Catatan dari Majelis Ilmu Padhangmbulan 27 November 2015

Mbok Dimaafkan, Jangan Dendam Terus

Mbok dimaafkan, karena Ali sendiri juga ikhlas, Abu Bakar ya sudah mengaku punya kesalahan (khomsun ‘ala khomsin). Mengapa kita suka dendam terus.

Di antara semua majelis ilmu Maiyah, Padhangmbulan adalah yang tertua. Sejak awal, ia dipilari oleh dua tiang penggapaian ilmu: tafsir tekstual (referensial) dan tafsir kontekstual. Tafsir tekstual di sini hendaknya tidak dipahami sebagai tafsir yang skripturalis, sempit, dan terpatok pada makna harfiah saja, tanpa ada upaya mentransformasikan pesan-pesan al-Quran ke dalam kehidupan. Yang dimaksud tafsir tekstual di sini adalah upaya mendapatkan ilmu al-Quran dengan pertama-tama mempelajari dan membaca nash-nash al-Quran itu sendiri terlebih dahulu, kemudian merujuk pada Sunnah Rasulullah serta kitab-kitab para ulama untuk membantu memahami pesan-pesan al-Quran. Seluruhnya itu merupakan tahapan yang memang seharusnya demikian. Itulah yang sejak awal menjadi acuan dan pagar bagi berlangsungnya tematik Padhangmbulan. Di situlah jamaah nyucup ilmunya Cak Fuad, sebagai pengampu utama di majelis ilmu Padhangmbulan.

Sedangkan tafsir kontekstual adalah respons-respons atas pembacaan nash-nash al-Quran yang dikaitkan dengan kenyataan hidup sehari-hari, yang berlangsung sebagai fenomena aktual, baik pada tingkat individu, kelompok, masyarakat, bangsa, hingga lingkup internasional. Dalam posisi itu, kerapkali tafsir yang dihasilkan dari penyimakan atas nash menjadi atau menghasilkan sudut pandang-sudut pandang yang khas atas realitas. Di sinilah, kita nyucup ilmu dari Cak Nun.

Kombinasi dua tafsir itulah yang secara kuat menjadi karakter Padhangmbulan dan telah berlangsung selama 23 tiga tahun. Dan, sebagai majelis ilmu yang paling sepuh di lingkungan Maiyah, Padhangmbulan makin memperlihatkan aura kematangannya. Seperti terasakan pada Padhangmbulan 27 November 2015.

Padhangmbulan Edisi November 2015
Padhangmbulan Edisi November 2015

Malam itu, Cak Fuad memulai Padhangmbulan dengan menjelaskan apa yang dimaksud tafsir. Bagi Cak Fuad, penafsiran tidak akan pernah berhenti sampai hari kiamat, sebab ia adalah upaya menggapai kebenaran sebagaimana yang dimaksud oleh Allah. Tetapi, penafsiran itu sendiri sifatnya tidak mutlak. Cak Fuad kemudian memaparkan tiga jenis penafsiran al-Quran yang selama ini ada dan telah berkembang. Tafsir bir-Riwayah, tafsir bir-Ra’yi, dan tafsir bil-isyarah.

Tafsir bir-riwayah bersumber dari Rasul dan para Sahabat. Tafsir Ibnu Katsir, misalnya, dipenuhi dengan hadis. Sangat dominan warna di mana Ibnu Katsir mencari apa kata Nabi dan Sahabat dalam memahami ayat-ayat al-Quran.

