Reportase Kenduri Cinta November 2015

Kegembiraan Bersedekah Maiyah Kepada Indonesia

Mereka tidak sanggup menahan anda sampai pagi disini. Maka sedekah anda harus membikin anda bergembira.

Musim penghujan baru menyapa menjelang bulan November, langit hari itu diselimuti mendung, para penggiat Kenduri Cinta menyiapkan pelaksanaan forum bulanan Kenduri Cinta di Pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) sejak siang hari. Mempertimbangkan telah memasuki musim hujan, tenda disiapkan lebih lebar dari biasanya. Baliho Kenduri Cinta edisi November 2015 sudah terpasang di gerbang TIM sejak beberapa hari sebelumnya.

Maiyahan mundur dari biasanya, menjelang pukul sembilan barulah acara dimulai. Nashir mengawali dengan mengajak jamaah membaca Surat Hud, melanjutkan tadarus bulan sebelumnya. Kemudian dilanjutkan bersama-sama melantunkan zikir Hasbunallah, wirid Padhangmbulan dan Shohibu Baitiy. Ibrahim lalu memoderatori sesi awal dan paralel dengan sesi prolog. Bapak Abdullah Hehamahua yang telah hadir sejak jam delapan tampak di panggung bersama Dr. Roby, Adi Pudjo dan Arya Palguna. Jamaah semakin bertambah, tampak sebagian memenuhi warung angkringan di pojok belakang sekedar menikmati minuman hangat dan beberapa kudapan ringan, beberapa sudah pada posisi duduk untuk menyimak paparan dari para narasumber.

Mengalasi diskusi, Adi Pudjo menjelaskan mengapa Kenduri Cinta mengangkat tema Kebahagiaan Bersedekah Maiyah Kepada Indonesia. Tema tidak lepas dari sebuah tagline yang diambil dari salah satu tulisan Cak Nun pada era 70-an: Indonesia bagian dari Desa Saya, yang kemudian diubah sedikit redaksinya menjadi Indonesia bagian dari Maiyah. Dalam pandangan Adi, dengan metode berpikir “Indonesia bagian dari Maiyah” maka apapun yang dilakukan oleh Maiyah kepada Indonesia bersifat sedekah karena Maiyah tidak memiliki kewajiban apa-apa kepada Indonesia. Kewajiban tidak dimiliki sebab setiap lima tahun sekali rakyat telah memilih pejabat pemerintah melalui pemilihan umum, secara langsung rakyat memberikan mandat kepada mereka yang terpilih untuk mengurusi Indonesia, mereka difasilitasi dan dibayar untuk melaksanakan tugas-tugas untuk mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kita yang tidak diberi mandat apa-apa untuk mengurus Indonesia, namun rakyat justru banyak membantu mengurus Indonesia.

Kenduri Cinta November 2015
Kenduri Cinta November 2015

Arya Palguna ikut urun, menurutnya sedekah merupakan kata kerja dan sesuatu yang akan disedekahkan tidak selalu berupa materi, memaafkan juga merupakan bentuk sedekah. Dalam perspektif lain, sedekah adalah wujud pengabdian hamba kepada Tuhannya, meski setiap manusia memiliki motif berbeda satu sama lain. Sedekah juga bisa menjadi sebuah teknologi yang aplikatif. Menurut Arya, setiap orang memiliki potensi yang berasal dari luar dirinya, tidak hanya dari dalam dirinya. Sedekah merupakan salah satu metode yang bisa digunakan untuk memfungsikan potensi tersebut. Sedekah juga bersifat sunnah, artinya tidak menimpakan dosa bagi orang yang tidak melakukannya dan akan membuahkan pahala bagi yang melakukannya. Berbeda dengan zakat, karena ia bersifat wajib maka orang yang sudah diwajibkan akan berdosa manakala ia tidak menunaikannya.

Dalam kesempatan itu, Arya Palguna juga mengkritisi intelektual-intelektual yang kini banyak melakukan pengkhianatan intelektual, hal yang menyebabkan masyarakat bukan hanya tidak terdidik dengan baik namun juga mengkhianati dari prinsip-prinsip dasar keilmuan yang seharusnya membawa masyarakat ke peradaban yang lebih baik.

Ibrahim sampaikan bahwa salah satu tujuan tema diangkat untuk menyadarkan dan merasakan secara fundamental apa itu kebahagiaan. Cak Nun pernah menyampaikan bahwa tidak mungkin Kenduri Cinta tidak membicarakan Indonesia, tetapi bukan kemudian Kenduri Cinta merasa ge-er menjadi pihak yang memiliki kewajiban terhadap Indonesia. “Lantas, jika ternyata kita tidak menemukan kebahagiaan secuil pun atas apa yang kita lakukan (selama 15 tahun terakhir) di Kenduri Cinta, apa yang kita dapatkan?” jelas Ibrahim.

BERSEDEKAH KEPADA INDONESIA

Ibrahim kemudian memberi waktu kepada Pak Abdullah Hehamahua, yang malam itu merupakan kali ketiganya hadir di Kenduri Cinta. Mengawali, Pak Abdullah menyampaikan sebuah ilustrasi. Jika suatu hari, kita mendapati seseorang mengalami kecelakaan, kemudian kita menolongnya, apakah kita akan menanyakan terlebih dahulu siapa dia, darimana asalnya, apa agamanya? Tentu tidak. Tentu yang utama kita lakukan adalah menolong, baru setelah kita menolongnya, kemudian mencari tahu identitas orang tersebut, siapa namanya, darimana asalnya, kemudian dilacak anggota keluarganya dan seterusnya. Meskipun tidak mengenal namun kita mau menolong maka itulah perbuatan mulia, dan itu merupakan bentuk sedekah.

Banyak orang memperdebatkan, sebenarnya surga atau Allah tujuan kita kelak di akhirat? Rabi’ah Al Adawiyah, seorang sufi mengatakan: Ya Allah, jika surga membuat aku jauh daripadamu, jangan masukan aku ke dalam surga. Jika neraka membuat aku dekat kepadamu, masukkan aku ke dalam neraka. Berkaca pada dialog Rabi’ah Al Adawiyah, itulah tingkat ketauhidan yang paling tinggi, karena tujuan utamanya adalah Allah, surga dan neraka tidak menjadi hal primer lagi, sebab surga dan neraka memiliki kedudukan sama, yaitu sama-sama ciptaan Allah.

