Li-Annaka Taísyu Abada

Sejak saya mendengar kata “Juguran” dari lingkaran para Ksatria di arah yang terlintasi setiap kali saya berdiri Takbiratul-ihram menghadap Allah, hingga saat saya menulis ini, tidak pernah berubah pemandangan di angkasa batin saya — juga tidak pernah mau perduli apa makna asli budayanya di kampong halaman kosa-kata itu.

Yakni Rasulullah saw sedang terbang memanggul cahaya sebesar gunung, melintas-lintas dari planet ke planet di beribu-ribu galaksi. Gunung cahaya di punggung beliau itu memancar dan berpendar-pendar, sambil sebagian dari muatan-muatan yang bermacam-macam wujudnya, yang berasal dari kedalaman cahaya itu menabur-nabur seakan tak sengaja, menciprat, terlempar, berguguran, atau apapun namanya karena tidak ada kata yang bias menggambarkan peristiwa dhahiriyah maupun ruhiyahnya.

Festival Paradesa Juguran Syafaat
Festival Paradesa – Juguran Syafaat

Mungkin ada kata ‘prithil’ atau ‘gempil’dan sejumlah kata lagi yang bisa dipakai untuk menambah kelengkapan dan kedekatan terhadap yang saya saksikan. Memori dan saraf pemahaman di susunan akal saya tidak pernah mau mengubah pemahamannya atau taat kepada epistimologi orisinal budayanya dari mana kata itu berasal. Selalu saja kapan saya membaca atau mendengar kata “Juguran Syafaat” assosiasi saya adalah “Prithilan Syafaat”atau “Gempilan Syafaat”.

Dan sebagai warga Peradaban Maiyah saya tidak mau memperdebatkannya dengan akal saya sendiri, terlebih lagi dengan siapapun di luar diri saya. Pertama, karena “al-Haqq”, kebenaran, kasunyatan, tidak bertempat tinggal di kata. Kedua, “wa állama Adama al-asma-a kullaha” terutama bukanlah piwulang Allah kepada Khalifah Pertama tentang kosa-kata, melainkan idiomatik, terminologi, penunjukan-penunjukan suatu pusaran gejala dan peristiwa.

Adam adalah hibrida baru yang berkwalitas “ahsanu taqwim”. Bukan manusia “purba” yang perlu diajari ini batu itu angin, sebab kelak setiap kosa-kata lahir dari komunitas-komunitas manusia sebagai simpul bunyi yang berisi perjanjian untuk penyeragaman sebutan atas sesuatu hal. Allah tidak perlu mengajari langsung di tataran itu. Yang diajarkan Allah kepada Adam adalah piweling bahwa nanti anak cucu Adam akan menjumpai dan mengalami titik-titik koordinat peristiwa, lipatan, pusaran dan kisaran, silang saling silang, bahkan gumpalan maupun ketersembunyian kebenaran-kebenaran yang untuk itu Khalifah disangoni al-áql, mesin berpikir, mesin peneliti, mesin detailing tartiling, sebab setiap ia dan semua mereka harus terus menerus berperang melawan ketidak-mengertian dirinya sendiri, kebodohan dan kelalaian. Apalagi ummat manusia akan harus mengalami suatu zaman di mana orang yang tidak memenuhi syarat sebagai Khalifah-standard saja pun bisa oleh system kedunguan massal dijunjung dan dijumenengkan menjadi Panglima Khalifah.

Di tengah zaman yang sangat memilukan dan memalukan itu, Rasulullah saw menyelamatkan siapa saja yang mencintainya, dengan cara didistribusi taburan Syafaat-syafaat, bahkan secara setengah sengaja Gunung Cahaya yang dipanggul itu oleh beliau dibiarkan “jugur”, “lugur”, “prithil”, “gempil”, menimpa para kekasih menjadi rahmat Allah dalam kehidupan mereka.

Maka qabilah Juguran Syafaat, andaikanpun Maiyah tak pernah bersentuhan dengan mereka, tetap juga karena dinamika “suluk” mereka: juguran syafaat itu mereka peroleh dari lalulintas beterbangannya Rasulullah saw mendistribusikan limpahan-limpahan Gunung Cahaya.

Itu menyebabkan saya membiarkan diri “gedhe rumongso” mengaku-ngaku mereka sebagai anak saya, di dalam pesawat rohaniyah kegembiraan dan kebanggaan hidup saya dalam penugasan yang ini. Anak-anakku itu terampil dan prigel mengolah Bumi, untuk diakhiratkan. Anak-anakku itu canggih dan tekun mengelola materi dan materialitas tidak menjadi materialisme dan tanpa pernah menjadi materialistis.

Anak-anakku yang dilimpahi juguran syafaat oleh Kanjeng Nabi itu sangat memiliki kewaspadaan intelektual dan spiritual untuk tidak menjalani kehidupan ini dengan adrenalis keserakahan mencari laba-laba sebanyak-banyaknya karena beranggapan seolah-olah mereka akan hidup selama-lamanya. Kemudian mengakali dan mengeliminir kerakusannya itu dengan kerajinan ibadah yang dilokalisir dan dimanipulir sebagai satu-satunya tindakan yang bermakna akhirat.

Tidak. Anak-anakku Juguran Syafaat mengolah bumi, bekerja keras, mengendalikan materi, untuk justru diakhiratkan, ditemukan makna keabadiannya, ditarikati akurasi keakhiratannya. Anak-anakku Juguran Syafaat menggenggam batu, kayu, logam, lembaran-lembaran dan cairan-cairan, tidak untuk mendirikan Monumen Bumi, melainkan dirohanikan menjadi Kesejatian Sorga. Sebab mereka bukan sekedar “ka-annaka taísyu abadan”, seakan-akan hidup selama-lamanya, melainkan “li-annaka taísyu abadan” — karena memang engkau hidup hingga abadi, karena ujung perjalananmu adalah menyatu dengan dan kepada Allah, bahkan meniada “menjadi” Allah, karena engkau dan kita semua tidaklah sesungguh-sungguhnya ada. Dan Allah itu abadi. Siapakah selain Allah yang pasti abadi?

Mbah Nun
11 April 2015
Yogyakarta.