Catatan Mocopat Syafaat November 2015

Tak apa-apa menafsirkan Al Quran, jika keliru semoga diampuni Allah, Anda mau menafsirkan saja itu sudah suatu kebaikan. Mocopat Syafaat November 2015.

Menjelang pukul delapan malam, area TKIT Alhamdulillah, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, tampak ramai. Lantunan sholawat menyambut kedatangan Jamaah Macapat Syafaat. Sebagian jamaah terlihat duduk bersila di pelataran TKIT Alhamdulillah. Sedangkan, sebagian jamaah lainnya tampak menikmati minuman dan jajanan di warung-warung tiban di lingkungan TKIT Alhamdulillah.

Majelis Masyarakat Maiyah Macapat Syafaat edisi November 2015 kali itu diawali dengan pembacaan Al Quran oleh Mas Ramli dan kawan-kawan. Malam itu, tadarrusan dimulai dari Surat Al Fath, melanjutkan tadarrusan bulan sebelumnya. Usai pembacaan Al Quran, Mas Islamiyanto dan Mas Imam kemudian mengajak jamaah melantunkan beberapa sholawat, antara lain Allah Allah Ma Lana Maulan Siwaallah, Ya Imama Rusli dan Nurul Musthofa.

Kemerdekaan Tafsir

“Apapun bentuknya, apapun aplikasinya, tapi mudah-mudahan Anda ke sini ini sebenarnya sedang membuka pori-pori jiwa dan seluruh kehidupan Anda untuk menerima hidayah Allah, pertolongan, kemudahan-kemudahan dan rezeki,” tutur Cak Nun menyapa jamaah, Selasa 17 November 2015 di komplek TKIT Alhamdulillah. Meski malam itu diselimuti mendung dan cuaca terasa gerah. Namun, malam itu terasa istimewa, Cak Nun hadir di panggung dan menyapa jamaah lebih awal daripada biasanya.

Cak Nun kemudian meminta salah satu jamaah untuk melantunkan qiraah. “Saya ingin Anda memulai dengan satu qira’ah kecil, siapa di antara Anda yang qori? Meski bukan qori tak apa-apa, asal hafal satu atau dua ayat. Sebelum ada satu orang yang maju untuk mengawali satu qiraah, acara ini tak bisa dimulai karena forum ini bukan milik kiai atau seseorang, tapi forum ini milik kita bersama,” pinta Cak Nun.

Mocopat Syafaat November 2015
Mocopat Syafaat November 2015

Lalu, Cak Nun menegaskan secara rohani, qiraah itu hanya terikat pada niat baik seseorang kepada Allah dalam rangka menyampaikan kalimat-kalimatNya. Selain itu, qira’ah terikat pada kebenaran gramatical atau tajwidnya. Selebihnya, qira’ah itu merdeka, artinya boleh membawakannya dengan lagu atau tidak, boleh membawakannya dengan model lagu apapun, sepanjang  tajwid/makhrajnya dituruti. Zayyin Ukhrowi, jamaah asal Madiun lalu menyambut tawaran tersebut. Ia pun melantunkan pembukaan Surat Al Baqarah, Alif Lam Mim.

Usai qira’ah terlantun, Cak Nun pun melontarkan sebuah pertanyaan kepada jamaah. “Siapa di antara Anda yang pernah menafsirkan kata Alif Lam Mim? Atau siapa yang pernah membaca tafsir Alif Lam Mim?,” tanya Cak Nun. Perihal tafsir, Cak Nun menegaskan tafsir itu tidak menakutkan. Memang, dalam dunia tafsir, ada syarat-syarat tertentu untuk menjadi mufassir (ahli tafsir). Namun demikian, itu hanya ibarat jika Anda ingin mengunyah, Anda harus punya gigi.