“Hanya Allah saja yang tahu bahwa ibadah kita diridai atau tidak, bahkan diri kita sendiri pun tidak tahu,” lanjut Pak Abdullah. Meskipun rida Allah merupakan suatu hal yang abstrak, bukan lantas kita tidak melakukan apa-apa, tetapi justru dengan mengkondisikan diri agar senantiasa siap menerima ketetapan Allah. Setiap kita harus menciptakan suasana yang kondusif agar datang rida Allah kepada kita. Dalam wilayah lebih kecil seringkali kita mendengar istilah ‘keluarga sakinah’, yang hanya akan terwujud bilamana anggota keluarga kita kondisikan dalam keadaan yang muttaqiin. Dalam skala yang lebih luas, kita akan mewujudkan kelurahan yang sakinah, kecamatan yang sakinah, kabupaten yang sakinah, provinsi yang sakinah hingga akhirnya terwujudlah negara yang sakinah, dan itulah wujud dari baldatun thoyyibatun wa rabbun ghoffur.

Pak Abdullah melanjutkan, Niccolo Machiavelli mempunyai sebuah pemahaman bahwa untuk mencapai tujuan harus lah menghalalkan segala cara. Teori tersebut bertentangan dengan Islam; Innama-l-a’maalu bi-n-niyaati, segala sesuatu itu bergantung pada niatnya.

“Karena niat yang benar dalam Islam harus diikuti dengan kaifiyaat yang benar pula,” sambung Pak Abdullah. Machiavelli membenarkan segala cara untuk mencapai tujuan yang baik, sedangkan Islam tidak berpendapat demikian, bahwa tujuan yang benar juga harus diikuti dengan cara yang benar.

Merefleksikan tema “sedekah”, Pak Abdullah mengisahkan sosok Sjafruddin Prawiranegara pada masa pasca kemerdekaan Indonesia, ketika Belanda menaklukkan ibukota Yogyakarta kemudian mengasingkan Bung Karno dan Bung Hatta, Sjafruddin Prawiranegara yang saat itu diberi mandat oleh untuk mengambil alih pemerintahan, namun saat perjanjian Roem-Royen disepakati, beliau mengembalikan mandat kembali.

Pak Abdullah pernah berkesempatan bertemu dengan Sjafruddin Prawiranegara, lalu menanyakan: mengapa beliau mengembalikan mandat tersebut, padahal itu adalah kesempatan untuk menjadi Presiden Republik Indonesia? Dengan tegas Sjafruddin menjawab bahwa tugas yang dimandatkan kepadanya hanyalah untuk mengambil alih pemerintahan selama Bung Karno dan Bung Hatta diasingkan, setelah Presiden dan Wakil Presiden dibebaskan oleh Belanda, maka mandat tersebut harus dikembalikan. Hal itu merupakan sesuatu yang belum tentu dapat kita temui hari ini, jika seseorang diberi mandat untuk mengambil alih kekuasaan belum tentu ia akan mau mengembalikan mandat tersebut.

Kenduri Cinta November 2015
Kenduri Cinta November 2015

Dalam peristiwa lain, M. Natsir juga pernah melakukan sedekah yang juga tidak kalah pentingnya kepada Indonesia. Sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia, ia menuju Aceh untuk merespon isu bahwa Aceh akan memisahkan diri dari Indonesia. Tepat pada tanggal dimana Natsir harus menuju ke Aceh, anak beliau meninggal dunia sehingga beliau terpaksa menunda pertemuan dengan tokoh-tokoh Aceh, sayangnya para tokoh tersebut memutuskan untuk mendeklarasikan kemerdekaannya, memisahkan diri dari Indonesia.

Datanglah Natsir ke Aceh dan ditemui oleh para tokoh-tokoh Aceh. M. Natsir kemudian melakukan negosiasi politik, mengatakan bahwa ia akan segera kembali ke Jakarta untuk mengembalikan mandat sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia, karena sebagai Perdana Menteri beliau memiliki kekuasaan militer untuk melawan rakyat Aceh yang telah menyatakan untuk memisahkan diri dari Indonesia. Negosiasi berjalan alot dan akhirnya gagal karena ulah dari beberapa partai sekuler. Natsir akhirnya mengembalikan mandat jabatan perdana menteri kepada parlemen. Beliau tidak tega untuk melawan rakyat Aceh yang beragama Islam dengan mengerahkan kekuatan militer Indonesia. Bahkan dalam sebuah sidang parlemen, Natsir berdebat keras dengan IJ. Kasimo (tokoh politik dari kalangan Katolik). Natsir bersikukuh menjadikan Islam sebagai landasan negara, beliau memaparkan bagaimana ekonomi dalam Islam, bagaimana politik, hukum dan sistem pemerintahan dalam Islam. Setelah beliau menjelaskan panjang lebar, akhirnya IJ. Kasimo menyatakan sependapat dengan Natsir untuk menjadikan Islam sebagai landasan negara Indonesia. Itulah contoh bagaimana para tokoh-tokoh bangsa menyedekahkan hidup dan pemikiran mereka kepada Indonesia.

Membahas perilaku korupsi, Pak Abdullah membuka dengan sebuah pertanyaan: apakah koruptor-koruptor layak dimaafkan? Ia mengutip Alquran, dimana aturan yang berlaku sebelum seseorang dimaafkan atau tidak adalah dengan terlebih dahulu mengadilinya, sehingga yang harus dijalankan terlebih dahulu adalah menegakkan hukum, baru kemudian ditempuh metode ‘pemberian maaf’ kepada pihak yang bersalah. Dalam kasus pembunuhan misalnya, pihak yang memiliki kewenangan untuk memafkan si pelaku adalah ahli waris darikorban. Maka menjadi aneh ketika seorang tenaga kerja Indonesia di Arab Saudi dijatuhi hukuman mati karena melakukan pembunuhan, yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia justru melobi kerajaan Arab Saudi, padahal dalam Alquran dijelaskan bahwa ahli waris adalah pihak yang memiliki kewenangan untuk memberi maaf. Hal itu bisa diaplikasikan dalam kasus korupsi di Indonesia.

Pak Abdullah contohkan, andaikan dulu Soeharto ketika dituntut ia tidak menghindar dan mengikuti proses persidangan yang diberlakukan kepadanya, maka di kemudian hari proses kasasi bisa ditempuh untuk mengurangi hukumannya, dengan pertimbangan atas semua jasa-jasa yang sudah ia lakukan. Metode memaafkan koruptor dapat dilakukan namun bukan berarti bisa ditempuh dengan mudah, tetapi harus melewati proses panjang dengan pertimbangan yang juga tidak mudah.

