guru yang baik dan metode yang baik”. Selalu ada harapan bagi kita yang putus harapan, pungkasnya.

Ricky Elson ; Memantik Kemandirian Energi
Ricky Elson ; Memantik Kemandirian Energi

Dilanjut oleh paparan dari dr. Chris, bahwa Inspirasi tanpa pergerakan lumpuh dan pergerakan tanpa inspirasi akan membabi-buta. Menurut beliau setiap mahluk bergerak pasti ada motivasinya/dorongan. Pergerakan dimulai dari otak dan otak yakin kalau ada stimulasi serta sebuah Inspirasi letaknya di otak. Maka, sebelum bergerak langkah utama ialah melakukan identifikasi dari sumber daya yang dipunyai.

Seperti yang telah dituliskan oleh dr chris, bahwa teknologi bukanlah tentang alat-alat canggih dan berharga mahal yang “konon” mampu mengerjakan segala sesuatu secara efisien dan efektif. Secanggih-canggihnya alat, tetap saja penentu alat itu berguna atau tidak, bergantung pada manusianya. Sehingga sesungguhnya apabila harga masih mahal dalam pengadaannya maka itu tidak memenuhi syarat disebut teknologi, karena alasan mendasar teknologi diadakan adalah untuk memudahkan sebuah pekerjaan dengan sumber daya seminimal mungkin.

Inisiasi Kemandirian internet

Malam itu, turut hadir Ifa Alif, Mahasiswa Teknik Informatika dari UIN Maulana Malik Ibrahim, founder dari media sosial Kwikku (www.kwikku.com). Bersama 10 orang temannya yang sama-sama masih mahasiswa mereka membuat jejaring sosial asli Nusantara yang memiliki keunikan tersendiri. Dari segi bahasa kontennya menawarkan keunikan seperti tersedia bahasa Jawa, bahasa Bali, bahasa Ambon dan berbagai bahasa daerah lain, selain itu juga gambar-gambar yang memperkenalkan budaya Indonesia, dan ikon-ikon logo seperti komodo.

Kwikku Nusantara yang memiliki semboyan wadah berbagi senyuman tak lain lahir sebagai wujud kegelisahan dan rasa cinta pada negeri ini. Kwikku menurut asal kata sebenarnya merupakan gabungan dari kuwi iku sehingga Kwikku Nusantara atau kwikku Indonesia secara prinsip ingin menunjukkan bahwa konten tersebut milik nusantara dan Bangsa Indonesia. Fakta yang alif paparkan dalam kesempatan tersebut amat mencengangkan dan mengerikan, seperti dimulai dari google map atau google bird view yang ketika orang Indonesia bertemu dengan mobil tersebut malah diajak selfie, sedangkan di luar negeri mereka sangat menghindari kedatangan dari mobil tersebut karena akan membuka ruang privacy mereka. Fakta selanjutnya tentang  setiap sekali pengguna (user) log-in di Facebook, maka secara tidak sadar kita menyumbangkan Rp 15.000,00 kepada Mark Zuckerberg untuk wilayah Asia, dan untuk wilayah Eropa jelas lebih mahal dan banyak lagi. Fakta tersebut bukan tanpa alasan, jika ditelisik lebih jauh pemakaian internet entah menggunakan personal computer ataupun handphone pasti akan membayar langganan internet data atau pulsa meskipun diembel-embeli 0 rupiah. Speedy, Telkomsel, Indosat akan membayar kepada Google, Facebook, Twitter dkk karena mereka dalam hubungan kerjasama.

Jika mau berfikir lebih lanjut riset pada tahun 2013 menyebutkan bahwa 4 dari 10 pemuda terkaya di dunia adalah bos-bos facebook alias Mark Zuckerberg dkk.

Kekayaan Mark pada tahun itu 13 Milyar dalam US $. Jadi secara tak langsung kita orang Indonesia turut menyumbang untuk kekayaannya. Jangan kira semua fasilitas gratis karena didalam Facebook pun banyak iklan bertebaran. Apalagi, populasi penduduk Indonesia yang sangat potensial, negara nomor 4 dengan penduduk terbanyak di dunia. Data satu orang dari Facebook misalnya, itu tidak penting tapi jika data 70 juta orang yang mendaftar di Facebook itu bisa bernilai jual dalam iklan contohnya, namun yang lebih mengkhawatirkan lagi jika data tersebut jatuh pada orang yang berniat tidak baik untuk negeri ini. Pada E-KTP penduduk Indonesia, dimana dia sebenarnya berada saat ini? Jadi yang dikomoditikan adalah data.

Dulu, disaat yang sama dengan kelahiran Facebook, Indonesia juga sudah memiliki jejaring sosial tersendiri yang nggak kalah dengan Facebook, namun karena media nasional Indonesia lebih seneng mem-blow up yang berbau luar negeri daripada mengenalkan medsos (media sosial) lokal, mengakibatkan media sosial bikinan anak bangsa mati, koprol misalnya.