Yang harus dipahami Al Quran itu mutlak, tegas Cak Nun. Akan tetapi kebenaran tafsir itu bersifat relatif. “Tak apa-apa menafsirkan Al Quran, jika keliru semoga diampuni Allah, Anda mau menafsirkan saja itu sudah suatu kebaikan. Dan tidak ada tafsir yang benar, benarnya tafsir itu relatif. Itu bisa salah bagi penafsirnya sendiri atau tidak cocok bagi penafsir yang lain. Jadi tidak masalah,” ujarnya.

Dedi Purwanto, jamaah asal Bima lalu berpendapat bahwa Alif Lam Mim bermakna Alif itu Allah, Lam itu Laa Ilaha Illa Allah dan Mim itu Muhammad. Melihat Dedi Purwanto ragu-ragu terhadap tafsirnya, Cak Nun kemudian menegaskan kembali bahwa kebenaran tafsir itu bersifat relatif. “Yang benar itu alif lam mimnya, tafsirnya bisa benar, bisa juga salah. Benar atau salahnya tafsir tidak terletak pada isi tafsirnya, tapi efeknya. Apakah efeknya mendekatkan kepada Allah? Asalkan tafsir itu menyebabkan Anda menjadi dekat dengan Allah berarti tafsirnya benar. Asalkan tafsir itu menjadikan Anda lebih akrab dengan Rasulullah berarti tafsirnya benar. Yakni benar dalam arti efektif dan aplikatif,” tutur Cak Nun.

Cak Nun menambahkan tidak harus menunggu menjadi Ulama untuk bisa menafsirkan Al Quran. Siapapun boleh menafsirkan Al Quran dan Al Quran bisa ditafsirkan apapun. Asalkan tafsir itu bisa mendekatkan kepada Allah SWT. Jika dekat dengan Allah, tidak mungkin akan berbuat buruk.

Selanjutnya, Kiai Muzammil mengungkapkan hampir semua tafsir selalu diawali dengan kalimat wallahu a’lamu bimuradihi, Allah lebih tahu yang dikehendaki. Alif Lam Mim itu termasuk huruf al muqotha’ah (huruf yang terpisah). Huruf al muqatha’ah bukan termasuk bahasa Arab sehingga tidak ada di dalam kamus. Oleh karena itu, mufassir selalu menyatakan wallahu a’lamu bimuradihi untuk kata Alif Lam Mim. “Dan karena bukan berasal dari bahasa Arab, saya pun setuju tafsir tadi,” ujarnya.

Menurut Kiai Muzammil ada pula mufassir yang menyatakan Alif Lam Mim itu Alifnya bermakna Allah, Lamnya bermakna Jibril dan Mimnya bermakna Muhammad. Jadi, Alif Lam Mim itu menceritakan turunnya Al Quran dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad.

Melanjutkan tafsir surat Al Baqarah, Cak Nun mengajak jamaah untuk mempelajari ayat kedua: dzalikal kitabu la raiba fihi hudal lil muttaqin. “Kalau arti dari tidak ada keraguan di dalamnya sudah jelas. Tapi, bagaimana dengan hudal lil muttaqin? Bagaimana tafsirnya?,” lanjut Cak Nun memantik jamaah untuk berfikir.

Cak Nun melanjutkan jika Al Quran adalah petunjuk bagi orang bertaqwa. Lalu, apakah berarti orang yang tidak bertaqwa tidak mendapatkan petunjuk? “Taqwa itu kan abstrak, lalu jika taqwa itu kita terjemahkan, taqwa itu seperti apa? Siapakah orang bertaqwa itu?,” kejar Cak Nun penuh semangat mengajak jamaah menyelami kedalaman ilmu Al Quran.

Dzikri Yanuar Ihsan, salah seorang jamaah merespon pertanyaan Cak Nun. Menurutnya, taqwa itu mengerjakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Selain itu, ridha terhadap Allah SWT. Mendengar jawaban tersebut, Cak Nun lalu merespon balik. “Bukankah hal itu adalah output?,” timpal Cak Nun.