Kembali ke tema “sedekah’, dalam dimensi sedekah yang harus dipahami adalah bahwa sedekah tidak hanya berupa materi. Pada masa Rasulullah SAW para fakir miskin merasa bersedih karena mereka tidak memiliki harta untuk bersedekah. Rasulullah SAW membesarkan hati mereka dengan mengatakan bahwa dengan berzikir, bertasbih dan bertahmid dengan hati yang ikhlas, maka itu merupakan sedekah. Kemudian bergembiralah hati mereka. Dalam hadits yang lain diriwayatkan bahwa sesungging senyuman yang kita berikan kepada orang lain juga merupakan sedekah.

Menutup pemaparannya, Pak Abdullah kembali menukil dialog Rabiah Al Adawiyah, “Ya Allah, jika surga membuatku jauh darimu maka jangan masukkan aku ke dalam surga, dan jika neraka membuatku dekat kepadamu, maka masukkan aku ke dalam neraka. Karena nikmat yang tertinggi di surga kelak adalah menatap wajah Allah SWT.”

Pada sesi berikutnya, Dr. Roby bercerita tentang seorang kaya yang dituduh oleh masyarakatnya sebagai pemabuk dan pezina karena setiap malam ia selalu mendatangi tempat lokalisasi. Setelah meninggal dan dipelajari hidupnya, barulah masyarakat mengetahui bahwa ia datang ke lokalisasi untuk memberi uang kepada para PSK sejumlah yang biasa mereka dapat, agar malam itu mereka dapat pulang dan tidak perlu bekerja. Sebuah sedekah dengan resiko besar, yaitu kehancuran nama baiknya sendiri.

Dr. Roby juga sampaikan, dalam Alquran, khususnya dalam hal ibadah, Allah memiliki 3 pola hubungan: bisnis, takut dan cinta. Ketika seorang hamba menggunakan pola hubungan “bisnis”, maka Allah memberikan formula tersendiri, Allah tidak akan menolaknya. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 261, Allah menjanjikan balasan berlipat ganda bagi siapa saja yang mendermakan harta di jalan-Nya. Apakah itu merupakan sesuatu yang salah? Tentu tidak. Karena Allah sendiri yang menjanjikan hal tersebut.

Ada pola hubungan “takut”, seorang hamba melakukan ibadah kepada Allah karena takut kepada Allah. Dr. Roby menilai pola hubungan seperti itu yang sebaiknya dihindari, karena justru akan membangun sikap inferior dalam diri manusia, seperti halnya seorang buruh yang bekerja dengan rajin di tempat kerjanya karena takut kepada majikannya. Pola hubungan yang paling tinggi adalah hubungan atas dasar “cinta”. Seorang hamba rela melakukan apa saja untuk Allah karena landasannya cinta, sehingga apapun akan ia berikan untuk Dia yang sangat dicintainya.

Ketiga pola hubungan tadi bisa diaplikasikan di berbagai lini kehidupan, bahkan di Kenduri Cinta sekalipun. Siapapun yang hadir di Kenduri Cinta jika hadir bukan karena landasan cinta tentu tidak akan bertahan dari jam delapan malam hingga menjelang Subuh, duduk menyimak pemaparan para narasumber tentu membutuhkan energi yang tidak sedikit, apalagi kebanyakan adalah kaum pekerja yang di siang harinya harus membagi tenaga dan pikiran di tempat kerja. Namun karena landasan cinta, semua yang hadir merasa nyaman bahkan merasa rindu sehingga di bulan selanjutnya mereka kembali datang ke Kenduri Cinta.

Diskusi semakin menarik saat Cak Nun, Yok Koeswoyo, Pak Hartono, dan Silok tampak di forum Kenduri Cinta. Dik Doank bersama kelompok musik Kandank Jurank Doank malam itu membawakan lagu-lagu yang dibawakan dengan semarak dan apik.

“Anak-anakku semua, assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” menjelang tengah malam Cak Nun menyapa. Dengan hadirnya banyak narasumber di setiap bulannya, Cak Nun menilai Kenduri Cinta memiliki kesempatan untuk memasuki lorong-lorong ilmu yang tentu dapat diambil ilmunya sebagai pijakan hidup. Satu persatu Cak Nun menyapa narasumber: Bapak Yok Koeswoyo, legenda musik Indonesia; Pak Abdullah Hehamahua, penggiat antikorupsi dan penasihat KPK; Pak Hartono, seorang pengusaha yang sedang merintis pembangunan 99 miniatur masjid seluruh dunia; dan Mas Silok, seorang tenaga kerja Indonesia di Korea Selatan.

Memberi pengantar Cak Nun sampaikan, Nabi Muhammad SAW adalah madinatu-l-ilmi yang menjadi tujuan kita untuk mempelajari segala ilmu, sebelum memasuki kota ilmu tentu kita harus melewati pintu ilmu. Dalam khasanah Islam, Rasulullah SAW pernah menyampaikan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pintu dari segala ilmu. Kenduri Cinta dengan metode Maiyah menawarkan tahapan-tahapan ilmu sebelum menuju kota ilmu; Muhammad SAW.

“Mari malam ini kita memasuki lorong-lorong ilmu, tetapi sebelum itu tolong siapkan dulu software-nya dulu,” Cak Nun mengajak jamaah untuk menyiapkan mental untuk bersama-sama mengambil ilmu dari setiap yang akan dibicarakan di Kenduri Cinta. “Harap diketahui bahwasanya tidak ada manusia yang benar-benar benar (sepenuhnya benar), kecuali Allah SWT, Rasululllah SAW, para malaikat, para nabi dan para rasul, tidak ada seorang pun yang pernah mencapai kebenaran yang sejati. Sesungguhnya yang ditagih oleh Allah bukanlah menemukan kebenaran melainkan tidak pernah berhenti mencari kebenaran. Karena kebenaran sejati sesungguhnya adalah hak prerogatif Allah, sesungguhnya anda tidak akan mampu menemukan Allah, tetapi Allah yang akan menemui anda,” ujar Cak Nun menyinggung tema.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, rakyat telah memberikan mandat kepada pejabat negara untuk mengurusi Indonesia, sehingga merekalah yang memiliki kewajiban untuk mengurusi Indonesia. Andaikan kemudian Maiyah, Kenduri Cinta, melakukan sesuatu untuk Indonesia maka wilayahnya adalah sedekah, dimana dalam Islam sedekah itu sifatnya adalah sunnah bukan wajib. Tentunya kita harus menemukan rasa bangga dan bahagia dalam Maiyah.

