Cak Nun, Philadelphia dan Membangun Manusia

Pada rentang tanggal 19 hingga 28 September 2015 mendatang, Cak Nun dan Ibu Novia Kolopaking akan berkunjung ke Amerika Serikat, untuk memenuhi undangan dari komunitas muslim Indonesia yang bermukim disana. Cak Nun dan Ibu Novia Kolopaking diagendakan beracara di sejumlah kota, antara lain Philadelphia, Atlanta, Washington DC dan New York.

Dalam 12 tahun terakhir, Cak Nun dan Ibu Novia telah puluhan kali diundang ke luar negeri untuk beracara disana. Terbilang, 37 kota di berbagai negara sudah dikunjungi. Baik itu bersama kelompok Gamelan Kiai Kanjeng maupun lawatan yang dilakukan oleh Cak Nun dan Ibu Novia pribadi. Negara-negara tersebut antara lain Mesir, Finlandia, Abu Dhabi, Australia, Inggris, Belanda, Maroko, Hong Kong, hingga China. Bahkan, beberapa kali, Cak Nun dan Ibu Novia diundang ke Turki atas undangan pemerintah setempat dan Korea Selatan, untuk beranjangsana dengan masyarakat Indonesia yang tinggal disana.

Undangan ke Amerika Serikat bulan September ini, bukanlah hal yang baru bagi Cak Nun. Sebelumnya, 34 tahun silam, Cak Nun muda bahkan pernah “menggelandang” satu tahun di Amerika dalam rangka mengikuti program International Writing Program resmi atas undangan dan sebagai tamu negara Amerika Serikat.

Dalam kegiatan-kegiatan ke luar negeri tersebut, terutama saat bertemu dengan masyarakat Indonesia di perantauan, Cak Nun tidak tampil layaknya ustadz atau kiai, melainkan lebih berperan sebagai orangtua yang menemani dan mendengarkan keluh kesah mereka. Apalagi bila diundang untuk beracara dengan para Tenaga Kerja Indonesia, peran sebagai orangtua tersebut kuat terasa. Seperti yang berkali-kali terjadi apabila Cak Nun diminta mengisi acara yang diselenggarakan oleh Tenaga Kerja Indonesia di Abu Dhabi, Korea Selatan, Taiwan serta Hong Kong. Tidak hanya itu, Cak Nun dan Kiai Kanjeng juga kerap diminta pandangan dan pendapatnya oleh berbagai komunitas di luar negeri, untuk turut menyelesaikan persoalan global seperti isu-isu tentang toleransi beragama, pluralisme, kemanusiaan universal dan pendamaian konflik umat beragama. Seperti yang dijalani pada tur 8 kota di Belanda tahun 2008. Dalam tur tersebut, Cak Nun dan KiaiKanjeng mendapat sebutan sebagai Ambassador of the Heart.

Halal Bihalal Idhul Adha dan Diskusi Cerdas bersama Cak Nun dan Novia Kolopaking
Diskusi Cerdas bersama Cak Nun dan Novia Kolopaking

Cak Nun dan Kiai Kanjeng juga bertandang sebagai duta budaya, yang menyajikan Islam dan memperkenalkan bangsa Indonesia dalam cara yang unik. Kombinasi kekuatan intelektual, khasanah kultural dan wawasan rohani disuguh dalam dialog-dialog yang tergelar, serta diusung melalui irama yang dimainkan Gamelan Kiai Kanjeng. Bagi kalangan yang belum pernah bersinggungan dengan acara-acara Cak Nun dan Kiai Kanjeng, hal tersebut merupakan pengalaman baru dan mengesankan. Hadirin terpesona sepanjang acara. Mereka lantas menyebut, bahwa Kebudayaan Indonesia adalah kultur yang istimewa dan Islam yang berkembang di Indonesia, adalah Islam yang menyejukkan. Respon serupa inilah yang pernah didapatkan Cak Nun dan KiaiKanjeng saat kunjungan 6 kota di Mesir pada tahun 2003 dan 2 kota di Maroko pada 2013. Dalam konteks diplomasi, acara-acara Cak Nun dan KiaiKanjeng di luar negeri itu merupakan bukti nyata kekuatan People to People Diplomacy, tentang bagaimana membangun komunikasi dan pemahaman melalui bahasa hati nurani.

Sementara itu di tanah air sendiri, sudah sangat banyak acara-acara yang dijalani Cak Nun dan KiaiKanjeng. Tercatat lebih dari 3600 pergelaran hingga saat ini. Berkeliling dari kampung- kampung pelosok, desa-desa berkembang hingga kota-kota yang sibuk di antero nusantara. Di sela- sela undangan dari Masyarakat itu, Cak Nun hadir pada majelis-majelis ilmu yang rutin terselenggara di enam kota. Forum-forum tersebut antara lain, Padhang mBulan Jombang, Mocopat Syafaat Yogyakarta, Kenduri Cinta Jakarta, Gambang Syafaat Semarang, Bangbang Wetan Surabaya, Juguran Syafaat Purwokerto, ReLegi Malang dan yang terbaru adalah Jamparing Asih Bandung.