Jika Rasulullah 14 tahun silam telah menganjurkan carilah ilmu walau sampai negeri China, maka Indonesia patut belajar pada mereka tentang dunia internet. China dengan penduduk 1,4 M menutup semua akses konten asing masuk ke negaranya, dan dia juga salah kiblat IT yang cukup ditakuti barat karena resources penduduknya yang luar biasa. Dengan kebijakan tersebut, otomatis konten asli anak negeri seperti Baidu, atau Weibo naik rating. Facebook sendiri masih kalah karena penggunanya diseluruh dunia masih 1.3 M sedangkan China 1.4 pengguna medsos lokalnya. Sedangkan di Indonesia konten-konten lokal tidak menjadi raja di negeri sendiri. Bahkan Jokowi dalam suksesi kampanyenya menghabiskan 2 Milyar untuk iklan selama 2 hari di beranda Facebook. Beberapa hari dia menjabat, sudah mengundang Mark bertandang ke Indonesia, tak lain karena Indonesia merupakan pasar yang amat menggiurkan di masa-masa yang akan datang. Lalu, bagaimana nasib medsos-medsos lokal buatan anak asli nusantara?

Mark, tidak pernah membayar pajak di Indonesia karena kantor Asia-nya ada di Singapura. Masyarakat Indonesia masih belum bangga dengan produk-produk lokal, lalu mau sampai kapan keterjajahan ini dibiarkan? Dan mayoritas tidak menyadarinya. Hal-hal diatas bukanlah suatu masalah, namun yang teramat urgen secara tidak sadar Bangsa Indonesia membuka pertahanannya dengan sering upload situasi-situasi yang terjadi apalagi saat bencana, mereka tidak perlu mengirim tim untuk menolong dan menggambar peta Indonesia.

Penghujung, meskipun sampai detik ini dosen, kampus, masyarakat dan pemerintah tidak pernah mendukung atau mau peduli, Kwikku tetap percaya jika ada satu contoh kecil maka akan menginspirasi yang lain. Kalau tidak ada yang berjuang, hidup buat apa? Tandas Alif di akhir penyampaiannya. Dan Maiyah Relegi memungkasi rutinannya.

Acara pun bersambung, Senin siang 27 April 2015, Maiyah Relegi “punya gawe” sebuah even spesial. Rembug Inspiratif, acara yang dikonsep dapat memberikan inspirasi terutama pada siapapun yang hadir. Dikarenakan terbatasnya kapasitas ruangan, untuk memberikan kenyamanan peserta dan keefektifan berlangsungnya acara, walhasil even yang diadakan di RM Joglo Dau Jl. Ijen Malang tersebut dibatasi untuk 100 orang terpilih. Kendatipun peserta terbatas, akan tetapi sudah mewakili berbagai elemen masyarakat. Sekitar pukul 12.00 WIB para peserta mulai berbondong memadati RM Joglo Dau dan mengantri mengisi daftar hadir yang telah dipersiapkan panitia. Sebelum acara dimulai, panitia mempersilakan para peserta untuk lunch, meskipun acara tidak dipungut biaya, rupanya tidak menyulut niat panitia untuk tetap  ingin memberikan yang terbaik untuk para peserta.

Identifikasi Keterjajahan

Mengawali acara, Cak Fuad didapuk memberikan pengantar mengenai tema yang akan diperbincangkan sekaligus membuka rembug inspiratif tersebut. Mengutip Al-A’raf ayat 157, tugas Nabi ialah melepaskan keterjajahan, menyuruh berbuat makruf, mencegah dari yang mungkar, dan menghalalkan segala yang baik dan mengharamkan segala yang buruk serta membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Belenggu disini bisa berbentuk belenggu politik, belenggu agama atau bahkan belenggu pikiran sendiri.

Ricky Elson: masalah mendasar kita adalah permasalahan mental
Ricky Elson: masalah mendasar kita adalah permasalahan mental

Mosok dijajah terus ker? Begitulah slogan yang diusung oleh panitia untuk merangsang terbukanya cakrawala berpikir para peserta. Menurut hipotesa Cak Fuad, orang-orang yang datang pada kesempatan istimewa tersebut bisa jadi mereka adalah orang-orang yang merasa terjajah. Pun kalau tidak mereka adalah orang-orang yang menanyakan sebab musabab terjajahnya mereka. Atau bisa jadi mereka adalah orang-orang yang masih menyangsikan status keterjajahannya. Bicara soal terjajah, tentu masih sangat jauh dari kemandirian. Karenanya untuk menjawab pertanyaan dari ketiga kemungkinan tipe orang-orang yang hadir dalam acara rembug inspiratif tersebut, para pemateri yang notabene-nya termasuk pakar kelas internasional tersebut akan memaparkan secara gamblang wilayah-wilayah keterjajahan dan probabilitas jalan keluarnya.