Tafsir bir-ra’yi adalah adalah tafsir yang berupaya menjelaskan ayat berdasarkan ra’yu (pandangan, akal) dari sang mufassir. Jenis tafsir ini dulu ditolak, karena dianggap tidak boleh. Tetapi usai Ibnu Katsir, lahir banyak tafsir bir-ra’yi, meskipun dengan tidak mengesampingkan riwayat. Pada jenis tafsir ini, biasa terjadi perbedaan pendapat. Para mufassir juga sangat menyadari hal ini. Maka mereka biasa mengatakan, “Menurut saya seperti ini…, bukan menurut al-Quran langsung. Tetapi di sini orang pun bisa bingung, kata al-Quran begini, kok orang bilang begitu. Maka harus dikembalikan pada proporsinya, dan diakhiri dengan “Wallahu a’lamu bimurodihi (Dan Allah maha lebih mengetahui dengan maksudnya),” jelas Cak Fuad.  Ada kerendahan hati yang terbangun di situ. Kitab al-Muwattho’ karya Imam Malik mau dijadikan rujukan oleh Harun al-Rasyid Dinasti Abbasiyah dan ditolak oleh Imam Malik dengan alasan kerendahan hati mungkin di sana al-Muwattho’ kurang cocok atau ada kitab lain yang lebih relevan dengan kondisi di sana. Bahkan ketika Harun al-Rasyid meminta Imam Malik untuk menjadi mufti pun ditolaknya.

Para imam-imam lain juga demikian. Imam Hambali dan Imam Syafi’i saling toleran. Pendapat saya benar, tapi mungkin ada salahnya. Pendapat dia salah, tapi mungkin ada benarnya. Demikian postulat yang sudah sering kita dengar dari Imam Syafi’i. “Seperti itulah seharusnya Maiyah,” tegas Cak Fuad.

Adapun tafsir bil-Isyarah adalah tafsir berdasarkan isyarat-isyarat dari Allah. Hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki penafsiran ini. Menurut Cak Fuad, “Seoalah-olah tidak ada hubungan atau kaitan, tapi kalau dipikir-pikir mathuk (pas/cocok) juga. Kata “Rabb” yang dalam penafsiran Cak Nun ditangkap dan dirasakan ada suasana nggendong di dalamnya, seperti terlambangkan pada lengkung huruf ro’ dan ba’, yang seperti menampung, adalah juga tafsir bil-isyarah”. Tentu ada kritik terhadap jenis tafsir ini, tetapi pada prinsipnya, menurut Cak Fuad, tafsir bil-isyarah dapat diterima sepanjang tidak bertentangan dengan makna dhahir ayat, dan berbeda boleh.

Orang Awam

Selanjutnya muncul pertanyaan, bagaimana dengan orang awam yang tidak tahu bahasa Arab? Bagaimana pula jika seseorang itu bukan mufassir, tapi berupaya memahami, bolehkah? Dalam pandangan Cak Fuad, seraya mengutip pendapat Syaikh Muhammad Abduh, orang awam boleh melakukannya sepanjang hal itu mendekatkan dirinya kepada Allah. Tetapi jika di tengah jalan mulai muncul pikiran “kok al-Qur’an seperti itu”, maka saatnya dia bertanya kepada ahlinya, “fas-alu ahladz dzikri in kuntum la ta’lamun” (bertanyalah kepada orang-orang yang mengerti jika kalian tidak mengetahui).

Dengan kata lain, sesunggunya al-Quran bersifat  terbuka untuk dibaca, dipahami, ditelaah, dan dikaji siapa saja. Tetapi memang ada keragu-raguan karena membayangkan untuk memahami al-Quran itu sulit. Dalam sejarahnya di Indonesia, cerita Cak Fuad, dulu Belanda menghembuskan bahwa umat tidak boleh menafsirkan al-Quran dengan maksud supaya umat tidak paham agama dan dengan begitu mudah dijajah.