“Tidak mungkin anda diwajibkan Allah ketika anda tidak berada di dalam amanat dan fasilitas, karena kewajiban hanya dipanggul oleh orang yang mendapatkan amanat dan fasilitas. Nah, kalau anda hanya diperintah: Quu anfusakum wa ahliikum naaron, anda cuma bertugas dan ditagih Allah supaya anda dan keluargamu tidak engkau bawa ke api neraka. Di akhirat nanti tidak ada perhitungan dimana malaikat akan menanyakan kepada anda tentang NKRI,” lanjut Cak Nun.

“Jadi temen-temen sekalian, anda bertauhid, bersyahadat, salat kepada Allah, baik kepada keluarga, sayang kepada tetangga, selesai masalah. Bahwa ada Indonesia, ayo kita bantu sebagai sedekah kita. Jadi anda 15 tahun disini, di Kenduri Cinta ini, sampai pagi setiap bulan itu merupakan sedekah yang luar biasa, yang presiden tidak sanggup menyelenggarakannya, yang menteri tidak sanggup menyelenggarakannya. Mereka tidak sanggup menahan anda sampai pagi disini. Maka sedekah anda harus membikin anda bergembira,” Cak Nun menambahkan.

Dengan kalimat-kalimat tegas, Cak Nun membesarkan hati jamaah agar menemukan kegembiraan dalam ber-Maiyah. Di Maiyah, tidak mungkin melepaskan diri untuk tidak membicarakan Indonesia, untuk tidak memikirkan Indonesia, untuk tidak mendoakan Indonesia. Tetapi kita harus tetap memiliki landasan kuat bahwa yang kita lakukan untuk Indonesia adalah sedekah yang menggembirakan, karena kita tidak wajib untuk melakukan itu semua. Bahwa presiden, menteri dan seluruh jajarannya adalah orang-orang yang berkewajiban untuk melakukan itu semua. Disinilah Cak Nun mengajak semua yang hadir untuk dapat memahami bahwa posisi yang kita pijak saat ini, dengan bersedekah kepada Indonesia merupakan kedudukan yang mulia, karena kita melakukan sesuatu yang merupakan bukan kewajiban kita.

“Untuk apa anda ber-KC, ber-Maiyah kalau itu tidak menggembirakan anda? Salah satu landasan kegembiraan kita adalah karena kita terus menerus bersedekah kepada Indonesia, karena kita tidak memiliki kewajiban apa-apa kepada Indonesia (kewajiban dalam syar’i),” lanjut Cak Nun.

BERKAH KETIDAKTAHUAN

Malam itu, Cak Nun mengelaborasi jumlah ayat dan surat dalam Aquran; 6.666 dengan 114 surat. Cak Nun mengajak berpikir siklikal terhadap fakta itu, bahwa bisa saja Allah menyimpan rahasia dari jumlah angka-angka tersebut. Dari rahasia yang tidak kita ketahui sepenuhnya inilah kita menemukan fakta bahwa memang ada baiknya kita tidak mengetahui semua informasi. Bisa dibayangkan apa yang terjadi seandainya seorang istri mengetahui persis apa yang ada dalam hati suaminya, bahkan dua orang sahabat yang sangat dekat bisa saja saling bunuh apabila keduanya mengetahui persis apa yang ada dalam hati mereka masing-masing.

“Lebih baik tahu semuanya atau ada baiknya tidak semuanya tahu? Jadi bersyukurlah anda tidak semuanya tahu. Kalau seorang istri tahu persis isi hati suaminya, bunuh diri dia,” ujar Cak Nun disambut tawa jamaah. “Jadi alhamdulillah, disamping ilmu, kita juga diberi ketidaktahuan oleh Allah, dan ketidaktahuan itu bagus, maka dibutuhkan aurat. Aurat adalah sesuatu yang ditutupi, justru yang terindah adalah yang ditutupi. Kalau sesuatu yang tidak terlihat, jangan dianggap tidak ada. Tidak hanya manusia, juga dalam peta sosial, peta politik, peta kebudayaan. Jangan dipikir kalau tidak kelihatan di televisi lalu dia menjadi tidak ada, jangan dipikir yang tidak terlihat di media adalah yang tidak berbahaya,” Cak Nun menyampaikan.

Kenduri Cinta November 2015
Kenduri Cinta November 2015

“Saya ingin katakan kepada anda bahwa tidak ada tafsir yang benar, yang benar adalah yang ditafsirkan, yang benar adalah Qurannya. Tafsir Alquran tidak ada yang pernah benar-benar benar. Artinya, Qurannya benar mutlak, tafsirnya benar relatif. Jadi jangan sombong dengan tafsirmu, jangan sombong dengan madzhabmu, jangan sombong dengan aliranmu, jangan sombong dengan apapun karena semua bisa salah,” lanjut Cak Nun sembari menjelaskan bahwa Allah memberikan kita kebebasan untuk menafsirkan Alif-Laam-Miim di awal surat Al-Baqarah. Mau ditafsirkan seperti apapun, kita diberi kebebasan asalkan satu syaratnya, tafsir tersebut mampu mendekatkan diri kita kepada Allah.

Dari pembukaan surat Al-Baqarah, Cak Nun mengajak jamaah untuk memahami bahwa sebenarnya Alquran adalah petunjuk, sumber inspirasi bagi mereka yang bertakwa; hudan li-l-muttaqiin. Dari ayat itu dapat dipahami bahwa tidak ada gunanya bagi mereka yang tidak bertakwa untuk membaca Alquran. Kata takwa merupakan kata yang masih sangat cair, seperti benda yang tidak bisa didefinisikan. Maka Allah memberikan keleluasaan bagi manusia untuk terus menerus mencari arti takwa yang sebenarnya.

Cak Nun lalu meminta Pak Abdullah Hehamahua untuk lebih menjelaskan tentang takwa. “Jadi kalau bahasa populernya, takwa artinya adalah takut. Tetapi takut yang dimaksud bukan seperti ketika kita takut ketika kita bertemu harimau, ketika kita merasa takut kepada Allah yang terjadi justru kita semakin mendekat kepada Allah karena kita memiliki hubungan batin yang makin erat,” Pak Abdullah menjelaskan. Pada ayat setelahnya, Pak Abdullah menjelaskan bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan salat dan yang membelanjakan sebagian hartanya di jalan Allah.