Dr. Hery Budianto, ilmuwan asal Indonesia yang telah menemukan Diva Soil Stabilizer, siang itu menjadi pemandu jalannya diskusi dalam rembug inspiratif tersebut. Beliau mengajak para peserta untuk mempertanyakan, Apa benar kita terjajah?

Dalam bermoral kita tinggalkan Tuhan, dalam bekerja kita tinggalkan ilmu pengetahuan dan teknologi, pertanyaannya dalam bernegara kita menganut siapa?

Menurut beliau, Diva Soil Stabilizer ini dapat memperkuat lapisan tanah. Jadi, untuk membuat jalan raya tidak perlu menggunakan batu-batuan untuk memperkuat lapisan permukaan tanah tersebut. Cukup dengan menggunakan bantuan diva soil stabilizer ini lapisan permukaan tanah bisa menjadi lebih kuat. Sehingga, jalan pun tidak akan mudah rusak meskipun dilewati oleh beban-beban yang begitu berat. Bahkan biayanya pun juga lebih terjangkau. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan diva soil stabilizer ini juga merupakan bahan-bahan yang sudah tersedia di bentangan alam nusantara.

Dalam prolognya, Dr. Hery Budianto menyatakan bahwa kesalahan kita sebagai bangsa Indonesia adalah karena selama ini tidak pernah masuk dalam dunia teknologi. Sejak awal revolusi industri sampai sekarang sikap ilmiah bangsa Indonesia terus mengalami degradasi dan masih jauh tertinggal. Selama ini kita terlalu terlena dengan kondisi dilayani oleh bangsa lain. Bertahun-tahun bangsa kita masih hanya menjadi konsumen yang selalu menjadi sasaran empuk bagi mereka bangsa-bangsa yang sudah mahir dalam mencipta alat-alat teknologi yang semakin hari semakin canggih. Bagaimana tidak menjadi ladang bisnis yang begitu menggiurkan, jika bangsa kita yang terdiri kurang lebih dari 240 juta jiwa ini hampir semuanya masih betah dengan status ‘konsumsi teknologi’. Masihkah kita rela menjadi pahlawan untuk kekayaan bangsa lain, sementara kita sendiri tenggelam dalam lautan kemiskinan. Mau menunggu sampai kapan kita habiskan waktu hanya untuk menjadi ratu konsumsi?

Sudah saatnya kita fokus pada potensi-potensi yang ada dalam bumi pertiwi ini. Negeri ini bukanlah negeri yang miskin. Negeri ini negeri yang kaya. Potensi-potensi alam yang bertebaran di sepanjang bumi nusantara dan belum tentu semuanya ada di belahan bumi yang lainnya. Selama ini kita terlalu sibuk memikirkan milik bangsa lain dan berusaha sekeras mungkin untuk menirunya. Dengan hanya meniru, tentu kita tidak bisa sesukses mereka. Karena potensi mereka belum tentu sama dengan potensi kita. Sekali lagi, sudah saatnya kita fokus pada potensi-potensi yang ada di bumi pertiwi ini. Mensyukurinya dengan memikirkan cara terbaik untuk mengolahnya dan mulai mandiri untuk memenuhi kebetuhan bangsa kita sendiri. Oleh karena itu, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dirasa wajib hukumnya untuk mewujudkan bangsa kita menjadi bangsa yang mandiri dan merdeka seutuhnya.

Memantik Kemandirian Energi

Dr. Hery Budianto mempersilakan Ricky Elson untuk menjadi pembicara pertama dalam diskusi ekslusif tersebut. Siang itu, Ricky Elson selaku pembicara dalam acara tersebut menyampaikan materinya dengan semangat yang begitu menggebu. Penggagas terciptanya mobil listrik yang sudah belasan tahun akrab dengan musim semi dan musim salju di negeri matahari terbit tersebut, begitu kritis menyikapi keadaan sekitar. Hal ini nampak ketika beliau menceritakan perjalanannya menuju bumi Arema. Ia menyayangkan sampah-sampah yang menjadi pemandangan akrab sejauh mata memandang. Bagaimana mau mandiri kalau masalah sampah saja kita masih belum bisa mengatasi? Kurang lebih seperti itulah yang Ricky Elson keluhkan di awal pembicaraan.

Selain masalah sampah, Ricky Elson juga mengkoreksi opini-opini salah yang tumbuh subur di tengah-tengah perbincangan masyarakat Indonesia. Sebut saja Habibie, sudah bukan hal yang asing lagi di kalangan masyarakat Indonesia kalau beliau adalah sosok genius asal Indonesia yang mampu menciptakan pesawat terbang akan tetapi tidak dihargai di negerinya sendiri. Padahal, jika semua masyarakat Indonesia ditanyai satu persatu belum tentu juga semua tidak menghargai sosok B.J. Habibie tersebut. Naasnya opini yang keliru dan terlihat sepele ini mempunyai dampak negatif yang tidak kecil untuk bangsa Indonesia. Pernah suatu ketika Ricky Elson mengajak para pemuda Indonesia yang sangat berpotensi dan tengah tinggal di luar negeri untuk kembali pulang ke tanah air, akan tetapi mereka menolak, mereka tak ingin bernasib serupa dengan sosok B.J. Habibie yang kabarnya dicampakkan oleh bangsanya sendiri. Opini-opini yang dibuat oleh oknum tidak bertanggung jawab seperti inilah yang tanpa disadari membuat putra-putri terbaik bangsa tak lagi merasakan baiti jannati di tanah air Indonesia ini.