Cak Nun kembali mengajak jamaah untuk menggali makna taqwa. Tsabit Al Banani, jamaah dari Krapyak berpendapat penjelasan taqwa atau orang bertaqwa sebenarnya sudah disebutkan dalam Al Quran. Yakni Alladziina yu’minuuna bil ghaibi wayuqiimuunashsholaata wa mimma rozaqnaa hum yunfiquun; walladziina yu’minuuna bi maa unzila ilaika wa maa unzila min qoblika wa bil aakhirati hum yuuqinuun (Orang-orang yang beriman kepada yang ghaib, orang-orang yang mendirikan sholat, dan dari sebagian apa-apa (segala sesuatu) rizqi yang telah kami berikan kepada mereka, mereka menginfakkannya, dan mereka yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu (wahai Muhammad) dan yang diturunkan sebelummu, dan merekapun yakin dengan kehidupan akhirat).

Di akhir pembahasan mengenai tafsir, dengan arif dan bijak Cak Nun mengajak untuk menjaga perasaan mereka yang sudah lekat dengan kata tafsir, yaitu para ilmuwan dan ulama, pada malam itu bukan sebuah tafsir melainkan menemukan makna lain dari ayat-ayat dalam Al-Quran.

Usai menyelami kedalaman Al Quran, jamaah menikmati sajian dari Kiai Kanjeng. Malam itu, Mas Doni menyanyikan beberapa lagu, antara lain Ing Donya Pira Suwene, Changes, dan Semau-maumu.

Kodifikasi Ilmu-Ilmu Maiyah

Sesi berikutnya Cak Nun menegaskan bahwa dalam perjalanan maiyah selama ini ternyata bukan hanya berisi jawaban atas Indonesia, tapi beyond itu semua yaitu jawaban atas zaman masa depan. Ini yang sedang dilakukan tim redaksi untuk menyusun puzzle ilmu yang tersebar dalam maiyahan selama ini.

Cak Nun kemudian mempersilakan Mas Harianto dan redaktur untuk menceritakan proses kodifikasi ilmu-ilmu Maiyah. Mas Harianto menceritakan saat ini sedang dilakukan penyusunan ilmu-ilmu Maiyah yang tersebar dan meliputi berbagai bidang. “Kita mencoba mengelompokkan pemikiran-pemikiran Maiyah dalam beberapa bidang. Namun, dalam prosesnya tidak berjalan dengan mudah. Kami kesulitan dalam mengklasifikannya. Sebab, esai tema politik, misalnya. Ternyata juga mengandung tema pendidikan hingga pangan,” papar Mas Harianto.

Dalam proses kodifikasi tersebut, Mas Harianto mengakui mengalami kesulitan dan kerumitan. Hingga hal itu mengantarkan pada kesimpulan bahwa ilmu-ilmu Maiyah sangat luas dan dalam. “Kerumitan itu mengantarkan pada kesimpulan, kok mirip dengan Al Quran ya? Saat kita mempelajari surat Al Baqarah ternyata ada penjelasan-penjelasan di Surat Annisa yang terkait dengan surat Al Baqarah,” tuturnya.

Bahkan, Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta menilai konsep ekonomi Maiyah adalah ekonomi masa depan. “Beberapa hari lalu, saya mencoba mengambil nilai-nilai Maiyah di bidang ekonomi. Berangkat dari konsep “baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur” dan dipadukan dengan nilai-nilai Maiyah lainnya ditemukan konsep ekonomi non transaksional. Lalu, saya ajukan rumusan tersebut kepada Guru Besar Ekonomi Islam UII. Menurutnya, konsep tersebut merupakan sistem ekonomi masa depan. Beliau tidak hanya bilang konsep itu adalah solusi ekonomi Indonesia, tapi justru lebih luas,” ujar Mas Harianto.

Ilmu maiyah tidak bisa dikelompokkan menurut kategorisasi ilmu di dunia akademik. Kemudian mas Helmi memaparkan hasil pertemuan pagi dan siang sebelumnya dengan para siswa MAN dan teman-teman Juguran Syafaat serta jamaah maiyah kota Batu dan Malang Raya. Mas Helmi juga mengungkapkan fenomena-fenomena maiyah di luar ilmu akademis.