Sudah 20 tahun Cak Nun menjauh dari media massa dan televisi. Makin hari, kian banyak jumlah undangan yang datang dari masyarakat berbagai lapisan. Mayoritas muatannya adalah harapan dan keinginan agar Cak Nun bisa menyumbang solusi atas berbagai persoalan di sekitar mereka. Jenis masalah bervariasi. Dari soal praktik keberagamaan, ketegangan budaya, kegundahan manusia modern, kesepian sosial-politik, gegar pendidikan manusia, hingga konflik horisontal di tengah masyarakat.

Hari-hari terakhir ini, Cak Nun juga diminta untuk mendukung suatu usaha membangun masjid secara fenomenal di tanah air yang diproyeksikan sebagai suatu mercusuar Islam Indonesia untuk dunia. Meski setuju dengan gagasan tersebut, tetapi Cak Nun menegaskan bahwa selama ini perjuanganya lebih mengutamakan membangun manusia masjid, ketimbang masjid fisiknya itu sendiri.

Menyelesaikan benturan sosial, terutama yang berkaitan dengan sengketa korporasi besar dengan masyarakat kecil bukanlah hal baru bagi Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Salah satu peristiwa yang belum lama berlangsung adalah upaya yang telah dilakukan Cak Nun dalam membantu menyelesaikan konflik antara kelompok-kelompok petambak plasma udang dan perusahaan di Tulangbawang Lampung pada tahun 2013.

Kontribusi Cak Nun tersebut membuahkan hasil yang baik, sehingga gejolak sosial yang bisa berujung pada pertikaian fisik bisa dihindari dan aktivitas produktif antara para petambak dan perusahaan dapat berjalan normal kembali. Keseluruhan kegiatan Cak Nun, Ibu Novia Kolopaking, dan Kiai Kanjeng di berbagai tempat dan konteks tersebut, lebih bersifat sosial. Dalam arti Cak Nun diminta, disambati untuk ikut membantu mencarikan jalan keluar atas kebuntuan solusi dari persoalan di masyarakat. Kegiatan-kegiatan itu pada dasarnya merupakan proyeksi dan perluasan dari peran dan kiprah yang sudah dilakukan Cak Nun jauh sejak dekade 70-an, yang kala itu dilakukan melalui dunia sastra, teater hingga advokasi-advokasi.

Silaturrahmi mempererat persaudaraan bersama Emha Ainun Nadjib dan Novia Kolopaking, Philadelphia, USA
Silaturrahmi bersama Emha Ainun Nadjib dan mbak Novia

Sejak tahun 2001, Cak Nun dan KiaiKanjeng memperkenalkan konsep Maiyah, yang arti leksikalnya adalah kebersamaan. Acara-acara rutin maupun yang undangan lazim disebut oleh jamaah sebagai Maiyahan. Secara aktual, kontekstual, dan aplikatif, berdasarkan perjalanan Cak Nun dan KiaiKanjeng, Maiyah berkembang sebagai suatu kesadaran ilmu bahwa jalan keluar dari segala persoalan merupakan keniscayaan. Jika manusia mau berendah hati, mau bersama, membebaskan diri dari diperbudak oleh identitas dan percaya pada ilmu Allah, segala solusi akan tersedia. Kerendahan hati itu pula yang membuat Cak Nun melalui Maiyah menyadari bahwa dalam hidup ini terdapat hal-hal yang sudah pasti tak bisa diubah, terdapat pula sesuatu yang masih mungkin bisa diubah dan terdapat sesuatu yang sangat mungkin bisa diubah. Dalam tataran itulah, Maiyahan digelar di berbagai tempat, sebagai usaha untuk membenahi dan membangun manusia, khususnya manusia Indonesia. Masih ada harapan pada “manusia” nya, bukan pada yang di luarnya. Dan itulah yang dikenalkan Cak Nun melalui Maiyahan.

Di setiap majelis maiyahan, Cak Nun melontarkan wawasan-wawasan baru, pola pikir yang lebih jangkep dan berorientasi jangka panjang. Topik-topik yang terseuguh dikupas dengan perspektif yang beragam untuk menemukan sisi baik dari tiap masalah. Cara berpikir jamaah diajak untuk lebih siklikal, detil dan mempertimbangkan segala aspek. Metode yang serupa, juga akan disuguhkan dalam kunjungan ke Amerika Serikat mendatang.