Berbicara soal dijajah dan terjajah, Ricky Elson mengajak para peserta untuk lebih menggali mengenai definisi dari merdeka yang merupakan negasi dari terjajah. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan merdeka? Apakah untuk menjadi merdeka semua kebutuhan harus serba ada? Dengan mendefinisikan makna terjajah, kita akan bisa mengarahkan dimana posisi kita yang sebenarnya saat ini. Apakah kita hanya merasa terjajah ataukah benar-benar terjajah? Dengan menggunakan bahasanya sendiri, Ricky Elson mengungkapkan bahwa terjajah adalah suatu keadaan dimana ketika kita menginginkan sesuatu yang sangat mustahil, pun kalau bisa diwujudkan, hal tersebut akan sangat membahayakan keselamatan bersama, bisa jadi dengan mewujudkannya sama saja artinya dengan melakukan bunuh diri massal.

Kecanggihan dan kemajuan alat-alat teknologi dewasa ini telah berhasil membuat bangsa Indonesia juga menaruh harapan suatu saat bangsa ini bisa menikmatinya juga. Akan tetapi, alat-alat teknologi yang mengakibatkan semua serba instan rupanya menular pada cara pandang sebagian besar bangsa Indonesia yang juga ingin menikmati kecanggihan alat-alat teknologi tersebut secara instan juga. Seolah tak ingin susah payah memikirkan pendalaman ilmu pengetahuan untuk melahirkan alat-alat teknologi yang serba canggih dan langsung ingin menikmatinya. Lagi-lagi budaya konsumtif ini dipilih sebagai jalan pintas untuk dapat langsung menikmati teknologi terbarukan dan disadari ataupun tidak, dalam hal ini bangsa Indonesia telah berkiblat pada barat.

Padahal jika sejenak kita mau melihat keadaan, bangsa kita sudah terlalu lama dibodohi oleh bangsa lain. Dibisikinya kita dengan iming-iming konsumsi yang begitu menggiurkan. Dibelinya sumber daya alam negeri ini dengan harga yang murah, selanjutnya diolah menjadi sumber-sumber energi ataupun alat-alat teknologi terbarukan dan dijual kembali ke Indonesia dengan harga yang begitu melangit. Tidak hanya itu saja, Ricky Elson pun juga telah membocorkan bahwa putra-putri terbaik bangsa yang bekerja di suatu perusahaan pembuatan alat transportasi milik luar negeri, mereka dituntut untuk bekerja keras akan tetapi gajinya paling tinggi cuma sekitar 8 jutaan. Sementara orang luar negeri tersebut meskipun masih belum begitu benar kerjanya dan tidak seberat kerja orang Indonesia gajinya minimal 25 jutaan. Betapa dibodohinya bangsa Indonesia dijadikan ladang bisnis untuk memuaskan hasrat pencapaian materi yang berlimpah ruah oleh  bangsa lain. Ironinya, terkadang sebagian kita justru merasa bangga ketika menjadi budak bangsa asing seperti itu. Sampai kapan kita membiarkan bangsa ini terus dibodohi dan dikelola oleh asing?

Ternyata niat baik untuk memperbaiki bangsa dan usaha untuk menjadi bangsa yang mandiri tidak serta merta diterima oleh saudara sebangsa dan setanah air. Ricky Elson contohnya, ketika beliau mulai menggagas untuk membuat mobil listrik dan pembangkit listrik tenaga kincir angin tidak sedikit saudara sebangsa dan setanah air ini yang memandangnya sebelah mata. Bahkan sebelum Ricky Elson memulainya tidak sedikit yang menghakimi usahanya. Tidak mungkin berhasil. Begitulah kata-kata yang diucapkan mereka. Ricky pun menyikapinya dengan positif, seolah ingin membuktikan bahwa Indonesia juga bisa. Indonesia kaya dan sangat berpotensi. Jangan pernah menyerah sebelum mencoba, jangan dengarkan bisikan orang-orang yang ingin menjatuhkanmu. Begitulah kiranya pesan beliau untuk kita bangsa Indonesia. Toh, meskipun tidak sedikit yang mencibirnya, pada akhirnya Ricky mampu membuktikan bahwa usahanya bisa berhasil. Bahwa Indonesia juga bisa dan harus bisa. Itulah semangat yang ingin beliau tularkan pada putra-putri generasi penerus bangsa Indonesia.

