Lagi, Kiai Semar Menghilang

Dikisahkan, warga masyarakat Karang Kedempel resah dan sedih karena menghilangnya Kiai Semar. Padahal perannya sangat dibutuhkan saat itu. Masalah-masalah yang kian runyam menunggu turun tangannya. Kiai Semar kemanakah engkau pergi? Ke manakah engkau bersembunyi? Lurah dan seluruh perangkatnya tak lagi sanggup menjalankan fungsinya sebagai petugas penyejahtera rakyat. Malahan sebaliknya, dengan pelbagai cara dan manipulasi.

Para Punakawan lainnya — Gareng, Petruk, dan Gareng, jadi ramai berdebat, merefleksi, dan mencari. Di antara menghilangnya Semar dan tertindasnya warga Karang Kedempel, berlangsung berlapis-lapis pemikiran dan pergulatan. Di tengah ketertindasan, represi politik, pembungkaman suara, dan penjajahan oleh asing, bergema pertanyaan mengapa Semar pergi sementara rakyat Karang Kedempel tak berdaya. Hakikat politik, kedaulatan rakyat, sejatinya kekuasaan, semuanya dipertanyakan kembali.

Sampailah mereka pada suatu kesimpulan: perlunya Carangan: “Carangan ialah mengubah pakem. Menggesernya, merombaknya, atau bahkan menggantikannya sama sekali. Suatu sistem pakem yang menyejahterakan sebagian orang dengan cara menyengsarakan sebaguian besar lainnya, tak bisa diteruskan. Kaum Punakawan, sebagai agen dari Budaya Carangan — yang mencoba menyelusupkan paham-paham baru yang membebaskan — dalam kisah keniscayaan tragis Mahabharata, menunjukkan bahwa masyarakat Karang Kedempel sebenarnya melontarkan kehendak pembebasan secara autentik.” (203).

***

Zaman terus berjalan, melangkah, dan berubah. Novel-esai berjudul “Arus Bawah” ini dulu, 20 tahun silam, telah terbit menjumpai pembaca. Menggedor kesadaran orang-orang, yang hidup tapi tak selalu berdaya dalam kepungan kekuasaan Orde Baru. Menyusupkan dan menyebarkan virus budaya carangan, di atas berlangsungnya mainstream kekuasaan dan politik kala itu, yang baku, pakem, dan hendak dilanggengkan.

Buku Cak Nun - Arus Bawah
Arus Bawah

Judul Buku : Arus Bawah

Penulis : Emha Ainun Nadjib

Penerbit : Bentang Pustaka, Yogyakarta

Cetakan : Pertama, Februari 2015

Tebal : viii+238 halaman

Kini, di awal tahun 2015, novel-esai yang mengajak kita lebih dekat dengan kehidupan negeri karang Kedempel ini hadir kembali. Dan sejatinya, juga mewartakan hal yang sama; Kiai Semar telah menghilang. Ya, Kiai Semar pergi entah ke mana. Padahal penduduk Karang Kedempel kontemporer ini sesungguhnya sedang membutuhkan kehadirannya. Mungkin lebih dari yang dulu. Karang Kedempel yang sekarang ini dikuasai oleh politik tipu daya pencitraan, pemerintahan yang terbelah dan penuh sandiwara, kamuflase demokrasi, maraknya aliran-aliran penyempitan berpikir, riuh rendahnya ocehan dan hujatan di media sosial, aneka tingkah polah nyelfie, dan lebay-nya gaya hidup, amat sangat memerlukan kembalinya Kiai Semar.

Sekurang-kurangnya para Punakawan lainnya, bisa segera menggulirkan gerakan carangan baru. []