Sedekah Maiyah

Malam itu, jamaah tidak hanya menikmati keluasan ilmu-ilmu Maiyah saja. Akan tetapi, jamaah juga menikmati kebahagiaan-kebahagiaan yang dialami pelaku-pelaku Maiyah. Meskipun, sempat turun hujan, hal itu tak menyurutkan antusiasme jamaah. Sebaliknya, jamaah justru makin bersemangat ketika ada beberapa Pegiat Maiyah yang berasal dari Purwokerto dan Malang.

Mas Agus Sukoco, Pegiat Juguran Syafaat (Simpul Maiyah Purwokerto) mengungkapkan sebagai orang Maiyah, kita harus memiliki double management. Yakni manajemen diri yang bersifat ke dalam dan ke luar. “Kita jangan hanya menjadi konsumen quotes Maiyah lalu menyebarkan ke orang lain. Kita harus hati-hati dan bisa menakar diri dalam menyebarkan nilai-nilai Maiyah. Tidak sembarangan,” ujarnya.

Selain itu, Cak Ardi Purba Antono, Pegiat Maiyah Malang Raya juga turut hadir berbagi pengalaman aplikasi nilai-nilai Maiyah. “Kami itu gelisah dengan adanya program bagi-bagi beras untuk rakyat miskin (raskin). Kenapa namanya kok beras miskin? Padahal rakyat-rakyat kecil itu kan juga bayar pajak. Untuk itu, kami melakukan gerakan pembagian beras berkah. Beras tersebut kualitasnya lebih baik daripada raskin,” ungkapnya yang juga seorang dalang wayang.

Melanjutkan pemaparan tersebut, Cak Nun berpesan kita ini sebanyak mungkin harus mentransfer kebijaksanaan dan ilmu Al Quran kepada masa depan. Yang kita tinggalkan untuk masa depan itu bukan partai politik atau organisasi. Melainkan, para pelaku-pelaku kebaikan.

Sebelum mempersilakan Mas Silok, Tenaga Kerja Indonesia di Korea Selatan, Cak Nun meminta Kiai Kanjeng untuk bermain musik. Alunan musik Kiai Kanjeng menambah suasana semakin nyaman. Pikiran-pikiran yang terasa berat menjadi ringan usai menikmati musik Kiai Kanjeng.

Lalu, tak berapa lama kemudian, Cak Nun mengajak dialog Mas Silok agar pengalaman-pengalaman kerja di Korea Selatan dibagikan kepada jamaah. Mas Silok, begitu ia akrab disapa, telah bekerja di Korea Selatan sejak tahun 1999. “Saat ini jumlah tenaga kerja Indonesia mencapai angka 1500 orang. Mayoritas, mereka bekerja di pabrik,” ungkapnya menjawab pertanyaan Cak Nun malam itu.

“Apa keunggulan tenaga kerja Indonesia di sana?,” Cak Nun melanjutkan penggalian pengalaman-pengalaman Mas Silok selama di Korea Selatan. Menurut Mas Silok, Tenaga Kerja Indonesia memiliki keunggulan karena keuletannya, ketrampilan dan kecerdasannya. Bahkan, mereka  dengan mudah menguasai komputer dan alat-alat pabrik meskipun tombol-tombol pengoperasiannya menggunakan huruf-huruf Korea. Maka tak heran, jumlah gaji tenaga kerja Indonesia jauh lebih besar daripada jumlah gaji tenaga kerja lainnya.

Usai berdialog, Mas Silok juga menyumbangkan sebuah lagu Korea lalu diiringi musik Kiai Kanjeng.

Maiyah Jawaban Masa Depan

Sesi berikutnya kembali dipandu mas Harianto melanjutkan pembahasan maiyah adalah jawaban masa depan dengan memberikan contoh yang bisa dilihat nyata selama ini yaitu maiyahan. Tercatat minimal ada 18 temuan fenomena maiyahan. Istilah ‘maiyah’ menjadi kosa kata baru dengan definisi yang luas.