Dengan penuh keikhlasan dan keyakinan bahwa suatu saat Indonesia akan mampu terlepas dari belenggu-belenggu yang memberatkan pundak masyarakat Indonesia, Ricky mengajak para pemuda Indonesia untuk berjuang bersama mengantarkan bangsa Indonesia menjemput masa depan yang lebih baik. Karena bagaimanapun, pemudalah yang nantinya akan meneruskan perjuangan bangsa ini. Dengan semangat yang berapi-api, Ricky mengajak para pemuda Indonesia termasuk para peserta rembug inspiratif untuk meneladani spirit orang Jepang. “Dahulukan kesejahteraan bangsa (orang lain) dengan mengkolaborasikan teknologi, sains, ketrampilan, dan dengan hati yang setulus-tulusnya melahirkan karya-karya yang akan mengguncangkan dunia.” Begitulah mantra ajaib yang didapatkan Ricky ketika bekerja di sebuah perusahaan Jepang dan kini ditularkannya pada peserta rembug inspiratif siang itu. Mantra itulah yang selalu menjadi pemantik spirit Ricky sejak masih bekerja di Jepang hingga detik ini. Jika kita mampu mempunyai spirit yang sedikit lebih baik dari spirit orang Jepang tersebut, maka Ricky yakin bahwa Indonesia akan menjadi lebih baik. Dan pada akhirnya bangsa ini akan benar-benar berada pada posisi yang merdeka seutuhnya, yaitu ketika semuanya setara dan sama-sama sejahtera. Tak peduli latar belakang pekerjaannya, baik buruh, petani, pengusaha, dan yang lainnya, semua sama-sama mendapatkan kesejahteraan dalam segala hal.

Di akhir pembicaraannya itu, ada sebuah sindiran halus yang dilontarkan Ricky terhadap bangsa Indonesia. Dengan berapi-api Ricky mengatakan bahwa bangsa Indonesia itu hebat, ahli dalam segala bidang. Ketika sedang musim perpolitikan, semua menjadi ahli politik. Ketika terjadi kecelakaan, semua menjadi ahli perhubungan dan lain sebagainya. Akan tetapi saat ditanya apa keahlian mereka, justru jawabannya hanya satu yang mereka tidak ahli, yaitu tidak ahli dalam bidangnya. Senada dengan perkataan Ricky tersebut, Dr. Hery Budianto juga telah memaparkan dalam prolognya, bahwa bangsa Indonesia dalam bermoral tidak mengenal Tuhan dan dalam berteknologi tidak berdasarkan ilmu pengetahuan. Betapa latahnya bangsa ini, sampai-sampai kehilangan jati dirinya sendiri.

Menyongsong Kemandirian Pangan

Setelah Ricky memaparkan materinya, Dr. Hery Budianto mempersilakan Dr. Anton Muhibudin untuk menjadi pembicara selanjutnya. Beliau merupakan sosok yang ahli dalam pertanian, juga telah menemukan nutrisi tanah. Dengan penuh ketelatenan, Dr. Anton mulai mengajak para peserta memasuki alur pemikiran mengenai kemandirian pangan. Akar masalah dari kemandirian pangan adalah karena masih adanya masalah yang cukup rumit dalam dunia pertanian Indonesia. Selama ini Indonesia masih kurang dalam pemenuhan beras yang menjadi makanan pokok mayoritas masyarakat Indonesia. Dan pada akhirnya kondisi ini berujung pada jalan impor beras dari luar negeri. Dari segi pupuk pun, para pahlawan nasi juga masih kekurangan. Entah karena masih mahalnya harga pupuk atau memang karena kantong para petani yang belum mampu menjangkau harga pupuk tersebut. Ya begitulah nasib orang-orang berjasa yang masih belum sejahtera.

Cak Fuad: Identifikasi Keterjajahan
Cak Fuad: Identifikasi Keterjajahan

Menurut data yang ada, lahan pertanian di Indonesia hanya sekitar 8 juta hektar atau masih 3% dari luas daratan. Padahal, menurut Dr. Anton untuk mencukupi kebutuhan pangan seluruh masyarakat Indonesia dibutuhkan minimal 15 juta hektar lahan pertanian yang produktif. Bisa dilihat, betapa masih jauhnya luas lahan pertanian kita dari kata cukup. Tidak heran jika sampai saat ini kita masih belum mandiri dalam pangan dan masih  menggantungkan pada kiriman beras dari negara lain.