Cak Nun menambahkan bahwa di Maiyah setiap yang hadir sudah dibiasakan untuk selalu diberi kunci-kunci pijakan untuk memasuki ruang-ruang ilmu dalam setiap perjalanan hidup mereka. Maka ketika disampaikan kepada jamaah Maiyah sebuah ayat: hudan li-l-muttaqiin, Maiyah tidak perlu menjabarkannya lebih lanjut tentang apa itu muttaqiin, karena orang Maiyah akan dengan sendirinya menemukan penjelasan-penjelasan tentang muttaqiin seperti yang sudah dijelaskan oleh Pak Abdullah tadi. Bahwa dalam ayat tersebut selanjutnya menjelaskan siapa-siapa saja mereka orang yang bertakwa, maka Maiyah memahami bahwa tanda-tanda itu merupakan output sosial dari orang yang bertakwa, bukan merupakan syarat untuk menjadi orang yang bertakwa.

Maiyah memiliki tafsir tersendiri, yang tentu saja tafsir tersebut bukanlah tafsir dengan kebenaran yang mutlak. Tetapi di Maiyah, Cak Nun selalu menanamkan untuk terus menerus mencari dan ber-ijtihad agar menemukan kebenaran sejati, termasuk dalam menafsirkan Alquran. “Yang sekarang kita sedang perdalami untuk meningkatkan software adalah bahwa yang menerima hidayah dari Allah itu adalah mereka yang bertakwa. Artinya takwa merupakan OS (operating system) utama dari jiwamu untuk mendapatkan hidayah. Kalau kamu ndak pakai OS itu (takwa) nanti kamu mendapatkan informasi tetapi belum tentu itu merupakan hidayah. Ada bedanya berita sama hidayah, banyak berita tetapi belum tentu hidayah. Anda mungkin punya ide macam-macam, tetapi belum tentu hidayah. Jadi hidayah adalah gabungan antara informasi Allah tetapi juga kehendak dan cinta kasih Allah kepadamu,” lanjut Cak Nun.

Software utama manusia menjalani kehidupan di dunia dan mengabdi kepada Allah SWT adalah takwa. Di dalam takwa ada unsur takutnya, karena dalam bahasa Arab istilah takut dijelaskan dalam kata khauf. “Software utama orang hidup itu takwa. Takwa ini ada unsur takutnya, tetapi dia ada dialektikanya. Misalnya, takut ditinggalkan Allah, takut dimarahi Allah, takut dimurkai Allah. Takut disini tidak bisa berdiri sendiri, harus ada konteksnya. Maka kita harus mencari dimensi konteks takwa secara tepat, bahkan mungkin ada ribuan istilah yang bisa menjelaskan kata takwa. Jadi saya usul satu kata saja deh, takwa itu pokoknya nempel sama Allah. Nempel maksudnya, tidak mau pisah, ngapain aja nempel sama Allah. Ya memohon perlindungan, memohon pertolongan, memohon ampunan dan sebagainya. Allah itu menyuruh kita mencari, bukan menemukan,” tambah Cak Nun. “Kita itu mencari, jangan pernah merasa menemukan. Kalau ada orang yang berbeda penemuannya (dengan anda), maka nikmatilah. Anda harus mendengarkan semuanya. Tanda-tanda orang mendapat hidayah dari Allah adalah ia bersedia mendengarkan semuanya kemudian mengambil yang terbaik untuk dia laksanakan, sesuai dengan ayat Az-Zumar ayat 18,” lanjut Cak Nun.

METODOLOGI KASIH SAYANG

Sebelum memberi kesempatan kepada narasumber lain, Cak Nun mempertegas kembali output dari takwa yang disebutkan pada ayat setelahnya: mengimani sesuatu yang ghaib, mendirikan salat dan menginfakkan sebagian rizki yang diberikan oleh Allah kepadanya. Dapat dipahami bahwa tiga hal tersebut merupakan hasil dari ketakwaan seseorang. Cak Nun mengambil shortcut untuk langsung membahas Surat An-Naas dan meminta salah seorang jamaah untuk ikut menjelaskan mengapa dalam struktur surat An-Naas tersebut Allah memposisikan diri-Nya dalam tiga istilah: robbun, maalikun dan ilaahun. Seorang jamaah merespon dengan mengatakan bahwa urutan tersebut merupakan urutan hirarki dari kekuasaan Allah.

Cak Nun memiliki tafsir berbeda terkait posisi Allah dalam surat An-Naas. “Pemahaman saya, ilaahun adalah posisi Allah yang eksistensial, Allah tunggal, Yang Maha Tunggal, The Only. Kalau maalikun adalah Allah menampilkan dirinya untuk menunjukkan bahwa “Aku yang berkuasa”, sedang robbun adalah menunjukkan bahwa “Aku yang mengayomimu, Aku yang mengasuhmu, Aku yang mengurusmu,” Cak Nun memberi alternatif tafsir.

“Kalau robbun, andalan utamanya adalah kasih sayang, jika ilaahun andalan utamanya adalah kekuasaan dan maalikun andalan utamanya adalah otoritas. Jadi ini merupakan sebuah rumusan metodologi, anda mau ngurusin apa saja di dunia ini, nomor satu yang harus anda gunakan adalah robbun, datang dengan kasih sayang, mengayomi, mengasuh, mengurusi supaya yang kamu urusi itu ikhlas dan bersandar hatinya kepadamu. Supaya kelak saat yang diurusi memahami bahwa posisimu adalah maalik maka ia akan ikhlas dan tidak membantah. Kenapa KC bisa awet sampai 15 tahun, Padhangmbulan sampai 22 tahun, dan anda tahan duduk sampai jam 4 pagi disini karena datang kesini yang nomor satu adalah kasih sayang. Ndak pernah saya datang kesini karena eksistensi saya, karena kekuasaan saya, karena otoritas saya, saya datang dengan kasih sayang, sehingga engkau ikhlas menerima aku, sehingga diam-diam engkau tahu bahwa saya adalah raja,” pungkas Cak Nun sambil disambut tertawa oleh jamaah. Cak Nun kemudian mengantar Pak Abdullah Hehamahua berpamitan.

Pada sesi selanjutnya, Pak Hartono mempresentasikan kegiatannya membangun sebuah komplek miniatur masjid-masjid dunia sejumlah 99 masjid. Tujuan utamanya dalam rangka menunjukkan betapa kayanya khasanah kebudayaan Islam, baik dalam bentuk ornamen, kaligrafi hingga konstruksi bangunan. Semangat yang dibangun bahwa masjid-masjid ini bukan dibangun atas dasar proyek, tetapi semua orang diperbolehkan ikut serta dalam pembangunan masjid, yang kelak juga diproyeksikan sebagai tempat wisata religi. Didalamnya juga akan dibangun unversitas, rumah sakit, perpustakaan, museum Alquran dan juga terdapat gedung serbaguna.