Belajar Dari

Dari dasar-dasar yang dikemukakan Cak Fuad, serta berangkat dari kesadaran bahwa Maiyah menjadikan Islam dan al-Quran sebagai metodologi, Kiai Muzammil kemudian mengintroduksi dua ungkapan: “mempelajari” dan “belajar dari”. Mempelajari (menafsir, atau hendak menjadi mufassir) al-Quran diperlukan sejumlah syarat dan kriteria yang harus dipenuhi layaknya di dunia kesarjanaan. Tetapi belajar dari al-Quran tidak disertai syarat-syarat ketat seperti pada konteks kesarjanaan. Ia lebih longgar. “Cak Nun itu belajar dari al-Quran. Bahkan beliau juga belajar dari syariat. Sementara kebanyakan kita mempelajari syariat, hukum, fikih, dan lain-lain tetapi tidak belajar dari semua itu. Seperti halnya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani yang sesudah putus asa karena merasa sulit dalam memahami ilmu-ilmu yang dipelajari, lalu pulang dan di tengah jalan ia tertumbuk pada suatu fenomena kecil. Sebuah batu yang berlubang, dan dari atas menuju lubang itu menetes air setetes demi setetes. Batu yang keras itu bisa berlubang karena tetesan-tetesan air secara kontinu. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani berpikir, mengapa tidak demikian halnya dengan hati dan pikiranku. Pasti tetesan-tetesan ilmu bisa masuk ke dalam hati dan pikiranku. Kembalilah ia ke pesantrennya. Itulah Ibnu Hajar yang “belajar dari” batu. Bahkan kita juga belajar dari keruwetan-keruwetan Indonesia. Kata-kata bukan hanya berbentuk ucapan, tapi batu, dan apa saja juga berkata-kata,” ujar Kiai Muzammil mendeskripsikan perbedaan antara “mempelajari” dan “belajar dari”.

Maka Ada Sinau Bareng

Apa yang di atas digambarkan oleh Kiai Muzammil, bagi Cak Nun adalah salah satu wujud implementasi dari pesan Allah “Mereka yang mendengarkan ucapan (qaul), lalu mengikuti yang terbaik”. Lebih jauh, Cak Nun selanjutnya memperkaya “rasa” atas mempelajari dan belajar dari atau kepada. Dalam konteks tertentu, mempelajari itu mengandung di dalamnya suasana senioritas terhadap atau atas apa yang dipelajari, seperti pada ungkapan ini, “Saya pelajari orang itu”. Sementara, belajar dari atau kepada adalah satu bentuk ketawadlu’an. Cak Nun memberi contoh, “Kalau saya bilang, Tuhan, aku berguru kepada-MU, jangan disimpulkan saya muridnya Allah. Itu butuh pengakuan dari Allah.”

Di Rusia, tutur Cak Nun, ada orang sekampung masuk Islam karena melihat orang sujud, saling salaman, dan saling akrab satu sama lain. Artinya, dia tidak secara langsung membaca al-Quran, melainkan mereka melihat fenomena. Mereka melihat “ayat”. Bagi Cak Nun, fenomena tersebut ada kaitannya dengan ayat terakhir surat al-Fath. “Muhammadur rosulullahi wal ladziina ma’ahu asyidda-u’alal kuffari rukhamau bainahum tarohum rukka-an sujjadan yabtaghuna fadhlan minallahi wa ridhwana, siimahum fi wujuhihim min atsaris sujud….”

Dengan paparan-paparan di atas, maka sangat pas bila beberapa tahun terakhir ikon Maiyahan adalah “Sinau Bareng”. Bersama-sama belajar. Tambahan pula, menurut Cak Fuad, kecenderungan ini sejalan dengan sabda Nabi: “Khoirukum man ta’allamal qur’ana wa ‘allamahu (Sebaik-baik kalian ialah orang yang belajar al-Quran dan mengajarkannya). Sementara itu di dalam al-Quran tidak terdapat perintah untuk menafsirkan, tetapi yang ada adalah ‘tadabburul quran’. Tadabbur serumpun kata dengan ‘dubur’, yang artinya tempat keluar. Dalam hal ini, tadabbur adalah proses di mana yang terpenting adalah “apa sesudahnya”, “what’s next”, “terus bagaimana”, “apa outputnya”. Dengan tadabbur, orang beraksentuasi pada tahapan-tahapan sesudahnya, bukan berkutat pada satu hal (input) saja. Dengan tadabbur al-Quran, orang diajak berpikir: setelah memahami, apa yang hendak engkau lakukan.

Sebagai bagian dari tadabbur al-Quran, Cak Nun mengatakan bahwa kalau kita mempelajari al-Quran dengan pendekatan Barat, yang didapat kira-kira sedikit atau tidak banyak, karena rubrikasi atau keredaksian al-Quran itu sangat khusus dan spesifik. “Kalau mempelajari al-Quran, kosongkan dirimu dari dunia. Pejamkan mata, lalu buka al-Quran. Setiap titik di dalam al-Quran adalah pusat. Kecuali Anda seorang mufassir, schoolar, intelektual yang disertai syarat-syarat yang ketat.”