Jika dilihat dari progam-progam pemerintah, sebenarnya pemerintah juga sudah mencanangkan progam-progam yang apik untuk mengatasi masalah pertanian tersebut. Di antara progam-progam tersebut yaitu perluasan lahan pertanian di luar jawa, pemanfaatan lahan gambut, kesepakatan akses pasar dengan WTO, dan perluasan produk. Akan tetapi, yang sangat disayangkan sampai detik ini progam-progam tersebut belum berjalan seutuhnya. Untuk itu, Dr. Anton mengajak para petani khususnya untuk mulai sedini mungkin menyikapi masalah pertanian tersebut dengan sumber daya alam yang ada. Masih berdasarkan pemaparan Dr. Anton, bahwa sumber daya alam Indonesia sangat besar bahkan mungkin yang paling besar di seluruh dunia. Hanya saja, pemanfaatannya yang belum maksimal. Bisa jadi ini merupakan salah satu akibat dari belum merdekanya bangsa ini dalam energi, karena untuk merdeka pangan dibutuhkan merdeka energi. Terlepas dari itu semua, menurut Dr. Anton yang seharusnya menjadi fokus bersama adalah progam perluasan pertanian. Jika kita mampu memanfaatkan lahan gambut, dan lahan-lahan bekas pertambangan yang luasnya sekitar 28 juta hektar untuk lahan pertanian, maka kebutuhan pangan masyarakat Indonesia akan lebih dari cukup. Bahkan bangsa ini bisa kembali menjadi swasembada beras seperti beberapa puluh tahun silam.

Dana yang dianggarkan pemerintah untuk peningkatan produksi pertanian di Indonesia ini sekitar 20 triliun setiap tahunnya. Di lain sisi, selama ini ekologi yang diterapkan dalam lahan bekas tambang tidak tepat. Hal ini mengakibatkan tidak bisa dimanfaatkannya lahan bekas tambang tersebut, sehingga dana yang dikeluarkan untuk pembenahan lahan bekas tambang tersebut terbuang begitu saja tanpa ada hasil yang memuaskan. Sementara itu, lahan gambut di Indonesia kondisinya bagus sekali dan ini tercipta akibat proses yang panjang. Akan tetapi, yang masih menjadi celah adalah PH lahan gambut tersebut netral, sehingga menurut teori kurang bagus untuk dijadikan lahan pertanian. Kemudian keadaan tersebut diatasi dengan memberikan kapur yang menghabiskan miliaran kubik. Akan tetapi, ternyata masih belum memberikan hasil, Ph-nya tidak bisa naik signifikan.

Melihat keadaan yang ada, sudah menjadi PR kita bersama untuk memikirkan cara agar bisa memanfaatkan lahan gambut dan bekas pertambangan yang luasnya sekitar 28 juta hektar tersebut. Masalah tersebut sebenarnya sudah dipecahkan oleh Dr. Anton. Melalui penelitiannya, Dr. Anton telah menemukan nutrisi tanah yang dapat menyuburkan tanah tanpa harus menggunakan pupuk. Bahkan, kondisi ini bisa bertahan sampai kurang lebih sekitar 100 tahun. Dr. Anton sangat optimis, dengan melihat kondisi Indonesia saat ini, beliau yakin bangsa ini bisa memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Berdasarkan temuan Dr. Anton tersbut, para petani tidak perlu risau akan harga pupuk kimiawi yang melambung tinggi. Hal ini dikarenakan, para petani tidak perlu membeli pupuk kimiawi dan bahkan bisa membikin pupuk sendiri dengan cara yang tergolong mudah.

Lebih lanjut, Dr. Anton sangat terbuka untuk siapa saja yang ingin mempelajari hasil temuan beliau mengenai nutrisi tanah tersebut. Pada intinya, kalau kita mau sebenarnya kita mampu. Indonesia negara yang hebat dan punya tanah yang kaya akan mikroba. Inilah yang tidak bisa dikejar oleh negara-negara yang lainnya. Karena setelah diteliti, ternyata kandungan-kandungan mikroba yang digunakan untuk menutrisi tanah tersebut tidak ditemukan di negara yang lainnya. Hasil temuan Dr. Anton tersebut sudah dipraktekkan di Jombang dan hasilnya juga memuaskan. Dalam forum tersebut, Dr. Anton mempersilakan untuk para petani di Malang dan siapa saja yang ingin belajar mempraktekkannya secara langsung.

Setelah kedua pakar tersebut selesai memaparkan materinya yang begitu luar biasa, Dr. Hery membawa para peserta ke dalam sesi tanya jawab. Para peserta diberikan kesempatan untuk bertanya kepada para pemateri. Namun, sebelum sesi tanya jawab dimulai, para peserta dimanjakan dengan suguhan sebuah lagu kritis yang dibingkis dengan suara empuk yang dibawakan oleh Almas dan Cussy.

Setelah terhibur dengan lagu dari Almas dan Cussy yang syarat akan fenomena Indonesia saat ini, para peserta pun dipersilakan untuk mengutarakan pertanyaan-pertanyaan yang sudah mengganjal di benak mereka. Para peserta terlihat antusias menanggapi kesempatan untuk bertanya kepada para pakar tersebut. Hal ini terlihat dari saling berebutnya mereka untuk menjadi penanya pada kesempatan itu. Pertanyaan-pertanyaan kritis pun satu persatu mulai terlontar dari para peserta. Mulai dari yang menanyakan bagaimana caranya untuk berkontribusi pada Indonesia sampai ada seorang koordinator petani Malang Raya yang mengeluhkan ketidakseriusan pemerintah dalam menjalankan progam-progam yang telah dicanangkan untuk para petani.