Cak Nun bertanya tentang kapasitas setiap masjid nantinya, hingga ke daya serap tenaga kerja yang akan dibutuhkan nantinya. Pak Hartono merespon, bahwa setiap masjid akan mampu menampung 200-300 orang dan jika sudah terbangun (99 masjid) setidaknya akan menyerap 12.000 tenaga kerja untuk mengelola anjungan tersebut. Masjid-masjid yang akan dibangun merupakan duplikasi dari masjid-masijd yang ada di seluruh dunia, dari Indonesia yang dipilih untuk diduplikasi adalah Masjid Demak.

Melanjutkan forum, Cak Nun mengajak Silok Sugiyoto untuk berdialog. Silok Sugiyoto atau akrab dipanggil Mas Silok merupakan tenaga kerja Indonesia di Korea Selatan yang awalnya berstatus ilegal. Ia menginjakkan kaki di Korea Selatan pertama kali pada 25 Desember 1999. Saat ini tercatat kurang lebih 15.000 tenaga kerja asal Indonesia yang bekerja di Korea Selatan. Mayoritas tenaga kerja asal Indonesia bekerja di pabrik, berbeda situasinya jika dibandingkan dengan Hongkong misalnya yang kebanyakan menjadi pengurus rumah tangga. Kualitas pekerja Indonesia di Korea Selatan adalah yang terbaik, bahkan harga yang dibayarkan oleh pabrik kepada para pekerja Indonesia adalah harga bayaran tertinggi jika dibandingkan dengan tenaga kerja dari negara lain.

Berdasarkan cerita Mas Silok, tenaga kerja Indonesia memiliki keunggulan karena keuletannya, ketrampilan dan kecerdasannya. Mas Silok pada awalnya adalah buruh las di sebuah pabrik alat berat, dalam satu hari Mas Silok bisa menyelesaikan 4 unit sendok Beko. Tenaga kerja Indonesia, diceritakan oleh Mas Silok, dengan mudah menguasai komputer dan alat-alat pabrik meskipun tombol-tombol pengoperasiannya menggunakan huruf-huruf Korea.

“Saya sekarang tidak memikirkan duit, karena yang saya cari sekarang adalah kebahagiaan,” lanjut Mas Silok yang sekarang memiliki sebuah perusahaan kargo di Korea Selatan hasil dari kerjasama dengan majikannya. Begitu percayanya orang Korea tersebut kepada Mas Silok, hingga akhirnya Mas Silok diberi kekuasaan penuh terhadap perusahaan kargo tersebut. Dengan cara itulah Mas Silok kemudian sekarang tidak lagi menjadi tenaga kerja ilegal, sebelumnya selama 13 tahun Mas Silok berstatus ilegal.

Mas Silok juga berbagi, anugerah kemajuan perusahaan yang dimilikinya saat ini tidak lepas dari rasa syukur yang selalu diwujudkan dengan cara menyisihkan keuntungan perusahaan untuk diinfakkan kepada orang-orang miskin di Korea Selatan, tidak kurang dari 50 juta rupiah setiap bulannya dikeluarkan oleh perusahaan untuk zakat. Mas Silok juga merupakan orang yang sangat dekat dengan pihak kepolisian dan pemerintah di Korea Selatan, bisa dikatakan dengan keberadaan Mas Silok di Korea Selatan, situasi kemanan tenaga kerja Indonesia disana terjamin aman.

Cak Nun menambahkan, hukum yang berlaku di Korea Selatan begitu saklek-nya, sehingga jika terjadi keributan di masyarakat atau musibah kecelakaan kapal misalnya, maka pejabat yang berwenang justru menjadi pihak yang merasa bersalah.

Mungkin bukan ditakuti, melainkan disegani, itulah yang dirasakan oleh Mas Silok, karena dia begitu disegani oleh banyak orang di Korea Selatan. Jiwa sosialnya yang sangat tinggi menjadi modal dasar baginya untuk “menaklukan” tenaga kerja Indonesia yang bermasalah. Pernah suatu ketika, sahabatnya meninggal dunia karena sakit jantung. Mas Silok bekerja sama dengan anggota kepolisian Korea Selatan untuk mengurusi jenazah sahabatnya, namun dikarenakan statusnya yang ilegal sehingga jika diurus resmi maka membutuhkan biaya tinggi. Mas Silok lalu mengirim jenazah melalui paket, namun jadwal penerbangan ke Indonesia sudah penuh, hingga terpaksa harus diterbangkan melalui Thailand. Jiwa sosial yang tinggi inilah yang membuat Mas Silok begitu disegani oleh orang-orang di Korea Selatan.

“Negara Korea itu berbatu, kalau menanam padi satu tahun hanya sekali, air pun tidak sebanyak Indonesia, laut pun tidak seluas Indonesia, hutan pun tidak sebanyak Indonesia, tidak ada gas, tidak ada bensin (minyak), tetapi maju. Padahal negara Korea Selatan itu umurnya sama dengan Indonesia, hanya berjarak 2 hari. Jika Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, korea Selatan merdeka pada 15 Agustus 1945,” lanjut Mas Silok.

“Orang Korea Selatan itu punya lima kebaikan yang sejalan dengan Islam. Orang korea tidak suka bohong, tidak suka bersenda gurau, orang Korea menganggap bahwa orang tuanya adalah sosok yang harus dipatuhi, orang Korea sangat menjaga kebersihan dan orang Korea adalah orang yang paling suka menepati janji,” cerita Mas Silok.

Puncak kegembiraan Kenduri Cinta malam itu adalah kehadiran Pak Yok Koeswoyo, salah satu personel Grup Band Koes Bersaudara. Mengawali sesi bersama Pak Yok, Cak Nun menanyakan lagu apa saja yang orisinil diciptakan oleh Pak Yok, spontan Pak Yok menjawab, “Kolam Susu!” Cak Nun lantas mengajak jamaah untuk melantunkan bait pertama lagu tersebut, “Bukan lautan tapi kolam susu, kail dan garam cukup menghidupimu,” Pak Yok langsung menimpali, “Tapi inget, itu duluuuu,” disambut tawa jamaah. Kemudian Pak Yok menyanyikan lagu tersebut dengan sedikit lirik yang diubah, “Bukan lautan hanya kolam lumpur, kail dan jala sudah banyak yang nganggur, tiada ikan tiada udang kau temui, semuanya sudah habis dicuri. Orang bilang tanah kita tanah surga, tapi nyatanya rakyat sengsara. Orang bilang tanah kita tanah surga, ini semua salah siapa,” disambut tawa dan tepuk tangan jamaah.