Karena Maiyah berisi beragam latar belakang orang, bukan himpunan yang berisi sarjana atau schoolar, tetapi banyak yang datang dari lapisan masyarakat awam, yang tak semuanya “lahap makan bangku kampus”, upaya-upaya memahami al-Quran itu, oleh Cak Nun dengan segenap kerendahan hati dirasa mungkin lebih enak tidak disebut “tafsir” melainkan upaya menggali kebijaksanaan, kearifan, hikmah, atau petunjuk dari al-Quran, seperti sempat disampaikannya di Mocopat Syafaat 17 November 2015 lalu. Dan Cak Nun merasa paling jauh kalau boleh disebut ya seperti itulah posisi penjelasan-penjelasan yang dipaparkannya menyangkut nash-nash al-Quran selama ini di berbagai forum Maiyah. Maiyah sangat menghormati dan memahami semesta “tafsir al-Quran” yang dipenuhi dengan syarat-syarat yang ketat, dan menjadikannya sebagai rujukan, tetapi pada saat yang sama Maiyah mengajak jamaah menikmati keindahan ilmu al-Quran lewat tetap terbukanya pintu “belajar dari” al-Quran.

Rabb-Malik-Ilah

Salah satu praktik penggalian ilmu dari al-Quran yang tengah dilakukan Maiyah adalah pendalaman atas surat an-Naas. Di dalam surat tersebut Allah menampilkan diri dalam urutan Rabbin Naas (pengasuh manusia), Malikin Nass (Penguasa manusia), dan Ilahin Naas (Sesembahan manusia). Melalui sensibilitas Maiyah, urutan tersebut disengaja oleh Allah untuk memberikan ilmu kepada manusia. Jika membangun sesuatu untuk orang lain, masyarakat, atau apapun, seperti itulah urutannya. Rabb melambangkan pengasuhan, kasih sayang, mengayomi, kesediaan memfasilitasi, menampung, mencintai, memberi, dan laku-laku sejenis. Sebelum mengharapkan apa-apa, seseorang harus menjalankan nilai-nilai kepengasuhan itu. Syukur yang terjadi cukup “Rabb”, tak perlu seseorang berkembang menjadi “malik/raja/penguasa” atas orang lain, apalagi “Ilah/menonjol eksistensi diri”. Itulah sebabnya, beberapa bulan belakangan Maiyah berbicara tentang shadaqah dan kepengasuhan.

Dari Rabb-Malik-Ilah, Maiyah mendapatkan pendekatan atau rumus manajemen hidup. Dan secara menukik ke realitas, melalui kacamata pendekatan Rabb-Malik-Ilah, yang terlihat di dalam masyarakat kebanyakan adalah kebalikan urutan ketiga fungsi tersebut. Kebanyakan orang sibuk dan ribut pada ‘eksistensi diri atau meng-“ilah”-kan diri. Para politikus menonjolkan dirinya di hadapan masyarakat untuk mendapatkan “kuasa atau malik”, yang seakan-akan nanti mereka akan memberikan “rabb” atau pengayoman atau kesejahteraan setelahnya, tetapi ternyata sesudah terpenuhi “malik”-nya, tidak juga “robbin naas”, tidak juga memberikan sesuatu buat masyarakat. Maiyah membatasi dan mengoptimalkan diri pembelajaran dan langkah-lakunya pada “Rabbin Naas”. Sebab Maiyah mengerti bahwa “ilah” itu mudah, bahwa mengedepankan eksistensi diri itu gampang, “aku ini, aku itu, ini lho aku…”, tetapi menjalankan “rabb” itu tidak mudah. Dalam praktiknya, impelementasi kesadaran “rabb” berlaku dalam bidang atau lapangan apa saja. “Saya nggak pernah sentuh ‘ilah/eksistensi’ dan ‘malik/kekuasaan’, tetapi lebih banyak mengerjakan ‘rabb/pengasuhan’ pada perpolitikan nasional,” ujar Cak Nun.