Ada juga yang bertanya terkait cara mempengaruhi para petani untuk  mengamalkan apa yang telah disampaikan Dr. Anton mengenai penanaman dengan memanfaatkan nutrisi tanah tersebut. Selain itu, ada juga seorang pengelola sebuah yayasan pendidikan yang menanyakan terkait cara untuk melahirkan siswa-siswi yang kapabel dalam ilmu pengetahuan dan teknologi serta menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas dalam kehidupan sehari-hari, seperti para pemateri yang begitu tulus menularkan ilmunya dalam rembug inspiratif siang itu. Bahkan, ada seorang mahasiswi yang mengkritisi sikap Ricky dan kita yang terlalu mengkhawatirkan saudara-saudara kita yang berada di daerah terluar dan tertinggal. Menurut mahasiswi tersebut, bisa jadi mereka justru malah bahagia dengan keadaannya tersebut dan justru kitalah yang tinggal di perkotaan yang membutuhkan bantuan untuk keluar dari zona ketidakbahagiaan. Begitu antusiasnya para peserta memaksimalkan kesempatan siang hari itu, sampai-sampai ada yang meminta untuk dibuatkan sebuah grup dalam dunia maya, sehingga nanti tetap masih bisa sharing meskipun sudah tidak lagi bertemu dalam satu ruang dan waktu.

Big Homework; Ndandani Mental. Golek Opo Maneh? Wes Ono Kabeh!

Selanjutnya, Dr. Hery memberikan kesempatan untuk menjawab pertanyaan tersebut pertama kalinya kepada Dr. Anton. Hal ini dikarenakan banyaknya para petani yang hadir dalam acara tersebut, selain itu karena masalah pangan merupakan masalah yang cukup urgent. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Soekarno, Bapak Proklamator RI, bahwa jika maslah pangan di Indonesia ini sudah teratasi maka dapat dipastikan masalah-masalah dalam sektor yang lainnya pun akan teratasi. Pun sebaliknya jika masalah pangan belum tercukupi, maka akan muncullah masalah-masalah dalam sektor yang lainnya.

Dr. Hery Budianto, penemu Diva Soil Stabilizer.
Dr. Hery Budianto, penemu Diva Soil Stabilizer.

Mengenai masalah pertanian, Dr. Anton meyakinkan para peserta khususnya para petani yang hadir siang itu mengenai hasil penelitiannya terkait nutrisi tanah tersebut. Berdasarkan pemaparan beliau, jika para petani sudah menerapkan langkah-langkah nutrisi tanah tersebut, maka para petani jelas akan mendapatkan beberapa keuntungan. Dengan mengaplikasikan teknik nutrisi tanah tersebut, maka para petani tidak akan pernah mengalami krisis pupuk. Seperti yang sudah dipaparkan oleh Dr. Anton dalam presentasinya, bahwa cara kerja hasil temuan beliau tersebut dapat menutrisi tanah secara alami hingga sekitar 100 tahun. Jadi, meskipun tanpa pupuk, tanah tersebut akan tetap menjadi tanah yang subur. Selain itu, untuk menjalankan teknik nutrisi tanah tersebut biayanya sangat terjangkau.

Satu lagi yang perlu ditegaskan kembali, bahwa teknik nutrisi tanah ini sifatnya alami. Hal ini terjadi karena bantuan seleksi alam. Sehingga tidak semua tanah dapat diperlakukan dengan menggunakan teknik nutrisi tanah tersebut. Menurut penuturan Dr. Anton, beliau juga sudah meneliti kandungan tanah di negara-negara yang lainnya, dan beliau tidak menemukan tanah yang kandungannya sebagus kandungan tanah Indonesia. Bersyukurlah kita karena dianugrahi tanah dan sumber daya alam lainnya yang berlimpah ruah. Sekarang saatnya kita memikirkan cara terbaik untuk mengolah dan merawat anugrah terindah dari Sang Maha Pemurah tersebut.

Mengenai soal pendidikan, Dr. Anton menyodorkan solusi untuk pendidikan yang ada di Indonesia. Beliau yang juga menjabat sebagai pimpinan sebuah universitas di Jombang tersebut mengusulkan bahwa para pelajar di Indonesia untuk dididik menyatu dengan alam. Jadi, tidak hanya sekedar teori yang didapatkan, akan tetapi lebih dari itu para pelajar tersebut akan mendapatkan pengalaman dan pemahaman yang lebih mendalam dalam prakteknya.