Redaktur juga menambahkan dari sisi software mengapa maiyahan berwujud seperti itu. Pertama adalah cara berpikir/membaca dalam maiyah yang kulliah/menyeluruh, semua saling terkait (komprehensif dialektis universal). Kedua karena yang hadir di setiap maiyahan adalah para brahmana.

Bahwa di dunia ini, jika dianalogikan kepada operating system smartphone atau komputer, OS manusia hanya ada dua yaitu OS Duniawi dan OS Ukhrawi. Terminologi yang lebih menyubjek adalah Brahmana dan Sudra. Terminologi ini bukan bermakna kasta seperti dalam agama Hindu, melainkan perbedaan fokus.

Brahmana berfokus pada akhirat/Allah dengan landasan ayat wabtaghi fiima ataka-Allahu-ddaaral-akhirata wa la tansa nasibaka mina-ddunya. Sedangkan fokus Sudra adalah dunia yang tidak lepas dari transaksional.

Baik Brahmana maupun Sudra wujud tindakannya sama. Sungguh-sungguh, Brahmana sungguh-sungguh dalam menjalani hidup karena memang sungguh-sungguh tidak mengharap sesuatu. Pengusaha yang brahmana adalah yang berdagang sebagai manusia wajib sehingga orang lain merasa aman membeli dagangannya, sehingga Allah menganugerahinya dengan nikmat rezeki yang melimpah. Wujudnya, ia dapat menambah banyak cabang usahanya \, namun dasarnya bukan atas keinginan menambah kekayaan, tapi membuka kesempatan orang lain untuk bekerja sebagai kesungguhan menjalani hidup. Pengusaha yang brahmana sudah cukup menghidupi dirinya dan keluarganya dari satu toko, tapi bercabang menjadi banyak karena rahmat Allah sebagai lapangan kerja orang lain.

Sungguh-sungguh bagi orang Sudra karena motivasinya mengharapkan sesuatu atau imbalan berupa materi yang lebih banyak. Contohnya adalah melakukan sesuatu dengan niat ‘supaya’. Bersedekah supaya uangnya berlipat, bekerja supaya uangnya lebih banyak, dll.

Unggul, manusia Sudra akan berupaya mengungguli orang lain, mengalahkan orang lain. Sedangkan para Brahmana, unggul bukan atas orang lain, melainkan unggul atas dirinya sendiri. Dirinya yang hari ini harus lebih unggul dari dirinya yang kemarin, dirinya yang siang ini harus lebih unggul dari dirinya yang tadi pagi.

Ada cerita, suatu ketika ada orang kota dengan pola pikir industri yang bertemu pembuat arang di sebuah desa. Orang kota itu menyadari bahwa arang yang dihasilkan sangat berkualitas sehingga ia menyarankan agar ditingkatkan produksinya, ditambah modalnya sehingga bisa ekspor. Sang pembuat arang tidak berniat seperti itu karena yang penting baginya bagaimana arang yang dihasilkannya hari ini lebih baik dari arang yang kemarin, dan arang yang besok lebih baik dari arang hari ini.

Cak Nun menambahkan yang hadir di maiyahan adalah karena bermaiyah, tidak supaya begini begitu sehingga Allah menganugerahi dengan pemahaman dan kesegaran baru.

Banyak hal yang bisa didapatkan dari maiyah, minimal untuk diri, keluarga dan lingkungan terkecil. Namun ternyata banyak juga yang merupakan jawaban atas tantangan zaman ini.

Malam itu, sungguh lengkap, jamaah benar-benar bisa terlibat aktif sebagai penggali ilmu juga penikmat kebaikan ilmu-ilmu Maiyah. Menjelang pukul 04.00 WIB, Majelis Masyarakat Maiyah dipungkasi dengan doa yang dipimpin oleh Kiai Muzammil.