Perseteruan Sunni-Syiah

Berangkat dari paparan mengenai “tafsir” dan “menggali ilmu dan hikmah dari al-Quran”, perbedaan “mempelajari” dan “belajar dari”, serta pendekatan “rabb-malik-ilah”, pembahasan dari Cak Fuad, Cak Nun, dan Kiai Muzammil mengalir dengan alur yang enak, dan aliran itu sekaligus menjawab atau merespons pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari jamaah.

Di antaranya ada yang melontarkan pertanyaan seputar Sunni-Syiah yang akhir-akhir ini terus dipanas-panaskan untuk bertentangan dan berseteru. Kiai Muzammil mengatakan, selama ini kita hanya mempelajari Sunni-Syiah saja, tetapi tidak belajar dari atau ambil pelajaran dari Sunni-Syiah. Janganlah orang Syiah mempelajari Syiah untuk menyerang Sunni, atau sebaliknya.

Sementara itu Cak Nun menegaskan, “Soal Syiah-Sunni, ayo didandani dulu gilingan (cara berpikir) kita. Mengapa to kok kita senang banget dengan dendam. Mbok dimaafkan, karena Ali sendiri juga ikhlas, Abu Bakar ya sudah mengaku punya kesalahan (khomsun ‘ala khomsin). Mengapa kita suka dendam terus. Mbok jangan Syiah banget, mbok jangan Sunni banget, mbok Islam banget gitu. Kalau Engkau muslim, engkau harus berani kehilangan apa saja. Mbok sesekali berpikir ‘aku ini siapa kok nyalah-nyalahke, aku ini siapa kok membangga-banggakan’. Kalau Anda orang Islam, dirimu adalah perilaku Islam-mu. Kalau Anda bertauhid, Anda harus berani kehilangan ‘diri’.”

Lebih jauh Cak Nun mendeskripsikan, gontok-gontokan soal Sunni-Syiah ini adalah gambaran nyata bahwa kita terlalu sibuk membesar-besarkan atau membela “ilah/eksistensi kelompok, madzhab, firqah, atau pemikiran” kita sendiri. Kita tidak memulai dari “rabb” yang menekankan keluasan jiwa dalam kepengasuhan.

Kembali ke pendekatan rabb-malik-ilah, Cak Nun menggarisbawahi, “Pada rabb ada dua pihak, malik juga dua pihak, tetapi pada ilah hanya ada satu pihak yang menjadi fokus. Dalam konteks sosial kalau bisa jangan berorientasi pada ‘malik’ dan ‘ilah’, tetapi ‘rabb’, meskipun dalam hal lain atau situasi tertentu bisa sebaliknya.” Kemudian dijelaskan oleh Cak Nun, bahwa ini bukan tafsir, melainkan upaya mendayagunakan al-Quran untuk memperbaiki hidup kita. “Tolok ukurnya adalah adalah mendekatkan diri kepada Allah. Tapi bisa dimanipulasi? Iya, tetapi kan Anda juga tahu dan merasakan manipulasi itu, kalau memang ada dan berlangsung manipulasi itu,” tegas Cak Nun.

***

Malam itu Majelis Ilmu Padhangmbulan, yang berlangsung di halaman Pesantren Padhangmbulan, tempat para jamaah duduk lesehan di sebidang tanah yang cukup luas di bawah naungan pohon-pohon jatimas, dihadiri sangat banyak generasi muda, yang sangat intens dan khidmat menyimak uraian-uraian dari Cak Nun, Cak Fuad, dan narasumber lain. Sangat mengagumkan militansi mereka datang dari jauh menuju desa Mentoro yang agak terpencil dan jauh dari desa-desa sekitar. Dan di sinilah mereka, meminjam istilah Cak Nun, mengasah gilingan, alias menimba ilmu. “Selama ini kita belum bisa membedakan antara pengetahuan dan ilmu. Ilmu itu gilingan atau metodologi. Nah Maiyah itu berusaha mengasah gilinganmu.” Dan, sebenarnya, yang terjadi bukan saja mereka istiqamah untuk mendapatkan ilmu, tetapi juga belajar bagaimana mendapatkan wisdom atau kearifan dalam melihat dan menyikapi sesuatu. #