Dengan ciri khas Ricky Elson yang tidak pernah takut tampil beda dan juga berpendapat, setelah Dr. Anton menyudahi pembicaraannya, Ricky pun tak segan-segan menjawab pertanyaan-pertanyaan dan menanggapi pernyataan-pernyataan para peserta. Kunci untuk berkontribusi pada Indonesia sebenarnya adalah rasa tanggung jawab. Apapun profesi kita, apapun jabatan kita, apapun status kita, jika kita benar-benar merasa bertanggung jawab akan itu semua, maka kita pun akan terdorong untuk melakukan yang terbaik untuk Indonesia. Tentunya, kontribusi tersebut tidak terlepas dari posisi kita dalam bermasyarakat dan bernegara.

Menyikapi pernyataan salah seorang peserta yang menyatakan bahwa kita tidak perlu sibuk-sibuk memikirkan dan merasa kasihan pada saudara-saudara kita yang tinggal di daerah tertinggal dan terbelakang, Ricky pun menceritakan pengelamannya selama tiga hari tinggal di daerah Sumbawa. Selama tiga hari di sana, untuk mengambil air bersih saja Ricky harus berjalan sejauh 3 kilometer. Ricky pun tidak bisa membayangkan bagaimana mereka mampu bertahan hidup bertahun-tahun dalam kondisi yang seperti itu. Melihat kondisi saudara kita yang seperti itu, masihkah kita bersikap acuh dan menganggap mereka bahagia? Itulah salah satu yang memotivasi Ricky untuk semangat berbuat dan berbagi untuk negeri. Ricky pun sadar, dengan hanya satu Ricky, satu Dr. Anton, dan satu Dr. Hery masalah di Indonesia tidak akan selesai. Untuk itu, Ricky dengan semangat yang berapi-api mengajak dan menularkan semangatnya kepada para pemuda Indonesia yang menjadi generasi penerus bangsa.

Lebih lanjut, Ricky mengungkapkan bahwa masalah mendasar yang tengah kita hadapi adalah permasalahan mental. Mental yang cenderung pesimis dan menyalahkan keadaan. Seakan menutup mata akan hikmah-hikmah yang bertebaran dalam setiap kejadian. Berulang kali secara tersirat Ricky menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang hebat. Sejak kecil, anak-anak Indonesia sudah diajari dengan teknologi-teknologi yamg tidak ada tandingannya. Tanpa disadari, sejak kecil anak-anak Indonesia sudah terlatih mempraktekkan teori-teori dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Melelehkan timah dengan menggunakan serabut kelapa misalnya. Siapa yang menyangka bahwa anak-anak Indonesia ini kaya akan cara untuk melelehkan timah yang titk didihnya mencapai 200 derajat celcius. Dan Ricky bangga akan itu. Dr Hery mempertegas, semua sudah ada di negeri ini, golek opo maneh? Wes ono kabeh, tinggal bagaimana mau memaksimalkannya.

Karena masalahnya adalah permasalahn mental, maka solusinya dalah tentang bagaimana menyikapinya. Jika dilihat dalam lakon sejarah, Indonesia sebenarnya tidak pernah kekurangan pemimpin-pemimpin yang hebat. Mulai dari Soekarno sampai dengan Jokowi yang kini tengah meminpin negeri ini, mereka semua adalah orang-orang yang hebat. Akan tetapi, yang harus digarisbawahi dan selalu diingat adalah selama kita masih berharap pada manusia, maka selama itulah kita akan merasakan kekecewaan. Sudah seharusnya hanya kepada Tuhan semesta alam kita berharap. Karena hanya Dia-lah yang tidak pernah memberikan harapan palsu kepada para makhluk-Nya. Untuk itu, hiraukan janji-janji ‘mereka’ yang telah menjanjikan kesejahteraan kepada kita. Kenapa juga kita masih berharap pada sesuatu yang tak pasti. Di akhir pembicaraannya, Ricky mengungkapkan bahwa kemalasan kitalah sebenarnya yang membuat kita terjajah. Kebodohan kitalah yang membuat kita terbelenggu. Oleh karena itu, mari kita tumbuhkan dan pupuk rasa tanggung jawab dalam diri kita masing-masing. Bersikap terbaik untuk mengatasi bisikan-bisikan mental kita yang terkadang merayu untuk lena dalam lautan kemalasan dan kebodohan. Tidak ada yang tidak bisa. Indonesia bisa. Semua bisa atas izin-Nya.

ReLegi teknologi dengan tagline terus terjaga di lorong masa, seluruh rangkaian acara tak lepas dari ide kreatif Sang Guru, Cak Dil yang dengan sabar membimbing pegiat-pegiat Relegi. Selain itu dipertemukan pula dalam kesempatan tersebut perwakilan masyarakat Sapudi Madura yang telah mempraktekkan langsung Diva soil stabilizer dan akan berkembang pula ke maksimalisasi energi listrik dan energi angin di pulau tersebut. Dan kunci dari semuanya adalah Bersama-sama, juga ada berapa anak muda yang mau mengembangkannya, tegas Cak Dil di akhir sesi.

#ker; bahasa walikan khas Malang raya dari rek, arek-arek.

Ditulis oleh Hilwin Nisa’ & Nafisatul Wakhidah