“Sebetulnya kami ini dari awal membuat lagu dengan lirik-lirik yang menyampaikan pesan, seperti Kolam Susu contohnya,” Pak Yok berkisah bahwa pesan yang tersirat dari lagu Kolam Susu adalah agar negara Indonesia mengurusi kekayaan baharinya, dan menurut Pak Yok, Gus Dur lah yang kemudian menangkap pesan tersebut dengan mendirikan departemen kelautan saat menjabat sebagai Presiden Indonesia. “Kalau anda ingin tahu semua, suku bangsa yang tertua itu di Nusantara, hal ini dibuktikan dengan adanya situs purbakala di Gunung Padang,” Pak Yok bercerita sedikit tentang Gunung Padang yang tersusun oleh bebatuan yang setelah diteliti ternyata unsur logamnya mencapai 30%, dan batu-batu tersebut bukan alami tercetak melainkan dicetak oleh manusia-manusia pada zaman itu. Hal ini membuktikan bahwa peradaban bangsa Nusantara ini memang lebih tua dari bangsa Mesir Kuno bahkan bangsa Inka Maya.

Pak Yok mengajak semua yang hadir untuk bergembira, meyakini bahwa Indonesia kelak akan menjadi mercusuar peradaban dunia, peradaban yang sudah mencapai puncaknya dengan kebudayaan yang begitu hebatnya di Nusantara ini merupakan salah satu bukti bahwa Indonesia akan menjadi salah satu tanda kebangkitan Islam dari timur. Pak Yok bersyukur ada rencana dari Pak Hartono Limin yang akan membangun 99 minatur masjid, hal ini yang menjadikan Pak Yok semakin yakin bahwa kebangkitan Islam akan segera muncul dari timur, dan Indonesia menjadi salah satu pencetusnya.

“Kalau dalam bahasa Maiyah itu namanya Bangbang Wetan, abang-abang seko wetan. Semburat Bangbang Wetan,” Cak Nun menimpali. “Saya kira di seluruh dunia tidak ada 5 bersaudara yang karyanya lebih dari 800,” lanjut Cak Nun. “Beatles, Bee Gees itu kalah sama kita. Dia nggak mampu buat lagu keroncong, dia nggak mampu buat lagu pop Melayu, dia nggak mampu buat lagu Jawa. Tapi kami mampu membuat lagu dengan lirik bahasa Inggris,” lanjut Pak Yok.

Cak Nun lalu meminta Erik Supit untuk ikut memberikan data-data tentang Koes Bersaudara. Erik kini terlibat dalam proses pembuatan sebuah film semi dokumenter yang menceritakan tentang Koes Bersaudara.

“Dari masa Koes Bersaudara tahun 1962-1987, sebelum Pak Tony Koeswoyo meninggal dunia, Koes Bersaudara dan Koes Plus sudah menghasilkan karya sejumlah 953 lagu dalam 93 album. Ini belum dihitung pasca Tony Koeswoyo meninggal dunia. Saya pikir tidak ada band yang bersedekah kepada Indonesia sebesar ini,” Erik menjelaskan. “Koes Bersaudara juga merupakan satu fenomena, Koes Bersaudara pernah dipenjara pada zaman Orde Lama atas tuduhan subversif karena dituduh menyanyikan lagu-lagu Beatles yang saat itu disebut dengan istilah ngak-ngik-ngok,” lanjut Erik.

“Waktu itu kami konfrontasi dengan Malaysia. Bung karno saat itu tidak suka dengan segala bentuk kolonialisme dan imperialisme. Karena pada saat itu lagu-lagu kami digemari di Singapura dan di Malaysia, ada rencana kami (Koes Bersaudara) dimasukkan ke Malaysia secara diam-diam, sehingga di Indonesia diberitakan kita melakukan begini begitu (tindakan subversif). Kita dipenjara 3-4 bulan dan sebagainya, maksudnya setelah kita keluar dari penjara kita eksodus ke Malaysia untuk melakukan gerakan counter. Sekarang saya berani cerita karena sudah lewat waktunya, dimana-mana, Pentagon juga demikian, setelah 40 tahun file-nya dibuka,” Pak Yok bercerita tentang kisah perjalanan Koes Bersaudara ketika dilibatkan dalam konflik konfrontasi dengan Malaysia, bahkan pada saat pembebasan Timor Timur pun, Koes Bersaudara dilibatkan. “Jadi saya ingatkan, kalian yang lahir di Nusantara, besar di Nusantara jangan berjiwa lain,” Pak Yok kembali menegaskan nasionalismenya.

“Gini Mas Yok, jadi mohon dipahami prinsipnya adalah bahwa sebenarnya Koes Bersaudara dipenjara itu satu strategi nasionalisme. Jadi beliau tidak benar-benar dipenjara, tetapi harus dipenjara supaya dunia melihat bahwa rezim Soekarno menindas Koes, sehingga semua akan ingin menerima Koes, termasuk Malaysia dan Singapura. Maka begitu mereka masuk ke Malaysia dan Singapura, mereka bisa melakukan segala sesuatu untuk Indonesia. Jadi mereka sebenarnya adalah ujung tombak dari intelejen Indonesia,” Cak Nun ikut menjelaskan. “Masalahnya adalah, dunia internasional punya rencana yang berbeda. Jadi sejak tahun 1957 sudah ada rencana untuk mengambil emas di Papua (Freeport), maka pertentangan terjadi di Amerika antara CIA dengan Presiden. Maka kemudian Kennedy yang berteman baik dengan Soekarno, yang tidak menyetujui dan tidak akan mengambil alih emas di Irian Jaya kemudian dibunuh. Nah, tahap berikutnya setelah pembunuhan Kennedy tahun 1964, Soekarno di Indonesia kemudian dilengserkan. Kemudian rencana Koes Bersaudara di Malaysia menjadi terbengkalai,” lanjut Cak Nun.

“Saya ingin mengingatkan sedikit Mas Yok, bahwa anda sekarang lihat kualitas para, nyuwun sewu, kualitas para pekerja seni dan pekerja kebudayaan di masa lalu dengan sekarang. Lho, wis ampuh, wis terkenal, wis nggak karu-karuan hebatnya Koes Bersaudara pada masa lalu mau bersedekah, mau mengorbankan dirinya untuk kepentingan nasional. Karena kalau anda tahu konfrontasi Indonesia dengan Malaysia saat itu, itu semua pemuda di desa-desa latihan militer. Dan Bung Karno ingin mempertahankan Kalimantan Utara seperti sebelumnya mempertahankan Irian Jaya, karena Bung Karno kemudian dijatuhkan kemudian kita gagal mempertahankan Kalimantan Utara. Zaman dulu penyanyi-penyanyi, Mas Yok, setahu saya sangat integral dengan perjuangan nasional dan saya tidak membayangkan itu terjadi sekarang,” Cak Nun mempertanyakan.

Cak Nun berkisah bagaimana musisi-musisi dulu sebenarnya juga layak disebut pahlawan, karena pahlawan tidak harus berperang di medan perang. Seperti yang dilakukan oleh Koes Bersaudara ini, mereka rela dan sanggup menjadi pasukan intelejen Indonesia pada saat Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia. “Maka sebenarnya saya agak sedih bahwa pemerintah kita dari periode ke periode kurang mengadakan penelitian untuk mengerti siapa yang sebenarnya yang harus dihormati dan layak untuk dijunjung dari rakyatnya, terutama yang berkarya. Apakah pahlawan itu harus perang?” tanya Cak Nun. Menurut Cak Nun, ada banyak bentuk dan cara untuk mengenang para seniman.

Di Jakarta misalnya, menurut Cak Nun seharusnya ada patung Benyamin S, karena Benyamin S adalah wajah Indonesia Betawi. Asmuni adalah wajah dari Indonesia Jombang, Kartolo adalah wajah dari Indonesia Surabaya. Satu hal yang disayangakan dan terjadi saat ini adalah logat Betawi menjadi hits di daerah-daerah lain, yang sebenarnya justru menjadi hal yang sangat aneh. Logat Betawi hanya akan cocok dan enak dinikmati ketika kita berada di Jakarta, sehingga konteksnya adalah Indonesia Betawi. Tetapi ketika kita berada di Jogja misalnya, maka yang harus tampak adalah Indonesia Jogja, begitu juga di Surabaya, yang tampak adalah Indonesia Surabaya. “Mending koe iku ngomong cak-cuk cak-cuk iku jelas Suroboyomu,” goda Cak Nun.

“Ini orang Indonesia sering terbalik, bahkan mungkin di seluruh dunia. Ketika dia harus taat, dia malah khianat. Ketika dia merdeka (bebas), dia malah taat. Kalau sudah soal kewajiban yang harus sama-sama dijalankan, dia cari-cari alasan untuk tidak melaksanakan. Tetapi begitu anda mendapatkan kemerdekaan, malah taat kepada orang lain, meniru orang lain. Penyiar di daerah meniru gaya Jakarta,” Cak Nun menyambung. “Saya merindukan anda itu membawa Indonesia yang memang gado-gado, Bhinneka Tunggal Ika. gado-gado itu syaratnya kubisnya ya harus kubis, kentangnya harus kentang, kecambahnya harus kecambah asli, bukan kubis-kubisan, bukan kentang-kentangan, bukan kecambah-kecambahan yang bukan asli,” tegas Cak Nun.

“Ini saya tambahi sedikit. Kita tuh harus beryukur di Nusantara ini, karena terdiri dari 360 suku bangsa, berbeda bahasa, budaya dan agama, tapi mampu disatukan dengan Bhinneka Tunggal Ika. Ini harus kita ingat, ndak ada negara lain seperti kita itu ndak ada. Ini harus dijaga, persatuan dan kesatuannya itu, dimulai dengan Sumpah Palapa kemudian lahir Sumpah Pemuda. Ini jangan sampai dilupakan,” Pak Yok ikut menambahkan penjelasan Cak Nun untuk tetap menjaga rasa percaya diri bangsa.

“Saya dulu pernah tinggal di Menteng Atas tahun 70-an, sangat akrab dengan lagu-lagu Koes Plus. Dan nggak dihafal, tetapi hafal dengan sendirinya karena lagunya begitu mengena, sederhana tetapi dalam. Di musik itu kita mulai dari yang basci, kemudian kita berjalan melalui proses, tetapi ujung-ujungnya kembali ke kesederhanaan. Menurut John Lennon: sederhana itu indah. Tetapi ternyata membuat yang sederhana itu kompleks dan butuh perjalanan yang panjang. Dan saya pikir Koes Plus sudah mencapai itu,” Beben Jazz yang hadir turut menyampaikan kekagumannya kepada Koes Plus.

Beben menambahkan, bahwa Koes Plus berhasil membuat karya-karya yang simpel, tetapi dikenang oleh banyak orang, dan hal itu sangat sulit, Koes Plus mampu melakukan hal tersebut. Beben menjelaskan bahwa saat ini, sebuah grup band begitu sulit menciptakan sebuah karya single yang kemudian menjadi hits di tangga lagu, tetapi Koes Plus dengan 953 karyanya justru mampu menjadikan hampir semuanya menjadi karya yang hits dan dikenang oleh banyak orang. Ini merupakan sebuah pencapaian yang sulit diulang oleh grup musik lain.

Kehangatan Kenduri Cinta kali ini semakin lengkap ketika Cak Nun mempersilahkan Pak Yok Koeswoyo membawakan beberapa nomor-nomor lawas Koes Bersaudara dengan gitar milik Beben Jazz. Setelah membawakan dua lagu, Pak Yok bercerita tentang lagu Andaikan Kau Datang Kembali yang merupakan karya alm. Tony Koeswoyo. Berdasar cerita dari almarhum ketika sedang sakit, lagu tersebut adalah gambaran tentang keresahan seorang manusia ketika kelak menemui ajalnya, lirik “jawaban apa yang kan ku beri” merupakan ungkapan bahwa belum tentu setiap dari kita mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan oleh malaikat di alam kubur kelak. Lagu ini berhasil menipu anak-anak muda yang menduga bahwa lagu tersebut adalah lagu tentang kisah percintaan, tetapi sebenarnya adalah lagu yang bernafaskan spiritual yang tinggi. Inna Kamarie yang juga hadir kemudian berduet bersama Pak Yok Koeswoyo membawakan lagu tersebut.

Lagu Kembali ke Jakarta menjadi lagu pamungkas Kenduri Cinta edisi November malam itu, menjelang pukul 4 dinihari Kenduri Cinta dipuncaki dengan doa bersama yang dipimpin oleh Rusdianto. [Red KC/Fahmi Agustian]

Foto :

Kenduri Cinta